NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pagi itu, kediaman Widjaja terasa lebih tenang, namun ada ketegangan yang menggantung di udara. Matahari baru saja merangkak naik, menyinari embun yang masih menempel di dedaunan taman. Aurora keluar dari kamarnya bukan dengan gaun mahal atau riasan tebal, melainkan dengan setelan berkuda lengkap: breeches krem, sepatu bot kulit hitam, dan kaos polo simpel. Wajahnya masih terlihat pucat, dan matanya masih sedikit sembab, sisa dari tangisan semalam.

Di ruang tengah, Mayang sedang sibuk dengan tabletnya, tampak kaget melihat penampilan Aurora.

"Ra? Kamu serius mau libur hari ini? Jadwal pemotretan majalah fashion itu gimana?" tanya Mayang dengan nada khawatir.

Aurora mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan gerakan malas. "Serius, Kak. Aku udah chat Kak Rio semalem dan udah di-ACC. Kebetulan mereka juga lagi ada kendala teknis di studio, jadi bisa diundur minggu depan. Aku lagi nggak mau liat kamera, aku mau naik kuda bentar aja. Butuh udara segar."

Mayang menghela napas, ia tahu Aurora butuh waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian 'pemblokiran' menyakitkan kemarin. "Ya udah, tapi jangan lama-lama ya. Nanti siang ada fitting baju."

"Iya, tenang aja," jawab Aurora singkat.

Begitu sampai di area parkir, Pak Bambang yang sedang memanaskan mobil langsung menghampiri. Ia melihat Aurora membawa helm berkuda.

"Saya antar ya, Non? Ke tempat latihan berkuda yang biasanya?" tawar Pak Bambang ramah.

Aurora menggeleng pelan, ia memakai kacamata hitamnya untuk menghindari kontak mata yang terlalu lama. "Gak usah, Pak. Aku bisa naik motor kok. Cuma ke stable dekat komplek sini aja, nggak sampai keluar jalan raya besar."

"Tapi Non, apa nggak sebaiknya—"

"Pak Bambang, please," potong Aurora dengan nada memohon yang halus. "Aku cuma mau sendiri sebentar. Beneran sebentar aja."

Pak Bambang terdiam, ia melirik ke arah paviliun di mana Langit mungkin sedang bersiap untuk tugasnya. Dengan berat hati, ia mengangguk. "Baik, Non. Hati-hati di jalan. Ponselnya jangan dimatikan ya."

Aurora mengendarai motor scooter miliknya menuju area berkuda keluarga yang terletak di ujung komplek perumahan elit tersebut. Di sana, seekor kuda putih bernama 'Luna' sudah disiapkan oleh petugas stabil.

Biasanya, berkuda adalah cara Aurora untuk melepaskan stres. Kecepatan dan angin yang menerpa wajahnya selalu berhasil membuatnya merasa bebas. Namun, pagi ini berbeda. Begitu ia naik ke atas punggung Luna dan mulai berjalan pelan di area track yang dikelilingi pepohonan pinus, pikirannya justru melayang jauh.

“Tugas saya adalah menjaga keamanan Anda, bukan menjadi teman Anda.”

Kalimat dingin Langit itu terus terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak di kepalanya. Aurora menatap lurus ke depan, tapi matanya kosong. Ia membayangkan wajah kaku Langit saat mengatakan hal itu. Ia merasa sangat bodoh karena telah membuka diri begitu banyak pada pria yang menganggapnya tak lebih dari sebuah "objek pengamanan".

"Apa aku emang nggak pantes ya buat dia?" gumam Aurora lirih.

Luna, sang kuda, seolah merasakan kegelisahan tuannya. Kuda itu mulai meringkik kecil, langkahnya menjadi tidak beraturan. Namun, Aurora masih terhanyut dalam lamunannya. Ia teringat bagaimana semalam ia meringkuk di lantai kamar dalam kegelapan. Rasa perih itu kembali datang, menyesakkan dadanya.

Tiba-tiba, seekor burung terbang rendah dan melesat cepat di depan wajah Luna. Kuda itu terkejut dan melakukan gerakan mendadak (spooked). Luna mengangkat kedua kaki depannya dan meringkik keras.

Aurora yang sedang melamun tidak siap dengan gerakan itu. Pegangannya pada tali kendali terlepas.

"Eh! Luna! Tenang!" seru Aurora panik.

Namun terlambat. Tubuh Aurora terpental ke samping saat Luna melakukan gerakan memutar yang cepat.

BUGH!

Tubuh Aurora menghantam tanah dengan keras. Bahu dan pinggulnya mendarat lebih dulu di atas permukaan tanah yang sedikit berbatu.

"AWWW! Sshhh... aduh..." Aurora mengerang kesakitan.

Luna sudah berlari menjauh menuju kandangnya, meninggalkan Aurora yang terkapar di tengah jalur latihan. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pergelangan kaki hingga ke punggungnya. Ia mencoba untuk bangun, namun kakinya terasa sangat lemas dan nyeri.

"Aduh, ya ampun... kok bisa sih," rintihnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar tumpah karena rasa sakit fisik yang bercampur dengan kelelahan batin.

Dengan tangan gemetar, ia meraba saku celananya dan mengambil ponsel. Ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Mayang. Dengan sisa tenaga, ia menekan tombol panggil ke arah asistennya itu.

