Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tuan Aditama dan nyonya Erlina masih dalam perjalanan, ketika sering telpon ponsel milik nyonya Erlina, terlihatlah nama Stela yang terpampang.
Nyonya Erlina merasa ragu apakah dirinya harus menerima panggilan tersebut atau malah mengabaikannya karena jika tidak di jawab pasti Stela tidak akan pernah berhenti meneleponnya sampai ada jawaban.
"Siapa yang telpon mah, kenapa tidak kamu angkat saja, berisik sekali. " ujar tuan Aditama yang merasa risih dengan suara dering telepon tersebut.
"Stela pah, mamah khawatir dia pasti akan bertanya tentang Leon, dan kabar tentang Leon sudah punya anak pun dia sudah tahu karena pasti akan ada banyak orang yang akan memberitahukan nya. "
"Biarkan saja, kalau dia tanya tentang anak, kamu bahas saja tentang anaknya yang di titipkan sama art nya. " Tuan Aditama sudah sangat kesal.
Akhirnya nyonya Erlina menjawab telpon dari Stela, terlihat nyonya Erlina sangat marah karena Stela berbicara tentang Leon yang sudah punya anak dan benar saja dugaannya itu.
Dan sesuai dengan perkataan suami ya, nyonya Erlina membalasnya dengan masalah anaknya, kemudian menutup telpon nya secara sepihak.
"Benarkan pah, Stela pasti akan bertanya tentang Leon dan anaknya. "
"Biarkan sajalah mah, Stela memang wanita stress, masa dia hamil masih saja memaksakan ingin menikah dengan Leon. " tuan Aditama kesal dengan Stela karena merasa di bohongi.
"Sudahlah kita tidak usah berurusan lagi dengan dia, toh Leon juga sudah bertemu dengan Rania dan juga anak anaknya. "
"Iya mah, sekarang kita fokus saja dengan kesembuhan Leon dan Zidan. "
Tidak terasa mereka pun sudah sampai fi halaman rumah sakit. Keduanya masuk ke dalam lobby rumah sakit kemudian naik lift ke lantai lima, tempat ruangan rawat inap anak dan cucunya.
Sampai di ruangan VVIP, tuan Aditama dan istrinya mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam kamar, tampak Rania sedang duduk di sofa, Zidan dan Leon sedang terlelap tidur.
"Pah mah, gimana mamah sudah sehat? " tanya Rania.
"Sudah sayang, mamah sudah lebih baik. " jawab nyonya Erlina.
"Syukur lah kalau mamah sudah sehat., papah juga jaga kesehatan bagian ar ada uang jagain mamah. "
"Itu sudah pasti sayang. "
"Leon keadaan nya gimana apa sudah stabil?"
"Sudah mah, tadi sudah di periksa dokter, dan semuanya baik baik saja, dan mas Leon sudah bisa duduk walaupun masih sedikit sakit. " jelas Rania.
"Zidan bagaimana? " tanya tuan Aditama.
"Alhamdulillah, Zidan juga berangsur lebih baik, sum sum tulang belakang milik papahnya sangat cocok. Semoga saja kurang dari satu minggu keduanya sudah bisa pulang. "
"Semoga saja Zidan cepat sehat dan sembuh dari leukemia nya, walaupun pengobatannya lama tapi kalau sudah ada sum sum sum tilang belakang besar kemungkinan bisa sembuh. "
"Aamiin mah. "
Leon membuka matanya, telinga nya mendengar ada suar yang sedang mengobrol, matanya melihat ada mamah dan papah nya yang sudah datang.
"Mah pah, kalian sudah datang? " tanya Leon.
"Sudah, kami sudah datang, bagaimana keadaan kamu, sudah lebih baik? " tanya nyonya Erlina dengan nada khawatir.
"sudah mah, badan Leon juga sudah terasa enak dan tinggal pemulihan saja. "
"Papah dan mamah tidak usah khawatir dengan keadaan Leon, karena Leon bisa kembali sehat. "
"Mamah dan papah hanya bisa mendo'akan agar Zidan bisa cepat sembuh. Dan mamah sangat berharap kalau kalian bisa bersatu demi kedua anak kalian. " ucap nyonya Erlina penuh harap.
