NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Angin malam di pinggir jalan raya itu terasa seperti sembilu yang menyayat kulit Agus yang tipis. Ia berdiri mematung di depan toko kelontong Pak Kumis yang pintu harmonikanya sudah tertutup rapat. Hanya sebuah lampu bohlam lima watt yang tergantung di teras toko, memberikan cahaya kuning suram yang membuat bayangan Agus terlihat panjang dan rapuh di atas tanah. Di depannya, Pak Kumis pria paruh baya dengan kumis tebal yang menjadi ciri khasnya, sedang duduk di atas kursi plastik, merapikan beberapa karung beras yang diletakkan di emperan toko.

Agus menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah-olah seluruh cairan di tubuhnya telah menguap menjadi keringat dingin. Ia memegang erat kayu penyangganya, mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang gemetar. Pergelangan kaki kirinya yang bengkak kini sudah tidak lagi terasa sakit yang tajam, melainkan mati rasa yang dibarengi dengan sensasi panas yang menjalar hingga ke betis. Ia tahu, jika ia tidak segera mengistirahatkan kakinya, sesuatu yang buruk akan terjadi. Namun, angka dua puluh ribu rupiah terus berputar di kepalanya seperti hantu yang menagih janji.

"Pak... Pak Kumis," suara Agus terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara bus malam yang melaju kencang di jalan raya.

Pak Kumis mendongak. Ia menyipitkan mata, berusaha mengenali sosok yang berdiri di kegelapan teras tokonya. "Loh, Agus? Kenapa kamu malam-malam begini ada di sini? Lihat badanmu, kotor sekali oleh semen. Kamu tidak pulang habis shift sore tadi?"

Agus melangkah setapak demi setapak mendekati Pak Kumis. Setiap langkah kaki kanannya menyeret kaki kiri yang kaku. "Pak... maafkan saya mengganggu. Saya... saya sedang butuh bantuan sangat mendesak."

Pak Kumis berdiri, raut wajahnya berubah menjadi waspada. Ia sudah sering melihat orang datang di tengah malam untuk meminjam uang, dan biasanya ia akan langsung menolak. Namun, melihat kondisi Agus yang berantakan, hati pria tua itu sedikit goyah. "Bantuan apa, Gus? Kalau mau pinjam uang buat bayar kontrakan atau beli pulsa, saya tidak ada."

"Bapak saya, Pak... Pak Marjuki," Agus mengatur napasnya yang tersengal. "Bapak muntah darah. Sekarang di puskesmas dan harus segera dibawa ke rumah sakit umum. Saya sudah dapat seratus lima puluh ribu dari Pak RT, tapi masih kurang dua puluh ribu lagi untuk biaya ambulans dan administrasi rujukan. Tolong, Pak... hanya dua puluh ribu. Saya janji besok upah saya di gudang akan saya potong untuk bayar Bapak."

Pak Kumis terdiam. Ia merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan sebungkus rokok kretek, lalu menyalakannya. Asap rokok yang pekat mengepul di antara mereka. Ia menatap Agus dengan tatapan menyelidik. Ia mengenal Agus sebagai buruh gudang yang rajin, sering membantunya menaikkan semen ke atas truk saat ia belanja material.

"Dua puluh ribu ya?" Pak Kumis menghembuskan asap rokoknya. "Gus, bukannya saya pelit. Tapi kamu tahu sendiri, toko lagi sepi. Beras saja harganya naik terus, pembeli pada ngutang. Tapi... melihat kamu sampai begini..."

Agus tertunduk. Ia merasa seperti seorang pengemis jalanan. Di dalam saku celananya, ponselnya kembali bergetar. Getaran itu terasa sangat keras di tengah kesunyian malam. Ia tahu itu Rahma. Mungkin Rahma sedang menangis di kamarnya yang wangi, mengkhawatirkan Agus yang tidak memberi kabar. Ada rasa sesak yang luar biasa di dada Agus saat menyadari bahwa martabatnya sebagai laki-laki yang dicintai Rahma sedang ia gadaikan di depan toko kelontong ini demi dua lembar uang sepuluh ribuan.

"Tunggu sebentar," ucap Pak Kumis.

Pria itu masuk ke dalam tokonya melalui pintu kecil di samping. Agus menunggu dalam diam. Ia menatap jalan raya yang kosong. Lampu-lampu kendaraan yang lewat menciptakan garis cahaya yang cepat hilang. Ia merasa dunianya juga seperti itu, sebuah garis kesedihan yang tak kunjung menemui titik terang. Ia memikirkan bapaknya yang mungkin saat ini sedang memandangi pintu ruang tindakan, menunggu anaknya datang membawa harapan.

Beberapa menit kemudian, Pak Kumis keluar lagi. Ia memegang dua lembar uang sepuluh ribu yang sudah lecek dan berminyak. "Ini, Gus. Ambil saja. Tidak usah kamu pikirkan soal bayarnya kapan. Saya ikhlas buat bapakmu. Bapakmu itu orang baik, dulu sering bantu saya juga kalau ada hajatan."

Agus menerima uang itu dengan tangan yang gemetar hebat. Logam koin di telapak tangannya terasa sangat dingin, namun dua lembar kertas itu terasa sangat panas di hatinya. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak."

"Sudah, pergi sana. Cepat ke puskesmas. Jangan sampai telat," perintah Pak Kumis.

