NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan untuk kembali

Siang itu, kafe sedang berada di puncak keriuhan. Suara tawa anak-anak beradu dengan denting sendok dan musik latar yang ceria. Aku baru saja selesai merapikan tumpukan balok susun di area bermain ketika pintu kaca berdenting.

​Seorang pria muda melangkah masuk. Ia tidak datang sendiri; dua bocah laki-laki yang sangat aktif berhamburan dari samping kakinya menuju kolam bola. Aku mematung. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat.

​Itu Martin.

​Bukan Martin yang kukenal sebagai pria dewasa dengan setelan kantor rapi dan sorot mata yang lelah karena tekanan pekerjaan. Ini adalah Martin versi awal dua puluhan. Rambutnya sedikit lebih panjang, mengenakan kaos santai, dan wajahnya masih memancarkan kepolosan yang belum tergerus pahitnya dunia korporat.

​"Hati-hati, Juna! Jangan lari-lari!" teriaknya sambil tertawa, mencoba mengejar salah satu keponakannya.

​Aku berdiri mematung di balik konter, tangan yang memegang kain lap mendadak kaku. Rain, yang sedang menyiapkan pesanan waffle, menyadari perubahanku. Ia mengikuti arah pandanganku, lalu berbisik pelan, "Itu dia, kan?"

​Aku hanya bisa mengangguk kecil. Dunia terasa menyempit. Di lini masa depan, Martin adalah sahabat sekaligus sandaranku saat mengasuh keponakan-keponakan Bian.

Melihatnya di sini, sebagai mahasiswa yang sedang "dibuang" saudaranya untuk menjaga anak-anak, membuat dadaku sesak oleh kerinduan yang aneh.

​Martin melangkah menuju konter untuk memesan minuman. Ia menatapku, memberikan senyum ramah yang selalu menjadi ciri khasnya. Senyum yang sama yang dulu sering menenangkanku saat kami harus lembur bersama.

​"Satu es cokelat dan dua kotak susu, ya," ucapnya sopan. Ia sama sekali tidak mengenaliku. Baginya, aku hanyalah pelayan kafe yang sedikit aneh karena menatapnya terlalu lama.

​"Baik, segera kami siapkan," sahutku dengan suara yang sedikit bergetar. Aku berusaha menjaga profesionalisme, meski jiwaku ingin sekali menyapa dan bertanya bagaimana kabarnya di tahun 2013 ini.

​Saat ia berbalik menuju area bermain, Rain menyikut lenganku pelan. "Tenang, Ra. Dia masih di sini. Dan di masa ini, dia belum tahu betapa merepotkannya jadi 'donatur tetap' untuk keponakanmu nanti."

​Aku tertawa getir, mencoba mengalihkan rasa haru. "Lucu ya, Rain. Kita melihat orang-orang yang kita sayangi tumbuh dari nol lagi. Rasanya seperti menonton film favorit untuk kedua kalinya, tapi kali ini aku tahu semua plot twist-nya."

​Sepanjang sore itu, aku memperhatikan Martin dari kejauhan. Ia begitu telaten melayani kemauan keponakannya yang rewel—sifat penyabar yang ternyata memang sudah ada sejak dulu. Di sela-sela kesibukan kafe, aku menyadari satu hal: meskipun aku kehilangan banyak hal dari masa depan, semesta memberiku kesempatan untuk melihat sisi-sisi murni dari orang-orang yang kucintai sebelum beban hidup mengubah mereka.

Dahulu, di lini masa yang asli, interaksiku dengan Rain hanya sebatas tegur sapa kaku di lorong kantor. Kalimat kami selalu terukur, formal, dan dingin. Namun di sini, di bawah atap kid café yang bising ini, sekat itu luruh. Kami sering tertawa lepas bersama saat melihat tingkah absurd anak-anak, atau saling melempar pandangan jenaka ketika ada balita yang mendadak tantrum di tengah kolam bola.

​Seluruh tim di kafe ini seperti memakai "topeng malaikat"—kami dituntut selalu ceria, sopan, dan tampak murni di depan pelanggan kecil kami. Namun, di balik topeng itu, kami menjadi lebih manusiawi. Tanpa sadar, kami mulai berbagi cerita pribadi yang receh; tentang dosen yang menyebalkan, kegagalan memasak nasi, hingga keluh kesah harian. Tak jarang, aku atau Rain bergantian menepuk punggung rekan kerja yang baru saja keluar dari bilik teriak setelah meluapkan emosi.

