*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Badai di meja makan
Seharian itu, Yudhistira Tower rasanya seperti sedang dijajah oleh awan mendung imajiner yang berpusat tepat di atas kepala Arsenio. Efek domino dari kedatangan Kiera Anandita benar-benar sukses menghancurkan hari sang CEO sampai ke remah-remahnya. Sepanjang jam kerja, Arsenio tidak berhenti misuh-misuh. Setiap kali melihat pulpen emas di mejanya, ia menggerutu. Setiap kali melihat pintu ruangannya, ia mengomel. Bahkan saat memeriksa laporan keuangan penting, konsentrasinya buyar hanya karena bayangan wajah Kiera yang belepotan kopi sambil berkata, *"Malaikat pencabut nyawa mah iya,"* mendadak lewat di otaknya.
Para staf divisi utama sampai harus berjalan jinjit dan menahan napas setiap kali melewati ruangan Arsenio. Mereka tahu, sang tiran sedang dalam mode "senggol bacok" akibat harga dirinya yang baru saja diinjak-injak oleh asisten pribadi barunya sendiri.
Kekesalan itu ternyata tidak luntur bahkan ketika jam kerja telah usai. Sepanjang jalan pulang di dalam mobil mewah, Arsenio terus menekuk wajahnya. Dan puncaknya adalah ketika ia melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya. Meskipun suasana hatinya hancur lebur, Arsenio tetap melangkah tegap dengan wibawa seorang Yudhistira yang melekat kuat pada dirinya. Jas mahalnya disampirkan santai di lengan, sementara tangan satunya bertengger di saku celana. Gagah, dingin, namun sorot matanya luar biasa ketus.
Begitu melangkah ke ruang tengah, tatapan Arsenio langsung tertuju pada Alea yang sedang bersandar santai. Sifat posesif Arsenio terhadap sang Mommy seketika bangkit. Tanpa menghilangkan kesan tegasnya, ia berjalan mendekat dengan niat matang untuk mengganggu ketenangan seseorang.
Namun, baru saja Arsenio mengambil langkah menuju sofa, sebuah lengan kekar berurat mendadak menyelinap cepat dan menarik pinggang Alea menjauh. Bima Yudhistira, dengan sigap memeluk posesif istrinya, sengaja memblokir jalur Arsenio sambil melemparkan tatapan penuh kemenangan.
Arsenio menghentikan langkah, lalu mendengus sinis. Alih-alih merengek, ia justru bersedekap dada dan menatap Daddynya dengan senyuman meledek yang mematikan.
"Ingat umur, Dad. Kasihan Mommy badannya encok kalau ditarik-tarik kasar begitu," sindir Arsenio sengit, sengaja menyerang titik sensitif Bima yang memang terpaut usia cukup jauh di atas Alea. "Lagipula, Arsen cuma mau menyapa Mommy. Daddy gak usah se-sensitif itu, deh. Faktor usia memang bikin orang gampang cemburuan, ya?"
Bima langsung mendelik tajam, rahangnya mengeras mendengar ledekan lancang putranya. "Kamu mau Daddy potong fasilitas kantornya, hah? Kurang ajar ya sekarang."
Alea hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua laki-laki dominan di hidupnya yang selalu saja bersaing jika sudah berada di satu ruangan.
---
Ketegangan itu berlanjut hingga mereka bertiga berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Di depan piringnya, Arsenio memotong daging steaknya dengan gerakan yang agak kasar, menyalurkan sisa kekesalan yang tertahan di dada.
Alea yang menyadari aura gelap putranya akhirnya membuka suara setelah suasana sedikit tenang. "Arsen, ada apa sih? Sejak pulang tadi muka kamu kelihatan tertekan begitu. Ada masalah besar di kantor?"
Pertanyaan itu akhirnya memancing Arsenio untuk membuka suara. Untuk pertama kalinya, sang CEO yang terkenal tak tersentuh itu membeberkan kronologi kegilaan yang menimpanya hari ini.
Dengan intonasi yang tegas namun sarat akan kekesalan yang mendalam, Arsenio menceritakan bagaimana ia ditabrak oleh gadis ugal-ugalan berpenampilan acak-acakan di lobi, perutnya yang ditekan lutut hingga harga dirinya runtuh, wajah tampannya yang diguyur kopi sasetan murah, hingga kelancangan gadis bernama Kiera itu menyelipkan nomor telepon lecek di sakunya dan menuduh egonya sedang tantrum.
Arsenio mengakhiri ceritanya dengan mengempaskan garpu ke atas meja, berharap mendapatkan pembelaan atas penghinaan besar itu. Namun, reaksi Bima justru di luar dugaan.
"BWAHAHAHAHAHA!"
Bima sampai tertawa terpingkal-pingkal hingga wajahnya memerah. Sang tiran senior itu bahkan memukul meja makan saking gelinya. Mendengar cerita anak laki-lakinya yang biasanya dipuja-puja bak dewa tapi mendadak ditumbangkan oleh segelas kopi murah benar-benar menjadi hiburan terbaik bagi Bima abad ini.
"Daddy! Gak ada yang lucu!" protes Arsenio ketus, meskipun telinganya mulai memerah menahan malu.
"Aduh, Arsen... Arsen," ujar Bima di sela-sela tawanya sambil mengusap sudut matanya yang berair. "Gadis itu luar biasa! Siapa namanya? Kiera? Daddy mau kasih dia bonus karena sudah berhasil menjatuhkan wibawa kamu dalam waktu satu detik!"
Berbeda dengan Bima yang tertawa puas, Alea justru menatap putranya dengan senyuman misterius yang sangat sulit diartikan. Alea menyesap air putihnya pelan, lalu tiba-tiba nyeletuk dengan nada santai namun tepat sasaran.
"Hati-hati, Arsen... benci dan cinta itu beda tipis, lho, nak."
*UHUK!*
Arsenio yang baru saja hendak minum langsung tersedak. Ia segera meletakkan gelasnya, lalu mengeluarkan tawa sarkas yang terdengar dingin dan meremehkan.
"Hahaha! Cinta? Mommy pasti sedang bercanda," sahut Arsenio dengan sorot mata merendahkan yang mutlak. "Seorang Arsenio Yudhistira jatuh cinta pada gadis ugal-ugalan, bar-bar, dan tidak punya sopan santun seperti itu? *No way*, ya, Mommy. Camkan itu baik-baik."
Arsenio memperbaiki posisi duduknya, kembali menampilkan postur tubuhnya yang tegap dan berwibawa. "Besok dia mulai bekerja sebagai asisten di kantor. Dan Arsen sudah menyiapkan skenario terbaik untuk membuat dia menyesal karena telah mengusik ketenangan seorang Yudhistira. Jadi untuk urusan jatuh cinta... tidak akan pernah terjadi."
Alea hanya tersenym simpul tanpa berniat mendebat lebih jauh, sementara Bima masih terkekeh pelan di kursinya. Mereka berdua tahu betul, jika seorang pria Yudhistira sudah mulai mengeluarkan benteng pertahanan verbal yang begitu kokoh, itu tandanya akhir dari masa lajangnya sudah semakin dekat.