NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 buaian petir dan meridian pedang pembelah langit

Kanopi Hutan Binatang Buas di zona utara semakin rapat, menelan setiap sisa cahaya matahari yang mencoba menembus dedaunan purba. Udara di tempat ini terasa lengket, sarat dengan kelembapan dan aroma lumut berusia ribuan tahun. Yan Xinghe melompat dari satu dahan raksasa ke dahan lainnya bagaikan hantu tanpa bayangan. Pakaiannya yang kebesaran berkibar pelan, tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

Tiga jam berlalu sejak ia meninggalkan area pertarungan berdarah itu. Instingnya membawa langkahnya menjauh dari pusat energi yang padat, mencari sebuah anomali geografis di mana aliran energi alam justru terputus. Tempat seperti itu adalah lokasi paling aman untuk melakukan terobosan; titik buta bagi monster spiritual yang melacak mangsa melalui gelombang energi.

Sebuah tebing curam berbatu kapur hitam muncul di ujung pandangannya. Di dasar tebing tersebut, air tanah merembes membentuk tirai air terjun tipis yang menutupi sebuah celah sempit. Xinghe memicingkan mata, memindai struktur bebatuan itu. Celah tersebut mengarah ke sebuah gua dangkal yang tertutup lumut tebal. Gelombang energi di sekitar gua itu sangat stagnan. Sempurna.

Ia mendarat di atas bebatuan licin, menerobos tirai air terjun kecil, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan gua.

Aroma gua itu pengap, dipenuhi bau tanah liat basah. Ruangannya hanya seukuran kamar kecil, cukup untuk satu orang duduk bersila. Xinghe tidak segera memulai kultivasinya. Kelalaian sekecil debu di Hutan Binatang Buas berarti kematian absolut. Ia mencabut pedang besi karatannya, lalu mengiris dangkal telapak tangan kirinya.

Darah merah segar menetes. Xinghe menggunakan jari telunjuk kanannya untuk mengumpulkan tetesan darah tersebut, lalu mulai menggambar pola-pola geometris rumit di dinding dan lantai gua. Pola itu bukan huruf fana, melainkan aksara rahasia dari Era Primordial—sebuah susunan *Formasi Penyembunyi Aura Enam Arah*. Karena ia tidak memiliki energi spiritual untuk mengaktifkan formasi, ia menggunakan darahnya sendiri yang mengandung sisa esensi jiwa kaisar sebagai fondasi katalisator.

Garis darah terakhir tersambung. Gua itu tiba-tiba terasa hampa. Suara tetesan air terjun di luar memudar. Udara di dalam ruangan kecil ini seolah terpotong sepenuhnya dari realitas dunia luar. Segala bentuk energi yang meledak di dalam sini tidak akan merembes keluar melewati batas formasi darah tersebut.

Xinghe duduk bersila di tengah lantai gua yang dingin. Ia mengeluarkan Inti Macan Tutul Guntur Bayangan dari kantong kulitnya. Kristal seukuran telur angsa itu memancarkan pendar cahaya ungu yang ganas, berderak dengan kilatan petir kecil yang menyengat telapak tangannya. Hanya dengan memegangnya, kulit fana Xinghe mulai melepuh.

Kekuatan di dalam kristal ini setara dengan praktisi Alam Pembukaan Meridian Tingkat Ketiga. Sementara itu, tubuh Xinghe baru menyentuh batas ambang Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Pertama, ditambah kondisi meridiannya yang hancur lebur berkeping-keping. Memasukkan energi ini ke dalam tubuhnya sama gilanya dengan mencoba memasukkan lautan mengamuk ke dalam cangkir teh yang retak.

Kematian adalah probabilitas tertinggi.

Xinghe memejamkan mata. Ingatan tentang penderitaan keluarganya, cemoohan penduduk desa, dan wajah dingin Feng Jiantian yang mengkhianatinya di Puncak Nirwana berputar kembali di benaknya. Roda gigi takdir Tiga Ribu Dunia tidak akan memberinya belas kasihan jika ia memilih jalan pengecut. Ia menolak mati sebagai sampah. Ia akan menunggangi petir ini, atau hancur menjadi abu di bawahnya.

"Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan: Putaran Ketiga. Pembukaan Paksa Gerbang Kehidupan!" raung Xinghe dalam hati.

Ia tidak menelan inti tersebut. Ia meletakkan kristal petir itu tepat di atas ulu hatinya, menempelkannya langsung pada kulit dadanya yang pucat. Tangannya membentuk segel tangan yang aneh, menekan kristal itu agar menembus pertahanan luarnya.

*BZZZZT!*

Sengatan pertama menghantam tubuhnya bagai palu godam tak kasat mata. Cahaya ungu meledak menerangi seluruh penjuru gua. Energi petir murni yang liar dan buas menyerbu masuk melalui pori-pori dadanya, langsung merobek jaringan otot dan pembuluh darah fana di sekitarnya.

Xinghe memuntahkan darah dalam jumlah banyak. Matanya membelalak lebar, urat-urat di wajah dan lehernya menonjol keluar hampir pecah.

Rasa sakitnya berada di luar batas deskripsi bahasa manusia. Jika rasa sakit pada putaran pertama dan kedua terasa seperti digergaji perlahan, rasa sakit kali ini ibarat menelan ribuan lebah api yang meledakkan diri di dalam setiap sel tubuhnya. Petir ungu itu tidak memiliki kecerdasan, hanya insting merusak. Energi itu mengalir liar, mencari jalan keluar, dan tanpa ampun menghantam sembilan jalur meridian Xinghe yang sudah putus.

Ujung-ujung meridian yang terputus itu terbakar seketika. Tubuh kurus Xinghe kejang hebat, terangkat beberapa inci dari tanah sebelum terbanting kembali. Kulitnya mulai retak, memancarkan cahaya ungu dari dalam dagingnya.

"Tunduk padaku!" jiwa Kaisar Xinghe meraung keras, memaksakan kehendaknya yang agung untuk menekan lautan petir tersebut.

Petir menyimbolkan hukuman langit, sesuatu yang tidak bisa dijinakkan oleh tubuh jasmani. Xinghe tahu ia tidak bisa melawan elemen ini dengan kekuatan fisik. Ia harus menggunakan senjata utamanya: *Niat Pedang*.

Meskipun ia tidak memegang sebilah pedang pun saat ini, jiwanya sendiri adalah mahakarya pedang paling tajam di semesta. Ia memusatkan seratus persen kesadarannya, memadatkan Niat Pedang itu menjadi benang-benang spiritual yang sangat tipis dan fleksibel.

Ini adalah proses operasi bedah tingkat dewa yang dilakukan dari dalam diri sendiri di tengah badai kehancuran. Benang-benang Niat Pedang itu menusuk ujung meridian yang putus di bagian perut bawah (Dantian), lalu menarik paksa arus petir liar untuk menjembatani celah yang terputus tersebut.

Alih-alih menyembuhkan meridian dengan energi kehidupan yang lembut, Xinghe menggunakan energi petir yang merusak itu sebagai lem perekat. Petir yang liar dipaksa mengalir mengikuti rute Niat Pedangnya, membakar sisa-sisa sumbatan kotoran di dalam jalur meridian, lalu mengkristal karena tekanan luar biasa dari jiwa sang kaisar.

*KRAK! KRAK!*

Satu jalur meridian berhasil disambung. Jalur itu tidak lagi berwarna kemerahan layaknya manusia normal, melainkan memancarkan pendar keunguan yang dihiasi aura setajam silet. Ini bukan lagi meridian fana, ini adalah meridian buatan yang ditempa dari petir dan niat pedang.

Proses ini sangat lambat. Setiap kali satu jalur tersambung, tubuh Xinghe harus menahan efek kejut luar biasa yang hampir meremukkan organ dalamnya. Keringat yang keluar dari pori-porinya langsung menguap menjadi asap putih karena suhu tubuhnya yang mendidih.

Satu jam berlalu bagai satu abad di neraka terbawah. Meridian kedua tersambung. Meridian ketiga menyusul.

