NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Di dalam ruang tamu rumah panggung Pak Rahman, suasananya kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Keheningan mendadak merayap naik dari sela-sela lantai papan, menyelimuti enam pasang manusia yang masih duduk terpaku di tempatnya masing-masing.

Tumpukan bingkisan mewah di sudut ruangan seolah menjadi saksi bisu atas sebuah peristiwa besar yang baru saja terjadi. Ada jajaran kue-kue basah khas kota yang ditata estetis, parsel buah yang ranum dan segar, hingga dua kotak mika transparan yang memperlihatkan sepasang sepatu hak tinggi berwarna salem serta tas tangan berbahan kulit halus yang berkilau lembut diterpa cahaya pagi.

"Ya Allah..." Bu Aminah menjadi orang pertama yang memecah kesunyian. Wanita paruh baya itu mengembuskan napas panjang sembari mengurut dadanya yang masih terasa berdebar kencang. Ia beralih menatap suaminya yang duduk bersila di sebelah meja teh. "Pak... ini beneran? Anak kita... Tina, barusan dilamar oleh Pak Andry?"

Pak Rahman tidak langsung menjawab. Ia meraih cangkir sengnya yang sudah agak dingin, menyesap teh melati itu sedikit untuk menenangkan kerongkongannya. "Kamu dengar sendiri tadi kan, Bu? Nak Andry datang bersama Ibu Yuna dengan cara yang paling terhormat. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman. Dia menyerahkan semuanya kepada Tina."

"Tapi, Bah..." Lisa menyela, posisinya kini sudah bergeser tepat di sebelah Tina, merangkul lengan kakaknya dengan erat. Sepasang matanya masih berbinar penuh rasa tidak percaya. "Kak Tina benar-benar hebat! Pria kota yang sekeren dan sekaya itu bisa sampai berlutut dan memohon-mohon di depan Abah demi mendapatkan Kakak. Wah, kalau para guru di sekolah PAUD tahu, mereka pasti bakal heboh berhari-hari!"

"Lisa, jaga bicaramu," tegur Rika dengan nada rendah namun tegas. Ia baru saja meletakkan Ali yang mulai mengantuk ke dalam ayunan kain di sudut ruang tengah. Rika kemudian berjalan mendekat, mengambil tempat di hadapan Tina. "Pernikahan itu bukan ajang untuk pamer atau keren-kerenan di depan orang lain. Ini masalah masa depan. Tina... bagaimana perasaanmu sekarang?"

Mendengar pertanyaan dari kakak sulungnya, Tina perlahan mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Wajah manisnya masih menyisakan rona merah, namun sepasang matanya yang jernih kini memancarkan pusaran emosi yang campur aduk. Rasa terkejut, bingung, takut, sekaligus ada segumpal rasa hangat yang tak mampu ia definisikan menjalar di lubuk hatinya.

"Tina... Tina masih bingung, Kak," jawab Tina dengan suara yang hampir berupa bisikan. "Semuanya terjadi begitu cepat. Seminggu yang lalu, kita masih menangis di lorong rumah sakit karena memikirkan biaya pengobatan Mama dan juga rencana terselubung pak Andry. Tapi hari ini... pria yang sama datang membawa hantaran dan meminta Tina menjadi istrinya dengan tutur kata yang sangat sopan. Tina merasa seperti sedang bermimpi."

Fandi, yang sejak tadi berdiri diam bersandar pada tiang rumah di dekat pintu dapur, perlahan melangkah maju. Langkah kakinya yang tenang menarik perhatian seluruh anggota keluarga. Ia menatap Tina dengan pandangan mata yang kini jauh lebih dewasa, tidak ada lagi gurat pemberontakan atau keegoisan di wajahnya.

"Kak..." panggil Fandi pelan kepada Tina. "Kalau aku boleh bicara... Bang Andry itu pria yang jantan."

Semua orang di ruangan itu menoleh menatap Fandi dengan pandangan heran, tidak terkecuali Pak Rahman yang tampak sedikit mengangkat alisnya.

"Maksudmu bagaimana, Fandi?" tanya Pak Rahman.

Fandi menarik napas panjang, lalu duduk bersila di dekat kaki ayahnya. "Kemarin di rumah sakit, saat aku merasa menjadi orang paling berdosa di dunia ini, Bang Andry lah yang memegang pundakku. Dia tidak menghakimiku meskipun dia tahu aku yang mencuri uang obat Mama. Dan hari ini, dia datang ke rumah kita... di bawah tontonan seluruh warga desa yang terkenal suka bergosip. Pria kota dengan kedudukan tinggi seperti dia, kalau tidak punya cinta yang tulus dan mental yang kuat, tidak akan mungkin mau merendahkan dirinya sampai sejauh ini di depan rumah panggung kita yang sederhana, Bah."

Fandi menoleh kembali ke arah Tina. "Aku memang pernah menjadi Adik yang berengsek buat Kakak, sering merepotkan dan mencuri uangmu. Tapi melihat bagaimana Bang Andry memandang Kakak tadi... aku tahu dia siap menggantikan posisi Abah untuk menjaga dan melindungi Kakak. Tapi, semua keputusan tetap ada di tangan Kakak. Aku akan mendukung apa pun yang membuat Kakak bahagia."

Untaian kalimat yang keluar dari mulut Fandi seketika membuat suasana ruang tamu itu menghangat. Bu Aminah kembali menitikkan air mata haru, tidak menyangka bahwa cobaan besar yang menimpa mereka kemarin justru melahirkan kembali sosok Fandi yang begitu bijaksana dan menyayangi saudaranya. Tina sendiri merasakan matanya kembali memanas. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pembelaan dan sudut pandang yang begitu dalam dari Adiknya sendiri.

