Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. JANJI SANG KESATRIA
Udara lembap memenuhi penjara bawah tanah Istana Aurelius.
Obor-obor yang menempel di dinding batu memancarkan cahaya kekuningan yang bergetar pelan, menciptakan bayangan panjang di lantai. Aroma besi, batu tua, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat suasana tempat itu terasa menekan.
Di salah satu ruang tahanan terbesar, beberapa orang duduk dengan tangan terikat di belakang punggung.
Mereka adalah kelompok pencuri yang tertangkap saat mencoba mencuri relik kerajaan. Mata mereka dipenuhi kewaspadaan, ada yang kesal hingga marah. Dan sebagian lagi tampak gelisah memikirkan nasib yang akan menunggu mereka.
Di hadapan mereka berdiri beberapa kesatria elit Aurelius. Pedang terhunus di pinggang sebagai ancaman nyata. Tatapan tajam mengawasi setiap gerakan para tahanan.
Di tengah ruangan berdiri seorang pria berambut cokelat dengan tubuh tegap dan aura yang sulit diabaikan; Rowan Desmond, Sang Kesatria Aurelius.
Tatapan es Rowan menyapu satu per satu wajah para tahanan. Tidak ada kemarahan di sana. Namun juga tidak ada belas kasihan. Hanya ketegasan.
Keheningan berlangsung cukup lama sebelum Rowan akhirnya membuka suara.
"Kalian benar-benar berpikir bisa masuk ke istana ini tanpa diketahui? Kalian terlalu meremehkan Kesatria Aurelius." Nada suara Rowan tenang. Namun cukup membuat beberapa orang menelan ludah.
Tak seorang pun menjawab.
Rowan melanjutkan, "Sekarang katakan padaku. Untuk apa kalian mengincar relik kerajaan? Atau jangan-jangan kalian bagian dari kelompok okultis?"
Kalimat itu langsung membuat beberapa tahanan mengangkat kepala.
Namun sebelum yang lain berbicara, Garrick lebih dulu menjawab, "Bukan. Kami bukan bagian dari okultis!"
Rowan memerhatikan wajah pria itu. Tidak ada keraguan dan tanda kebohongan yang tampak. Namun itu tidak cukup untuk meyakinkan Rowan.
"Kalau begitu untuk apa? Kenapa kalian mengincar relik? Kenapa sampai berani menyusup ke istana sebagai pencuri?" tuntut Rowan seraya melangkah mendekat.
Garrick mengatupkan rahangnya. Tidak menjawab.
Beberapa anggota kelompok lainnya juga menundukkan kepala tak mau menjawab.
Namun Rowan bukan orang yang mudah dilewati begitu saja. Ia sudah menginterogasi mata-mata, bandit, pemberontak, bahkan mantan penyihir hitam. Ia tahu seperti apa wajah orang yang menyembunyikan sesuatu.
Dan saat ini Rowan melihat keraguan di wajah mereka. Kebimbangan. Bukan kebencian atau fanatisme kegilaan seperti para penyembah Abyss yang pernah ia temui.
"Aneh. Kalau kalian memang pencuri biasa, seharusnya kalian hanya memikirkan keuntungan. Kalau kalian penyembah Abyss, kalian pasti akan menyerangku dengan omong kosong tentang kebangkitan dunia baru. Tapi kalian tidak seperti keduanya," nilai Rowan.
Ruangan menjadi semakin sunyi.
"Katakan padaku. Kenapa kalian mengincar relik suci Kerajaan Aurelius? Dan bahkan relik-relik milik kerajaan lain?" lanjut Rowan.
Tak ada jawaban. Semua kembali bungkam seolah memang tak mau membahas alasan mereka mengincar relik.
Rowan menarik napas panjang. Lalu berkata dengan nada yang jauh lebih dingin.
"Kalau kalian tetap diam, maka hukuman mati akan menunggu kalian. Aku akan memastikan kepala kalian dipenggal karena masuk ke istana tanpa izin, mencuri harta kerajaan, dan membuat kekacauan. Tidak akan ada pengadilan panjang. Dan kalian akan mati sebagai penjahat," ancam Rowan tegas.