Gua kecil itu kini dipenuhi aroma daging terbakar dan ozon yang pekat. Darah yang tumpah di lantai mengering seketika, membentuk lapisan kerak kehitaman. Xinghe sama sekali tidak bergerak dari posisi silanya, wujudnya lebih menyerupai mayat hangus yang diselimuti petir ungu daripada manusia hidup.

Kesadarannya mulai memudar. Kegelapan merayap dari sudut-sudut pandangannya. Batas kekuatan mentalnya hampir mencapai dasar. Mengendalikan Niat Pedang dan menahan rasa sakit sambil menyambung sembilan jalur kehidupan secara bersamaan adalah pekerjaan yang menguras esensi jiwa terdalamnya.

"Feng... Jiantian..." nama itu mendesis dari sela-sela gigi Xinghe yang berlumuran darah.

Kebencian adalah bahan bakar terbaik saat harapan padam. Wajah pengkhianat itu, senyum dingin di ambang jurang, pedang yang menembus jantungnya di kehidupan lampau. Semua itu adalah pelecut yang menampar jiwa Xinghe untuk kembali terbangun. Ia menolak mati di dalam gua kotor dan lembap ini. Perjalanannya menuju langit bahkan belum dimulai!

Dengan sisa kekuatan terakhir yang ditarik dari kedalaman intisarinya, Xinghe menghentakkan segel tangannya.

"Sembilan Saluran Petir Sejati, Berkumpullah!"

Ledakan energi terdengar teredam dari dalam tubuhnya. Sisa energi dari Inti Macan Tutul tersedot habis tanpa sisa. Keenam meridian terakhir yang masih terputus ditarik paksa menjadi satu titik temu di pusat Dantiannya. Benang Niat Pedang menjahit semuanya dalam satu tarikan serentak.

Sebuah pilar cahaya ungu melesat dari ubun-ubun Xinghe, menghantam langit-langit gua dan menciptakan retakan kecil pada batuan keras tersebut. Formasi penyembunyi aura di lantai gua hancur berkeping-keping, kehabisan tenaga menahan tekanan internal yang baru saja lahir.

Lalu, keheningan menyelimuti ruangan itu.

Suara detak jantung yang pelan, berat, dan bertenaga mulai terdengar. *Dug... dug... dug...* Iramanya lambat seolah bukan milik manusia biasa, mirip dengan degup jantung monster purba yang baru bangkit dari dormansi ribuan tahun.

Kerak darah dan kulit mati yang menutupi tubuh Xinghe perlahan retak dan berjatuhan ke lantai. Dari balik cangkang hangus itu, muncul lapisan kulit baru yang lebih cerah, bersih tanpa cacat, memancarkan rona kemerahan yang sehat. Otot-ototnya tidak membesar secara drastis, posturnya tetap ramping dan kurus. Kepadatan di balik kulit itu kini menyerupai untaian kawat baja yang dirajut rapat.

Xinghe membuka matanya secara perlahan. Sepasang manik mata itu kini memancarkan kilatan petir ungu sesaat sebelum kembali berubah menjadi hitam kelam yang tak terukur dalamnya.

Ia menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya membawa percikan api kecil.

"Berhasil," bisiknya serak.

Ia memindai kondisi internal tubuhnya. Sembilan meridian utamanya telah tersambung sempurna. Jalur-jalur tersebut kini dua kali lipat lebih lebar dari meridian manusia normal, diliputi oleh energi petir pasif yang secara otomatis menghancurkan benda asing atau racun yang mencoba memasukinya. Penyatuan ini telah mendorong tubuh fisiknya melompati batasan.

"Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Ketiga," Xinghe mengevaluasi pencapaiannya. Mengabsorpsi Inti Monster Tingkat Ketiga penuh hanya menaikkannya dua tingkat kecil. Ini membuktikan betapa sulitnya metode *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan*. Fondasi yang ia bangun terlalu padat, sehingga membutuhkan jumlah energi eksponensial untuk setiap peningkatan tingkat.

Meski hanya berada di Tingkat Ketiga, Xinghe yakin kekuatan fisik murninya saat ini sanggup menghancurkan praktisi Tingkat Keenam dengan tangan kosong. Kekuatan fisiknya kini mengandung elemen guntur yang memberikan kecepatan ledakan ekstrem.