Agus menaiki motor tuanya kembali. Kini di sakunya sudah terkumpul seratus tujuh puluh ribu rupiah. Sebuah angka yang seolah menjadi tiket kehidupan bagi ayahnya. Ia memacu motornya secepat yang ia bisa, mengabaikan angin malam yang kini terasa semakin menusuk tulang. Kemeja birunya yang penuh noda semen kini juga tercampur dengan debu jalanan.

Sesampainya di halaman puskesmas, Agus segera memarkirkan motornya dengan asal. Ia turun dan hampir saja terjatuh jika ia tidak segera menyambar kayu penyangganya. Dengan langkah yang dipaksakan, ia menuju meja administrasi di lobi puskesmas yang sepi.

Petugas administrasi, seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, mendongak saat Agus meletakkan uang itu di atas meja. Uang itu berantakan, ada yang ratusan ribu dari Pak RT yang masih bersih, dan ada yang sepuluh ribuan lecek dari Pak Kumis.

"Ini... seratus tujuh puluh ribu, Bu. Tolong segera urus rujukan Bapak saya, Bapak Marjuki," ucap Agus dengan napas memburu.

Petugas itu menghitung uangnya satu per satu dengan gerakan yang menurut Agus sangat lambat. Setiap detik terasa seperti jam bagi Agus. "Baik, uangnya pas. Tunggu sebentar, saya buatkan suratnya dan saya panggilkan sopir ambulans."

Agus berjalan menuju ruang tunggu di depan ruang tindakan. Ia melihat ibunya sedang duduk sendirian. Ibunya tampak tertidur dalam posisi duduk karena kelelahan, kepalanya menyandar pada dinding tegel yang dingin. Agus tidak tega membangunkannya. Ia memilih untuk berdiri di depan pintu, melihat ke dalam melalui kaca kecil.

Di dalam sana, bapak agus masih terbaring diam. Selang oksigen itu masih terpasang. Bapak agus tampak sangat kecil di atas ranjang puskesmas yang besar. Agus menempelkan keningnya pada kaca pintu yang dingin.

"Agus sudah dapat uangnya, Pak. Sebentar lagi kita pindah ke rumah sakit yang lebih bagus," bisik Agus pada kaca yang mulai berembun karena napasnya.

Tiba-tiba, ia teringat ponselnya. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan benda dengan layar retak itu. Ada tujuh panggilan tak terjawab dan lima belas pesan dari Nor Rahma. Agus merasa jantungnya diremas. Ia duduk di kursi tunggu, menjauh sedikit dari ibunya agar suaranya tidak mengganggu.

Ia mulai mengetik pesan dengan jempol yang kaku.

Agus: "Rahma, maafkan saya yang baru membalas sekarang. Keadaan sedang sangat gawat. Bapak saya kritis dan harus dirujuk ke rumah sakit malam ini. Saya tidak bermaksud mengabaikanmu, tapi pikiran saya benar-benar buntu. Mohon doanya untuk Bapak saya."

Agus menekan tombol kirim. Ia melihat status pesan itu. Centang satu. Sepertinya Rahma sudah mematikan ponselnya, atau mungkin ia sudah lelah menunggu dan tertidur dalam keadaan sedih. Agus merasa sangat bersalah. Ia membayangkan Rahma yang mungkin sedang meragukan cintanya, meragukan keseriusannya, hanya karena ia tidak bisa memberikan kabar sederhana di saat-saat sulit.

"Maafkan aku, Rahma," bisik Agus pelan.

Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, seorang sopir ambulans datang dengan membawa tandu. Bersama dua orang perawat, mereka mulai memindahkan bapak agus. Suara roda tandu yang bergesekan dengan lantai puskesmas yang sunyi terdengar sangat nyaring. Ibu agus terbangun dengan wajah terkejut.

"Gus? Sudah mau berangkat?" tanya ibunya sambil mengucek mata.

"Sudah, Bu. Ayo, kita ikut di belakang ambulans. Ibu naik motor sama Lukman saja, biar Agus yang di dalam ambulans menemani Bapak," ucap Agus.

Saat bapak agus dimasukkan ke dalam mobil ambulans, Agus naik ke kursi samping tandu. Ia memegang tangan ayahnya yang terasa sangat kurus. Pintu ambulans ditutup dengan suara dentuman yang keras. Sirine mulai menyala, memecah keheningan malam desa itu.

Di dalam mobil yang bergoyang-goyang itu, di bawah lampu dalam ambulans yang berwarna kekuningan, Agus menatap wajah bapaknya. Ia melihat ada tetesan air mata yang keluar dari sudut mata bapaknya yang tertutup. Bapak agus sadar, namun terlalu lemah untuk bicara.

Agus menyadari satu hal yang menyakitkan malam itu. Seratus tujuh puluh ribu rupiah telah ia kumpulkan dengan mengorbankan harga dirinya dan memeras sisa-sisa tenaganya. Tapi itu hanyalah awal. Di rumah sakit umum nanti, angka-angka yang jauh lebih besar akan menantinya. Dan di saat yang sama, ia merasa cintanya pada Nor Rahma sedang berada di ujung tanduk, tergantung pada seberapa kuat Rahma bisa bertahan menunggu laki-laki yang hidupnya dipenuhi oleh debu semen dan air mata kemiskinan.

Agus memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bergoyang mengikuti gerakan ambulans yang melaju kencang menuju kota. Di dalam hatinya, ia berjanji bahwa jika bapaknya selamat, ia akan melakukan apa saja untuk merubah hidupnya, meskipun ia harus membakar seluruh harga diri yang ia miliki sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!