Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meyakinkan Nabila
Malam semakin larut, namun kehangatan yang biasanya menyelimuti apartemen sederhana milik Nabila seolah menguap digantikan oleh atmosfer yang canggung dan sarat akan ketegangan tersembunyi.
Arkan duduk di sofa kain berwarna krem, menatap siluet kekasihnya yang sedang berdiri membelakangi dirinya di dekat konter dapur kecil.
Belakangan ini, Arkan merasakan ada sesuatu yang ganjil. Semakin dekat hari di mana ia akan melayangkan gugatan cerai kepada Salsa, sikap Nabila justru terasa semakin aneh dan menjauh.
Wanita yang biasanya menyambutnya dengan senyuman lembut dan pelukan hangat itu kini lebih banyak terdiam, melamun dengan tatapan kosong, dan sering kali menghindari kontak mata dengannya. Padahal, kebebasan yang sebentar lagi akan Arkan raih adalah hal yang selama satu tahun penuh ini mereka dambakan dan perjuangkan bersama.
Arkan bangkit dari sofa, melangkah pelan menghampiri Nabila. Ia melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang wanita itu dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sempit Nabila.
"Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi aku perhatikan kamu lebih banyak melamun" Bisik Arkan lembut, sangat kontras dengan suara kasar dan dingin yang selalu ia gunakan saat berbicara dengan Salsa di rumah.
"Harusnya kamu bahagia, bukan? Seminggu lagi, penderitaanku di rumah itu akan berakhir. Aku akan menceraikan Salsa, dan kita bisa hidup bersama tanpa perlu bersembunyi lagi"
Bukannya bersandar nyaman atau membalas sentuhan itu, tubuh Nabila justru menegang. Dengan gerakan yang perlahan namun tegas, Nabila melepaskan lilitan tangan Arkan dari pinggangnya. Ia membalikkan badan, mundur satu langkah untuk menciptakan jarak di antara mereka.
"Stop Mas!" Ucap Nabila, suaranya bergetar menahan beban emosi yang tampaknya sudah bendung sejak lama.
Arkan mengerutkan keningnya, tangannya menggantung di udara kosong.
"Ada apa sayang?"
"Aku sudah bilang padamu sejak awal Mas, kalau aku tidak mau kamu bercerai dengan Mbak Salsa" Kata Nabila dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Setitik air mata menggenang di pelupuk matanya yang lelah.
"Mbak Salsa sangat mencintaimu. Dia mengorbankan segalanya, menahan rasa sakit hati selama setahun ini hanya untuk bertahan di sisimu. Dia wanita yang terhormat, dia kaya, dan dia sangat pantas bersanding denganmu di atas pelaminan itu. Lain halnya dengan aku..."
Nabila menarik napas pendek yang terasa sesak di dadanya.
"Lain halnya dengan aku yang hanya seorang wanita miskin yang tidak punya apa-apa"
Arkan menggelengkan kepalanya, tidak menerima penuturan kekasihnya. Ia melangkah maju, mencoba menggapai jemari Nabila.
"Apa yang kamu katakan? Kita sudah membahas ini berkali-kali, Nabila. Aku menikahinya karena jebakan bisnis, bukan karena keinginan"
"Tapi kenyataannya, selama ini aku masih bertahan denganmu hanya karena kamu yang memaksaku Mas!"
Potong Nabila dengan suara yang meninggi, sebuah letupan emosi yang jarang sekali ia tunjukkan.
Air mata akhirnya luruh membasahi pipi Nabila. Ia menatap Arkan dengan pandangan yang sarat akan keputusasaan.
"Kamu menggunakan seluruh biaya pengobatan ibuku di rumah sakit sebagai alasan dan alat untuk mengikatku agar aku tidak pergi! Kamu membuatku merasa berutang budi seumur hidup sampai aku terpaksa menuruti keinginanmu untuk menjadi wanita simpanan! Jujur... selama ini aku ingin sekali lepas dari kamu Mas! Aku lelah hidup dalam bayang-bayang dosa dan kutukan sebagai perusak rumah tangga orang lain!"
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari mulut Nabila, Arkan bagai disengat listrik.
Dadanya bergemuruh hebat, hatinya terasa sangat perih mendengar bahwa wanita yang ia lindungi dan ia cintai setengah mati selama ini ternyata merasa terikat karena keterpaksaan dan utang budi, bukan semata-mata karena kenyamanan. Sifat egois Arkan yang selama ini mengatasnamakan cinta seketika terusik.
"Tolong jangan bicara seperti itu Sayang" Pinta Arkan dengan nada suara yang memelas, sepasang matanya menatap Nabila dengan pancaran permohonan yang mendalam. Ia berhasil meraih kedua telapak tangan Nabila, menggenggamnya dengan sangat erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan lenyap dari hidupnya.
"Aku tahu kalau kamu mencintaiku, Nabila. Aku tahu hatimu hanya untukku. Tolong bertahan sedikit lagi, aku mohon. Kita sudah berjalan sejauh ini. Aku dan Salsa akan segera bercerai, tepat saat hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama minggu depan. Semua berkas dan bukti sudah siap. Setelah itu, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita"
Nabila menarik tangannya dengan paksa dari genggaman Arkan, lalu menghapus air matanya dengan kasar. Ia terkekeh sumbang, sebuah tawa yang penuh dengan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya.
