Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
"Mama. Aku ingin menunda pernikahan," ucap Rama tiba-tiba.
Sang mama terlihat bingung bukan kepalang.
"Menunda?"
"Iya. Aku ingin menunda. Pernikahan satu minggu lagi, aku tidak ingin melanjutkannya."
Setelah sesaat mencoba untuk mencerna apa yang anak keduanya katakan, wanita paruh baya itu akhirnya berucap. "Kamu sakit ya? Bisa-bisanya kamu berniat untuk menunda pernikahan yang persiapannya sudah sangat rampung, Rama."
"Mah. Aku masih muda. Waktu menikah masih panjang. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika aku ingin menunda pernikahan?"
Dengusan pelan akhirnya si mama lepaskan. "Terserah kamu saja. Mama tidak ingin ikut campur."
Ucapan itu terdengar malas dan pasrah. Saat mendengar kata-kata itu, hati Rama bukannya bahagia, tapi malah cemas. Sungguh, dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal sebenarnya. Hanya saja, pria itu tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Mama ... setuju?" Rama bertanya dengan nada penuh selidik. "Jika pernikahan itu aku tunda, mama akan setuju?"
Sang mama langsung memberikan tatapan tajam. "Aku setuju atau tidak? Kenapa kamu tanya aku? Yang ingin menikah bukan aku 'kan? Lagian, jika kamu tidak ingin menikah dengan Sinta, sebaiknya tidak menikah selamanya. Karena aku tidak hanya punya satu anak. Melainkan, aku juga punya anak yang lainnya."
Mata Rama seketika membulat sempurna sesaat setelah mendengarkan apa yang mamanya katakan. Tidak hanya punya satu anak? Iya, memang benar mamanya punya dua anak. Tapi 'kan, dia yakin kalau anak yang satunya lagi gak akan pernah menikah. Lagian, mana mungkin Sinta mau menikah dengan kakaknya yang buruk rupa itu.
"Mama jangan bercanda. Mana mungkin Sinta mau menikah dengan anak mama yang lainnya. Karena Sinta itu sangat mencintai aku. Sekalipun aku menunda pernikahan ini, aku yakin, Sinta juga akan setuju."
"Ka-- "
Baru juga si mama mau menjawab, ucapan itu langsung tertahankan dengan kemunculan Sinta yang datang secara tiba-tiba. Perhatian keduanya pun langsung teralihkan.
"Sinta." Mama Rama berucap pelan. Sedangkan anaknya hanya diam saja. Tidak sedikitpun wajah bersalah Rama perlihatkan saat ini.
"Maaf, apa aku datang di waktu yang salah?" Tanya Sinta dengan wajah datar.
"Nggak kok. Kita hanya-- "
"Kamu datang di waktu yang tepat, Sinta." Rama berucap dengan nada angkuh. "Aku sedang membicarakan soal penundaan pernikahan kita. Waktu tempo dua bulan itu terlalu cepat. Jadi, pernikahan ini akan aku undur lagi. Kamu tidak keberatan bukan?"
Sinta menatap Rama dengan tatapan aneh yang Rama sendiri tidak bisa memahaminya. Namun, meskipun begitu, Rama masih berpikir, tatapan yang Sinta berikan itu wajar.
"Sinta. Kenapa diam saja? Kamu tidak keberatan jika pernikahan kita aku tunda, bukan?"
"Sesuka hatimu saja," ucap Sinta akhirnya.
Rama sontak bangun dari duduknya. "Jawaban apa itu, Sinta? Kamu semakin menjadi-jadi sekarang ya."
"Rama! Jaga bicaramu. Sinta ini anak orang tuanya, bukan adik kamu. Dia di manja di keluarganya. Siapa kamu yang bicara sembarangan di depan Sinta." Kesal mamanya bukan kepalang.
Dan sekarang, orang tua itu mengerti dengan jelas mengapa Sinta ingin mengganti Rama dengan Rahwana. Semua gara-gara ulah Rama sendiri. Rama yang membuat gadis itu lelah, lalu menyerah secara perlahan. Hingga akhirnya, jalan lain gadis itu ambil sebagai pilihan yang buntu.
"Karena dia yang terlalu dimanjakan, jadinya dia sesuka hati dalam bertindak, Ma. Kalian selalu menganggap ia anak emas. Tapi kalian lupa, dia juga bukan putri raja yang harus selalu dihormati. Yang kemauannya harus dituruti. Dan, dibiarkan jika ia berbuat salah."
