NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Masih Belum Mengenal Cinta

​"Kau membuang suratku. Dan bersamaan dengan itu, kau membuang sekeping hatiku ke dalam tempat yang paling kotor. Kau menolak cintaku dengan cara yang paling brutal, menganggapnya sebagai sedekah yang menjijikkan. Rendi, salahkah aku jika aku hanya ingin melihatmu berhenti terluka?" (Buku Harian Keyla, Halaman 55)

​Suara langkah kaki Rendi yang menjauh bergema di telingaku, mengalahkan segala kebisingan di luar kelas. Mataku masih terpaku pada punggungnya yang tegap, yang baru saja berbalik meninggalkanku setelah menatapku dengan penuh amarah.

​Namun, sebelum ia benar-benar melangkah melewati ambang pintu, langkahnya terhenti.

​Tepat di samping pintu kelas kami, terdapat sebuah tempat sampah plastik berwarna biru kusam. Rendi berdiri di depan tempat sampah itu. Ia memutar kepalanya setengah, menatapku dari kejauhan dengan sorot mata elangnya yang masih berkilat penuh amarah dan harga diri yang tercabik.

​Ia mengangkat tangannya yang menggenggam erat amplop biru mudaku—amplop yang telah kususun dengan air mata dan doa, yang di dalamnya berisi selembar uang yang kuharap bisa membelikan senyum untuk adiknya. Ia memegang amplop yang sudah remuk itu tepat di atas lubang tempat sampah.

​Matanya mengunci mataku, seolah memastikan bahwa aku melihat dengan jelas apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia ingin aku menyaksikan penghancuran atas rasa kasihanku yang menurutnya sangat menghina.

​Perlahan, ia membuka genggaman jarinya.

​Pluk.

​Gumpalan amplop biru itu jatuh, mendarat di antara bekas bungkus makanan ringan, tisu kotor, dan debu.

​Duniaku berhenti berputar. Udara di sekitarku seolah tersedot habis.

​Setelah memastikan amplop itu berada di tempat yang menurutnya pantas, Rendi kembali memutar kepalanya dan berjalan keluar kelas, ditelan oleh keramaian koridor yang riuh. Ia pergi, membawa kembali rasa laparnya, tanpa sudi menyentuh sepeser pun uang yang kuberikan.

​Aku masih mematung di kursiku. Tubuhku gemetar hebat hingga gigiku bergemelatuk. Rasa sakit yang menghantam dadaku begitu luar biasa, melampaui rasa sakit fisik apa pun yang pernah kualami. Rasanya seolah ada tangan tak kasatmata yang merobek dadaku, mengeluarkan jantungku, lalu menginjak-injaknya di atas lantai keramik kelas ini.

​"Key? Lo... lo kenapa pucet banget?" suara Bella memecah keheningan yang menyiksa telingaku.

​Bella dan Lidya yang baru saja selesai memasukkan buku ke dalam tas, menatapku dengan kebingungan. Mereka menyadari ketegangan yang baru saja terjadi antara aku dan Rendi.

​Lidya memicingkan matanya, menatap pintu kelas yang kosong, lalu menatap tempat sampah di dekat pintu itu. Insting Lidya yang tajam langsung bekerja. Tanpa berkata apa-apa, Lidya berjalan dengan langkah lebar dan penuh amarah menuju tempat sampah tersebut.

​"Lidya, jangan!" teriakku parau, tenggorokanku terasa seperti disayat silet. Aku berusaha bangkit dari kursiku untuk mencegahnya, tapi lututku terlalu lemas hingga aku kembali terjatuh di kursi.

​Lidya mengabaikan teriakanku. Ia menunduk, mengambil gumpalan kertas biru muda yang terlihat sangat mencolok di antara sampah-sampah lain. Dengan kasar, Lidya membuka remasan amplop itu.

​Mata Lidya melebar sempurna. Napasnya tertahan saat ia melihat apa yang ada di dalamnya. Dua lembar uang lima puluh ribu rupiah yang ikut lecek, dan sepucuk surat dengan tulisan tanganku.