​Ternyata, menjadi wanita tiga puluh empat tahun dalam raga remaja bukan berarti kepribadianku sudah mati membeku. Aku belajar bahwa manusia bisa berubah dan beradaptasi sesuai situasi. Hidupku kali ini terasa jauh lebih... hidup.

​Awalnya, kukira pertemuan dengan Martin sore itu hanyalah sebuah kebetulan sekali lewat. Namun, dugaanku meleset total. Sosoknya muncul hampir setiap hari. Ia datang bukan hanya membawa keponakannya, tapi terkadang anak tetangga, anak guru SMA, bahkan anak dosennya.

​Aku baru menyadari satu fakta yang luput dari ingatanku dulu: mengasuh anak adalah pekerjaan sampingan Martin. Dan yang membuatku sedikit iri, gajinya sebagai babysitter panggilan jauh lebih besar daripada gaji paruh waktu kami di kafe ini.

​"Laris manis ya, Tin?" canda salah satu staf senior saat Martin datang membawa dua balita kembar yang menggemaskan.

​"Lumayan, Kak. Buat tambah-tambah beli buku referensi," sahutnya sambil terkekeh, lalu menoleh ke arahku dan memberikan anggukan ramah.

​Karena intensitas pertemuan yang tinggi, interaksiku dengan Martin mulai mencair secara alami. Kami tidak lagi sekadar pelayan dan pelanggan. Di sela-sela jam istirahat, saat ia sedang menunggu anak asuhnya bermain, kami sering mengobrol bersama staf lain, bertukar gosip ringan tentang pelanggan aneh, atau sekadar membahas menu baru kafe.

​Melihat Martin yang begitu telaten, aku sering termenung. Di masa depan, dia adalah pria yang memikul beban berat di pundaknya, namun di sini, dia hanyalah pemuda yang tulus mencintai anak-anak. Ada kehangatan yang menjalar di dadaku setiap kali melihatnya tertawa.

​Tanpa kusadari, aku mulai menikmati rutinitas ini. Di antara tawa anak-anak, aroma kopi tanpa gula, dan kehadiran orang-orang dari masa laluku, aku merasa sedang menyusun kembali kepingan puzzle hidupku dengan warna yang jauh lebih cerah. Ternyata, mengulang hidup bukan hanya tentang memperbaiki kesalahan, tapi tentang menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang dulu sempat terlewatkan.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari sebuah pola. Martin tidak lagi datang hanya karena tugas mengasuh atau tuntutan ekonomi. Ada binar yang berbeda di matanya setiap kali ia melangkah masuk ke kafe dan mendapati aku yang sedang berjaga di balik konter.

​Ia sering kali sengaja memilih meja yang paling dekat dengan area kerja kami, membiarkan anak-anak asuhnya bermain di kolam bola sementara ia duduk bersandar, menyesap minumannya sambil menunggu celah waktu untuk mengajakku mengobrol.

​"Ra, kamu tahu tidak? Anak dosenku yang tadi itu, dia cuma mau diam kalau aku ceritakan soal konstelasi bintang. Bayangkan, anak lima tahun!" serunya suatu sore dengan gerakan tangan yang luwes, nyaris terlihat sedikit lentur dan gemulai.

​Martin memang memiliki pembawaan yang berbeda. Gerak-geriknya terkadang halus, nada bicaranya sedikit mendayu, dan ada kesan kemayu yang mungkin bagi sebagian orang di tahun 2013 ini akan dipandang sebelah mata. Namun bagiku, yang sudah melihatnya tumbuh menjadi pria dewasa yang tangguh di masa depan, hal itu sama sekali tidak mengurangi sosoknya sebagai laki-laki.

​Aku tetap menatapnya dengan rasa hormat yang penuh. Aku mendengarkan setiap ceritanya dengan minat yang tulus, menanggapi teori-teorinya tentang pola asuh anak dengan argumen yang dewasa—hal yang jarang ia temukan dari gadis seusia mahasiswa lainnya.

