Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mereka berdua naik ke bus antar kota yang baru saja tiba. Kursi di samping Rina sudah terisi, jadi Budi meminta tukar tempat dengan penumpang di sana. Dia membantu Rina menata barang bawaannya, lalu duduk di sebelahnya. Di seberang mereka ada dua gadis dan seorang cowok. Budi secara alami lebih memperhatikan kedua gadis itu. Mereka tampak baru saja menangis. Mata mereka merah dan wajahnya penuh ketakutan. Cowok itu tinggi kurus, mukanya penuh jerawat. Dia menghibur kedua gadis itu dengan lembut. Ketiganya kelihatan akrab, dan Budi menduga mereka kuliah bareng di universitas.
“Ada apa sama bus tadi? Kok banyak darah di mana-mana?” Budi mengetuk pelan meja kecil di depan, bertanya pada cowok itu.
Cowok itu menatap Budi dulu sebelum menjawab, “Tiba-tiba ada gerombolan besar burung-burung liar nyelonong ke arah bus. Untung badannya tebal dan kuat, kacanya juga tebal antipecah. Kalau enggak, kita semua bisa luka parah.”
“Banyak banget? Burung segitu banyaknya?” Budi bertanya, masih ragu.
Seorang pria berbaju kemeja kantor yang duduk di sebelah ikut nimbrung, “Beneran, nggak dilebih-lebihkan. Langit mendadak gelap, pas aku lihat ke atas, burung-burung nutupin matahari. Sebentar kemudian bunyi dentuman aneh dari kaca, seluruh bus goyang keras. Akhirnya bus berhenti lebih dari 10 menit sampai burung-burung itu pergi. Lihat deh, noda darah masih nempel di kaca. Aku lihat minimal lima burung nabrak kaca depan kita, bikin deg-degan banget. Untung ini bus darat, bukan pesawat, kalau enggak kita jatuh semua mati.”
Pria itu menggeleng-geleng kepala, mukanya masih pucat ketakutan.
Budi memeriksa kaca jendela dengan teliti. Benar saja, ada enam bekas putih di samping noda darah rupanya bekas paruh burung saat menabrak.
“Syukurlah kita keburu naik bus ini, kalau enggak pasti ketakutan setengah mati,” kata Budi sambil tersenyum tipis.
Pria berbaju kantor melanjutkan, “Semuanya makin kacau, masa depan susah diprediksi. Indonesia katanya negara paling stabil sekarang. Afrika sudah hilang kontak, Eropa dan Amerika juga chaos. Aku dengar banyak binatang raksasa muncul di mana-mana,” katanya sambil menghela napas panjang.
“Indonesia punya penduduk banyak tapi hutan luasnya masih banyak, nggak sebanding negara lain,” kata cowok dari universitas itu.
“Kalian masih kuliah ya? Kuliahnya sudah selesai belum?” Rina bertanya setelah agak tenang dari kagetnya.
“Ada beberapa yang mati di kampus, kelas terpaksa libur. Kami anggap aja libur panjang, tapi kayaknya nggak bakal balik lagi ke kampus,” jawab cowok itu pasrah, menatap Rina.
Dia bertanya lebih lanjut, “Terus gelar kuliah kalian gimana? Itu nggak jadi masalah?”
Kedua gadis itu mulai menangis lagi.
“Siapa yang peduli gelar sekarang? Kerja aja nggak ada, apalagi cuma gelar sarjana,” kata cowok itu. Rina terdiam, mulutnya sedikit terbuka.
Bus sekarang mulai jalan pelan, lama-lama makin cepat. Puncak-puncak bukit di sepanjang jalan banyak yang hangus terbakar, tapi sudah mulai tumbuh tanaman baru. Mungkin sebentar lagi hutan bakal hijau lagi. Satu setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di Muara Teweh. Bus pelan-pelan masuk terminal, pintu dibuka begitu sampai. Budi dan Rina turun mengikuti penumpang lain. Budi pergi ke loket pengiriman barang untuk ambil kotak kayunya. Dia membukanya pelan, lega melihat senjata masih tergeletak di dalam. Dia membuka panel atributnya dan mengalokasikan lima poin sisanya ke skill senjata.
Dia menutup mata, langsung merasa segar dan bertenaga. Perlahan membuka mata lagi dan berkata, “Ayo jalan!”
“Baiklah,” jawab Rina sambil mulai berjalan. Setelah beberapa langkah, dia bertanya, “Tadi kenapa sih? Kamu kelihatan serem banget.”
“Serem? Matamu kenapa?” tanya Budi.
“Aku nggak yakin, tapi rasanya aneh. Mungkin mataku yang salah lihat.” Rina menatap Budi, ragu sama dirinya sendiri. Budi bertanya-tanya apa ada yang salah dengan dirinya.
Dia ingat perbedaannya dan langsung merasakan perubahan. Selain pemahaman skill pisau yang lebih dalam, dia juga jadi lebih sensitif dan waspada terhadap sekitar. Pikirannya pun lebih mudah fokus. Dia bertanya-tanya apakah meningkatkan skill pisau juga memengaruhi psikologisnya. Tiba-tiba dia berbalik dan menatap Rina serius, “Tadi aku kelihatan begini ya?” tanyanya.
Rina menatap matanya beberapa detik, lalu cepat memalingkan muka. Dia kelihatan tegang dan menutup matanya sendiri. Dia memukul lengan Budi sekali, marah-marah, “Jangan nakutin aku lagi dong!”