​"Ya Tuhan..." gumam Lidya tak percaya. Ia menoleh ke arahku, mengacungkan amplop beserta isinya ke udara. Wajah Lidya memerah padam karena amarah yang memuncak. "Keyla! Lo ngasih dia uang?! Lo nulis surat ini buat dia?!"

​Bella yang mendengar teriakan Lidya langsung berlari menghampiri. Matanya membelalak melihat uang di tangan Lidya. "Sumpah, Key?! Lo ngasih uang seratus ribu ke cowok gembel itu, dan dia malah mbuangnya ke tempat sampah di depan mata lo?!"

​Siska, yang sedari tadi duduk diam mengamati segalanya, perlahan bangkit. Ia berjalan menghampiriku dengan langkah yang sangat anggun, wajahnya memancarkan keprihatinan yang dirancang dengan sangat sempurna.

​"Keyla..." Siska berbisik lembut, duduk di meja tepat di hadapanku. Ia mengusap pipiku yang kini sudah basah oleh air mata. "Ya ampun, Key. Kenapa kamu sampai merendahkan harga dirimu sejauh ini? Kenapa kamu ngemis-ngemis perhatian ke cowok yang nggak punya hati kayak dia?"

​"Biar gue labrak tuh cowok anjing!" teriak Lidya histeris. Ia meremas suratku dan bersiap berlari keluar kelas untuk mengejar Rendi. "Udah miskin, dikasih rezeki malah belagu! Gue bakal bikin dia malu di depan satu sekolah!"

​"LIDYA, BERHENTI!"

​Jeritanku melengking, memantul di dinding-dinding kelas XII-IPA 1. Itu adalah teriakan paling keras yang pernah keluar dari tenggorokanku seumur hidupku.

​Lidya terhenti di ambang pintu. Ia menoleh dengan wajah terkejut, tak pernah menyangka gadis selembut aku bisa berteriak dengan nada sekeras itu.

​Aku berdiri dengan sisa tenaga yang kumiliki. Air mata mengalir deras membasahi pipiku, pandanganku mengabur, namun aku berjalan gontai menghampiri Lidya. Aku merebut surat dan uang itu dari tangannya dengan paksa.

​"Jangan pernah... jangan pernah berani menghina dia, Lidya," ucapku dengan suara bergetar dan napas terengah-engah. Aku memeluk gumpalan surat itu di dadaku, melindunginya seolah itu adalah benda paling berharga. "Dia buang ini bukan karena dia belagu. Dia buang ini karena aku yang salah! Aku yang lancang ngasih dia uang! Aku yang menghina harga dirinya!"

​"Lo gila, Key!" balas Lidya dengan dada naik turun menahan emosi. "Lo nyalahin diri lo sendiri gara-gara cowok brengsek yang udah ngebuang niat baik lo ke tempat sampah? Lo udah dibutakan sama cinta monyet lo itu, Keyla! Sadar!"

​"Kamu yang nggak ngerti, Lid!" isakku tak tertahankan. Tangisku pecah, membahana di ruang kelas yang kosong itu. "Kalian semua nggak ada yang ngerti! Uang ini buat adiknya... aku cuma mau adiknya bisa makan jajan... aku cuma mau Rendi nggak kelaparan. Tapi aku ngelakuinnya dengan cara yang salah..."

​Aku jatuh terduduk di lantai kelas yang berdebu. Aku tak peduli lagi pada seragamku yang kotor. Aku merengkuh lututku, menenggelamkan wajahku di sana, menangisi kebodohanku yang telah menghancurkan satu-satunya jembatan rapuh yang sedang kubangun menuju hatinya.

​Bella menatapku dengan wajah pucat, tak tahu harus berbuat apa. Lidya memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, mengusap wajahnya dengan kasar karena frustrasi melihat keras kepalaku.

​Siska perlahan berjongkok di sampingku. Tangannya yang dingin mengelus punggungku yang berguncang. "Menangislah, Key. Menangislah sampai kamu sadar bahwa dia bukan pangeranmu," bisik Siska dengan sangat pelan, suaranya bagai racun yang menyusup ke telingaku. "Dia bahkan tidak tahu caranya menghargai ketulusan. Laki-laki yang tidak mengenal cinta seperti dia, hanya akan terus melukaimu."

