Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
Brugh!
Suara berkas yang jatuh memenuhi ruangan Arga. Kertas-kertas berserakan di lantai, sementara Raka hanya berdiri diam, tidak berani memberikan reaksi.
“Sial…” desis Arga pelan, sarat amarah.
“Raka!”
“Iya, Tuan?” Raka segera melangkah mendekat dengan hati-hati.
“Kenapa bisa jadi seperti ini?” tanya Arga dengan nada dingin dan menekan.
“Saya juga belum bisa memastikan, Tuan. Namun secara tiba-tiba terjadi penurunan saham, dan beberapa pihak mulai menolak kerja sama,” jawab Raka dengan hati-hati.
Arga berdiri, berjalan mondar-mandir dengan napas berat.
“Semua kerja sama ditolak… saham anjlok… ini bukan kebetulan,” gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Matanya menyipit, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Seseorang.
Seseorang yang sengaja tidak ingin ia berdiri tenang.
Arga berhenti melangkah.
“Raka! Cari tahu dalang di balik semua ini. Sekarang.”
Raka mengangguk cepat tanpa ragu. Ia segera meraih laptopnya. Jari-jarinya bergerak lincah membuka berbagai data dan jaringan yang berkaitan.
Ia juga menghubungi beberapa kontak melalui ponselnya, mencoba menelusuri sumber masalah dari berbagai arah. Beberapa asisten Arga ikut bergerak, bekerja sama menangani kekacauan yang tiba-tiba muncul di perusahaan.
Wajahnya semakin serius.
“Tidak ada pola serangan biasa…” gumamnya.
Arga menoleh tajam. “Apa maksud lo?”
Raka menelan ludah.
“Ini bukan penurunan karena pasar, Tuan. Ada intervensi langsung. Seseorang sengaja menekan harga saham kita dari beberapa titik sekaligus.”
Hening.
Udara di ruangan itu seakan menegang.
Arga mengepalkan tangannya.
“Berarti ini serangan terarah…”
Raka mengangguk ragu. “Yang paling aneh… pelakunya tahu celah internal kita.”
BRAK!
Arga memukul meja lagi, lebih keras dari sebelumnya.
“Brengsek…”
Matanya kini benar-benar gelap.
“Tuan…” ucap Raka dengan ragu, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
“Apa?” balas Arga singkat, tatapannya langsung mengeras.
“Keungan perusahaan mulai terguncang,” jawab Raka hati-hati.
Arga mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai naik.
“Berita ini sudah mulai tersebar ke para investor kita,” sambung Raka, semakin menegaskan kondisi yang memburuk.
Arga terdiam, matanya menajam.
“Secepat ini?”
Raka menunduk. “Iya, Tuan. Ada pihak yang sengaja menyebarkan isu ini ke luar. Seolah perusahaan sedang dalam kondisi kritis.”
“Tuan, ada berita buruk lagi…” ucap Siska, rekan Arga, dengan nada ragu.
“Katakan,” balas Arga dingin.
“Semua investor menarik saham mereka. Perusahaan kita berada di ambang kebangkrutan,” jelas Siska.
Bragh!
Arga langsung melempar vas bunga di dekatnya hingga pecah berserakan. Suara benturannya menggema di seluruh ruangan.
“Sial… sial!” desisnya penuh emosi.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menahan amarah yang sudah memuncak.
“Siapa yang berani main sama gue?” gumamnya tajam, lalu menoleh ke Raka. “Lo belum temuin siapa dalang semua ini?”
Raka menggeleng pelan. “Maaf, Tuan. Serangan ini terlalu halus… membuat kita kesulitan melacak dalangnya.”
Krek!
Pintu ruangan terbuka.
Liora masuk dengan langkah ringan dan wajah ceria, membawa aura yang kontras dengan ketegangan di ruangan.Namun senyum itu perlahan memudar ketika melihat kondisi ruangan yang berantakan.
“Sayang, ada apa ini?” tanyanya pelan.
Arga hanya menoleh sekilas, lalu menahan diri. “Ada masalah sedikit,” jawabnya singkat, berusaha menyembunyikan keadaan sebenarnya.
Ia melirik Raka dan Siska, memberi isyarat agar mereka keluar.
Keduanya mengangguk paham, lalu meninggalkan ruangan tanpa banyak bicara.
Begitu ruangan kembali sepi, Arga mengalihkan perhatian pada Liora.
“Ada apa kamu kemari?” tanyanya.
Liora mendekat dengan santai, lalu duduk di pangkuan Arga tanpa ragu. “Aku mau ini, sayang,” ucapnya sambil memperlihatkan gambar di ponselnya, sebuah kalung berlian yang tampak sangat mewah.
Arga hanya melirik sekilas pada layar ponsel itu. Dalam benaknya, harga berlian itu bisa membantu menutup sebagian masalah perusahaannya saat ini.
“Kali ini… aku nggak bisa belikanmu berlian itu,” ucapnya pelan, nadanya tetap datar meski terselip beban yang ia sembunyikan.
Liora langsung mengerucutkan bibirnya. “Kenapa sih, sayang? Itu cuma satu di dunia, loh.”
Arga menghela napas panjang, pikirannya berputar cepat. Hingga sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.
“Aku bisa saja membelikan kamu berlian itu… asal…”
Ia sengaja menjeda ucapannya, membiarkan kalimat itu menggantung.
Liora yang menangkap maksudnya langsung bergerak perlahan membuka beberapa kancing bajunya, menatap Arga dengan santai. “Ini maksud kamu?” tanyanya sambil menunjuk dirinya.
Arga langsung menggeleng pelan. “Bukan itu.”
“Terus?” tanya Liora bingung, keningnya sedikit mengernyit.
Arga mendekat, lalu mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu di telinga Liora dengan suara rendah dan penuh perhitungan.
°°
“Semuanya sudah ditangani, Tuan,” lapor Adit dengan nada tenang dan penuh kepastian.
Nathan tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan kepuasan.
“Kamu memang bisa diandalkan, Dit,” ucapnya dengan nada tenang namun penuh makna.
Adit menunduk sedikit, tetap dengan ekspresi tenang.
“Terima kasih, Tuan.”
Nathan bersandar di kursinya, menatap layar monitor di depannya yang kini menampilkan pergerakan pasar yang mulai stabil kembali.
Beberapa detik hening.
Lalu ia menyipitkan mata.
“Bagian Arga gimana?” tanyanya pelan.
Adit ragu sejenak sebelum menjawab. “Tekanan masih berjalan sesuai rencana, Tuan. Sahamnya terus turun, dan investor sudah mulai menarik diri.”
Nathan tersenyum tipis.
“Bagus…”
Tangannya mengetuk meja pelan, satu per satu, seolah sedang menikmati irama kehancuran yang berjalan sesuai keinginannya.
“Dia pasti lagi panik sekarang.” gumamnya pelan.
Adit tidak menjawab.
Nathan berdiri, melangkah mendekati jendela besar ruangannya.
Dari sana, kota terlihat tenang.
Tapi pikirannya tidak.
“Arga selalu merasa dia paling kuat…” ucap Nathan pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Sekarang kita lihat, sekuat apa dia tanpa pondasi.”
Adit mengangguk kecil. “Jika Tuan menginginkan, kita bisa lanjutkan tekanan ke sektor lainnya.”
Nathan mengangkat tangan, menghentikan.
“Tidak.”
Adit langsung diam.
Nathan tersenyum miring.
“Biar dia ngerasain dulu… jatuh pelan-pelan.”