Kata-kata Rama untuk Sinta semakin pedas saja. Jujur, gadis itu masih terluka jika Rama bicara kata-kata yang menyakitkan tentang dia. Menuduhnya sembarangan, mengata-ngatai dirinya sesuka hati. Tapi, Sinta terlalu malas untuk berdebat. Titik terendah dari lelah hati yang Sinta alami adalah, malas untuk menanggapi apa yang Rama katakan. Walau kata-kata itu terlalu menyakitkan, tapi bibirnya terlalu malas untuk menjawab.
"Rama, cukup! Kamu kelewat batas, Ram." Nada tinggi dari sang mama langsung terdengar.
Rama yang kesal langsung mendengus.
"Mama terlalu memanjakan dia. Belum menikah saja dia sudah berulah. Apalagi sudah menikah nanti. Dia akan jadi semakin berkuasa atas keluarga kita. Terutama, atas diriku."
"Rama!"
Suara sang mama menggelegar memenuhi ruangan tersebut. Rama tidak lagi menjawab. Dia memilih untuk pergi. Tapi sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, dia sempat berbicara kecil di telinga Sinta.
"Manja mu bikin orang lain sulit, Sinta."
Sinta tidak menjawab. Entah yang ke berapa kali sudah Rama mengatakan kalau dirinya gadis manja. Padahal, dulunya, dia juga bersikap seperti sekarang. Tapi Rama tidak pernah mempermasalahkan sikapnya itu. Bahkan, Rama sering mengatakan kalau dia sudah dengan sikap manjanya Sinta. Dia suka gadis itu manja padanya. Tapi sekarang, semua telah berubah. Dan yang berubah bukan Sinta, melainkan, hati Rama. Penyebabnya adalah karena kehadiran orang baru yang telah mampu menggantikan posisi Sinta di hati Rama.
Setelah kepergian Rama, ruang tamu kediaman Hermawan hening sesaat. Si mama terlihat sangat kesal. Berulang kali wanita paruh baya itu mendengus untuk meredakan amarah yang ada dalam hatinya.
Sementara itu, Sinta masih terlihat anggun walau hatinya kesal bukan kepalang.
"Tante."
Nyonya Hermawan lalu mengangkat wajahnya.
"Sinta, maafkan Rama."
"Hm ... aku tidak marah, Tante."
"Karena apa? Karena kamu sudah tidak lagi mengharapkan dia, Sin?"
"Itu ... entahlah. Aku juga tidak terlalu yakin , Tante."
"Heh .... Sekarang tante tahu apa alasan kamu lebih memilih Wana dari pada menikah dengan Rama. Tapi, Sinta. Apakah kamu benar-benar yakin dengan pilihan mu itu, Nak? Antara Rama dan Wana, perbandingannya sangat jauh, Sinta."
Deg. Jantung Wana berdetak dua kali lebih cepat. Kebetulan, pria itu ada di depan pintu sekarang. Mendengar ucapan sang mama, Wana langsung membatalkan niatnya untuk masuk.
Manik matanya sedikit memerah gara-gara ucapan itu. Sang mama menyebutkan tentang perbedaan antara dirinya dengan Rama. Kata yang sangat menyakitkan hati Wana.
Selalu saja dia dibandingkan dengan Rama yang dianggap oleh kedua orang tuanya yang paling sempurna. Padahal, dalam segala hal, dia selalu berusaha agar terlihat lebih baik lagi dan lagi. Tapi hasilnya, dia selalu tak dianggap punya hati. Atau bahkan mungkin, dia tidak dianggap bernyawa oleh orang tuanya. Karena sering dalam memilih apapun, dia selalu akan dilupakan.
Bahkan sekarang, saat dirinya sudah di pilih oleh orang lain. Mamanya malah mempertanyakan soal keputusan orang yang telah membuat pilihan itu. Seolah, dirinya bukanlah pilihan yang tepat untuk di pilih. Atau lebih tepatnya, dia tidak layak untuk dijadikan pilihan.
Wana menggenggam erat tangannya. Tanpa bisa ia cegah, buliran bening jatuh di balik topeng separuh yang menutupi wajahnya. Dia menangis tanpa suara sekarang.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️