​Aku menulikan telingaku dari ucapan Siska. Di tanganku, surat yang kurangkai dengan cinta itu kini telah menjadi sampah. Rendi membuangnya. Dan bersamaan dengan itu, ia membuang segala harapanku.

​Malam harinya, di dalam kamarku yang sunyi, aku duduk bersila di atas karpet berbulu tebal. Di depanku, di atas meja kaca kecil, terbentang lembaran surat biru muda yang telah kutarik paksa hingga rata, meski bekas remasannya tak mungkin bisa hilang. Dua lembar uang lima puluh ribu rupiah yang kusut tergeletak di sampingnya.

​Aku menatap surat itu dengan mata yang membengkak karena terlalu banyak menangis.

​Rendi tidak pernah membaca isinya. Jika ia membacanya, mungkin ia akan tahu bahwa aku tidak berniat mengasihaninya. Jika ia membacanya, ia akan tahu bahwa aku menyebutnya sebagai 'ksatria yang hebat'. Namun amarah dan luka di hatinya sudah terlalu besar. Begitu ia melihat ada uang di dalamnya, logikanya langsung menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah penghinaan. Sebuah sedekah.

​Siska bilang Rendi tidak mengenal cinta. Mungkin Siska benar, tapi dengan definisi yang berbeda. Rendi bukannya tidak punya hati, namun di dunianya yang dipenuhi oleh tagihan rentenir dan perut yang lapar, 'cinta' adalah sebuah konsep mewah yang asing.

​Baginya, tidak ada orang yang memberi tanpa pamrih. Baginya, setiap uluran tangan adalah bentuk kasihan yang akan merendahkan martabatnya sebagai laki-laki. Ia masih belum mengenal cinta yang tulus, karena dunia selama ini hanya mengajarkannya tentang pengkhianatan dan penderitaan. Ayahnya meninggalkannya, ibunya pergi selamanya, teman-temannya mengucilkannya. Bagaimana mungkin aku menuntutnya untuk langsung percaya pada selembar surat dari seorang gadis kaya yang ia anggap tak mengerti apa-apa tentang hidup?

​"Tidakkah kau tahu, Rendi? Saat kau meremas surat itu, kau juga sedang meremas jantungku. Namun anehnya, meski hatiku berdarah, aku tak bisa menemukan setitik pun rasa benci untukmu. Yang ada hanyalah rasa sesal yang teramat dalam, karena aku gagal mencintaimu dengan cara yang benar." (Buku Harian Keyla, Halaman 56)

​Keesokan paginya, aku memantapkan hati. Aku tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut. Jika ia memang menolakku, biarlah ia menolak perasaanku, bukan menolak belas kasihan yang tak pernah kumaksudkan. Aku harus meluruskan hal ini, meski harus mengorbankan sisa harga diriku yang ada.

​Aku datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku tidak masuk ke kelas. Aku berdiri di ujung lorong dekat gudang alat olahraga, tempat yang biasanya dilewati Rendi jika ia datang melalui gerbang belakang sekolah.

​Jantungku berdebar tak karuan. Udara pagi yang masih dingin membuat hidungku sedikit memerah. Tanganku meremas ujung kardigan seragamku.

​Tak lama kemudian, siluet tinggi itu muncul.

​Rendi berjalan menunduk. Langkahnya pelan, sangat pelan, seolah kakinya dipasangi beban puluhan kilogram. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari hari-hari sebelumnya. Mungkin ia kembali bekerja semalaman penuh.

​Saat ia berbelok di ujung lorong, matanya menangkap sosokku yang berdiri menghalangi jalannya.

​Langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya menegang. Mata kelamnya yang tadinya sayu karena kantuk, langsung menajam, memancarkan aura dingin yang membekukan darahku. Ia menatapku dengan raut permusuhan yang sangat kental.

​Aku menelan ludah, mengumpulkan seluruh keberanianku, dan melangkah maju satu tindak.

