Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERLAMBAT
Langit menggantung rendah.
Awan gelap berputar perlahan, seperti pusaran yang tak terlihat ujungnya.
Bima berjalan meninggalkan makam.
Langkahnya tenang.
Namun setiap pijakan terasa lebih berat dari sebelumnya.
Bukan karena ragu, tapi karena ia sudah memilih.
Di batas desa…
angin tiba-tiba berubah arah.
WUSSH
Dingin.
Tajam.
Bima berhenti, kepalanya sedikit menoleh.
“akhirnya datang juga.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu
KRRAAAKK…
Dahan pohon di belakangnya patah.
Sosok muncul dari kegelapan.
Satu.
Lalu dua.
Lalu… lima.
Mereka tidak menyembunyikan diri lagi.
Aura mereka…
berat.
Pekat.
Dan berbeda dari yang sebelumnya, bima tidak berbalik sepenuhnya.
Hanya matanya yang melirik.
“kalian bukan yang tadi.”
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Tubuhnya tinggi.
Matanya merah redup.
“yang tadi… hanya umpan.”
Suaranya serak.
Seperti berasal dari dalam tanah.
Bima menarik napas pelan.
“jadi sekarang yang asli?”
Sosok itu tersenyum tipis.
“kami pemburu.”
DUUUMM…
Tekanan tiba-tiba turun.
Tanah di sekitar Bima retak halus.
Namun
ia tidak bergerak.
Tidak mundur.
Tidak gentar.
“pemburu ya…”
Tangannya perlahan terangkat.
Jari-jarinya mengepal.
Aura gelapnya…
muncul lagi.
Namun kali inintidak liar, tidak meledak.
Ia terkendali.
Mengalir Seperti sungai hitam yang tenang… tapi dalam.
Mata Bima berubah.
Kilatan gelap muncul… lalu stabil.
“kalian salah tempat.”
Angin berhenti.
Sunyi.
Sosok di depan menyipitkan mata.
“menarik.”
Ia memberi isyarat kecil.
Empat lainnya menyebar.
Mengurung.
“tangkap hidup-hidup.”
Bima tersenyum tipis.
“coba saja.”
WUSSH!!
Satu sosok menghilang.
Dalam sekejap muncul tepat di depan Bima.
TINNG!!
Serangan pertama.
Bima menahan.
Dengan tangan kosong.
Gelombang benturan menyebar.
Tanah di bawah mereka langsung hancur.
Namun wajah Bima…
tetap tenang.
Sosok itu terkejut.
“…apa”
BLAAAM!!
Bima membalas.
Satu pukulan langsung menghantam perutnya.
Tubuh sosok itu terlempar jauh.
Menghancurkan dua pohon sekaligus.
Belum sempat jatuh DUA sosok lain menyerang dari samping.
CEPAT.
Mematikan.
Namun
Bima menghilang.
WUSSH—
Mereka berhenti.
Kosong.
“di mana”
“di atas.” Suaranya dingin.
Mereka mendongak
TERLAMBAT.
DUAARRR!!
Bima jatuh dari udara Menghantam keduanya sekaligus.
Tanah pecah.
Debu beterbangan.
Hening sejenak.
Namun tepukan pelan terdengar.
CLAP… CLAP…
Sosok utama itu berjalan maju.
“kau memang berbeda.”
Matanya menyala lebih terang.
“makanya… kami tidak bisa membiarkanmu tumbuh.”
Aura di sekelilingnya berubah.
Lebih berat.
Lebih menekan.
Tanah di sekitarnya mulai tenggelam.
Bima berdiri di tengah debu.
Menatap lurus.
“terlambat.”
Sosok itu berhenti.
“apa maksudmu?”
Bima melangkah.
Satu langkah.
Aura gelapnya meningkat.
Namun tetap stabil.
“aku sudah tumbuh.”
DUUUMMMM…!!
Gelombang kekuatan menyebar.
Lebih luas.
Lebih dalam.
Langit di atas mereka bergetar.
Sosok utama itu tersenyum.
Namun kali ini bukan meremehkan.
Melainkan…
tertarik.
“bagus.”
Ia mengangkat tangannya.
Energi hitam berkumpul.
“kalau begitu…”
Matanya menajam.
“kita lihat… seberapa jauh kau bisa bertahan.”
Langit tiba-tiba retak oleh kilatan hitam.
Angin berputar liar Dan di tengah kegelapan itu
Bima berdiri.
Sendiri melawan lima pemburu.
Namun untuk pertama kalinya…
ia tidak terlihat seperti yang diburu.
Ia terlihat seperti…
sesuatu yang justru lebih berbahaya.
Di kejauhan…
di atas bukit yang menghadap desa sosok misterius tadi berdiri.
Mengamati.
Matanya tenang.
“jadi kau memilih jalan itu…”
Ia menutup mata sejenak.
“jangan mati terlalu cepat.”
Ketika matanya terbuka kembali sedikit penyesalan terlihat di sana.
“karena kali ini…”
“aku tidak akan datang menyelamatkan.”
Angin malam kembali berhembus.
Dan pertempuran… baru saja dimulai.
Sosok bima yang sekarang tidak bisa mereka sentuh.
Sekarang dia jauh melampaui kekuatan manusia biasa.
Sosok pendekar muda yang tiada tandingannya.