NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 : Mereka pergi

Malam semakin larut, rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara langkah Angga, suara pintu yang dibanting, serta nada tinggi yang membuat jantung Nayra berdebar cemas. Sepi, tapi justru terasa menekan.

Nayra berdiri di ruang tengah, matanya sesekali melirik ke arah pintu. Tidak ada pernah kabar dari Angga jika ia tidak pulang.

Bibir Nayra tersenyum pahit. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Jika ia bertanya, yang ada hanya amarah. Jika ia diam, hatinya yang hancur sendiri.

Perlahan, ia menghela napas panjang lalu melangkah menuju kamar anak-anaknya.

Pintu dibuka pelan.

Lampu tidur yang redup menyinari dua sosok kecil di atas ranjang. Raya sedang memeluk Alea. Hati Nayra langsung terasa hangat, sekaligus perih. Ia mendekat perlahan, duduk di tepi ranjang.

Tangannya terangkat, lalu dengan lembut mengusap kepala Raya. Rambut itu terasa halus di ujung jarinya. Anak ini, sudah terlalu cepat dewasa.

Namun saat jemarinya masih bergerak pelan...

"Hmm… Ma?"

Nayra terkejut, Raya membuka matanya perlahan.

"Mama?" suaranya masih serak karena mengantuk.

Nayra tersenyum lembut, sedikit gugup. "Maaf… Mama bangunin ya?"

Raya menggeleng pelan, lalu bangun sedikit tanpa melepaskan pelukannya pada Alea.

"Belum tidur?" tanya Nayra.

Raya menggeleng lagi. Kali ini lebih sadar. "Aku nunggu Mama."

Deg.

Kalimat itu membuat dada Nayra terasa sesak. Raya menatapnya, matanya terlihat serius, tidak seperti anak seusianya.

"Kita jadi pergi, kan Ma?"

Pertanyaan itu langsung menusuk. Tidak ada ragu dan tidak ada rasa takut. Hanya ada harapan, Nayra terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

"Iya… kita pergi."

Mata Raya langsung berbinar, meski masih ada jejak lelah di sana.

"Kapan, Ma?"

Nayra melirik ke arah jendela. Langit sudah gelap pekat. "Malam ini kita istirahat dulu," ucap Nayra pelan. "Nanti subuh… kita pergi sebelum Ayah pulang."

Raya menggigit bibirnya, berpikir. "Kalau Ayah pulang sebelum subuh?" Nada suaranya berubah… ada kekhawatiran di sana.

Nayra menggeleng pelan, mencoba terlihat tenang meski hatinya bergetar. "Ayah pasti pulang besok sore, jadi kamu jangan khawatir."

Raya menatap ibunya beberapa detik. Lalu perlahan… ia mengangguk. "Iya, Ma."

Ia melepaskan pelukannya dari Alea dengan hati-hati, lalu duduk lebih tegak. "Aku siapin barang-barang sekarang aja ya?"

Nayra sedikit terkejut, karena dia tidak menyangka Raya akan seantusias ini. Lalu Nayra tersenyum tipis dan menggenggam tangan Raya.

"Ambil yang penting. Sisanya… kita tinggalkan."

Kalimat itu terasa berat, yang meraka tinggalkan bukan hanya barang... tapi juga kenangan.

Raya mengangguk lagi, kali ini lebih mantap. "Yang penting kita sama-sama, kan Ma?"

Nayra tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia langsung memeluk Raya erat. "Iya… yang penting kita sama-sama."

Raya membalas pelukan itu tanpa ragu.

Sementara Alea masih tertidur lelap di samping mereka, tidak tahu bahwa hidupnya akan berubah saat ia bangun nanti.

Beberapa saat, Nayra melepaskan pelukannya. Mereka kini sibuk merapihkan barang-barang yang akan di bawa.

Beberapa menit kemudian Raya dan Nayra duduk di tepi ranjang saling pandang dan saling melempar senyum.

"Ya sudah, kita sebaiknya tidur dulu. Supaya besok kita ada tenaga."

Raya mengangguk, lalu kembali berbaring di samping Alea. Namun kali ini, tangannya menggenggam tangan Nayra, seolah takut ibunya menghilang.

"Aku nggak takut lagi, Ma," bisiknya pelan.

Nayra tersenyum, meski matanya masih basah. "Iya… Mama juga."

Lampu dimatikan, ruangan kembali gelap. Namun untuk pertama kalinya, gelap itu tidak terasa menakutkan.

Menjelang subuh Nayra sudah terbangun. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kedua anaknya yang masih tertidur.

Beberpa tas kecil dan koper sudah ia siapkan. Tidak banyak yang ia bawa, hanya pakaian seragam sekolah Raya, baju ganti mereka bertiga dan berkas-berkas penting.

Sisanya ia tinggalkan. Perlahan, Nayra berdiri. Ia menatap sekali lagi ke seluruh ruangan. Tempat di mana ia menangis diam-diam. Tempat di mana ia bertahan selama bertahun-tahun

Dan hari ini, ia akan pergi selamanya. Tangannya mengepal pelan. "Sudah cukup penderitaanku," bisiknya lirih.

