PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Selingkuh!
Ketegangan hebat seketika merayap dan memenuhi setiap sudut ruang santai penthouse. Menyadari atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi medan perang yang berbahaya, Arsenio segera menoleh ke arah pelayan senior yang berdiri tak jauh dari sana.
"Bi Sarah, bawa Gino ke kamarnya sekarang. Temani dia sampai tidur," perintah Arsenio dengan nada suara yang sedikit formal namun sarat akan ketegasan mutlak yang tidak bisa dibantah.
"Mau cama Mama-"
"Masuk kamar sekarang, Gino. Turuti kata Bi Sarah," potong Arsenio dingin namun tetap berusaha lembut pada putranya.
Bi Sarah dengan sigap langsung menggendong Gino yang tampak cemberut.
"Ayo, Den Gino, kita lanjut main di dalam kamar saja ya," bujuk Bi Sarah buru-buru melangkah pergi.
Melihat situasi yang semakin memanas, para pelayan yang bertugas lainnya pun memilih untuk segera mengundurkan diri dan meninggalkan ruang tamu. Mereka tahu diri untuk tidak ikut campur dan memberikan privasi penuh bagi sepasang suami istri itu untuk menyelesaikan masalah mereka.
Kini, ruangan luas itu hanya menyisakan mereka berdua. Mina berdiri tegak, bersedekah dada sambil menatap Arsenio dengan pandangan yang teramat tidak suka. Tangannya yang kosong mengetuk-ngetuk siku, menunjukkan betapa dongkolnya dia saat ini.
Di dalam benaknya, amarah dan rasa kesal dalam diri Mina kembali bergolak hebat.
“Ini si kulkas berjalan kesurupan setan apa sih? Padahal jelas-jelas di memori Alicia, mereka berdua ini menikah tanpa cinta sama sekali! Hubungannya dingin kayak kutub utara! Tapi sekarang kenapa dia bersikap posesif seolah-olah kami ini pasangan yang menikah karena saling cinta? Malah bikin gue kelihatan kayak istri durhaka yang kegep selingkuh lagi!” batin Mina merutuk habis-habisan.
Arsenio sendiri masih berdiri kokoh di depannya. Pria itu tampak ingin memakan Mina hidup-hidup dengan tatapan matanya yang tajam dan mengintimidasi. Rahangnya mengeras, menahan letupan emosi yang jarang sekali dia tunjukkan pada siapa pun.
"Mas Arsenio, maksud kamu apa ya?" tanya Mina akhirnya membuka suara dengan nadanya yang santai namun penuh dengan kekesalan yang kentara.
"Main rebut ponsel orang, main matiin telpon sembarangan. Sopan begitu cara kerja CEO terhormat?"
Arsenio maju selangkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga Mina bisa mencium aroma parfum maskulin pria itu yang menenangkan namun saat ini terasa mencekam.
"Harusnya saya yang bertanya seperti itu kepadamu, Alicia," sahut Arsenio dengan nada sedikit formal dan santai, mencoba mengontrol suaranya agar tetap datar meskipun dadanya bergemuruh.
"Siapa pria bernama Kendrick itu? Sejak kapan kamu berhubungan di belakang saya dengan pria lain?"
Mina langsung terbahak-bahak, sebuah tawa sarkas yang terdengar renyah di udara. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya ini.
"Hubungan di belakang kamu? Ya ampun, Mas... tolong jangan bikin drama picisan malam-malam deh. Mas Kendrick itu cuma cowok yang kebetulan ketemu di taman kemarin pas aku bawa Gino jalan-jalan. Kami cuma temenan!"
"Teman?" Arsenio menyipitkan matanya, sorot matanya menatap tajam langsung ke manik mata Mina.
"Teman macam apa yang menelpon istri orang di jam segini dengan suara yang begitu akrab? Dan kamu... kamu tersenyum sangat manis saat bicara dengannya. Berbeda sekali dengan sikapmu yang selalu seperti kucing galak saat berhadapan dengan suamimu sendiri."
"Ya jelas beda lah!" balas Mina blak-blakan dengan gaya sembrononya, sama sekali tidak takut pada aura intimidasi Arsenio.
"Mas Kendrick itu orangnya hangat, ramah, asyik diajak ngobrol. Gak kayak kamu yang hobi pasang muka triplek dan dingin kayak es balok! Lagian, asal kamu tahu ya, yang pengen nelpon itu keponakannya, si Lucas, karena dia kangen sama aku. Jadi jangan asal nuduh yang enggak-enggak!"
"Saya tidak asal menuduh, Alicia. Tindakanmu sudah melewati batas etika sebagai seorang istri," potong Arsenio cepat, suaranya meninggi satu oktav.
"Kamu memanfaatkan waktu di saat saya sedang berada di luar negeri untuk mendekati pria lain. Apa namanya itu kalau bukan selingkuh?"
Mendengar kata 'selingkuh' keluar dari mulut Arsenio, mata Mina spontan melotot sempurna. Rasa dongkolnya kini berubah menjadi amarah yang membakar dada.
"Selingkuh kamu bilang?! Wah, bener-bener ya, otak kamu perlu diservis sepertinya, Mas!" seru Mina kesal, tidak lagi memedulikan tata krama.
"Denger ya, Mas Arsenio yang terhormat. Pernikahan kita ini dari awal isinya cuma kertas perjanjian dan paksaan! Kamu gak pernah cinta sama Alicia, dan kamu juga cuek setengah mati selama ini. Terus sekarang, begitu aku cuma teleponan sama temen baru, kamu langsung nge-judge aku selingkuh? Lucu banget tau gak, lawakan kamu malam ini!" cecar Mina habis-habisan, meluapkan seluruh kekesalannya atas kerumitan hidup yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh asli.
Arsenio tertegun sejenak mendengar kalimat menohok dari Mina. Ada benarnya apa yang dikatakan wanita itu mengenai awal pernikahan mereka, namun ego dan rasa tidak suka yang bergejolak di dalam dadanya menolak untuk mengalah begitu saja. Tatapan matanya tetap mengunci wajah Mina yang memerah karena emosi.
"Apapun alasan di masa lalu, saat ini kamu masih menyandang nama belakang saya. Dan saya tidak suka milik saya diganggu oleh pria lain," ucap Arsenio dengan nada dingin, mutlak, dan penuh kepemilikan yang egois.
Mina menarik napas dalam-dalam, menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan keposesifan tidak jelas dari pria di depannya ini. Malam itu, keduanya akhirnya terlibat pertengkaran mulut yang cukup sengit. Mina yang dasarnya asyik dan tidak mau ambil pusing, lama-kelamaan merasa lelah dan muak meladeni kecemburuan tak berdasar dari si kulkas berjalan.
"Terserah kamu deh, Mas! Pikir aja sesuka hati kamu sampai puas! Aku capek, mau tidur!" seru Mina akhirnya memutuskan untuk menyudahi debat kusir tersebut.
Dengan wajah yang ditekuk masam, Mina membalikkan tubuhnya dengan sentakan kasar, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang santai menuju kamarnya sendiri. Dia menutup pintu kamarnya dengan bantingan yang cukup keras, mengunci diri di dalam dan meninggalkan Arsenio yang masih berdiri mematung di ruang tengah dengan tangan mengepal di dalam saku, ditemani oleh keheningan malam yang terasa semakin mencekam.
Bersambung....
Kalau kalian bertengkar dengan pasangan kalian, respon kalian bagaimana guys? Kabur atau langsung marah-marah meluapkan emosi? Komen dongg.😁 Kalau author sih nangis😂😭
semngat update lagi ya kak