Suasana langsung berubah tegang. Beberapa anggota kelompok pencuri saling berpandangan.
Garrick mengepalkan tangan. Namun tetap diam.
Sampai akhirnya sebuah suara perempuan terdengar.
"Kami membutuhkan relik itu. Karena kami ingin menyelamatkan banyak nyawa," kata sang gadis.
Semua orang menoleh.
Cecilia mengangkat wajahnya. Mata birunya bertemu dengan mata Rowan.
Rowan memerhatikannya beberapa detik, lalu bertanya, "Siapa yang ingin kalian selamatkan? Dan kenapa membutuhkan relik?"
Cecilia tidak mengalihkan pandangan. "Negeri kami terkena kutukan. Dan kami membutuhkan lima relik suci yang tersebar entah di mana untuk memulihkannya."
Beberapa kesatria di belakang Rowan saling bertukar pandang.
Sementara Rowan sendiri tetap tenang. Namun matanya sedikit menyipit.
"Kutukan? Dan kalian membutuhkan relik suci?" ulangnya.
"Ya," jawab Cecilia.
Rowan tertawa pendek. Bukan karena geli, melainkan karena tidak percaya.
"Kau pikir aku mudah ditipu? Terlalu banyak orang menggunakan alasan mulia untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya. Yang kulihat sekarang hanyalah sekelompok pencuri yang membobol istana," ujar Rowan. Nada suaranya terdengar datar. Tatapannya mengeras.
Cecilia langsung menggeleng. "Aku tidak berbohong. Kami benar-benar mencari relik untuk menyelamatkan negeri kami. Sudah tiga tahun kami mencarinya. Sejak kutukan itu terjadi."
Namun Rowan tetap tidak bergeming. "Dan kau berharap aku langsung percaya?"
"Ya," kata Cecilia dengan suara mantab.
"Kenapa?" tuntut Rowan kembali.
"Karena itu kenyataannya," balas Cecilia.
"Siapa pun bisa mengatakan hal yang sama," sarkas Rowan.
Wajah Cecilia memerah. "Aku tidak berbohong!"
Suara gadis itu menggema di ruangan. Membuat beberapa orang terkejut.
Garrick yang berada di sampingnya langsung menoleh.
"Nona. Tenanglah. Anda terlalu tersulut," ujar Garrick penuh kekhawatiran.
Cecilia menggigit bibir bawahnya. Berusaha mengendalikan diri.
Sementara Rowan memerhatikan interaksi itu dengan saksama.
Dan semakin lama, semakin jelas sesuatu dalam pikirannya sejak tadi; mereka melindungi gadis itu. Bukan sekadar rekan anggota kelompok. Tapi cara mereka menatap Cecilia terlalu berbeda, penuh hormat dan terlalu menjaga.
Bahkan Garrick yang tampak paling keras pun berbicara padanya dengan penuh kehati-hatian. Seperti seorang kesatria kepada tuannya.
Pemikiran itu membuat Rowan mulai menyusun kemungkinan.
Bangsawan atau mungkin seseorang dengan status lebih tinggi. Apa pun jawabannya Cecilia jelas bukan pencuri biasa.
Namun jika benar seorang bangsawan, mengapa dia harus mencuri relik? Atau yang dikatakannya sungguhan? batin Rowan.
Sampai akhirnya Rowan mengambil keputusan. Ia berdiri tegak. Lalu berkata, "Aku punya usulan. Aku akan membebaskan kalian dari hukuman mati
Semua mata langsung tertuju padanya.
Ruangan mendadak sunyi. Beberapa tahanan membelalakkan mata.
Namun sebelum mereka sempat merasa lega, Rowan melanjutkan, "Dengan satu syarat."
"Syarat?" Garrick mengernyitkan wajah.
Tatapan Rowan jatuh pada Cecilia dan berkata, "Gadis ini harus bekerja untukku."
"Apa?! Apa yang ingin kau lakukan padanya?!" Garrick langsung berdiri. Rantai di tangannya berbunyi keras bersamaan dengan tatapan berubah tajam.
Beberapa anggota lainnya juga ikut bereaksi.
"Kalau kau berani menyentuhnya-"
"Aku akan membunuhmu!"
