Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
Mobil Alden meluncur perlahan meninggalkan pelataran rumah utama. Beberapa detik kemudian, kendaraan itu menghilang di tikungan jalan depan.
Fransisca masih berdiri di teras, memeluk lengan sendiri sambil menatap arah mobil pergi.
“Dia tersenyum dua kali pagi ini.”
Nada suaranya terdengar seperti orang baru saja melihat keajaiban.
Alena menyandarkan bahu ke pilar. “Lebih seram dari biasanya, jujur.”
Arsen mendengus kecil. “Bukan seram. Menjijikkan.”
Ia menirukan ekspresi kakaknya saat menatap Belvina di meja makan tadi.
“Tatapan itu... aku mau muntah.”
“Arsen,” tegur Fransisca, tapi bibirnya ikut tertarik menahan senyum.
Andreas masih duduk di kursi teras, memegang cangkir kopi yang belum habis. Matanya tetap lurus ke gerbang yang kini sudah tertutup lagi.
“Bagus.”
Satu kata itu membuat pandangannya jatuh padanya.
Alena mengangkat alis.
“Bagus bagian mana, Yah? Kak Alden berubah jadi aneh?”
“Bagus karena akhirnya dia terlihat seperti manusia,” jawab Andreas datar.
Arsen tertawa pendek.
“Itu penghinaan paling halus yang pernah Ayah keluarkan.”
Fransisca menghela napas lega.
“Bunda hampir lupa wajah anak sulung kita kalau sedang senang.” Ia lalu sorot matanya beralih pada suaminya. “Tapi Belvina masih ingin pergi.”
Andreas menyesap kopinya pelan.
“Wajar.”
“Maksud Ayah?” tanya Alena.
“Perempuan yang terlalu lama diabaikan tidak akan luluh hanya karena satu pagi yang manis.”
Arsen bersiul kecil.
“Berarti Kak Alden telat sadar.”
“Bukan telat,” sahut Andreas. “Sangat terlambat.”
Alena melipat tangan di dada.
“Jadi sekarang gimana?”
Andreas meletakkan cangkir di meja teras.
“Sekarang?” Sorot matanya tajam tipis. “Sekarang biarkan dia bekerja.”
“Kerja di kantor?” tanya Arsen.
“Bukan.” Andreas berbalik masuk ke dalam rumah. “Kerja mengejar istrinya sendiri.”
Arsen langsung tertawa keras.
Alena ikut cekikikan.
Fransisca menutup mulut, gagal menyembunyikan senyum.
Setelah sekian lama, rumah itu terasa jauh lebih hidup setelah putra sulungnya pergi.
***
Mobil keluar dari gerbang rumah utama dan melaju mulus ke jalan raya.
Di kursi penumpang, wajah Belvina masih masam.
Ujung jarinya beberapa kali menyentuh benjolan kecil di dahinya sambil meringis kesal.
Alden melirik sekilas. Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat samar.
Belvina langsung menangkapnya.
“Apa yang kau lihat?”
“Aku sedang menyetir,” jawab Alden tenang. “Tentu saja jalan.”
Belvina berdecak.
“Kau sedang menertawakanku.”
Alden tak membantah. Ia justru bertanya datar,
“Kau mau ikut ke kantor?”
Belvina melihat ke luar jendela.
Jalan ini ia kenal dari ingatan Belvina lama. Rute yang sama setiap kali pulang dari rumah keluarga Alden.
Dan seperti biasa, pria itu akan menurunkannya di halte depan, lalu pergi tanpa banyak bicara.
“Berhenti.”
Nada suaranya cepat.
“Aku mau naik taksi.”
Mobil tetap melaju.
Belvina memicingkan mata ke arahnya.
“Hei. Aku bilang berhenti.”
Alden bicara tanpa memandangnya.
“Kenapa? Kau takut ke kantor?”
Belvina mengernyit.
“Takut?”
“Kemarin malam kau bicara soal proposal cukup lancar. Padahal kau belum pernah bekerja satu hari pun.”
Ingatan Belvina lama muncul sekejap.
Cantik, manja, dan hidup nyaman dari uang suami.
Sudut bibir Belvina terangkat, nyaris tak terlihat.
“Oh.”
Ia memutar kepalanya ke Alden.
“Jadi Tuan Alden sudah tidak mampu menafkahi istrimu?”
“Kau meremehkanku?” Nada suaranya turun setingkat. “Atau kau lupa berapa uang yang kutransfer tiap bulan?”
“Lalu maumu apa?” Belvina menyandarkan punggung. “Ingin aku kerja di kantormu?”
Ia tertawa kecil.
“Kalau aku ingin bekerja… aku tidak akan kerja di tempatmu.”
Lalu ia menambahkan pelan, nyaris seperti gumaman.
“Males lihat muka kamu terus.”
