Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Polisi, Balap Liar, dan Ujian Kesabaran
Gisel menatap mobil mewah Dewa yang perlahan menghilang di belokan jalan. Ia menghela napas panjang, merapikan poninya yang sedikit berantakan.
"Baru juga empat hari di rumah ini, kok rasanya kayak sudah jadi menteri koordinator segalanya," gumam Gisel sambil menatap Digo (4 thn) yang masih memegang tangannya. "Tapi semangat, Gisel! Demi jatah bulanan dan demi mencairkan es batu raksasa itu!"
Baru saja melangkah masuk ke ruang tamu, Bibi ART berlari menghampirinya dengan wajah pucat pasi. "Non! Non Gisel! Ini ada telepon... katanya dari kantor polisi!"
Jantung Gisel mencelos. Belum sempat ia mengangkat telepon itu, ponselnya sendiri bergetar hebat. Panggilan dari SMA Angkasa—sekolah Raka. Gisel mengangkat telepon sekolah terlebih dahulu sambil memberi isyarat pada Bibi untuk tetap tenang.
Halo? Iya, saya wali dari Raka Atala... Apa? Bolos dan ketahuan merokok di gudang?" Gisel memijat pelipisnya. "Baik, Bu. Saya akan segera ke sana setelah urusan darurat ini selesai."
Ia menutup telepon sekolah, lalu menyambar gagang telepon rumah dari tangan Bibi. "Halo, Kantor Polisi Sektor Pusat? Iya, saya kakaknya... eh, maksud saya ibunya Raka. Apa?! Balap liar dan... menabrak orang?"
Gisel tidak menunggu lama lagi. Tanpa basabasi, ia menyambar kunci mobil SUV milik Dewa yang terparkir di garasi. Ia menggendong Digo dan mendudukkannya di car seat. "Digo, kita ada misi penyelamatan Kakak Raka. Pegangan yang kuat, ya!"
Gisel mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi namun tetap stabil, aroma white tea-nya seolah menjadi pelipur lara di tengah kepanikannya. Sesampainya di kantor polisi, ia langsung berlari masuk. Di salah satu sudut ruangan yang dingin, ia melihat Raka duduk tertunduk dengan jaket kulit yang kotor dan sudut bibir yang berdarah.
"Raka!" seru Gisel.
Seorang polisi menghampiri Gisel. "Ibu wali dari Raka Atala? Adik Anda—maksud saya anak Anda—terlibat balap liar dini hari tadi. Motornya menabrak seorang warga yang sedang melintas. Korban mengalami luka ringan, tapi Raka harus kami tahan untuk dimintai keterangan lebih lanjut."
Gisel menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Raka mendongak, matanya yang dingin sempat menunjukkan rasa kaget melihat Gisel yang datang, bukan ayahnya.
"Lo... ngapain ke sini?" tanya Raka dengan suara serak.
Gisel tidak menjawab dengan omelan. Ia justru mendekat, mengeluarkan tisu basah dari tasnya, dan dengan lembut mengusap darah di bibir Raka. Aroma segar dari tangan Gisel mendadak membuat suasana kantor polisi yang pengap terasa sedikit lebih lega.
"Ngapain? Ya jemput kamulah, anak nakal," bisik Gisel ceplas-ceplos. "Lagian kalau balap liar jangan sampai nabrak orang dong, malu-maluin gelar 'Atala' aja. Mas Dewa kalau tahu bisa-bisa kacamata bacanya pecah gara-gara melotot."
Raka tertegun. Ia mengira Gisel akan memarahinya atau menatapnya dengan jijik, tapi gadis ini justru sibuk membersihkan lukanya sambil tetap melontarkan candaan konyol.
"Pak Polisi," Gisel berbalik ke arah petugas dengan senyum manisnya yang paling maut. "Bisa kita bicarakan soal jaminan dan ganti rugi korbannya? Saya ingin bawa anak saya pulang sekarang.
Gisel baru saja menyelesaikan semua administrasi dan uang jaminan untuk korban yang ditabrak Raka. Dengan langkah mantap, ia menghampiri Raka yang masih duduk mematung di bangku kayu kantor polisi. Aroma white tea yang menenangkan seolah menetralisir bau asap rokok dan minyak mesin yang menempel pada jaket Raka.
Gisel meraih tangan Raka, berniat mengajaknya berdiri. "Ayo, urusan administrasi sudah beres. Kita pulang sekarang."
Namun, Raka dengan cepat menyentakkan tangannya. Ia berdiri dengan angkuh, menatap Gisel dengan mata sedingin es milik ayahnya. "Gue bisa pulang sendiri. Nggak usah sok perhatian."
Gisel tidak tersinggung. Ia justru menatap Raka dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan. "Denger ya, Raka. Kamu itu masih dalam status wajib lapor. Jangan macam-macam atau coba-coba kabur. Urusan motor kamu, nanti biar Pak Amin yang urus dan ambil ke sini. Sekarang, ikut aku pulang."
Raka tertegun melihat kilatan tegas di mata bulat Gisel. Biasanya gadis ini hanya tahu cara menggoda ayahnya atau tertawa tidak jelas, tapi sekarang auranya benar-benar seperti seorang Ibu yang tidak bisa dibantah.
"Cepat, Raka! Kasihan Digo, dia nungguin di mobil sama Bibi. Udah satu jam dia kepanasan gara-gara kelakuan kamu," seru Gisel sambil berjalan lebih dulu tanpa menoleh lagi.
Mendengar nama Digo disebut, pertahanan Raka sedikit runtuh. Ia sangat menyayangi adik bungsunya itu. Dengan langkah berat dan wajah yang masih jutek, Raka akhirnya mengekor di belakang Gisel menuju parkiran.
Sesampainya di mobil SUV milik Dewa, Digo langsung berteriak girang melihat kakaknya. "Kakak Raka! Ayo pulang, Digo mau main robot!"
Raka hanya bergumam pelan sambil masuk ke kursi belakang, tepat di samping Digo. Gisel segera masuk ke kursi kemudi, menghidupkan mesin, dan melesat pergi dari kantor polisi.
Di dalam mobil yang sejuk, Gisel melirik Raka dari spion tengah. "Gimana rasanya makan angin di kantor polisi, Raka? Lebih enak mana sama nasi goreng buatanku?"
Raka membuang muka ke jendela. "Bacot."
Gisel hanya terkekeh renyah. "Gitu aja ngambek. Oh iya, habis ini kita nggak langsung pulang ya. Kita mampir ke sekolah kamu. Aku harus 'beresin' urusan bolos dan rokok kamu sebelum Mas Dewa balik dari Amerika. Kalau dia tahu kamu masuk penjara dan bolos di hari yang sama, bisa-bisa dia beneran berubah jadi kulkas dua pintu!"
Raka tersentak, ia menatap Gisel dari balik spion. "Lo... mau ke sekolah gue?"
"Tentu saja. Kenalin, namaku Gisella, Ibu Muda paling keren yang bakal bikin guru BK kamu terpesona sampai lupa kasih kamu SP!" jawab Gisel penuh percaya diri sambil mengedipkan sebelah mata.