Suasana langsung memanas.
Para kesatria Aurelius refleks menggenggam gagang pedang.
Namun Rowan tetap tenang. Ia justru melihat sesuatu yang semakin memerkuat dugaannya; mereka benar-benar melindungi Cecilia. Seolah nyawa mereka sendiri tidak berarti dibanding gadis itu.
Rowan mengangkat kedua tangan sedikit. "Tenang. Aku bukan pria brengsek seperti yang sedang kalian bayangkan."
Beberapa orang masih terlihat tidak percaya.
Namun Rowan tidak memedulikannya. Ia berjalan mendekati Cecilia. Lalu berlutut di depannya.
Tindakan itu membuat seluruh ruangan membeku. Bahkan Gareth yang berdiri di sudut ruangan ikut mengangkat alis.
Rowan mengangkat dagu Cecilia perlahan. Gerakannya lembut dan tidak memaksa. Hanya agar gadis itu menatapnya.
"Kau. Aku melihatmu di festival. Kau menyelamatkan seorang pria yang kerasukan roh jahat. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Aku membutuhkan bantuanmu," ujar Rowan tulus kali ini.
"Untuk apa?" tanya Cecilia.
"Untuk membantu menyingkirkan roh-roh jahat yang muncul akibat retakan Abyss," jawab Rowan.
Keheningan memenuhi ruangan.
Cecilia menatap Rowan lama, kemudian bertanya pelan, "Kenapa aku harus membantumu?"
Rowan tersenyum tipis. "Karena jika kau membantuku maka aku akan membantumu mendapatkan relik yang kau cari."
Mata Cecilia membesar. "Apa? Kenapa? Kenapa kau mau membantuku?"
Rowan terdiam sesaat. Kemudian menjawab dengan suara yang jauh lebih lembut, "Karena aku sudah bilang. Aku bukan pria brengsek,"
Beberapa kesatria di belakangnya langsung memalingkan wajah menahan senyum.
Sementara Gareth menghela napas panjang saat tahu kalau Rowan hanya berpura-pura sok menakutkan sejak interogasi tadi.
Rowan melanjutkan, "Aku tahu kapan seseorang berbohong. Mungkin aku belum mempercayai semua ceritamu. Tapi setiap kali kau berbicara tentang relik. Aku melihat keputusasaan. Dan orang yang benar-benar putus asa demi menyelamatkan sesuatu biasanya tidak pandai berpura-pura."
Cecilia tidak bisa menjawab, tak menyangka kalau pria di depannya ini memermainkan emosi Cecilia dengan mudah dengan trik kecilnya.
"Aku akan mendengarkan semuanya. Tapi aku juga membutuhkan bukti yang cukup kuat untuk kulaporkan kepada Kaisar," kata Rowan.
Cecilia perlahan menoleh ke arah Garrick.
Pria itu menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. Memercayai keputusan gadis tersebut, apa pun itu.
Cecilia kembali menatap Rowan dan menjawab, "Baik. Aku akan bekerja untukmu. Tapi kau harus membantuku menemukan relik-relik suci itu. Dan melindungi kami."
Rowan sedikit mengernyit. "Melindungi? Aku tidak berniat membunuh kalian."
"Bukan itu." Tatapan Cecilia berubah serius. "Okultis yang kau sebutkan tadi sedang memburu kami," sambungnya.
Keheningan langsung turun.
"Apa?" Rowan terkejut mendengarnya.
Garrick menambahkan, "Lebih tepatnya memburu Nona Cecilia. Mereka sudah mengincarnya bahkan sebelum kutukan negeri kami terjadi tiga tahun lalu."
Udara di ruangan seolah membeku.
Otak Rowan langsung bekerja.
Okultis.
Relik.
Kutukan.
Kemampuan mengusir roh jahat.
Semua potongan itu mulai membentuk gambaran yang mengkhawatirkan.
Jika para okultis memang memburu Cecilia maka kemungkinan besar gadis itu memiliki sesuatu yang mereka butuhkan. Atau mereka takuti.
"Kita akan membahas semuanya nanti. Aku ingin mengetahui seluruh cerita." Suara Rowan berubah lebih serius. Kemudian ia menoleh "Gareth?"