"Halo... Kak May..." suara Aurora terdengar parau dan tersengal-sengal.

"Ra? Kamu di mana? Kok lama banget? Ini orang fitting udah—"

"Aduh... Kak May... tolongin..." isak Aurora. "Badan aku sakit banget... aku jatuh dari Luna..."

"APA?! Jatuh?! Ra, kamu di mana sekarang?! Jangan gerak!" suara Mayang terdengar panik luar biasa di seberang sana.

"Di track belakang... tolong, Kak... sakit banget..." Aurora memutus sambungan telepon. Ia mencoba berjalan tertatih-tatih menuju bangku kayu di pinggir jalur, menyeret kakinya yang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Setiap langkah kecil yang ia ambil membuatnya meringis menahan sakit.

Sepuluh menit kemudian, suara deru mobil terdengar mendekat dengan kecepatan tinggi. Bukan SUV putih milik Mayang, melainkan SUV hitam yang sangat ia kenal.

Mobil itu mengerem mendadak, menimbulkan suara decitan ban yang nyaring di atas tanah berpasir. Pintu pengemudi terbuka dengan kasar.

Sosok yang keluar bukanlah Pak Bambang.

Tapi Langit Ardiansyah.

Wajah Langit yang biasanya kaku dan tanpa ekspresi, kini tampak pucat dan penuh kecemasan yang nyata. Ia berlari kencang menuju Aurora yang terduduk lemas di tanah sambil memegangi pergelangan kakinya. Di belakangnya, Mayang menyusul dengan wajah panik.

"Aurora!" seru Langit. Ia langsung berlutut di depan Aurora, mengabaikan protokol, mengabaikan kasta, dan mengabaikan peringatan Anggara Widjaja kemarin.

"Jangan sentuh!" Aurora menghalau tangan Langit dengan sisa tenaganya, matanya menatap Langit dengan penuh luka. "Bukannya Mas cuma mau jaga keamanan aku? Keamanan aku udah gagal kan sekarang? Pergi aja sana!"

Langit tidak memedulikan usiran itu. Matanya menyapu tubuh Aurora, mencari bagian yang terluka. Ia melihat goresan di lengan Aurora dan bagaimana gadis itu memegangi kakinya dengan erat.

"Mana yang sakit?" tanya Langit, suaranya rendah namun bergetar.

"Sakit semua! Puas kamu?!" teriak Aurora, tangisnya makin pecah. "Hati aku lebih sakit, Mas! Kenapa Mas ke sini? Kenapa nggak biarin aku pingsan aja di sini?"

Langit menatap Aurora dalam-dalam. Ada rasa bersalah yang teramat besar terpancar dari matanya. Ia melihat bagaimana riasan Aurora berantakan karena air mata, dan bagaimana gadis yang biasanya sangat percaya diri itu kini tampak begitu hancur.

"Mayang, buka pintu belakang mobil. Sekarang!" perintah Langit tegas kepada Mayang.

"Iya, iya, Mas!" Mayang berlari membukakan pintu.

Langit kembali menatap Aurora. Tanpa meminta izin, ia melingkarkan lengannya di bawah lutut dan punggung Aurora.

"Mas, mau ngapain?! Lepasin!" Aurora memukul bahu Langit dengan lemah.

"Diam, Aurora. Saya harus bawa Anda ke rumah sakit sekarang," ucap Langit dengan nada otoritas yang tak terbantah. Ia mengangkat tubuh Aurora dengan satu gerakan mantap—menggendongnya dengan gaya bridal style.

Aurora tertegun. Di dalam gendongan Langit, ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang sangat cepat, berpacu dengan detak jantungnya sendiri. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau matahari pagi itu menyergap indra penciumannya. Untuk sesaat, rasa sakit di kakinya terlupakan oleh kehangatan yang menjalar dari tubuh Langit.

Namun, rasa sakit hati itu kembali datang. Aurora memalingkan wajahnya, menyembunyikannya di dada Langit agar pria itu tidak melihat betapa ia masih sangat mencintainya meskipun telah disakiti.

"Ra... lo oke?" tanya Mayang saat Langit memasukkan Aurora ke kursi belakang mobil dengan sangat hati-hati.

Aurora tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata erat-aerat.

Langit menutup pintu belakang, lalu ia menatap Mayang. "Mbak Mayang, tolong hubungi dokter keluarga sekarang. Katakan kita menuju klinik terdekat untuk pertolongan pertama."

"Oke, Mas. Makasih ya udah cepet banget tadi," ucap Mayang tulus.

Langit masuk ke kursi kemudi. Sebelum menjalankan mobil, ia melirik melalui kaca spion tengah. Ia melihat Aurora yang meringkuk lemas, air mata masih mengalir di pipinya. Langit meremas kemudi dengan kuat, buku jarinya memutih.

Kemarin ia berjanji pada Anggara untuk menjauh. Kemarin ia memblokir nomor Aurora demi sebuah protokol. Tapi melihat Aurora terluka seperti ini, Langit sadar bahwa tembok yang ia bangun ternyata sangat rapuh di hadapan keselamatannya—dan hatinya.

"Maafkan saya, Aurora," bisik Langit sangat pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri, sebelum ia menginjak gas menuju rumah sakit.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!