NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Pagi di rumah selalu terasa terlalu tenang. Bahkan setelah beberapa minggu tinggal di rumah itu, aku masih belum benar-benar terbiasa dengan sunyi yang memenuhi lorong-lorong besarnya. Tidak ada suara televisi, tidak ada musik, bahkan langkah kaki para pelayan pun terdengar begitu pelan seolah mereka takut mengganggu sesuatu yang tidak terlihat. Dan di tengah ketenangan itu, hanya ada satu hal yang perlahan mulai menjadi pusat perhatianku setiap hari, yaitu rutinitas Mason.

Aku duduk di sofa ruang tengah dengan secangkir teh hangat di tangan sambil menatap layar tablet kecilku. Di sana ada beberapa catatan yang sejak dua hari lalu mulai kutulis diam-diam. Seperti jam Mason berangkat kerja, jam biasanya ia pulang, jadwal meeting yang sempat kudengar dari sekretarisnya saat menelepon rumah, bahkan kebiasaan kecil seperti kopi apa yang ia minum di pagi hari dan berapa lama ia biasanya menghabiskan sarapan.

Awalnya aku merasa sedikit konyol melakukannya. Namun setelah percakapanku dengan Linda beberapa hari lalu, aku mulai menyadari sesuatu. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar perasaan Mason, sampai lupa mencoba mengenalnya sebagai manusia biasa. Padahal mungkin, cinta tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Mungkin cinta dimulai dari memahami.

Aku menunduk lagi menatap catatan itu.

06.30 — kopi hitam tanpa gula.

07.00 — sarapan ringan.

07.20 — berangkat kerja.

Aku menggigit ujung bibir kecil sambil berpikir. Lalu menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya.

'Tidak suka suara berisik saat pagi.'

Tanpa sadar aku tersenyum kecil mengingat ekspresi Mason beberapa hari lalu saat salah satu pelayan menjatuhkan nampan sendok di dapur. Ia tidak marah, hanya menatap sekilas dengan ekspresi datar yang cukup membuat seluruh ruangan langsung hening.

“Mungkin memang sulit hidup bersamamu...” gumamku pelan.

Namun anehnya, semakin kupelajari, semakin aku merasa Mason bukan pria yang benar-benar dingin. Ia hanya terlalu terbiasa hidup sendiri di dalam dunianya sendiri. Dan aku ingin mencoba masuk ke sana. Pelan-pelan dan tidak memaksa.

Suara langkah kaki membuatku spontan mengangkat kepala. Beberapa detik kemudian Mason muncul dari arah tangga dengan setelan kerjanya yang rapi dan mantel hitam yang tergantung di lengannya. Rambutnya masih sedikit basah, membuat penampilannya terlihat jauh lebih segar pagi ini.

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Selamat pagi,” sapaku cepat.

Mason menoleh sekilas. “Pagi.”

Aku buru-buru mematikan layar tabletnya dan meletakkannya di samping tubuhku. Namun gerakanku yang terlalu cepat justru terlihat mencurigakan. Tatapan Mason turun sebentar ke arah tablet itu sebelum kembali menatapku.

“Apa yang kau sembunyikan?” tanyanya datar.

Aku langsung gugup sendiri. “Tidak ada.”

Ia berjalan mendekat beberapa langkah. “Kau bukan tipe orang yang pandai berbohong, Hazel.”

Aku mengerjap pelan. Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang terlalu mengenalku.

“Aku hanya...” Aku menarik napas kecil. “Mencatat beberapa hal.”

“Mengenai?”

Aku ragu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab jujur. “Tentangmu.”

Kini ia benar-benar berhenti berjalan. Tatapannya turun lagi ke arah tablet di sampingku. Aku bisa melihat sedikit perubahan di wajahnya, meskipun sangat tipis dan hampir tidak terlihat.

“Mengapa?” tanyanya.

Aku menunduk kecil, merasa sedikit malu sekarang. “Karena aku ingin belajar.”

“Belajar?”

“Aku tidak tahu banyak tentangmu.” Aku memainkan jemariku sendiri. “Jadi... kupikir aku bisa mulai dari hal-hal kecil.”

Hening jatuh di antara kami selama beberapa detik. Lalu, aku memberanikan diri menatapnya lagi. “Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya ingin tahu apa yang kau suka dan tidak suka.”

Mason masih diam. Namun kali ini diamnya terasa berbeda, tidak sedingin biasanya. Tatapannya bergeser sebentar ke arah meja makan sebelum kembali padaku. “Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu.”

Nada bicaranya tetap datar. Namun aku tidak mendengar penolakan keras di sana. “Aku tahu.” Aku tersenyum kecil. “Tapi aku ingin melakukannya.”

Ia mengembuskan napas pelan, lalu akhirnya berjalan menuju meja makan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dan entah mengapa, pagi itu aku merasa seperti baru saja memenangkan sesuatu yang sangat kecil.

Sarapan pagi berjalan tenang seperti biasanya. Aku duduk di seberang Mason sambil sesekali melirik catatan kecil di dalam pikiranku sendiri.

'Ia minum kopinya tanpa gula. Tidak terlalu suka roti manis. Dan selalu membaca berita ekonomi di tabletnya saat makan.'

Aku diam-diam mulai menghafal semuanya.

“Apa jadwalmu hari ini?” tanyaku pelan setelah beberapa menit hening.