​"Rendi... tolong dengar aku sebentar aja," suaraku bergetar, memecah keheningan pagi di lorong yang kosong itu.

​Rendi tidak membalas. Rahangnya mengeras. Ia memiringkan bahunya, berniat melewatinya begitu saja dari sisi kananku, menganggapku sebagai dinding transparan yang tak perlu digubris.

​"Rendi, kumohon!" Aku bergerak refleks, melangkah ke kanan untuk kembali menghalangi jalannya. Jarak kami kini hanya tersisa setengah meter.

​Mata elangnya menyorot tajam tepat ke mataku. "Minggir." Suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan dipenuhi oleh amarah yang tertahan.

​"Tolong, kasih aku waktu satu menit aja," pintaku memelas, air mataku mulai menggenang tanpa permisi. "Soal kemarin... soal surat itu... itu sama sekali bukan belas kasihan. Aku berani sumpah."

​Rendi tertawa sinis. Sebuah tawa kering yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Bukan belas kasihan?" ulangnya dengan nada mencemooh yang sangat tajam. "Lalu apa? Uang seratus ribu yang kamu selipkan di tas saya secara diam-diam itu kamu sebut apa? Uang jajan tambahan buat orang miskin yang menyedihkan?"

​"Bukan!" teriakku tertahan, air mataku menetes membasahi pipi. "Itu... itu perasaanku, Ren. Aku nulis surat itu dari dasar hatiku. Uang itu... aku denger kamu punya adik yang di panti asuhan. Aku cuma mau kamu beliin dia sesuatu. Aku nggak pernah punya niat buat ngerendahin kamu."

​Mendengar nama adiknya disebut, wajah Rendi seketika memucat. Matanya melebar, kilat kemarahan di dalamnya semakin berkobar.

​"Dari mana kamu tahu soal Nanda?" desis Rendi maju selangkah, menipiskan jarak kami hingga hawa panas dari tubuhnya terasa menerpa wajahku. Suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Siapa yang memberitahumu tentang hidup saya?!"

​Aku mundur selangkah, ketakutan melihat reaksi kerasnya. "A-aku nggak sengaja denger obrolan guru di ruang guru minggu lalu..."

​Rendi memejamkan matanya kuat-kuat, menarik napas kasar melalui hidungnya. Ia menengadahkan kepalanya sejenak, seolah sedang menahan mati-matian agar ia tidak berteriak menghancurkan tembok di sekitarnya. Harga dirinya benar-benar telah ditelanjangi di depan seorang gadis yang tidak ia inginkan kehadirannya.

​Saat ia kembali menatapku, matanya benar-benar telah berubah menjadi jurang hitam tak berdasar yang sepenuhnya kosong.

​"Perasaan?" Rendi mengulang kata yang kuucapkan sebelumnya dengan nada jijik. "Kamu bilang itu perasaanmu? Kamu pikir dengan uang seratus ribu kamu bisa membeli harga diri saya? Kamu pikir kemiskinan saya adalah arena bermain untuk kisah romansa remajamu yang picisan?!"

​"Nggak, Rendi, bukan gitu maksudku—"

​"Dengar baik-baik, Keyla," potong Rendi cepat, suaranya sangat dingin, membekukan setiap sel di tubuhku. "Saya belum, dan tidak akan pernah mengenal apa itu cinta yang kamu maksud. Di dunia saya, cinta itu omong kosong yang tidak bisa mengenyangkan perut. Di dunia saya, yang nyata adalah tagihan rentenir dan tangisan adik saya."

​Rendi menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu, sebuah tatapan yang menilai seberapa jauhnya jarak di antara kami.

​"Kamu hidup di istana yang nyaman," lanjutnya, setiap suku katanya adalah belati yang ditusukkan ke jantungku. "Kamu punya segalanya. Jadi tolong, simpan cinta main-mainmu itu untuk laki-laki yang setara denganmu. Saya tidak butuh simpati. Saya tidak butuh sedekah dari anak orang kaya yang sedang kebosanan mencari drama. Jangan pernah berani mencampuri urusan hidup saya dan adik saya lagi."

