seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. PENEBUSAN RASA BERSALAH.
Dan ia merasa sangat tersinggung karena dijadikan "alat" untuk memutuskan hubungan masa lalu seorang gadis.
"Ya Allah, lindungi hati ini..." bisik Alvaro.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Abi Vero masuk.
"Alvaro, kenapa kamu tidak mengajar kelas pagi ini?"
Alvaro menunduk. "Maaf Abi, Alvaro merasa kurang sehat."
Abi Vero yang bijak menatap putranya lama. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi, namun ia tidak memaksa.
"Ayini sering mencarimu di depan Ndalem. Dia ingin meminta maaf. Mungkin ada baiknya kamu dengarkan penjelasannya, agar tidak ada ganjalan di antara guru dan murid."
Alvaro terdiam. Nama itu lagi. Nama yang kini menjadi ujian terberat dalam hidup dewasanya.
"Alvaro butuh waktu, Abi," jawabnya pendek.
Ayini tidak menyerah. Meski mulutnya pedas, ia bukan orang yang lari dari tanggung jawab.
Ia memutuskan untuk menulis surat—cara paling sopan yang bisa ia pikirkan di pesantren ini.
Ia menulis dengan hati-hati di selembar kertas wangi.
Gus Kulkas (Maaf, Gus Alvaro), Gue tau gue salah. Gue beneran minta maaf soal yang di taman. Gue nggak bermaksud bikin Gus malu atau melanggar aturan Gus. Gue cuma benci sama cowok itu dan spontan tarik Gus. Gus jangan marah terus dong, kelasnya jadi sepi kalau nggak ada Gus yang kaku. Ayini.
Ia menitipkan surat itu pada Umi Ayisah. "Umi, tolong kasih ini ke Gus Alvaro ya. Ayini beneran nyesel."
Malam harinya, Alvaro membaca surat itu. Ia menghela napas panjang. Kalimatnya masih sangat "Ayini"—kurang adab namun terasa jujur.
Keesokan paginya, saat Ayini sedang menyapu halaman depan masjid sebagai bagian dari piket hariannya, ia melihat sosok tinggi tegap berjalan ke arahnya.
Itu Gus Alvaro.
Ayini langsung menjatuhkan sapunya.
"Gus!"
Alvaro berhenti pada jarak tiga meter. Ia tetap menjaga pandangan, menatap ke arah tiang masjid. "Saya sudah baca suratmu."
"Gus masih marah?" tanya Ayini cemas.
"Saya tidak marah. Saya hanya kecewa kamu menganggap aturan agama sebagai mainan untuk urusan pribadimu," ucap Alvaro dingin, namun kali ini suaranya tidak setajam kemarin.
"Ayini janji nggak bakal gitu lagi, Gus! Beneran! Ayini bakal rajin ngaji, bakal sopan, asal Gus jangan ngilang lagi," seru Ayini dengan nada manjanya yang mulai kembali.
Alvaro terdiam sejenak. Ia melihat ke arah lain, dan tanpa disadari Ayini, sebuah senyum yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya karena mendengar janji Ayini yang terdengar seperti anak kecil itu.
"Buktikan dengan tindakan, bukan cuma lisan yang pedas," kata Alvaro. Ia berbalik untuk masuk ke masjid.
"Eh, Gus! Berarti kita udah baikan kan?" teriak Ayini ceria.
Alvaro tidak menjawab, namun langkahnya terasa lebih ringan. Dan di balik pilar masjid, ia bergumam sangat lirih, "Dasar anak nakal."
Perjalanan mereka di tanah Barito masih sangat panjang. Keberadaan Raffi ternyata bukan satu-satunya gangguan, karena sebuah rahasia besar tentang alasan orang tua Ayini mengirimnya ke pondok ini mulai terkuak perlahan-lahan.
Suasana di asrama putri pagi itu terasa berbeda. Biasanya, teriakan Ayini yang mengeluh karena harus bangun subuh akan memecah kesunyian koridor.
Namun hari ini, Ayini sudah duduk tegak di atas sajadahnya bahkan sebelum azan subuh berkumandang dari pengeras suara masjid.
Teman-temannya—Layila, Adinda, dan Zia—saling berpandangan dengan cemas.
Mereka mengira Ayini sedang sakit atau mungkin kerasukan jin penunggu pohon sawo belakang pondok.