​"Mungkin karena dia merasa kamu menghargai dunianya, Tin. Anak kecil itu jujur, mereka tahu siapa yang bicara pakai hati," sahutku pelan sambil menyusun cangkir.

​Martin terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu ini aneh ya, Ra. Umurmu paling muda di antara staf di sini, tapi kalau mengobrol... rasanya aku seperti sedang bicara dengan seseorang yang sudah paham pahit manisnya dunia. Kamu tidak pernah menertawakan cara bicaraku yang agak 'begini', atau caraku yang lebih suka mengurus bayi daripada main basket."

​Aku tersenyum tipis. "Kenapa harus menertawakan sesuatu yang tulus, Martin? Menjaga anak itu pekerjaan mulia. Butuh kekuatan laki-laki yang luar biasa untuk bisa sabar menghadapi tangisan seharian."

​Wajah Martin memerah tipis. Ia tampak salah tingkah, namun aku bisa melihat bahunya sedikit lebih tegak. Ada rasa percaya diri yang tumbuh di sana hanya karena satu pengakuan sederhana dariku.

​Di sudut lain, aku bisa merasakan tatapan Rain yang sedang mengelap meja di dekat kami. Ia tidak bergabung, tapi aku tahu dia mendengarkan. Ia tahu persis bahwa aku sedang memberikan "validasi" yang mungkin sangat dibutuhkan Martin di masa mudanya ini.

​Bagi Martin, kafe ini bukan lagi sekadar tempat kerja sampingan. Baginya, kafe ini adalah tempat di mana ia merasa benar-benar dilihat sebagai dirinya sendiri—tanpa penghakiman, tanpa tuntutan untuk menjadi "maskulin" seperti standar orang kebanyakan. Dan bagiku, melihat Martin mulai merasa nyaman denganku adalah salah satu kemenangan kecil yang tidak pernah kurencanakan sebelumnya.

kebersamaan yang hangat itu tak bertahan lama. Musim libur semester segera usai, membawa kabar bahwa Martin harus pamit. Ia mendapatkan kesempatan emas yang tak mungkin dilewatkan: pertukaran pelajar ke luar kota. Aku turut bahagia, benar-benar bahagia melihat pencapaiannya di usia semuda ini.

​Sebagai kado perpisahan, aku memberikan sepaket alat sketsa sederhana—yang harganya terjangkau namun kupilih dengan hati-hati. Saat menerimanya, Martin tampak terkejut. Matanya mendadak berkaca-kaca, memantulkan binar haru yang sulit ia sembunyikan.

​"Terima kasih, Ra... aku tidak menyangka," bisiknya pelan.

​Aku tersenyum, lalu menepuk bahunya dengan mantap—sebuah gestur pemberi semangat yang biasa kulakukan di masa depan. "Tetaplah jadi pribadi yang kuat, Tin. Dunia di luar sana luas, dan kamu punya tempat di sana."

​Rain, yang sejak tadi menyimak, ikut bergabung. Ia mentraktir kami berdua es kopi, seolah merayakan perpisahan kecil ini. Kami bertiga duduk melingkar, menyesap kopi pahit di tengah keriuhan kafe yang mulai reda. Kami mulai berandai-andai; akan jadi apa kami setelah lulus kuliah nanti?

​"Mungkin suatu hari nanti, kita harus bekerja di lingkup yang sama lagi," usulku spontan, menyelipkan sedikit harapan dari masa depan ke dalam percakapan ini.

​Aku sangat menghargai sikap Rain. Meski ia adalah pria yang sangat menjaga batasan, ia tidak pernah memandang Martin dengan tatapan berbeda. Rain memperlakukan Martin dengan rasa hormat yang tulus, menghargai kepribadian Martin yang unik di tengah proses jiwanya yang sedang bertumbuh.

​"Kak Rain ini... rasanya seperti sosok Ayah," celetuk Martin tiba-tiba, membuat Rain nyaris tersedak kopinya. "Maksudku, Ayah yang ideal. Ayahku sendiri saja hobinya meneriaki aku kalau aku dianggap kurang 'laki'."

​Martin kemudian pamit sebentar ke toilet. Aku tahu ia sedang berusaha menyembunyikan emosinya. Benar saja, saat ia kembali, matanya tampak sedikit membengkak. Aku yakin ia baru saja menangis tersedu-sedu di dalam sana karena rasa haru yang meluap.