​Setelah menjatuhkan vonis mati atas seluruh perasaanku, Rendi melangkah maju. Ia dengan sengaja menabrakkan bahunya ke bahuku dengan cukup keras hingga tubuhku terhuyung ke samping. Ia berjalan melewatiku, meninggalkanku yang mematung dengan hati hancur berkeping-keping.

​"Aku mencintaimu, Rendi..." bisikku parau di sela isak tangisku, menatap punggungnya yang semakin menjauh. "Aku mencintaimu dengan seluruh kesakitanku..."

​Namun ia tak menoleh. Ia berjalan pergi tanpa keraguan sedikit pun, membuangku ke dasar jurang yang paling dalam.

​Aku jatuh terduduk di lantai koridor yang dingin. Tangisku pecah sejadi-jadinya. Aku memeluk kedua lututku, meredam suara isakanku agar tak didengar orang lain. Ia benar-benar telah mematikan setiap percikan harapan di dadaku. Ia tak memberiku ruang sedikit pun untuk memahaminya.

​Di saat aku sedang menangis tersedu-sedu meratapi kehancuranku, suara derap langkah pelan mendekat dari arah belakangku.

​Sepasang tangan yang lembut menyentuh bahuku. Aku mendongak dengan pandangan mengabur karena air mata.

​Siska berjongkok di sampingku. Wajahnya yang damai menatapku dengan penuh rasa iba. Dari posisi berdirinya tadi di balik pilar tikungan koridor, aku tahu ia telah menyaksikan dan mendengar seluruh percakapan menyakitkan antara aku dan Rendi.

​"Sudah kubilang kan, Key?" bisik Siska dengan sangat lembut. Tangannya membelai rambutku, sementara tangannya yang lain memberikan selembar tisu. "Lepaskan. Cowok seperti dia nggak punya hati. Dia nggak mengenal cinta, dia hanya mengenal amarah dan kebencian."

​Aku menerima tisu itu dengan tangan gemetar, menghapus air mataku yang tak mau berhenti mengalir.

​"Lihat bagaimana kasarnya dia padamu," lanjut Siska, nada suaranya mengalun seperti lagu pengantar tidur yang perlahan mencuci otakku. "Kamu memberikan ketulusan, dan dia menginjak-injaknya di depan wajahmu. Dia menuduhmu mencari drama. Dia sama sekali tidak pantas untuk air matamu yang berharga ini, Keyla."

​Aku tak membalas. Kata-kata Siska bergema di kepalaku, berbaur dengan kalimat brutal yang baru saja diucapkan Rendi padaku. Simpan cinta main-mainmu itu. Saya tidak butuh sedekah.

​Siska merangkul tubuhku yang bergetar. "Ada Indra yang rela melakukan apa saja untuk melihatmu tersenyum. Kenapa kamu harus menyiksa dirimu mengejar laki-laki yang jiwanya sudah sakit dan membusuk karena kemiskinan?" bisik Siska lagi. Di balik kacamatanya, ada kilat kepuasan yang luar biasa terang saat melihatku benar-benar hancur. Rencananya untuk menjauhkanku dari Rendi telah berhasil dengan sempurna berkat tangan Rendi sendiri.

​Aku menangis di pelukan Siska. Hari ini, di lorong sekolah yang dingin ini, aku menyerah.

​Bukan menyerah karena aku berhenti mencintainya. Hatiku terlalu bodoh untuk bisa membunuhnya begitu saja. Tapi aku menyerah untuk berusaha meraihnya. Jika kehadiranku hanya dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi harga dirinya, maka satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintainya adalah dengan menjauh dari hidupnya seutuhnya.

​"Kau bilang kau tak mengenal cinta, Rendi. Dan kau memaksaku untuk membuktikan cintaku dengan cara menghilang dari duniamu. Jika ini yang kau mau, maka akan kulakukan. Akan kubawa sekeping hatiku yang hancur ini pergi, agar kau tak perlu lagi merasa terhina oleh kehadiranku." (Buku Harian Keyla, Halaman 59)

1
Yuni Uni
bagus banget ceritanya kak ,,,,,,kayak zaman sma zamanku dulu
semangat ya kak
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!