Ia meraih pedang karatannya yang tergeletak di samping. Begitu jari-jarinya menggenggam gagang pedang, seutas energi spiritual tipis berwarna ungu mengalir dari telapak tangannya menyelimuti bilah kusam tersebut. Karat tebal di permukaan pedang itu perlahan mengelupas, menampilkan logam perak kusam di bawahnya. Bilah tumpul itu kini memancarkan ketajaman yang menakutkan, beresonansi dengan meridian baru milik Xinghe.

"Ini belum cukup untuk membunuh kepala desa Gongsun Tian yang berada di Tingkat Kesembilan, ini cukup untuk meratakan seluruh pengawal anjingnya dalam satu sapuan," pikir Xinghe seraya menyarungkan kembali pedangnya.

Ia memungut jubah kulit serigala abu-abu miliknya yang sudah robek di beberapa bagian, lalu memakainya kembali. Ia harus bergegas. Menyambung meridian membutuhkan fokus absolut, ia telah kehilangan konsep waktu di dalam gua ini. Ia tidak tahu apakah hari sudah berganti. Jika batas waktu tiga hari terlewati, ibu dan kakaknya mungkin sudah meregang nyawa di tangan keluarga Gongsun.

Xinghe menerjang keluar dari gua, membelah tirai air terjun dengan satu lompatan sejauh sepuluh meter. Mendarat di dahan pohon raksasa, ia menekan kakinya, menciptakan tolakan ledakan petir kecil yang melontarkannya melesat ke udara seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kecepatannya kini lima kali lipat lebih cepat dibandingkan saat ia baru memasuki hutan ini.

Hutan Binatang Buas merespons kehadirannya. Monster-monster tingkat rendah yang mencium pergerakannya segera menyingkir, merasakan tekanan predator alami dari fluktuasi guntur yang terpancar samar dari tubuh pemuda itu.

Cahaya matahari sore yang kemerahan menyambut matanya saat ia menembus garis batas hutan. Waktu telah berlalu satu setengah hari. Langit senja memberikan rona jingga berdarah pada cakrawala di atas Desa Kabut Berbisik.

Xinghe menatap jauh ke arah desanya. Asap hitam tipis terlihat mengepul dari arah pemukiman cabang keluarga Yan di ujung desa. Asap itu bukan berasal dari tungku dapur. Itu adalah asap dari kayu bangunan yang terbakar.

Pupil mata Xinghe menyusut seukuran ujung jarum. Suhu udara di sekelilingnya anjlok seketika. Burung-burung di pepohonan terdekat jatuh pingsan akibat tekanan Niat Membunuh murni yang meluap dari jiwanya.

Gongsun Ye tidak memiliki kesabaran untuk menunggu tiga hari. Mereka telah bergerak.

"Keluarga Gongsun..." Suara Xinghe sedingin angin utara yang bertiup dari neraka berlapis es. "Jika satu tetes darah keluargaku tumpah ke tanah, aku akan menggunakan tengkorak setiap pria, wanita, dan anak-anak dari klanmu untuk membangun singgasana kematianku hari ini."

*SWUSSH!*

Xinghe menghilang dari tempatnya berdiri. Sepasang jejak kaki hangus berasap tertinggal di atas batu kapur yang ia pijak. Tubuhnya berubah menjadi bayangan ungu yang melesat membelah lereng bukit, membawa badai darah menuju Desa Kabut Berbisik.

Di saat yang sama, pemandangan memilukan sedang terjadi di pelataran gubuk keluarga Yan.

Pintu depan telah hancur sepenuhnya. Pagar bambu pelindung rata dengan tanah. Sepuluh orang pria bersenjata pedang panjang mengenakan seragam abu-abu dengan lambang palu bersilang berdiri melingkar, mengepung sisa-sisa penghuni rumah tersebut.