Kesatria berambut pirang itu langsung berdiri tegak. "Ya?"
"Lepaskan ikatan mereka," perintah Rowan.
Beberapa kesatria langsung menoleh. Namun Gareth langsung mengikuti perintah. Ia mulai membuka tali satu per satu.
Tepat ketika ikatan terakhir dilepas ....
AAAAARRRGHHHH!!
Jeritan mengerikan terdengar dari balik dinding batu.
Semua orang menoleh secara refleks.
Lalu terdengar benturan keras.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Gareth memucat. "Ah, sial. Para tahanan kerasukan. Sepertinya mereka mulai mengamuk lagi."
Jeritan lain menggema. Membuat beberapa anggota kelompok Cecilia merinding.
Namun berbeda dengan mereka, mata Cecilia justru berubah fokus. Seakan mendengar sesuatu yang tidak didengar orang lain.
Lalu Cecilia menatap Rowan, "Kau bilang membutuhkan bukti untuk Kaisarmu, bukan? Aku akan memberimu buktinya sekarang. Tapi hanya sedikit orang yang boleh mengetahui apa yang akan kulakukan."
Rowan menatap gadis itu beberapa saat. Kemudian mengangguk mantap.
"Lakukan. Aku menjamin keselamatanmu dan keselamatan orang-orangmu. Atas nama Rowan Desmond," ujar Rowan.
Gareth hampir tersedak. "ROWAN! Bukankah itu berlebihan?! Menggunakan namamu sebagai jaminan sama saja memberikan cap kerajaan secara sukarela!"
Namun Rowan tidak bergeming. "Aku tahu apa yang kulakukan."
Gareth hanya bisa menyerah. Karena jika Rowan sudah memutuskan sesuatu, maka sulit mengubah pikirannya.
Sementara itu Garrick tampak penasaran "Apa namanya benar-benar sepenting itu?"
Gareth menoleh. Lalu menjawab, "Rowan anggota keluarga kerajaan. Beliau adalah keponakan sedarah dengan Yang Mulia Kaisar Aurelius."
Ruangan langsung membeku. Beberapa anggota kelompok pencuri membelalakkan mata. Yang lain bahkan tampak pucat.
Dan hampir secara spontan, mereka semua memberi hormat kesatria.
"Kami mohon maaf atas kelancangan kami, Yang Mulia! Kami tidak mengetahui identitas Anda!" ujar mereka.
Garrick sendiri ikut menundukkan kepala. Ekspresinya penuh keterkejutan.
Rowan menghela napas. "Jangan bertingkah seperti itu."
Gareth dan beberapa kesatria menahan tawa, karena tahu Gareth sedang menggoda temannya itu dengan status kerajaannya.
Sementara Cecilia masih memandang Rowan tanpa berkedip.
"Sekarang mari kita lihat sumber keributan itu," kata Rowan.
Kelompok itu berjalan keluar dari sel mengikuti Rowan.
Suara jeritan masih terdengar dari kejauhan.
Gareth berjalan di samping Rowan sambil menjelaskan situasi kepada para pencuri yang jelas adalah para kesatria.
Sementara Cecilia mengikuti beberapa langkah di belakang. Namun fokus gadis itu bukan pada percakapan mereka. Bukan pula pada status Rowan atau wajah tampannya.
Melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain.
Di belakang Rowan berjalan sesosok arwah. Seorang pria paruh baya berzirah perang yang rusak. Tubuh transparannya dipenuhi luka. Namun wajahnya tampak tenang.
Arwah itu terus mengikuti Rowan seperti bayangan. Dan sepanjang perjalanan arwah itu berusaha mengatakan sesuatu. Berulang kali kepada Rowan.
Kepada satu-satunya orang yang tidak bisa mendengarnya.
Sementara Cecilia terus menatap arwah tersebut dengan kebingungan.
Karena untuk pertama kalinya ia melihat roh yang begitu gigih mencoba menyampaikan pesan kepada seseorang.
Dan entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa pesan itu akan mengubah banyak hal jika ia sampaikan pada Rowan.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/