Mason tetap menatap layar tabletnya. “Meeting dengan beberapa klien.”

Aku menahan senyum kecil. Jawaban khas Mason.

“Seharian?”

“Hm.”

Aku mengangguk pelan meskipun ia bahkan tidak melihatku. Lalu tanpa sadar berkata, “Kalau begitu mungkin kau akan pulang larut lagi.”

Kini ia akhirnya mengangkat mata. “Mengapa?”

“Aku hanya menebak.”

Tatapannya bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Kau mencatat jadwalku juga?”

Aku langsung salah tingkah. “Sedikit.” , jawabku cepat. Lalu, aku buru-buru menjelaskan, “Bukan untuk hal aneh. Aku hanya ingin menyesuaikan semuanya supaya tidak mengganggumu.”

Ekspresi Mason tetap tenang. Namun aku melihat rahangnya bergerak pelan seolah sedang menahan sesuatu di kepalanya. “Itu terdengar sedikit berlebihan,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.” Aku tersenyum kecil. “Tapi tetap saja... aku ingin rumah ini terasa nyaman untukmu.”

Dan lagi-lagi Mason terdiam.

Aku mulai menyadari sesuatu akhir-akhir ini. Semakin aku bersikap tenang dan tidak memaksanya memberi perasaan, semakin Mason terlihat bingung harus bersikap seperti apa kepadaku. Seolah ia lebih terbiasa menghadapi Hazel yang mengejarnya terus-menerus dibanding Hazel yang mulai berjalan pelan di sampingnya.

Beberapa saat kemudian Mason akhirnya berdiri dari kursinya. “Aku berangkat.”

Aku ikut berdiri cepat. “Boleh kuantar sampai depan?” tanyaku, dan ia tidak menolak.

Aku berjalan mengikutinya sampai ke depan pintu utama. Salah satu pelayan sudah menunggu untuk mengambil tas kerjanya, namun entah kenapa pagi ini aku lebih dulu mengambil tas itu dan menyerahkannya sendiri pada Mason.

Ia menatapku sebentar saat menerima tasnya. “Terima kasih,” kataku pelan.

“Mengenai apa?”

“Karena tidak marah.”

Alisnya sedikit berkerut. “Untuk catatan itu?”

Aku mengangguk kecil.

Mason menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku tidak marah.”

Dan kalimat sederhana itu anehnya berhasil membuat dadaku terasa hangat sepanjang pagi.

Hari itu aku menghabiskan banyak waktu bersama para pelayan rumah. Awalnya mereka tampak sedikit canggung berbicara terlalu banyak tentang Mason, mungkin karena terbiasa menjaga privasi keluarga Roux. Namun perlahan mereka mulai terbuka saat menyadari aku benar-benar hanya ingin mengenalnya lebih baik.

Aku mengetahui bahwa Mason sebenarnya sangat disiplin sejak muda. Ia hampir tidak pernah melewatkan sarapan sebelum bekerja. Ia menyukai musik klasik meskipun jarang memutarnya di rumah. Dan setiap kali sedang kalut, ia akan bekerja sampai larut tanpa sadar.

“Tuan Mason juga tidak terlalu suka makanan terlalu manis,” kata salah satu pelayan dapur padaku.

Aku langsung mencatatnya.

“Kalau makanan favorit? Maksudku selain pasta.”

“Sebagian besar masakan Italia, Tuan menyukainya Nyonya.”

Aku tersenyum kecil mengingat cerita Sarah tempo hari.

“Terutama pasta krim dan lasagna.” lanjut pelayan tersebut. Dan aku pun mengangguk penuh semangat.

Mungkin malam ini aku bisa mencoba lagi. Namun kali ini bukan untuk membuat Mason terkesan. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang mungkin membuatnya sedikit lebih nyaman pulang ke rumah.

Sore hari aku duduk sendiri di ruang kerja kecil dekat perpustakaan rumah sambil membuka tablet berisi halaman yang mulai penuh dengan catatan tentang Mason.

'Tidak suka keramaian.'

'Lebih suka kopi pahit.'

'Bekerja terlalu keras.'

'Jarang tidur cukup.'

'Dan diam-diam, sebenarnya cukup perhatian.'

Tanganku berhenti mengetik beberapa detik. Sebelum akhirnya melanjutkan daftar tentang Mason yang semakin panjang.

'Perhatian.'

Aku memikirkan ulang kata itu. Mason memang tidak pernah bersikap hangat padaku. Namun semakin kuingat, ia juga tidak pernah benar-benar bersikap buruk tanpa alasan. Ia selalu memastikan aku baik-baik saja. Selalu menjawab saat aku berbicara. Bahkan diam-diam memperhatikan hal-hal kecil yang kusukai. Hanya saja caranya berbeda. Terlalu dingin untuk mudah dimengerti.

Aku menatap keluar jendela perlahan. Chicago terlihat mulai berubah jingga menjelang malam. Cahaya matahari sore jatuh di atas gedung-gedung tinggi kota itu, menciptakan bayangan panjang yang terlihat indah dari kejauhan. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Mason, aku merasa tidak terlalu takut lagi.

Karena mungkin Linda benar. Aku tidak harus membuat Mason langsung mencintaiku. Aku hanya perlu mulai berjalan ke arahnya dengan cara yang lebih tenang. Dan mungkin suatu hari nanti, ia akan berhenti berjalan sendirian.

1
Dew666
🌹
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!