"Kamu dengan mudahnya bicara seperti itu, Arkan. Kamu berkata seolah-olah perceraian adalah perkara membalikkan telapak tangan" Desis Nabila dengan tatapan tajam.
"Tapi kamu tidak pernah ada di posisiku! Kamu tidak tahu bagaimana rasanya dicap sebagai wanita murahan, kamu tidak tahu bagaimana rasanya dihantui rasa bersalah yang luar biasa setiap kali melihat wajah istrimu! Aku sangat merasa bersalah pada Mbak Salsa, Mas! Dia datang melabrakku waktu itu karena dia mempertahankan haknya sebagai istri sah, dan dia benar untuk melakukan itu!"
Arkan menggeram rendah, rasa frustrasinya memuncak. Ia tidak suka melihat Nabila membela wanita yang paling ia benci di dunia ini.
"Kenapa kamu harus memikirkannya? Yang salah sejak awal adalah Salsa! Dia dan papanya yang licik yang memulai permainan kotor ini. Mereka menggunakan uang untuk membeli raga dan kebebasanku. Salsa layak mendapatkan semua penolakan ini karena sifatnya yang sombong dan egois itu. Tolong sayang, jangan pernah pikirkan wanita itu lagi. Fokus saja pada masa depan kita!"
Nabila hanya terdiam, memalingkan wajahnya ke arah jendela luar apartemen, menolak untuk memberikan respons lebih lanjut.
Ia tahu, sekeras apa pun ia mencoba menyadarkan Arkan tentang statusnya yang kini sudah menjadi suami orang, ego pria itu terlalu besar untuk menerima kenyataan bahwa tindakannya telah melukai dua wanita sekaligus.
Melihat respons dingin dari Nabila, Arkan akhirnya menghela napas panjang. Ia melirik jam tangan mewahnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Meskipun hatinya ingin sekali menetap dan mendekap Nabila untuk menumpahkan seluruh rasa lelahnya, realitas pernikahan palsunya menuntutnya untuk kembali ke rumah megah yang ia benci.
Arkan mengambil jas kerjanya yang tersampir di sandaran sofa, lalu bersiap untuk pulang. Sebelum melangkah menuju pintu keluar, ia menoleh kembali ke arah Nabila yang masih berdiri kaku di dekat dapur.
"Andai saja wanita di rumah itu tidak suka mengadu pada Ibuku, pasti aku lebih memilih untuk menginap di sini malam ini"
Kata Arkan dengan nada suara yang penuh dengan kekesalan dan kejengkelan mengingat ancaman terselubung Salsa di pesta tempo hari.
Nabila menoleh pelan, menatap Arkan dengan pandangan yang sudah kembali tenang namun dingin.
"Jangan terlalu mengecewakan ibumu lagi, Mas. Bagaimanapun, restu ibumu adalah segalanya. Lekaslah pulang sekarang, Mbak Salsa pasti sudah menunggumu di rumah dengan cemas"
Mendengar nama Salsa kembali disebut dari bibir Nabila, wajah Arkan seketika berubah menjadi masam. Sebuah cibiran sinis langsung tercetak jelas di bibirnya.
"Cih, melihat wajahnya pun aku tak sudi" Gumam Arkan dengan nada suara yang sarat akan kebencian yang mendalam. Bagi Arkan, pulang ke rumah besar itu tidak lebih dari memasuki sebuah penjara yang di dalamnya terdapat sipir kejam bernama Salsa.
Nabila menghela napas pelan, menatap Arkan dengan pandangan menilai yang rumit.
"Tapi dia sangat cantik Mas. Semua orang di luar sana tahu betapa menawannya Mbak Salsa"
Arkan memegang gagang pintu apartemen, lalu menoleh sedikit ke belakang, memberikan kalimat penutup yang teramat sangat kejam dan menghancurkan martabat Salsa sebagai seorang wanita.
"Cantik rupa tak ada gunanya kalau hatinya busuk macam dia, Nabila! Bagiku, binar di matanya tidak lebih dari racun yang menjijikkan" Desis Arkan tajam sebelum akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar, menutupnya dengan sebuah debuman yang menandai akhir dari kunjungannya malam itu.
Arkan berjalan menuju parkiran mobil dengan rahang yang mengatup rapat, bersiap kembali ke rumah untuk menghadapi Salsa, tanpa pernah tahu bahwa wanita yang ia sebut berhati busuk itu kini sedang merajut sebuah rencana terakhir yang akan mengunci hidupnya dalam kegelapan selamanya.
mampus kau arkan...rasain kan, ngaku pintar tapi oooooonnnnnnnnnnn, setelah tau rahasia sebenarnya makin dalamlah itu penyesalanmu, makanya jangan jadi orang bucin....bucin sich boleh tapi jangan 100 % ma manusia. rasain lah kau arkan....
pusing pusinglah kau sendiri bagaimana cara mencari cara menyembuhkan salsa...sekarang tugasmu lagi itu. mbake update lagi dong 🤣🤣
apakah aku aja, atau kalian juga gak? kalo udah suka sama suatu cerita aku pasti terus penasaran sampe kepikiran pengen terus lanjut sampai endnya
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....