Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 4 :" Kamu Ngilang 15 Tahun, Ndry."
Kereta Matarmaja mengerem panjang di Stasiun Pasar Senen. Pintu besi terbuka dengan bunyi “cklek” khas.
Indry antre keluar menyusuri jalur keluar stasiun.Naik eskalator lalu turun lagi, berlomba keluar dengan ratusan penumpang lain. begitu pintu keluar, turun tangga besi ke gerbang luar, Udara Jakarta langsung nyamber: panas, lembab, bau knalpot campur gorengan.
Indry turun pelan. Tas besar Zaki diseret, beratnya kayak bawa koper kosong isi batu. Berenti bentar, Tangan kirinya raba leher. Kosong. Rosario pink muda itu nggak ada bergantung.Nggak ada Salib yang slu jadi tombol selamat dan Ucapan Syukur.
ada yang kurang..... dan ya wajah Zaki, wajah Pria yang berdiri mengunggunya di stasiun tegal berjam jam lalu.
Lalu terbit senyum diwajah Indry, Salib ada di hatiku, dan Zaki....
“BESTYYYY SAYAAAAANG.....!!!!!”
Jeritan heboh itu bikin setengah penumpang nengok. Meta lompat-lompat sambil ngibarin jaket di udara, kayak mau ngusir nyamuk. Rambutnya diiket tinggi, pakai kaos “Gue Bukan Toko Online Tapi Lu Boleh Tanya”.
Indry langsung ketawa, capeknya hilang 30%.
“Anjir Met, malu!”
“Malu kenapa! masa bodoooo, kangen aku seyeeengggg ! Gue kira lu bakal nyangkut di Tegal!”
"jadi bini orang tiba tiba, mana tau....!!"
"besty...gimana gimana....tadi peluk peluk nggak..ada cium nggak???kiss kiss gitu....????"
Jiwa kepo tanpa nafas si Meta langsung narik tangan Indry, ngelupain tas berat itu.
“nyangkut apaan. korban Drakor emang ni anak.”
“Ya makanya!Cerita gua bilang!!!!!"
"sabar metaaaaaa ,,,ntar aja"
"Lu uda gak ada kabar seabad lamanya. Zaki aja bingung lu masih hidup atau udah jadi dosen fisika kuantum!”
Mereka berdua seret tas ke luar stasiun.
“Naik apa? Grab? Gocar? Ojol? Jangan kereta lagi ya Dry, gue mual liat rel,” kata Meta sambil buka aplikasi.
“Grab aja. Biar sekalian curhat di mobil. Gue butuh AC.”
*Di dalam Grab*
Drivernya udah tua, kalem. Begitu pintu ketutup, Meta langsung nyerbu.
“JADI CERITA DONG! Lu ketemu Zaki gimana? Kok tiba-tiba dia ngasih tas gede? Lu dibeliin apa aja? Dia ganteng nggak sekarang? Masih nyantri nggak? Peluk atau cium atau gimana...”
Indry nyender di jok belakang, ketawa kecil. “Pertanyaan gue jawab satu-satu apa lempar lu keluar mobil?”
“Lempar gue keluar gue nangis. Ceritaaa!”
Indry tarik napas. “Gue ketemu dia di peron Tegal. Dia nungguin lama. Dia masih sama, Met. Diam, tapi nggak dingin. Masih kayak anak pesantren yang nggak suka basa-basi.”
“Terus?”
“Terus kasiin gue ini.” Indry nunjuk tas besar di bagasi.
Meta melot. “Isinya apa? Emas? Berlian? Uang tunai? Bilang jujur!”
“Isinya baju, makanan, obat, vitamin, susu, selimut... sama amplop.”
"kan uda liat tadi luuu"
Meta, "Kagak liat gue, Hape lu jelek, burem, jelek banget nyorotnya, kagak keliatan isi nya, lupa gua lu bilang apa juga td"
"...... ada amplop duit, met! "
“AMPLLOP?! BERAPA?!”
Indry pelan. “Gue nggak itung. Gue nggak berani buka.”
Grabnya belok ke arah Karawaci. Jalanan mulai macet.