“Ya sudah, ya sudah,” kata Budi sambil tersenyum. Dia senang dalam hati.
Meski ini efek samping dari peningkatan skill pisau, tetap berguna. Orang bakal takut padanya bahkan sebelum bertarung.
“Gimana caranya?” tanya Rina.
“Dulu waktu kuliah aku pernah latihan bela diri serius. Mungkin itu memengaruhi mental juga. Pokoknya orang biasa kalau tatap mataku suka takut,” jawab Budi tenang.
“Berarti kamu kuat banget dong?” Rina kaget sekaligus penasaran.
“Tergantung lawannya. Orang biasa biasanya nggak sebanding.”
Budi nggak merendah. Dia tahu Rina kurang percaya diri, dan dia perlu membangun itu. Perjalanan ini bakal penuh tantangan, berbahaya dan nggak bisa diprediksi. Lebih baik mempersiapkan Rina secara mental supaya nggak panik saat darurat.
“Wah, kalau kamu nggak bilang aku nggak tahu! Kamu jago banget nyimpen rahasia.” Rina terdengar seperti menyalahkan, tapi dia lega dan berpikir aman selama dekat Budi.
Mereka berdua ngobrol sambil jalan ke terminal angkot terdekat. Budi perhatikan mobil-mobil di sana aneh dibanding tempat lain. Kaca depan dan jendela dipasang jeruji besi, badannya dilapisi pelat besi tebal sampai ban juga tertutup. Kelihatan seperti monster besi. Rina terbelalak. Dia bisa nebak betapa parah situasi di Muara Teweh hanya dari mobil-mobil yang dimodif begitu.
“Ayo jalan! Jangan dipikirin. Mobil mana yang ke rumahmu? Kamu yang pilih,” kata Budi sambil narik tangan Rina pelan.
“Nggak ada yang langsung ke desaku. Kita naik angkutan jurusan Pasar, terus pindah,” jawab Rina sambil pulih dari kaget dan menunjuk angkutan. Mereka naik dan duduk. Mobil berangkat setelah beberapa menit.
Muara Teweh kelihatan sepi. Orang jarang di jalan, sebagian besar toko tutup. Yang masih buka pintunya setengah ditutup jeruji besi. Jalanan nggak dibersihkan, sampah berserakan, noda darah merah tua masih nempel di aspal. Pasti baru ada insiden belum lama. Beberapa jip bersenjata lewat mengangkut tentara bersenjata lengkap. Terdengar suara tembakan jauh di kejauhan, bikin Budi gelisah. Beberapa penumpang yang turun dari mobil lihat kejadian itu dan ketakutan, wajah mereka pucat. Mereka bertanya-tanya kok kota bisa jadi begini.
Rina menatap keluar jendela dan diam saja. Budi mengetuk tangannya, Rina langsung pegang lengan Budi sebelum ditarik balik. Semua penumpang kelihatan tegang dan diam. Untungnya, perjalanan ke Pasar aman-aman saja. Pasar itu sepi. Hampir nggak ada orang, beberapa kantong plastik beterbangan ditiup angin. Area jadi lebih ramai saat sekitar selusin penumpang turun dari angkutan.
“Kita naik mobil lagi ke arah desa dekat Sungai Barito. Kira-kira 30 menit lagi sampai tujuan,” kata Rina sambil memimpin. Hanya ada satu mobil ke arah itu, dan kondisinya beda. Ada noda darah dan daging yang tergencet di depan, plus beberapa lubang di badan mobil. Kelihatan menyeramkan.
Budi tiba-tiba bertanya, “Angkot ini lewat daerah bukit dekat gunung nggak?”
Rina kelihatan kaget saat menjawab, “Iya, lewat jarak dekat sekitar 3-4 km.”
Budi naik angkutan sambil mikir sesuatu. Mereka duduk di belakang. Penumpang cuma sekitar delapan orang. Sopir kelihatan kesal dan terus cek HP. Dia keluar sebentar buat telepon. Nggak kedengeran apa yang dibicarakan, tapi dia balik dengan mata merah. Budi lihat ada kapak di kompartemen sopir. Setelah lima menit, dua gadis naik dan duduk di depan Budi. Mereka ngobrol sebentar lalu diam total.
Tak lama kemudian HP berdering. Sopir cek tapi nggak diangkat. Dia nyalain mesin dan berangkat dari terminal. Budi merasa angkot pengap dan coba buka jendela.
Salah satu gadis di depan tiba-tiba berteriak, “Jangan buka jendela!”
Sopir injak rem mendadak dan bentak dengan logat Banjar keras. Meski Budi nggak paham sepenuhnya, jelas itu bukan omongan baik. Budi cepat minta maaf dan tutup jendela. Sopir ngomel beberapa saat sebelum jalan lagi.
Budi bingung dan bertanya pada Rina, “Dia bilang apa tadi?”
Rina menggigit bibir sambil jelasin, “Dia suruh jangan buka jendela, nanti narik perhatian tikus-tikus liar.”
Budi merinding. Dia cepat lihat ke luar jendela. Ada bukit di kejauhan dikelilingi kabut. Banyak lubang di bukit itu, memperlihatkan batu kekuningan di dalam. Bahkan ada asap di beberapa titik. Pasti bekas bom. Dia ingat rumor truk bersenjata masuk kota. Tiba-tiba dia tersentak. Dia bertanya-tanya kenapa bukit itu dibom. Lalu dia menyambungkan titik-titik: bukit itu, serangan tikus liar, dan truk bersenjata. Pasti bukit itu sumber asal tikus-tikus itu.