NovelToon NovelToon
SATU NAMA YANG TERHAPUS

SATU NAMA YANG TERHAPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Keluarga / Amnesia
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: Xingyu

Kakak tertua yang NGGA PEKA-an banget sama kasih sayang yg diberi orang sekitarnya dan dia cuma tau memberi tanpa sadar kalau dia juga butuh disayangi.

Momen momen bahagia terjadi di desa itu, sampai ketika kembali ke kota malah ada kejadian yang GONG banget...

Penasaran gimana ceritanya? Skuy pantau terus :v

JADWAL UPDATE :
Everyday.... (kalo ngga sakit / ada halangan) :v
12.00 WIB & 16.00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xingyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Dari Masa Lalu

Pagi di Jakarta selalu bising, tapi di dalam Kedai Kopi "Langkah", aromanya selalu tenang—campuran wangi biji kopi panggang sama nasi goreng mentega buatan Arifin.

Arifin (20) baru aja selesai nata piring di meja makan rumah mereka yang nyambung langsung sama kedai. Dia sekarang udah jauh lebih mandiri. Sejak Ibu lanjut kerja di observatorium di Amerika, Arifin-lah yang ngurus segala hal: dari stok kopi, laporan keuangan, sampe urusan perut dua adek kembarnya.

"Fahri! Gibran! Turun sekarang atau jatah ayam gorengnya Abang kasih ke kucing tetangga!" teriak Arifin dari lantai bawah.

Nggak lama, kedengeran suara langkah kaki berisik dari tangga kayu. Dua cowok tinggi muncul. Meskipun kembar, auranya beda banget. Fahri turun sambil baca jurnal ilmiah di tabletnya, sementara Gibran turun sambil benerin tali sepatu basketnya dengan muka ditekuk.

"Bang, secara statistik, ancaman kasih makan kucing itu udah nggak efektif lagi karena kucing tetangga lagi diet," cetus Fahri dengan muka lempeng. Jenius, tapi omongannya selalu minta dijitak.

"Berisik lo, Ri. Makan aja tinggal makan," gerutu Gibran. Dia langsung nyamber paha ayam, tapi matanya diem-diem ngeliatin punggung Arifin yang lagi sibuk di wastafel. Gibran itu yang paling tau kalau Arifin sering ngelamun sendirian pas malem-malem, meskipun Arifin selalu bilang dia "baik-baik aja".

Pas mereka lagi asyik makan, tiba-tiba ada suara mobil berhenti di depan kedai. Nggak lama, pintu kaca kedai berdenting. Tring!

"Maaf, kedai belum buka—" Arifin berenti ngomong pas liat siapa yang dateng.

Seorang wanita paruh baya, Bu Sarah (temen Ibu yang ngajar Ren di desa), masuk bareng seorang remaja laki-laki. Arifin ngerutin dahi. Dia ngerasa pernah liat Bu Sarah dulu, tapi remaja di sampingnya...

Remaja itu tingginya udah hampir sebahunya. Pake kemeja rapi, celana kain, dan rambutnya dipotong pendek rapi. Wajahnya bersih, tapi matanya... matanya tajem banget, seolah mau nembus jantung Arifin.

"Loh, Tante Sarah? Ada apa ya jauh-jauh ke sini?" tanya Arifin ramah. Dia ngelap tangannya pake serbet, terus nyamperin.

"Arifin, apa kabar? Ibu kamu nggak kasih tau ya?" Bu Sarah senyum, terus dia geser badannya biar remaja di sampingnya kelihatan jelas. "Ini Ren. Sesuai janji Ibu kamu setahun lalu, dia bakal tinggal di sini bareng kalian."

Arifin diem. Nama itu... Ren.

"Ren?" Arifin ngerutin dahi, nyoba nyari sesuatu di memorinya, tapi hasilnya tetep putih bersih. "Maaf, Tante. Arifin belum pulih... apa dia sepupu jauh kita? Atau anak temen Ayah?"

Fahri sama Gibran langsung berenti makan. Mereka berdua natap si "anak asing" itu dengan curiga.

"Bang, siapa tuh? Kok tiba-tiba tinggal sini?" tanya Gibran, suaranya agak kasar kayak biasa.

Ren nggak ngomong apa-apa. Dia cuma natap Arifin. Dia ngeliat tangan Arifin—bekas gigitannya setahun lalu masih ada di sana, jadi luka samar yang sekarang ketutup sedikit sama jam tangan. Hati Ren perih banget liat tatapan Arifin yang bener-bener "asing" ke dia. Setahun dia belajar mati-matian, cuma buat dapet pertanyaan "Apa dia sepupu jauh?".

Tapi Ren yang sekarang bukan lagi bocah liar yang bakal langsung gigit atau dorong orang. Dia maju satu langkah, terus dia nunduk sopan banget—hasil didikan Bu Sarah.

"Namaku Ren. Aku... orang yang dititipin Nenek ke Abang," ucap Ren dengan suara yang udah agak berat karena puber. Dia nggak bilang "Aku adekmu", karena dia tau Ibu Arifin masih ngerahasiain itu.

"Oh... titipan Nenek ya?" Arifin garuk kepala, dia ngerasa nggak enak karena nggak inget. "Duh, maaf ya Ren. Abang setahun lalu kecelakaan, jadi agak pelupa. Tapi kalau Ibu yang suruh, berarti kamu keluarga di sini."

Arifin senyum tulus banget, senyum yang sama yang bikin Ren jatuh cinta setahun lalu di lereng gunung. Arifin ngulurin tangannya. "Selamat dateng di Jakarta, Ren. Semoga betah ya di rumah sempit ini."