Meta diem 3 detik. Itu rekor.
“Dry... lu kasih dia rosario kan?”
Indry angguk pelan.
Meta langsung heboh lagi. “LU KASIH ROSARIO?!Bestyyyy SAYANG! ITU HADIAH DARI SEMINAR HIDUP BARU DALAM ROH! YANG LU LAPIN TIAP HABIS DOA! YANG LU BILANG ‘INI SATU-SATUNYA GUE PUNYA’!”
Ni anak kenceng banget suara...
“Udah, pelan Met. Drivernya denger.”
“Drivernya juga pasti nangis! Lu kasih orang Muslim rosario! Itu kayak ngasih rendang ke vegan!”
Indry senyum. “Tapi dia nggak nolak. Dia simpan. Dia bilang ‘aman’.”
Meta diem lagi. Kali ini 10 detik.
“Zaki itu... gila. Gila baiknya.”
Drivernya tiba-tiba nyaut dari depan. “Anak muda sekarang jarang kayak gitu, Neng. Jaman saya, beda agama itu berat.”
Indry dan Meta kaget. Ternyata dengerin juga.
“Berat, Pak. Tapi kayaknya dia mau coba jaga hormatnya,” kata Indry pelan.
Drivernya angguk. “Jaga aja. Yang langka itu yang mau jaga.”
Sampai kos Indry di Karawaci jam 12.48 malam. Kamar kecil, ada poster Yesus, rak buku, dan adik bontot Indry yang udah ngantuk nungguin.
Begitu pintu kebuka, teriakan adik langsung pecah.
“KAK PULANG! ,NYAMPE JUGA...BAWA APA?!”
Meta langsung jadi pameran. “BONGKAR SEMUA!”
Zip tas dibuka. Adik Indry heboh lihat baju baru, susu, mie, obat.
Tapi yang bikin mereka diem adalah amplop cokelat.
Indry buka. Di dalamnya ada uang. Lumayan. Cukup buat bayar kos 3 bulan + kebutuhan adik.
Adik bungsu Indry, Ogah 15 tahun, nanya pelan. “Kak... siapa yang kasih?”
Indry tatap uang itu lama. “Teman lama Kakak. Teman yang... beda keyakinan.”
Ogah angguk. “Kak terima?”
Indry nggak jawab. Dia tatap Meta. Meta cuma bilang: “Terima, Ga. Itu bukan sedekah. Itu hormat.”
*Pesan ke Zaki*
Jam 01.30 ,Indry baru sempet buka Messenger FB.
Dia baru punya WA Zaki. Nggak ada IG. slama ini yang dia punya cuma Facebook tua Zaki baru beberapa hari lalu mereka kembali dekat.Username: “ZakiZt”. Foto profilnya masih foto Lama. pakai koko putih, senyum malu-malu.
Lewat pesan Massanger itu lah obrolan pertama dimulai Indry, lalu bertukar kontak WhatsApp.
Indry ketik pelan:
_“Zak, udah sampai. Makasih tasnya. Makasih semuanya. Indry.”_
Dia pencet kirim. Jantung deg-degan.
. Zaki uda tidur belom ya.
Tiga menit kemudian, centang biru.
Balasan masuk:
_“Syukur Alhamdulillah. Hati-hati ya. Rosario aman.”_
Indry baca 5 kali. Tangannya dingin.
Zaki nggak pernah ganti FB, no Tlf juga sebenarnya hanya kontaknya kehapus waktu ganti Hp gegara rusak, dan Indry ganti nomor. Zaki masih pakai nama yang sama. Zaki masih simpan kontak orang yang ngilang 15 tahun.
Indry balas lagi:
_“Kamu dari dulu nggak pernah ganti FB ya?”_
Zaki:
_“Ngapain ganti. Ini akun lama. Kalau kamu nyari, gampang ketemu.”_
Indry terdiam.
Gampang ketemu? Dia yang nggak pernah nyari.
*Zaki di Tegal*
Di sisi lain, Zaki masih duduk di teras rumah kontrakannya. Lampu kuning kecil, suara jangkrik, dan rosario pink muda di tangannya.