Alden melirik sekilas.
“Apa?”
Genggaman tangannya di setir mengencang.
“Turunkan aku di depan," ujar Belvina tanpa ekspresi.
Beberapa detik kemudian, mobil menepi.
Belvina membuka pintu tanpa menunggu dibantu. Ia turun, lalu langsung memesan taksi dari ponselnya.
Tak peduli Alden masih di sana atau sudah pergi.
Dari balik kemudi, Alden mengamati wanita itu lebih lama.
Untuk sesaat, jalan di depannya terasa lebih kosong dari biasanya.
Ia terbiasa meninggalkan orang. Kali ini, rasanya justru ia yang ditinggalkan.
Setelah Belvina naik taksi, Alden masih diam di mobil. Klakson belakang berbunyi karena mobilnya berhenti terlalu lama.
***
Lantai tertinggi gedung pusat Astera Group berjalan seperti biasa.
Rapat dimulai tepat waktu. Layar besar menampilkan grafik penjualan kuartal terakhir. Para direktur bergantian bicara, menjelaskan angka, risiko, dan proyeksi.
Namun perhatian Alden tidak berada di ruangan itu.
Satu kalimat justru terus berputar di kepalanya.
> “Males lihat muka kamu terus.”
Garis wajahnya mengeras halus.
Seorang manajer berhenti presentasi saat menyadari tatapan Alden berubah dingin.
“Lanjut,” ucap Alden singkat.
Pria itu buru-buru melanjutkan, sementara mata Alden kembali ke layar tanpa benar-benar melihat apa pun.
Yang muncul di benaknya justru wajah Belvina pagi tadi.
Masam, dahi benjol, tatapan tajam. Dan cara wanita itu turun dari mobil tanpa melihatnya lagi.
Ia menekan pulpen di jemarinya pelan.
Belvina sekarang terlalu berbeda. Ia tak lagi menempel di sisinya dalam setiap acara. Sambutan tergesa setiap kali ia pulang pun lenyap.
Tak ada lagi tangan yang buru-buru meraih lengannya di depan umum, seolah semua wanita adalah ancaman.
Belvina sekarang terlalu berbeda.
Uluran tangannya kemarin bahkan diabaikan begitu saja.
Di rumah orang tuanya, wanita itu berjalan tanpa menunggunya.
Di meja makan, ia bicara santai dengan Arsen, membalas Alena, bahkan bercanda dengan ibunya.
Percaya diri di mana pun berdiri. Seolah tidak membutuhkan dirinya untuk terlihat bernilai.
Sangat berbeda dari Belvina di masa lalu.
Wanita yang hanya peduli satu hal. Menjaga agar tak ada perempuan lain mendekatinya. Terutama Seraphina.
Dulu itu melelahkan. Sekarang justru… ketiadaannya mengganggu.
“Tuan Alden?”
Suara direktur keuangan menariknya kembali.
Semua mata tertuju padanya.
Pria paruh baya itu berdeham pelan.
“Apakah usulan akuisisi ini disetujui?”
Alden melihat dokumen beberapa detik, lalu menutup map di depannya.
“Tunda.”
Para peserta rapat saling lirik.
“Kenapa, Tuan?” tanya salah satu komisaris hati-hati.
"Karena saya tidak membuat keputusan besar saat konsentrasi saya terganggu."
Tak ada yang berani bertanya gangguan apa yang dimaksud.
Rapat ditutup lebih cepat dari jadwal.
Begitu masuk ke ruang kerjanya, ponsel Alden bergetar.
Nama kepala pelayan rumahnya muncul di layar.
“Ada apa?”
“Tuan… Nyonya Belvina meminta beberapa tas dan pakaian lama diturunkan dari ruang penyimpanan.”
Alden mengernyit.
“Untuk apa?”
“Katanya mau dijual, Tuan.”
Beberapa detik Alden diam.
Dijual?
Belvina lama lebih mungkin membeli sepuluh tas baru daripada menjual satu.
“Kirim daftar barangnya.”
“Baik, Tuan.”
Telepon terputus. Alden menyandarkan tubuh ke kursi.
Kekurangan uang?
Mustahil.
Ia tak pernah menolak memberi tambahan, meski sering kesal melihat kebiasaan belanja istrinya yang berlebihan.
Kalau Belvina meminta sekarang pun, ia tahu dirinya kemungkinan besar tetap akan memberi.
Jadi kenapa menjual barang-barang itu?
Ia mengetuk meja pelan dengan jari telunjuk. Lalu menekan nomor lain.
“Awasi ke mana dia pergi hari ini.”
“Baik, Pak.”
...✨"Saat seorang wanita berhenti mengejar, pria yang biasa berjalan duluan baru sadar ia sendirian."✨...
.
To be continued
Putramu kalah telak🤭