"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayam Kecap
*
*
*
Kahfi memeluk singkat adik perempuannya sebelum melangkah keluar.
"Oh ya, An. Keren juga klien yang kamu temui, penampilan kamu sangat casual untuk pertemuan delegasi. Aku lihat, Risa juga. Sama-sama memakai warna putih dan bawahan soft blue jeans. Persis seperti yang kamu pakai."
Seketika membuat darah Andreas berhenti mengalir. Wajahnya pucat, dengan keringat dingin merembes didahi.
Kalimat itu menghantam Andreas tanpa peringatan.
Jari-jarinya yang menggenggam ponsel, mendadak menegang. Senyum tipis yang tadi masih bertahan di wajahnya luruh begitu saja. Untuk sepersekian detik, ia bahkan lupa cara bernapas.
Kahfi mengangkat sudut bibirnya, melirik Isana baru kemudian benar-benar melangkah keluar.
Jemari Isana merapikan lipatan kaos di dada Andreas. Matanya mengamati sesaat, lalu tersenyum tipis.
"Aku baru sekali ini lihat baju yang kamu pakai ini, Mas." Isana bertanya, sembari mengelus permukaan kaos yang dikenakan Andreas. "Aku yang nggak tahu atau ... memang baru?"
Andreas terdiam sepersekian detik. Menyeka dahinya sekilas. Sangat singkat. Bahkan nyaris tak terlihat.
Namun rahangnya mengeras sebelum senyum tipis kembali terpasang di wajahnya.
"Oh, ini?" Ia menunduk melihat kaos yang dikenakannya. "Baju lama kok. Baju dilemari lama dirumah Mama. Mungkin kamu belum pernah lihat aja."
"Oke, baju lama. Bisa kebetulan banget ya, sama yang dipakai Risa?"
"Itu ... " Andreas mengusap tengkuknya singkat sebelum tertawa kecil. "Ya memang, karna ini project besar. Supaya nggak terlalu terlihat mencolok, jadi kita memang diminta untuk berpenampilan casual."
Ia mengangkat bahu pelan, mencoba agar suaranya terdengar biasa saja. "Dan, aku nggak tahu kenapa malah sama dengan warna bajunya Risa."
"Oh ..." Isana mengangguk pelan.
Singkat reaksi Isana, namun tatapanya menelisik setiap inci wajah suaminya. Mencari-cari sesuatu yang jelas-jelas ditutupi dengan sikap biasa-biasa saja yang terlalu dipaksakan.
Andreas sendiri mencari-cari cara untuk lari dari tatapan itu. Ia menunduk, kemudian sibuk merapikan ujung baju yang sudah rapi sejak tadi.
"Kamu sudah makan?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat Isana mengangkat alis tipis.
"Belum" Isana menggeleng "Belum makan."
Andreas langsung mengangguk, terlalu cepat. "Nah, ya udah. Aku juga belum makan. Kita makan dulu, yuk."
Isana mengangguk, tersenyum tipis.
Dalam benaknya, untuk saat ini cukup. Tidak semua hal harus ditanyakan saat ini juga, meski ia sudah bisa melihat bagaimana tegangnya bahu Andreas saat menjawab semua pertanyaannya. Bagaimana ekspresi pria itu yang terlalu terkesan dipaksakan, hanya untuk terlihat biasa-biasa.
Isana yakin, seseorang akan lebih mudah membuka rahasianya ketika ia merasa nyaman. Karna itu ia lebih memilih untuk berpura-pura tidak melihat, dan pura-pura memahaminya.
Andreas menarik kursi, menyiapkannya untuk Isana.
"Sini, kamu duduk disini. Biar aku yang layani kamu."
Sebuah sikap lembut, namun bagi Isana itu terasa begitu palsu. Bahkan membuat seluruh luka yang berusaha ia tata kembali terbuka.
Andreas sendiri merasa lega. Sejak pulang, ia terus menunggu tanda-tanda penolakan dari Isana. Namun perempuan itu mau bicara padanya, mau menatapnya, tanpa menjaga jarak seperti kemarin.
Saat Isana baru duduk, Andreas sudah lebih dulu mengambilkan nasi untuknya. Sesuai seperti yang selalu dimakan Isana.
"Segini, cukup " ucapnya sambil meletakkan piring di hadapannya.
"Cukup, Mas."
"Atau mau nambah lagi, ibu menyusui kan lebih mudah lapar?"