Dia buka Messenger.buka Facebook. buka Foto foto lama Indry di FB lama nya. Lihat chat Indry di whatsapp nomor baru nya.
Rasanya hanya itu kegiatannya sepanjang menunggu Indry sampai dan mengabarinya,kalau ada....
15 tahun.
Zaki pernah cari Indry dulu, Indry pulang kampung, hilang tanpa kabar, entah dimana kampungnya sebenarnya,entahlah....dia coba tanya temen-temen lama.
Nggak ada yang tahu. FB Indry nggak aktif. Katanya balik ke kampung, katanya kerja, katanya nikah. Zaki nggak tahu mana yang bener.
Dia pernah kepikiran hapus FB. Buat apa simpan akun kalau orang yang dia tunggu nggak pernah muncul.
Tapi dia nggak jadi.
“Siapa tahu dia nyari,” katanya ke dirinya sendiri waktu itu.
Dan sekarang, dia nyari.
Zaki ketik pelan:
_“Kamu ngilang 15 tahun, Ndry.”_
Kirim.
*Chat malam itu*
Indry baca kalimat itu. Rasanya kayak ditampar pelan.
_“Kamu ngilang 15 tahun, Ndry.”_
Dia ketik panjang:
_“Iya. Maaf. Hidup aku nggak semudah dulu. Kerja, ngurus adik, nggak sempet. Aku kira kamu udah lupa.”_
Zaki balas cepat:
_“Lupa gimana. Kamu yang sering cerita soal Tuhan kamu, soal adik kamu, soal mimpi kamu jadi Dokter. Gimana bisa lupa.”_
Indry senyum sendiri.
_“Kamu masih inget mimpi aku?”_
_“Inget. Kamu bilang mau kerja di RS biar bisa bantu orang miskin gratis.”_
_“Aku nggak lupa apapun tentang kamu, Ndry”_
_“Aku ingat semuanya.”_
Obrolan absurd mulai muncul.
Zaki: _“Kamu masih suka makan bakso asin pagi?”_
Indry: _“Masih. Mana ada asin”_
Zaki: _“Hahaha. Kamu masih suka ngomel kalau orang doa keras-keras?”_
Indry: _“Nggak ngomel. Tapi kalau doa sambil denger dzikir, itu baru aneh.”_
Zaki:_"kamu inget nggak ngutis jerawat aku sambil nunggu bis kamu waktu mo pulang dan kamu hilang....? "
Indry diam.
"kamu gak jerawatan lagi, Zak! "
"hahaha.... kamu perhatiin aku ya,,, sempet keliatan rupanya wajah aku, .... "
"apaannn siiih.... '', malu
Mereka ketawa lewat ketikan.
*Obrolan soal 15 tahun*
Zaki nggak nahan lagi.
_“Ndri, 15 tahun ini kamu gimana? Bener ngurus 5 adik sendiri?”_
Indry: _“Iya. Papa meninggal waktu itu, lalu Mama sakit sakitan dan akhirnya meninggal, Zak. Jadi aku yang gantikan tanggungjawab Orang Tua buat adik adik aku”_
Zaki diem 2 menit.
_“Kamu hebat.”_
_“Nggak hebat. Capek. Tapi harus.”_
_“Kenapa nggak kabarin aku?”_
Indry terdiam. Jari nggak gerak.
Karena malu? Karena takut? Karena ngerasa nggak pantas?
Dia jawab jujur:
_“Aku takut kamu udah punya keluarga. Takut ganggu.”_
Zaki:
_“Aku belum nikah, Ndri.”_
Indry baca itu 3 kali. TIGA KALI.
Belum nikah.
Obrolan berhenti.
Malam makin larut.
Adik Indry udah tidur. Meta ngorok di kasur sebelah.
Indry pegang HP.
Di seberang, Zaki pegang rosario pink muda.
Dua orang. Dua keyakinan.
15 tahun hilang.
Sekarang ketemu lagi lewat satu chat: _“Kamu ngilang 15 tahun, Ndry.”_