"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pintu kayu rumahku yang catnya sudah mulai mengelupas itu terasa sangat dingin saat jemariku menyentuhnya. Aku berdiri diam selama beberapa menit, berusaha mengatur napas yang masih tersengal akibat tangis di sepanjang jalan tadi. Aku meraba wajahku, memastikan tidak ada sisa air mata yang tertinggal. Dengan gerakan perlahan, aku memperbaiki letak hijabku, menariknya sedikit ke depan untuk menutupi wajahku yang sembab, lalu memutar kunci pintu.
"Assalamualaikum," ucapku setenang mungkin saat melangkah masuk.
"Waalaikumsalam. Jam segini baru pulang, Ra? Tadi Ibu telepon ke toko, katanya kamu sudah pulang dari jam lima sore," suara Ibu menyambutku dari arah meja makan. Beliau sedang duduk sembari melipat beberapa lembar baju yang baru kering.
Jantungku berdegup kencang. Aku lupa kalau Ibu terkadang menelepon toko jika aku terlambat pulang. Aku segera mencari alasan, mencoba tetap terlihat santai. "Iya, Bu. Tadi mampir ke tempat Alina dulu, ada urusan sebentar soal barang returan yang salah hitung tadi siang. Jadi agak lama di sana," jawabku sambil berjalan cepat menuju dapur, menghindari tatapan langsung Ibu.
"Oh... Ibu kira ada apa-apa. Kamu sudah makan?" tanya Ibu lagi.
"Sudah tadi sama Alina, Bu. Aira langsung ke kamar ya, ngantuk banget," sahutku bohong. Perutku sebenarnya terasa mual dan sangat lapar, tapi membayangkan makanan saja rasanya ingin muntah. Rasa cemas telah membunuh selera makanku.
Aku segera masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Begitu punggungku menyentuh daun pintu, seluruh pertahananku nyaris runtuh. Aku merosot duduk di lantai, memeluk lututku sendiri. Di dalam sana, di bawah seragam kerjaku yang terasa menyesakkan, janin ini kembali bergerak pelan. Seolah-olah dia pun bisa merasakan ketegangan yang dialami ibunya. Aku mengelus perutku, air mata kembali menetes tanpa bisa dicegah.
Besok, Nak. Besok hidup kita akan berubah, batinku pedih.
Malam itu terasa sangat panjang. Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang kusam. Pikiranku melayang pada kejadian di rumah Mas Dika tadi. Wajah syok ibunya, tatapan dingin bapaknya, dan janji Mas Dika untuk datang besok pagi. Bagaimana jika bapaknya melarang Mas Dika datang? Bagaimana jika Mas Dika berubah pikiran karena tidak sanggup menghadapi tekanan keluarganya?
Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk pelan. "Ra, Ibu boleh masuk?"
Aku tersentak, segera menghapus air mata dengan ujung bantal dan duduk tegak. "Iya, Bu, masuk saja."
Ibu masuk membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di meja samping tempat tidurku. Beliau duduk di tepi ranjang, menatapku dengan tatapan lembut yang justru membuat hatiku semakin teriris.
"Kamu pucat sekali belakangan ini, Ra. Badanmu juga kelihatan agak lebaran. Kamu jangan terlalu capek kerjanya, kasihan badanmu," ucap Ibu sambil membelai rambutku. "Ingat, Bapakmu merantau jauh-jauh biar kamu bisa hidup enak, jangan sampai kamu malah jatuh sakit."
Aku hanya bisa tersenyum kaku, berusaha menelan gumpalan pahit di tenggorokanku. "Aira nggak apa-apa kok, Bu. Cuma kurang tidur saja karena akhir-akhir ini toko lagi ramai."
"Ya sudah, minum susunya terus tidur. Besok kan libur, istirahat yang banyak," pesan Ibu sebelum beranjak keluar.
Begitu pintu tertutup, aku hanya bisa menatap gelas susu itu dengan pandangan kosong. Ketenangan Ibu malam ini adalah hal yang paling menakutkan bagiku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibu besok pagi saat Mas Dika dan orang tuanya datang untuk mengakui dosa yang kami perbuat. Besok, senyum lembut Ibu mungkin akan berubah menjadi tangisan pilu, atau bahkan kebencian yang mendalam.
Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimutiku. Dalam sunyi, aku terus merapalkan doa yang tak beraturan. Berharap agar esok matahari tidak perlu terbit, atau setidaknya, berharap agar Mas Dika benar-benar menepati janjinya untuk berdiri di sampingku saat badai itu datang menghantam rumah ini.
Malam ini, aku adalah aktris terbaik dalam sandiwara ketenangan, sementara di balik kulitku, sebuah kebenaran besar sedang menunggu waktu untuk meledak dan menghancurkan segalanya.