Lalu ia menoleh ke arah Raya. "Raya… bangun, Nak."

Raya mengerjap pelan saat mendengar suaranya.

Matanya terbuka perlahan, masih berat oleh kantuk. Namun begitu ia melihat Nayra sudah berpakaian rapi dan tas-tas kecil di dekat pintu… kesadarannya langsung kembali.

"Ma… ini sudah subuh?" bisiknya pelan.

Nayra mengangguk. "Iya, Nak. Kita harus berangkat sekarang."

Raya langsung bangun, kali ini tanpa keluhan. Ia menoleh ke arah Alea yang masih terlelap, lalu menyentuh pundaknya pelan.

"Alea… bangun," bisiknya lembut.

Alea menggeliat kecil, wajahnya mengernyit. "Hmm… Kak… masih ngantuk."

Raya melirik Nayra sejenak, lalu kembali membujuk adiknya. "Kita mau jalan-jalan, Lea," ucapnya pelan, mencoba tersenyum.

Alea membuka matanya sedikit. "Jalan-jalan?"

"Iya… sama Mama."

Perlahan, Alea mulai bangun, meski masih setengah sadar. Nayra segera mendekat, membantu memakaikan jaket tipis pada tubuh kecil itu.

"Kita pergi sebentar ya, Sayang," ucap Nayra lembut.

Alea mengangguk pelan, masih belum sepenuhnya mengerti.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah siap.

Raya membawa satu tas kecil, Nayra menggenggam tangan Alea dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menarik koper sederhana. Semua terasa sunyi.

Langkah mereka pelan saat keluar dari kamar. Setiap sudut rumah terasa berbeda. Ruang tamu, meja makan dan dinding yang penuh kenangan. Semua seakan menahan langkah Nayra, namun kali ini… ia tidak berhenti.

Ia berjalan menuju pintu utama. Tangannya terangkat, berhenti sejenak di gagang pintu.

Deg.

Jantungnya berdegup kencang. Ini… benar-benar akhir. Nayra menoleh ke belakang. Raya berdiri di sana, menggenggam tasnya erat. Alea bersandar di sampingnya, masih mengantuk.

Dua alasan terbesar dalam hidupnya. Nayra menarik napas panjang. Lalu…

Klik.

Pintu itu terbuka.

Udara subuh langsung menyambut mereka. Dingin… tapi terasa begitu lega. Mereka melangkah keluar, baru beberapa langkah tiba-tiba...

BRAAK!

Suara keras tiba-tiba terdengar dari belakang. Pintu terbuka kasar. Tubuh Nayra langsung membeku.

Raya refleks menarik Alea ke belakangnya. Perlahan Nayra menoleh. Dan di sana... Angga berdiri di ambang pintu. Matanya tajam, wajahnya kusut, aroma alkohol samar tercium.

Tatapannya langsung jatuh ke koper di tangan Nayra, lalu ke Raya dan Alea. Suasana mendadak berubah mencekam.

"Mau ke mana kamu?" suaranya rendah, tapi penuh tekanan.

Napas Nayra tercekat, ia tidak bisa menjawab.

Angga melangkah mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti ancaman.

"Pagi-pagi sudah bawa tas," lanjutnya dingin. "Kamu mau kabur?"

Raya menggenggam tangan Alea lebih erat. "Ma…"

Nayra akhirnya bersuara, meski pelan. "Aku… mau pergi, Mas."

Beberapa detik, terasa sangat panjang. Lalu, Angga tertawa kecil. Tawa yang tidak ada hangatnya sama sekali.

"Pergi!" ulangnya. "Kamu mau pergi ke mana!" Tatapannya berubah tajam. "Sama siapa!"

Nayra mengepalkan tangannya. "Kamu nggak perlu tahu."

Mendengar ucapan Nayra, Angga menjadi sangat marah. Dalam sekejap, wajah Angga berubah gelap.

"Apa!" suaranya naik sedikit. Ia melangkah cepat, hampir mendekat. "Kamu berani ngomong begitu ke suamimu sendiri?"

Raya langsung berdiri di depan Nayra. "Jangan dekati Mama!"

Deg.

Angga berhenti. Matanya perlahan turun… menatap Raya. Beberapa detik, lalu ia menyeringai tipis. "Oh… sekarang kamu berani lawan Ayah?"

Raya tidak mundur, tatapannya sinis. "Kalau Ayah nyakitin Mama, aku bakal lawan."

Kalimat itu membuat udara terasa membeku. Nayra langsung menarik Raya sedikit ke belakang.

"Raya, jangan..."

Namun Angga sudah lebih dulu tersulut. "Kurang ajar!" bentaknya.

Tangannya terangkat, namun sebelum menyentuh...

Tiiiin... Tiiiin...

Klakson mobil terdengar dari luar pagar. Semua langsung terdiam, Angga menoleh kesal ke arah sumber suara.

Nayra membeku, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu, siapa yang datang. Perlahan, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!