"No, Mas." Isana mengkat telapak tangannya, "Itu cukup buat aku."
Andreas tersenyum, menatap manik mata istrinya. Hatinya benar-benar merasa aman. Berfikir kalau semuanya sudah berhasil ia atasi.
Meja makan kayu itu sudah tertata rapi. Di tengahnya, sebuah set prasmanan keramik berwarna putih gading dengan aksen emas, berdiri anggun di atas alas putar. Bentuknya bulat, terbagi dalam beberapa sekat, masing-masing tertutup tudung keramik yang serasi.
"Oke, lauknya kamu mau apa?" Andreas membuka salah satu tutupnya, "Bik Marni tadi masak apa?"
"Itu aja Mas, aku mau capcay sama ayam kecap"
Cekatan Andreas membuka semua tutup prasmanan. Mengambil sendok, yang tersedia tidak terlalu jauh dengan set prasmanan tersebut.
"Ayam kecap," Andreas bergumam, sembari menyendokkan potongan ayam. Menaruhnya dipiring Isana. " Ini makanan favorit kamu banget ya, dari dulu. Kenapa sih, kamu suka banget ayam kecap ini?"
Isana menautkan tangannya, sengaja ia gunakan untuk menopang dagu. "Mungkin karena aku percaya sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita, tidak akan sibuk mencari matahari lain untuk menghangatkan dirinya."
Andreas mengernyit, " what do you mean, by that?"
"Ayam kecap ini, nggak pernah membuat aku takut kehilangan rasanya."
Isana menyentuh pinggiran piring, tatapannya jatuh pada potongan ayam tersebut. "Dia tetap tinggal di tempatnya, dan orang yang mengenalnya akan selalu menemukan jalan untuk kembali. Salah satunya aku, aku akan kembali dan tidak akan berpindah kepada yang lain, selama rasanya tetap sama."
Andreas menatap Isana, lalu perlahan beralih pada set prasmanan yang telah ia buka. Hatinya mencelos, ucapan Isana cukup membuatnya kesusahan menelan ludah.
Setelah itu, Andreas mengambil piring untuk dirinya. Menyendokkan nasi, dengan dada yang masih bergetar hebat. Kemudian duduk disamping istrinya.
Namun Andreas belum selesai. Tangannya meraih gelas kosong di dekat Isana lalu mengisinya dengan air minum.
Hal itulah yang paling menyiksa Isana. Karena lelaki yang sedang duduk di sampingnya sekarang masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya. Masih tahu porsi makannya, masih ingat makanan kesukaannya, masih memperhatikannya.
Seolah tidak ada yang berubah. Padahal Isana mulai yakin, semua itu demi menutupi rahasia yang ia sembunyikan darinya.
"Kamu, mau aku suapin?"
Isana menggeleng, "Nggak perlu Mas, aku bisa sendiri. Mending kamu makan makanan kamu." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Oke, kalau kamu nggak mau disuapin. Gimana kalau kamu yang suapin aku?"
Andreas tidak mau melewatkan tawa kecil Isana yang sepertinya sudah mulai mau menerima dirinya.
"Kamu mau aku suapin?"
Andreas mengangguk, "Offcourse, aku udah lama nggak ngerasain suapan dari tangan kamu. Boleh?"
"Pake Ayam kecap ini?"
"Iya, pakai ayam kecap kesukaan kamu. Supaya aku bisa ngerasain lagi, rasa yang sudah lama aku rasakan sejak bertemu kamu. Dan aku nggak mau rasa itu menjauh atau menghilang."
Mendengar itu Isana ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Menertawakan ucapan Andreas yang berselimut dusta.
"Rasa itu bisa saja hilang, karna sudah terlalu lama dibiarkan mendingin. Kamu yakin, rasa yang lama masih akan terasa sama Mas?" tanya Isana pelan.
"Kalaupun sudah mendingin, aku punya cara untuk menghangatkannya lagi. Kamu percaya itu kan?" balas Andreas, sambil menatap Isana dengan penuh keyakinan.
Isana memaksakan senyumannya. "Kamu terlalu yakin Mas."
"Aku yakin Isana, aku yakin." Tatapan Andreas tidak bergeser sedikit pun dari wajah perempuan itu. "Semuanya akan baik-baik saja."
Baik-baik saja? Sedang diam-diam, kamu menyimpan sesuatu yang perlahan meracuni semua yang aku jaga. Bahkan rasa dalam sepiring ayam kecap itu pun tak lagi sama—Isana.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