Ren natap tangan Arifin, terus dia jabat tangan itu. Angetnya masih sama. Rasanya masih sama. Bedanya, kali ini Ren sadar: dia harus mulai dari nol lagi buat dapetin tempat di hati "abangnya" yang pelupa ini.

"Iya... Abang," jawab Ren pelan.

Di pojokan, Fahri sama Gibran saling pandang. Mereka ngerasa ada aura "perang" yang baru aja dimulai di rumah mereka. Gibran ngerasa ada yang aneh sama tatapan Ren ke Arifin, sementara Fahri sibuk nyari logika kenapa ada anak asing yang panggil abangnya "Abang" dengan nada seberani itu.

...----------------...

Ren sudah naik ke lantai atas untuk menaruh tasnya di kamar tamu yang sudah disiapkan Arifin. Suasana di meja makan mendadak jadi sangat berat. Bu Sarah menyesap teh hangatnya pelan, matanya menatap Arifin, Fahri, dan Gibran bergantian.

"Arifin, Fahri, Gibran... ada alasan kenapa Ibu kalian minta Tante yang antar Ren ke sini," Bu Sarah membuka suara, nadanya sangat serius.

Arifin meletakkan serbetnya, perasaannya mendadak nggak enak. "Maksud Tante?"

"Ren itu... bukan cuma anak titipan Nenek. Dia sudah resmi jadi adik angkat kalian," ucap Bu Sarah tenang. "Ayah dan Ibu kalian mengadopsi Ren secara hukum setahun lalu atas rekomendasi mendiang Nenek. Nenek merasa Ren adalah bagian dari keluarga ini, meskipun alasannya tidak pernah dijelaskan secara detail kepada Tante."

Deg.

Sunyi senyap. Arifin ngerasa jantungnya kayak berhenti sedetik. "A-adik angkat? Jadi... dia beneran saudara kami?"

Fahri yang biasanya punya seribu teori, kali ini cuma diem mematung. Matanya menatap meja dengan tajam, otaknya lagi memproses data legalitas dan logika di balik keputusan orang tuanya yang mendadak ini.

Tapi Gibran beda. Dia langsung berdiri, kursinya sampe bunyi berderit kenceng di lantai. "Apa-apaan?! Adik angkat?! Kita nggak pernah dikasih tau soal ini! Ibu sama Ayah gila ya?" gerutu Gibran dengan nada kasar. Matanya menyala penuh amarah dan rasa terancam. "Kita udah cukup bertiga, Tan! Nggak perlu ada anak asing yang tiba-tiba dateng manggil Bang Arifin pake sebutan 'Abang'!"

"Gibran, jaga bicara kamu," tegur Arifin lemah.

Tiba-tiba, kepala Arifin kerasa nyut-nyutan hebat. Ren... Desa... Nenek... Potongan gambaran buram kayak kaset rusak muter di kepalanya. Dia megangin pelipisnya, mukanya pucat pasi.

"Bang? Lo nggak apa-apa?" Fahri langsung sadar kalau kakaknya lagi kesakitan.

Bu Sarah menghela napas, dia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari tasnya dan meletakkannya di tengah meja.

"Ini dari Om Darma. Isinya semua rekaman video dan foto selama Arifin di desa bareng Ren setahun lalu. Om Darma bilang, mungkin ini satu-satunya cara buat kalian paham... terutama buat kamu, Arifin. Karena kamu pernah sangat menyayangi anak itu sebelum kecelakaan itu menghapus semuanya."

Arifin menatap flashdisk itu seolah-olah itu benda paling berbahaya di dunia. Di dalamnya ada satu musim panas yang hilang. Di dalamnya ada jawaban kenapa hatinya terasa bolong selama setahun ini.

"Gue nggak setuju!" Gibran masih protes, suaranya makin meninggi. "Dia itu orang asing! Dia bakal ngerusak rumah ini, dia bakal ngerepotin Bang Arifin! Liat aja matanya, dia kayak mau ngerebut Bang Arifin dari kita!"

"Gibran, diem dulu!" Arifin ngebentak pelan, bikin Gibran kaget karena Arifin jarang banget bicara keras. "Kepala Abang... sakit banget."

Fahri narik napas panjang. "Gibran, duduk. Kita nggak bisa nolak kalau ini udah urusan hukum dan wasiat Nenek. Tapi..." Fahri natap Bu Sarah. "Kenapa baru sekarang dikasih taunya?"

"Karena Ren harus lulus ujian dulu. Dia harus buktiin kalau dia bisa berubah demi Arifin. Dan dia berhasil," jawab Bu Sarah bangga.

Di lantai atas, di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Ren berdiri diem. Dia denger semuanya. Dia denger gerutuan benci dari Gibran, dia denger kebingungan Arifin. Ren ngeremes ujung kemejanya. Dia tau, kehadirannya di sini adalah perang. Tapi dia udah janji sama dirinya sendiri: nggak ada yang bisa misahin dia dari Arifin lagi, bahkan amnesia atau adik kandung Arifin sekalipun.

Arifin megang flashdisk itu, tangannya gemeteran. "Tante... Arifin butuh waktu. Arifin nggak inget apa-apa... tapi kenapa rasanya sakit banget pas denger dia itu adik Arifin?"

Malam itu, Jakarta yang biasanya berisik kerasa sangat sunyi di dalem rumah mereka. Sebuah rahasia udah terbuka, dan mulai besok, hidup Arifin nggak akan pernah sama lagi.

#BERSAMBUNG

1
mai mai~
ni om om cekrak cekrek mulu dah kerjaannya, giliran keponakannya sakit malah ditinggal pulang
Xingyu
Terima kasih buat semuanya yang udha mampir 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!