"Dan mungkin Zidan membutuhkan kasih sayang kalian berdua setelah sembuh nanti, dan Naila pun butuh sosok papah dalam hidupnya. " Tuan Aditama menambahkan.
Rania hanya menunduk saja mendengar tuan Aditama berbicara, dirinya masih merasa trauma jika harus berdekatan dengan Leon. Jika bukan karena putranya rasanya Rania masih enggan dekat dengan Leon.
"Mamah juga berharap seperti itu. "
"Sudahlah mah, jangan memaksa kan kehendak, mungkin saja Rania belum mau menikah dengan Leon, walaupun kami tidak bersatu anak anak akan tetap mendapatkan kasih sayang Leon. "
"Ran, kamu sudah makan? " tanya nyonya Erlina mengalihkan pembicaraan agar Rania tidak merasa tersudut lagi dengan keinginan mereka berdua.
"Belum mah, karena di sini tidak ada orang yang menunggu, jadi Ran tunggu papah dan mamah saja. "
"Ya sudah, kamu mau pesan makanan atau mau makan langsung saja ke kantin di bawah? " tanya nyonya Erlina.
Mendapatkan angin segar drai nyonya Erlina, Rania segera mengiyakan pertanyaan mamah nya untuk makan di kantin.
"Ya sudah kamu ke kantin saja dulu, bait kamu juga tidak jenuh harus menunggu terus di kamar kan. "
"Mah, kok malah di suruh ke kantin, kenapa ga pesan makan saja biar makan di sini. " Leon Protes.
"Leon, biarkan Rania keluar, mungkin walaupun sebentar bisa menghirup udara segar. "
Leon tampak merengut, rasanya tidak rela kalau Rania harus pergi keluar kamar. Dirinya ingin dekat dengan Rania.
Akhirnya Rania keluar juga dari kamar, sebenarnya Rania tidak terlalu lapar, karena tadi sebelum ibunya pulang Rania sempat makan roti yang di belikan ibunya untuk mengganjal perut nya.
Rania berjalan di koridor rumah sakit menyusuri jalan menuju kantin yang ada di bawah, sengaja dirinya menggunakan tangga untuk keluar dari area rumah sakit untuk menenangkan pikiran nya.
"Ya Tuhan, apa aku egois karena sudah memisahkan kedua anakku dengan papahnya , namun jika aku bersatu dengan mas Leon, aku takut trauma itu datang lagi." Bathin Rania
Tujuan Rania ingin ke kantin, namun kakinya melangkah ke taman di sekitar rumah sakit.
Lelah hati yang selama ini di rasakan nya masih terasa di hati.
Rania duduk di kursi taman yang terasa sejuk dengan pemandangan air mancur buatan.
Ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Rania.
Dan pemilik mata itu berjalan menghampiri Rania yang sedang duduk melamun seorang diri.
"Ehemmm."
Rania menoleh ke arah suara dehem seseorang, matanya melihat seorang pria memakai kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Kamu Rania bukan? " tanya pria itu.
Rania mengangguk "Anda siapa, apa saya mengenal anda? "
"Kamu tidak ingat siapa saya? " tanyanya sambil membuka kaca matanya.
"Apa ini sudah mengingatkan kamu siapa saya? "
"Kamu kamu Hendra...? " tanya Rania tidak percaya dengan yang di lihatnya.
Rania menatap pria di masa lalunya, pria yang dulu sangat mencintai dirinya, pria yang selalu ada untuk nya, namun saat dirinya hancur Rania sengaja pergi menjauh agar Hendra tidak mengetahui kalau masa depannya sudah hancur.
"Iya Rania, aku Hendra. Apa kabar kamu dan mengapa kamu ada di sini, kemana saja kamu selama ini. Aku hampir gila mencarimu ke mana mana. Kamu seperti hilang di telan bumi? " Hendra mencerca Rania dengan berbagai pertanyaan
Rania terdiam, mulutnya seperti di lem, ingin rasanya berteriak dan mengatakan betapa dirinya merindukan pria yang ada di hadapannya saat ini, namun bayangan kedua anaknya seperti menghalangi mulutnya berbicara.
...****************...