Di tengah kepungan itu, Yan Qingshan berlutut di tanah tanah liat yang becek akibat darahnya sendiri. Bahu kirinya tertusuk pedang tembus hingga ke belakang. Lengan kanannya memegang erat sebilah kapak penebang pohon yang gagangnya sudah retak, berusaha menopang tubuh besarnya agar tidak ambruk sepenuhnya. Napas pemuda itu memburu kasar, matanya merah menyala menatap musuh-musuhnya dengan kebencian absolut.

Di belakang Qingshan, Shen Yulan mendekap erat Yan Xiaoxiao. Gadis kecil itu menangis tanpa suara, wajahnya tenggelam di bahu ibunya. Shen Yulan tampak pucat pasi, namun pandangannya menyiratkan ketegaran seorang ibu yang siap mati melindungi anaknya. Penyakitnya baru saja sembuh, kini kematian lain yang jauh lebih kejam datang menjemput.

Berdiri santai beberapa langkah di hadapan Qingshan adalah Gongsun Ye. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu memiliki wajah yang lumayan tampan, dirusak oleh raut keangkuhan dan kekejaman yang mendarah daging. Ia mengenakan jubah sutra halus berwarna putih bersih yang sangat kontras dengan lingkungan kumuh tersebut. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah kipas berlukiskan pemandangan gunung.

Gongsun Ye mendengus pelan, menatap Qingshan seolah menatap serangga sekarat.

"Kau benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah, Yan Qingshan," ucap Gongsun Ye santai, melangkah maju dan menendang wajah Qingshan dengan ujung sepatu botnya.

Qingshan terpental ke belakang, memuntahkan beberapa gigi beserta darah segar. Ia berusaha bangkit kembali menggunakan kapaknya, namun tubuhnya menolak bekerja sama. Luka tusuk di bahunya menguras habis tenaga fana yang dimilikinya.

"Di mana adik sampahmu itu bersembunyi?" Gongsun Ye menekan ujung sepatunya ke telapak tangan kanan Qingshan yang memegang kapak, menggerusnya dengan kejam. "Dia berani mematahkan tangan Instruktur Lei Ba dan mempermalukan bawahanku di depan umum. Jangan pikir aku akan membiarkannya lolos. Jika kalian tidak memberitahuku di mana dia lari, aku akan menjual adik perempuanmu ini ke rumah bordil Kota Awan Mengambang sebagai pelunasan."

Mendengar ancaman itu, mata Qingshan melebar. Tenaga entah dari mana tiba-tiba mengalir deras. Ia mengayunkan kapaknya secara horizontal menyasar kaki Gongsun Ye.

"Jangan sentuh keluargaku, Anjing!" raung Qingshan.

Gongsun Ye tidak perlu repot-repot menghindar. Ia hanya mengangkat alisnya sedikit. Salah satu pengawal di sampingnya melesat maju, menyarangkan tendangan telak ke dada Qingshan sebelum kapak itu sempat mendekat.

Terdengar suara tulang iga patah. Qingshan terlempar menghantam dinding gubuk, membuatnya ambruk sebagian. Debu tebal mengepul ke udara.

"Qingshan!" Shen Yulan menjerit histeris, melepaskan pelukannya dari Xiaoxiao dan berlari menghampiri putra sulungnya yang kini tidak bergerak sama sekali. Darah segar mengalir perlahan dari sudut mulut pemuda malang itu.

"Hancurkan sisa rumah ini. Seret ibunya menjauh, ikat gadis kecil itu," perintah Gongsun Ye dengan nada bosan. Ia membuka kipasnya untuk mengusir debu di udara. "Membakar tempat ini sampai rata dengan tanah pasti akan memancing si tikus cacat itu keluar dari lubang persembunyiannya."

Dua orang pengawal bertubuh kekar maju mendekati Shen Yulan. Salah satunya menarik rambut wanita paruh baya itu tanpa ampun, menyeretnya menjauh dari tubuh Qingshan. Pengawal kedua melangkah mendekati Xiaoxiao yang gemetar ketakutan, menyeringai lebar memperlihatkan deretan giginya yang kotor.

"Paman, tolong... lepaskan ibu," isak Xiaoxiao, mundur hingga punggungnya menabrak tiang kayu.

