NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anselo Wicaksono

"Saya membelinya tepat pada saat Valencia terbaring koma di rumah sakit dulu," kata Ansel dengan suara yang terdengar berat dan serius, matanya menatap lurus ke arah Pak Darma yang mulai tampak bingung dan kaget. Ansel mengeluarkan kotak berisi cincin dari dalam kantong jasnya.

Mendengar kata 'koma', mata Pak Darma seketika membelalak lebar, wajahnya pucat pasi. punggungnya mundur jatuh di sandaran kursi seolah badan nya tak lagi kuat menopang tubuhnya.

"Ko... koma?!" serunya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar karena terkejut luar biasa.

"Apa maksudmu, Tuan Ansel? Kapan itu terjadi? Mengapa aku tidak tahu sama sekali? Mengapa tidak ada yang memberitahuku hal sebesar ini?!"

Hati Pak Darma terasa seperti dicengkeram kuat oleh rasa sakit dan rasa bersalah yang mendalam. Ia benar-benar tidak tahu apa-apa. Selama ini ia mengira kehidupan Valencia di luar sana berjalan biasa saja, sama seperti orang lain. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa putrinya pernah mengalami hal yang mengerikan dan mengancam nyawa sedemikian rupa, sementara ia—sebagai ayahnya—hanya diam di sini dalam keadaan tenang dan tidak mengetahui apa pun.

Ansel menghela napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada suara yang tenang namun menyiratkan kesedihan yang mendalam.

"Kejadian itu terjadi beberapa waktu yang lalu, Tuan. Saat itu, saya dan Zyro sedang terlibat pertengkaran hebat. Tapi kami berdua sama-sama keras kepala, tidak ada satu pun dari kami yang mau mengalah atau melepaskan Valencia untuk yang lain. Kami berselisih, hingga terjadi pertengkaran hebat demi mendapatkan hak atas diri Valencia. Kami sama-sama ingin memilikinya seorang diri, dan pertengkaran itu semakin semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya hal yang paling buruk pun terjadi. Karena tidak sanggup lagi melihat kami bertengkar, karena merasa terbebani dan mungkin juga bingung, Valencia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Dia melakukan itu hanya untuk menghentikan perkelahian antara kami berdua, karena dia tidak ingin salah satu dari kami tersakiti atau saling bermusuhan terus-menerus."

Suasana ruangan seketika menjadi hening mematikan. Pak Darma menutup mulutnya dengan tangan gemetar, air mata mulai mengalir deras di pipinya. Rasanya dunianya runtuh mendengar kenyataan pahit itu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa di balik sikap Valencia yang selalu tenang dan diam, wanita itu menanggung beban yang seberat itu, menjalani kehidupan yang begitu sulit dan menyakitkan di luar sana sendirian, tanpa ada tempat untuk mengadu atau berlindung.

"Valencia terbaring koma cukup lama di rumah sakit, nyawanya melayang di antara hidup dan mati," lanjut Ansel dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi.

"Saat itulah, saat kami melihatnya terbaring lemah, pucat, dan nyaris pergi meninggalkan kami selamanya... saat itulah hati kami tersentak sadar. Rasa takut kehilangan dia membuat kami menyadari betapa bodohnya kami bertengkar hanya untuk memilikinya seorang diri. Kami menyadari bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang memilikinya, tapi bahwa dia tetap ada di dunia ini, tetap bernapas, dan tetap hidup bersama kami. Di saat itulah, saya dan Zyro membuat keputusan bulat. Kami sepakat untuk menghentikan semua perselisihan itu, dan memutuskan untuk hidup bersama-sama. Kami berjanji akan saling bergandengan tangan, saling melengkapi, dan bekerja sama untuk menjaga, menyayangi, dan membahagiakan Valencia sebaik-baiknya. Kami berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis atau bersedih lagi. Dan cincin ini... saya membelinya tepat di masa-masa berat itu, sebagai tanda janji hati saya bahwa jika dia selamat, saya akan menjaganya seumur hidup saya, bersama dengan Zyro."

Ansel menatap lurus ke mata Pak Darma, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh keyakinan:

"Sama seperti Zyro, saya pun sudah mengenal Valencia jauh lebih dalam daripada yang Tuan atau siapa pun di rumah ini bayangkan. Saya tahu siapa dia sebenarnya, dia adalah wanita yang cerdas, berbakat, pekerja keras, dan memiliki hati yang sangat mulia. Tuan mungkin tidak mengetahuinya, tapi di balik sikapnya yang tenang dan sederhana, Valencia adalah pemilik dan arsitek utama dari Arsitektur Lembayung—perusahaan yang namanya kini mulai disejajarkan dengan perusahaan-perusahaan besar di negeri ini. Banyak proyek penting dan bangunan megah yang dirancang olehnya, meskipun ia selalu memilih untuk tetap di balik layar dan menyembunyikan identitasnya. Wanita yang kalian tuduh sebagai pekerja serabutan, wanita yang kalian sebut rendah dan menjual diri, sebenarnya adalah sosok hebat pemilik perusahaan itu, yang mampu berdiri tegak dan sukses dengan usahanya sendiri tanpa meminta bantuan siapa pun."