Pak Rahman mengangguk-angguk setuju, tangannya yang dipenuhi kapalan bergerak mengusap pundak Fandi dengan rasa bangga seorang ayah. "Apa yang dikatakan Adikmu itu ada benarnya, Tina. Lelaki itu dinilai dari tanggung jawab dan keberaniannya dalam mengambil tindakan. Nak Andry sudah menunjukkan bahwa dia siap bertanggung jawab atas kesalahannya di masa lalu dan ingin memulainya lagi dengan lembaran yang suci."

Beliau kemudian menatap putri keduanya itu dengan tatapan mata yang sarat akan kearifan seorang kepala keluarga. "Namun, seperti yang Abah katakan tadi di depan Ibu Yuna, Abah dan Mama tidak akan pernah memaksakan kehendak lagi kepadamu. Kami tidak ingin menukar kebahagiaanmu dengan materi atau utang budi. Shalat istikharah lah, Nak. Minta petunjuk kepada Yang Maha Memiliki Hati. Jika hatimu merasa tenang dan siap, maka melangkah lah. Kami akan selalu ada di belakangmu untuk memberikan restu."

Tina merasakan dadanya sesak oleh rasa syukur yang luar biasa. Ia mengangguk perlahan, setitik air mata kebahagiaan lolos melewati pipinya. "Iya, Bah. Terima kasih. Tina akan memikirkan ini baik-baik dan meminta petunjuk dari Allah."

Siang harinya, setelah riuh rendah di ruang tamu mereda dan masing-masing anggota keluarga kembali pada aktivitas mereka, Tina memilih untuk berjalan keluar ke teras rumah. Udara siang Desa Sukamaju bertiup cukup kencang, menggoyang dahan-dahan pohon cokelat di seberang jalan dan membawa aroma petrichor tipis dari kejauhan.

Tina duduk di anak tangga teratas, memeluk lututnya sendiri sembari menatap hamparan biji cokelat yang sedang dijemur oleh Fandi di depan rumah. Pikirannya kembali melayang pada setiap detail ucapan Andry tadi pagi

*"Saya akan menunggu, Tina. Berapa lama pun itu, sampai kamu benar-benar siap menerima saya."*

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya bagai melodi yang menenangkan. Tina menyentuh dadanya yang berdegup dengan ritme yang konstan. Ada rasa tidak percaya yang perlahan berubah menjadi sebuah keyakinan kecil. Pria yang dulunya ia anggap sebagai sosok antagonis yang angkuh dalam hidupnya, kini justru menjadi orang yang paling gigih memperjuangkan kehormatannya di depan orang banyak.

"Kak..." sebuah suara membuyarkan lamunan Tina. Lisa tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya, ikut memandangi pekarangan depan sembari mengunyah sepotong pisang goreng dingin sisa tadi pagi.

"Ada apa, Lis?" tanya Tina tanpa menoleh.

"Tidak apa-apa. Aku cuma sedang membayangkan..." Lisa jeda sejenak, menelan kunyahannya lalu tersenyum jahil. "Bagaimana kalau nanti Kakak benar-benar menikah dengan Bang Andry? Wah, kebun cokelat kita yang di pinggir jalan itu pasti bisa jadi lebih baik dengan dengan perawatan yang baik dan penggunaan racun dan kualitas tinggi! Dan... mungkin saja aku bisa kuliah di universitas terbaik di kota tanpa perlu mencemaskan biaya lagi."

Tina menoleh, lalu menyentil dahi adiknya pelan membuat Lisa mengaduh kesakitan. "Aduh! Kak Tina hobi sekali menyiksa dahiku hari ini!"

"Makanya, isi kepalamu itu jangan cuma tentang uang dan keuntungan saja," tutur Tina sembari terkekeh kecil. "Kakak belum mengambil keputusan apa pun, Lisa. Masih banyak yang harus dipertimbangkan. Kakak tidak ingin melangkah hanya karena rasa kagum sesaat atau karena melihat kebaikan-kebaikannya yang sekarang saja. Kakak ingin memastikan bahwa pernikahan ini nantinya benar-benar berlandaskan niat karena Allah, bukan yang lain."

Lisa mengusap dahinya yang sedikit memerah, lalu menatap kakaknya dengan pandangan yang mendadak serius. "Aku tahu, Kak. Aku cuma bercanda. Tapi jujur... aku senang melihat Kakak tersenyum seperti ini lagi. Setelah berbulan-bulan Kakak harus memikul beban rumah sendirian, menahan tangis sendirian karena memikirkan kondisi rumah , abah dan uang sekolahku... melihat ada seorang pria yang siap meringankan beban Kakak, rasanya aku ikut tenang."

Mendengar penuturan polos namun mendalam dari adik bungsunya, Tina tidak bisa menahan diri untuk tidak merangkul pundak Lisa, menarik kepala adiknya itu ke dalam dekapannya. Di bawah langit Desa Sukamaju yang perlahan mulai dinaungi awan mendung tipis, kedua bersaudara itu saling berbagi kehangatan, menyadari bahwa apa pun keputusan yang akan diambil oleh Tina kelak, ikatan dan kedamaian di dalam rumah mereka telah kembali seutuhnya. Badai yang sempat memporak-porandakan atap rumah mereka kini telah resmi berlalu, meninggalkan tanah yang subur bagi tumbuhnya bunga-bunga harapan yang baru di masa depan.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!