"Jangan khawatir, Gadis Kecil. Kami hanya akan membawamu ke tempat yang lebih hangat," kekeh pengawal itu, mengulurkan tangan besarnya untuk mencengkeram kerah baju Xiaoxiao.

Jari-jari kasar pria itu nyaris menyentuh pakaian gadis kecil tersebut.

Dalam seperseribu detik berikutnya, sebuah fenomena yang melampaui nalar manusia fana terjadi.

Angin yang bertiup di pelataran itu mendadak berhenti. Suara tangisan Xiaoxiao, jeritan Shen Yulan, dan tawa para pengawal seolah terpotong oleh sebuah tabir tak kasat mata. Udara di sekeliling pemukiman itu membeku, suhu anjlok hingga napas setiap orang yang hadir menghasilkan kepulan kabut putih tebal.

*ZRAAAASH!*

Sebuah kilatan cahaya keunguan yang melengkung indah membelah udara dari arah ujung jalan desa. Kecepatannya jauh melampaui kedipan mata.

Pengawal bertubuh kekar yang hendak menangkap Xiaoxiao tiba-tiba membeku di tempat. Senyum cabulnya masih terpahat di wajahnya. Tangan kanannya yang terulur diam menegang. Terdengar suara cairan menetes pelan ke tanah.

Gongsun Ye mengerutkan dahi, merasa ada sesuatu yang janggal. "Apa yang kau tunggu, bodoh? Cepat seret dia!"

Pria kekar itu tidak menjawab. Sejenak kemudian, sebuah garis merah tipis muncul melingkari leher tebalnya. Garis itu semakin jelas, melepaskan pancuran darah yang menyembur tinggi ke udara bagai air mancur neraka. Kepala pria itu terlepas dari lehernya, menggelinding ke tanah hingga berhenti tepat di ujung sepatu bot putih Gongsun Ye. Tubuh tanpa kepalanya ambruk dengan suara berdebum yang kaku.

Kengerian absolut mencengkeram seluruh orang di pelataran tersebut. Sisa sembilan pengawal segera menghunus pedang mereka, memutar tubuh membentuk formasi melingkar untuk melindungi Gongsun Ye. Mata mereka menatap liar ke sekeliling, mencari sumber serangan mematikan yang tidak terlihat wujudnya itu.

Di ambang pintu pekarangan yang hancur, kabut debu perlahan menipis, disingkirkan oleh embusan angin dingin yang membawa bau ozon pekat.

Dari balik tirai debu tersebut, muncul sesosok pemuda berjalan perlahan. Setiap langkahnya terdengar pelan, bergema layaknya palu godam kematian yang mengetuk pintu jantung setiap musuh di sana. Ia mengenakan jubah kulit serigala abu-abu yang compang-camping. Di tangan kanannya yang menjuntai lemas ke bawah, tergenggam sebilah pedang besi berkarat. Dari ujung bilah tumpul itu, menetes perlahan darah segar milik pria tanpa kepala tadi.

Mata pemuda itu tidak memancarkan emosi apa pun. Gelap, tak terukur, dan memancarkan dominasi tirani yang membuat lutut orang terkuat sekalipun terasa lemas.

"Kau mencari tikus yang bersembunyi, Gongsun Ye?" suara Yan Xinghe mengalun tenang, sehalus belaian sutra di leher sebelum eksekusi. "Selamat. Kau baru saja memancing seekor naga bangun dari tidurnya."

Gongsun Ye menelan ludah paksa. Kesombongannya seolah menguap ditelan tekanan udara yang tiba-tiba menjadi sangat berat. Ia menatap pemuda kurus di hadapannya. Yan Xinghe tidak terlihat seperti pemuda lumpuh dengan sembilan meridian terputus yang pernah ia siksa. Sosok yang berdiri di sana memancarkan aura seorang dewa iblis yang kembali untuk menagih hutang darah ribuan tahun.

Pertunjukan pendahuluan telah selesai. Tirai pembantaian yang sesungguhnya di Benua Tanah Spiritual secara resmi dibuka malam ini. Sang Kaisar Pedang tidak akan mengampuni siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!