​Melihat matanya yang sembap, aku merasa dejavu. Dulu, di masa depan, kami sering sekali menangis bersama. Aku selalu mudah tertular emosinya yang meluap-luap, lalu sedetik kemudian kami akan tertawa bersama lagi meratapi kekonyolan kami.

​"Sudah, jangan cengeng," kataku sambil menyodorkan tisu, mencoba mencairkan suasana.

​Martin tertawa kecil sambil mengusap sisa air matanya. Sore itu, di antara aroma kopi dan sisa-sisa keriuhan anak-anak, kami menciptakan sebuah kenangan yang berbeda dari lini masa sebelumnya. Sebuah perpisahan yang tidak lagi terasa menyakitkan, melainkan penuh dengan harapan bahwa takdir akan mempertemukan kami kembali di waktu yang lebih baik.

Minggu pertama perkuliahan setelah libur, semester baru di tahun 2014 dimulai dengan ritme yang jauh lebih cepat. Sore itu, udara kota terasa gerah saat aku berdiri di parkiran kampus, menunggu Rain. Rantai sepedaku putus pagi tadi dan belum sempat kubawa ke bengkel, jadi aku memutuskan untuk menebeng motor Rain menuju kafe anak.

​Aku baru saja mengeluarkan smartphone-ku untuk mengecek jadwal, ketika tiba-tiba gawai di tanganku bergetar hebat. Di saat yang bersamaan, aku melihat Rain juga merogoh saku celananya dengan raut wajah terkejut.

​Ponsel kami berdering serentak. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar—deretan angka yang terlalu panjang dan tidak masuk akal untuk provider mana pun di tahun 2014.

​Kami saling lirik, keraguan sesaat menyergap sebelum akhirnya kami menekan tombol terima secara bersamaan. Seketika, hiruk-pikuk suara mahasiswa di parkiran seolah tersedot hilang, digantikan oleh suara statis yang dingin namun sangat jernih. Suara itu tidak terdengar seperti manusia, melainkan modulasi frekuensi yang sangat presisi dan otoritatif.

​"Protokol Pemulihan Jalur 07-B. Selamat sore, Penumpang Kereta Cepat 2029. Sinkronisasi identitas dikonfirmasi: Ayyara Tansi dan Rain Mathan."

​Jantungku mencelos. Nama kami disebut dengan nada sedingin es.

​"Kami mendeteksi anomali kronologis pada koordinat waktu Anda. Kami memohon maaf atas kegagalan sistem penggerak dimensi yang menyebabkan pergeseran jalur. Saat ini, tim teknis sedang melakukan stabilisasi arus balik untuk membawa Anda kembali ke titik asal. Penguncian partikel dimulai dalam 60 detik."

​Aku dan Rain membelalak, saling menatap dengan wajah pucat pasi. Telepon ini... ini benar-benar instruksi dari masa depan. Mereka sedang melacak kami.

​"Peringatan: Proses re-materialisasi akan menyebabkan tekanan fisik ekstrem. Anda memiliki waktu satu menit untuk memastikan posisi aman. Segera cari area terbuka. Pastikan Anda berada dalam posisi rebah atau di tempat di mana Anda tidak akan terinjak oleh massa atau tertimpa benda keras saat transisi berlangsung. Hitung mundur dimulai... lima puluh sembilan... lima puluh delapan..."

​Tiba-tiba, suara nging yang sangat tinggi dan menyakitkan memekik telingaku, membuat kepalaku serasa mau pecah. Pandanganku mulai bergetar, warna-warna di sekitar parkiran kampus perlahan memudar menjadi siluet putih yang menyilaukan.

​"Rain!" teriakku sambil memegangi kepala yang berdenyut hebat.

​"Cari tempat kosong, Ra! Cepat!" Rain menarik lenganku, menyeretku menjauh dari deretan motor yang parkir rapat.

​Dunia di sekitar kami mulai berguncang hebat. Suara dari telepon itu terus menghitung mundur tanpa ampun di tengah dengungan telinga yang semakin kencang. Apakah ini akhirnya? Apakah kami akan benar-benar meninggalkan tahun 2014 sesingkat ini, tepat saat semua rencana hidup baru kami mulai tertata rapi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!