NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembedahan Tanpa Pisau

Taman Teratai Terlarang tampak begitu tenang. Air kolamnya jernih, namun He Xueyi tahu bahwa di balik kejernihan itu, ada ribuan mantra penekan yang siap mengunci kekuatannya. Pangeran Li Wei duduk di sana, di samping seorang pria tua berjubah naga yang wajahnya tertutup cadar tipis—sang Kaisar.

"Duduklah, Penjaga Paviliun," suara Kaisar terdengar serak. "Teh ini berasal dari pegunungan tertinggi, diseduh dengan air embun pagi. Sangat logis jika kau menikmatinya setelah perjalanan melelahkan."

He Xueyi duduk dengan punggung tegak, matanya langsung memindai cangkir teh di depannya. Hanya butuh dua detik bagi otaknya untuk menganalisis uap yang keluar.

"Secara logika, Yang Mulia," He Xueyi memulai, suaranya dingin, "embun pagi tidak memiliki aroma belerang yang disamarkan dengan melati. Dan... embun pagi tidak akan membuat sendok perak ini menghitam dalam hitungan detik."

Pangeran Li Wei menegang. Ia hendak bicara, namun He Xueyi langsung memotongnya dengan tatapan tajam yang seolah menembus tulang.

"Pangeran, simpan pembelaanmu. Aku sudah melihat kelopak persik di sepatumu, mencium aroma Jenderal Yuan di jubahmu, dan sekarang... aku melihat racun pemutus saraf di teh ini. Secara logika, kalian tidak ingin berbicara. Kalian ingin menghapus saksi."

Kaisar terkekeh pelan. "Kau memang terlalu tajam, He Xueyi. Itulah alasan kenapa kau tidak bisa dibiarkan tetap memegang Lentera Abadi. Penjaga! Amankan mereka!"

Seketika, dua belas bayangan hitam melompat dari balik pohon teratai, masing-masing membawa rantai pengikat arwah.

He Xueyi bahkan tidak berkedip. Ia hanya menyesap tehnya yang beracun (karena dia mayat hidup, racun itu tidak berpengaruh) lalu menggumamkan satu kata pendek:

"Habisin."

Tanpa menunggu komando kedua, Bian Zhi yang tadinya berdiri diam seperti patung di belakang He Xueyi, mendadak menghilang. Yang terlihat hanya kilatan bayangan hitam dan suara sret-sret logam yang beradu dengan daging.

Bian Zhi tidak bertanya "Apakah saya harus membunuh mereka, Tuan?". Dia juga tidak bertanya "Apakah Kaisar akan marah?". Dia hanya melakukan tugasnya. Dalam lima detik, dua belas penjaga bayangan itu sudah tergeletak di atas ubin taman, tidak mati, tapi urat nadi di tangan dan kaki mereka diputus dengan presisi bedah yang mengerikan.

"Selesai, Tuan," ucap Bian Zhi, kembali berdiri di posisi semula seolah-olah dia tidak pernah bergerak. Bahkan setetes darah pun tidak berani menempel di jubah hitamnya.

He Xueyi meletakkan cangkirnya dengan bunyi ting yang nyaring. "Sekarang, Yang Mulia. Mari kita bicara secara logika: Siapa yang memberi Anda ide bodoh untuk menjebak Hakim nyawa di rumahnya sendiri?"

Pangeran Li Wei pucat pasi. Ia melihat ke arah asisten He Xueyi dengan ngeri. "Kau... kau monster..."

"Secara logika, Pangeran," He Xueyi tersenyum sangat manis, "monster adalah mereka yang membangkitkan orang mati demi kekuasaan. Aku? Aku hanya seorang pembersih yang sedang melakukan tugasnya."

Kaisar tertegun, matanya yang mulai memerah menatap barisan penjaga bayangan yang kini mengerang tanpa daya di atas lantai pualam. Di tengah kekacauan itu, He Xueyi tetap duduk tenang, jemarinya yang pucat perlahan memutar cangkir teh porselen yang masih menyisakan uap racun.

"Yang Mulia," suara He Xueyi memecah keheningan, terdengar lebih tajam daripada gesekan pedang Bian Zhi. "Secara logika, jika Anda cukup pintar untuk merencanakan pemberontakan sepuluh tahun lalu, Anda seharusnya tahu bahwa mengundang kematian ke meja makan adalah ide yang sangat buruk. Apalagi jika kematian itu datang dengan membawa lentera."

He Xueyi melepaskan cangkirnya. Benda porselen mahal itu jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping tepat di depan ujung sepatu Pangeran Li Wei yang gemetaran.

"Bian Zhi, simpan pedangmu," perintah He Xueyi datar. "Udara di sini sudah terlalu tercemar oleh bau ketakutan dan pengkhianatan. Aku tidak suka parfum yang terlalu menyengat."

Bian Zhi menghilang dari tengah taman dan muncul kembali di belakang He Xueyi dalam sekejap mata, menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang dingin. "Sesuai perintah, Tuan."

He Xueyi berdiri, jubah rubahnya berkibar megah ditiup angin sore yang mendadak menderu kencang. Ia menoleh sedikit ke arah kolam teratai yang airnya mulai berubah menjadi hitam pekat, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar sedang merayap dari dasarnya.

"Pangeran Li Wei," ucap He Xueyi tanpa menoleh, "terima kasih atas tehnya. Secara logika, aku harus membalas budi. Jadi, saranku adalah... jangan berkedip. Karena saat kau membuka mata nanti, Chang'an yang kau banggakan ini mungkin sudah bukan lagi milik manusia."

Tanpa menunggu jawaban, He Xueyi melangkah pergi meninggalkan taman istana yang kini diliputi suasana mencekam. Namun, tepat saat kakinya menginjak gerbang keluar, langkahnya terhenti.

Sebuah kelopak bunga persik berwarna merah darah jatuh tepat di atas sumbu Lenteranya, dan seketika, api ungu di dalamnya berubah menjadi merah padam.

He Xueyi menyipitkan mata, sebuah senyuman tipis yang sangat berbahaya muncul di sudut bibirnya.

"Ah... secara logika, dia sudah bangun lebih cepat dari dugaanku."

Di belakang mereka, dari arah singgasana Kaisar, terdengar lengkingan tawa wanita yang sanggup merobek kesadaran siapa pun yang mendengarnya. Babak pembersihan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!