Pengakuan itu membuat hati Pak Darma terasa hancur lebur. Ia menatap Valencia dengan pandangan yang sulit dijelaskan—campuran antara rasa bersalah yang mendalam, rasa kagum yang luar biasa, dan rasa sakit yang tak terlukiskan karena selama ini ia tidak pernah hadir untuk putrinya. Air mata terus menetes di pipinya. Ia sadar betapa bodohnya ia telah mendengarkan kata-kata anak-anaknya yang lain dan meremehkan Valencia, padahal wanita itu telah melewati hari-hari yang begitu berat sendirian di luar sana.

"Valencia..." panggilnya dengan suara terguncang dan nyaris tak terdengar. "Apakah... apakah apa yang dikatakan Tuan Ansel ini benar? Apakah kau pernah mengalami semua itu, Nak? Dan aku... aku sama sekali tidak tahu apa-apa..."

Valencia mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tetap tenang dan tegar. Ia sama sekali tidak terlihat marah atau dendam meskipun baru saja dihina sedemikian rupa dan menceritakan masa lalu yang menyakitkan itu.

"Benar, Papa. Aku tidak pernah menceritakannya karena aku tidak ingin menambah beban pikiran Papa, dan juga karena aku tidak ingin urusan hidupku menjadi bahan pembicaraan di rumah ini. Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri."

Pak Darma menundukkan kepalanya dalam-dalam, rasa malunya tak terlukiskan. Ia lalu menatap kedua pria di hadapannya secara bergantian—Zyro Mahardika, pewaris kekayaan besar dan pembalap hebat, serta Anselo Wicaksono. pengusaha sukses dan berpengaruh. Keduanya adalah pria yang banyak diidamkan orang, namun keduanya justru dengan rendah hati datang memohon izin untuk menikahi putrinya, dan bahkan mengetahui serta menyelamatkan nyawa Valencia saat ia paling membutuhkan pertolongan.

Dengan langkah berat namun penuh penyesalan, Pak Darma berjalan mendekati Valencia, lalu menggenggam tangan putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh tangan dingin putrinya.

"Maafkan Papa, Nak..." bisiknya dengan suara terguncang di sela-sela isak tangisnya. "Maafkan Papa karena selama ini tidak pernah melihatmu, tidak pernah mengerti mu, dan bahkan membiarkan orang lain menghinamu di depan mataku. Papa tidak tahu kalau hidupmu seberat ini, kalau kau menanggung semuanya sendirian... Papa sungguh ayah yang buruk, Papa salah besar..."

Ia lalu menoleh ke arah Zyro dan Ansel, menatap keduanya dengan pandangan yang tulus dan penuh rasa hormat serta terima kasih yang tak terhingga.

"Terima kasih... terima kasih karena sudah ada untuknya saat Papa tidak ada di sana," ujarnya lirih. "Jika kalian berdua benar-benar yakin, jika cinta kalian sekuat itu, dan jika kalian berjanji akan menyayangi serta menjaga putriku dengan sebaik-baiknya dan tidak akan membuatnya sedih lagi... maka aku merestuinya sepenuh hati. Aku menyerahkan Valencia ke tangan kalian berdua. Jagalah dia dengan nyawa kalian sekalipun, karena dia adalah harta paling berharga yang kumiliki, meskipun aku baru menyadarinya hari ini."

Zyro dan Ansel tersenyum lega dan bahagia, matanya pun berkaca-kaca mendengar ucapan tulus itu. Keduanya serentak membungkuk hormat kepada Pak Darma.

"Terima kasih banyak, Tuan Darma. Kami berjanji akan menepati janji kami seumur hidup, dan tidak akan pernah membiarkan satu pun tetes air mata jatuh dari mata Valencia mulai dari sekarang," ujar mereka tegas.

Di sudut ruangan, Sania hanya bisa terdiam kaku dengan wajah pucat dan tubuh gemetar hebat karena menahan rasa , marah, yang mendalam. Bukanya sadar sepenuhnya bahwa ia telah kehilangan segalanya hari ini—baik kesempatan mendapatkan Ansel maupun harga dirinya sendiri—semua karena mulutnya yang jahat dan hatinya yang penuh iri hati malah hati Sania diliputi rasa dendam yang mendalam kepada Valencia.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!