Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga yang Belum Layu
Desa Sukamulya bukan sekadar titik di peta yang terpencil di kaki gunung. Bagi siapa pun yang pernah singgah. Desa itu adalah potongan surga yang tertinggal di bumi.
Udara pagi di sana selalu terasa dingin menusuk tulang. Namun aromanya begitu candu, perpaduan antara wangi tanah basah, pucuk pinus, dan asap kayu bakar dari dapur-dapur penduduk yang mulai mengepul. Di tengah kedamaian itulah, Larasati tumbuh sebagai jiwa jelita dari desa tersebut.
Larasati, atau yang lebih akrab disapa Laras. Adalah definisi kecantikan alami yang tidak tersentuh polusi kota. Kulitnya kuning langsat, bersih dan halus. Karena setiap pagi ia membasuh wajahnya dengan air pancuran pegunungan yang jernih.
Rambut hitamnya lebat, sering kali dibiarkan tergerai atau hanya diikat satu dengan pita kain sederhana. Namun, daya tarik utama Laras bukanlah sekadar fisiknya yang elok atau lekuk tubuhnya yang mulai merekah indah di usia awal dua puluhan. Melainkan binar matanya yang selalu memancarkan keceriaan tanpa beban.
Pagi itu, Laras berdiri di depan cermin kayu yang permukaannya sudah agak buram di sudut kamarnya. Ia merapikan kebaya kutubaru motif bunga-bunga kecil. Berwarna merah muda yang sangat pas melekat di tubuhnya.
Ia tidak butuh gincu tebal atau bedak mahal. Cukup dengan senyuman tulus, setiap pemuda di Sukamulya bisa dipastikan akan kehilangan fokus jika berpapasan dengannya.
"Laras, sudah siap, Nduk?" suara lembut ibunya, Bu Rahayu, terdengar dari balik pintu bambu.
"Sudah, Bu," jawab Laras sembari melangkah keluar.
Di ruang tamu yang beralaskan semen halus, ayahnya, Pak Tarno, sedang duduk menyesap kopi hitamnya. Pak Tarno adalah seorang petani yang disegani karena sifatnya yang penyabar dan sangat menyayangi keluarga. Baginya, Laras adalah permata satu-satunya yang harus dijaga melebihi nyawanya sendiri.
"Hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu sore. Ingat, nanti sore kita harus ke hajatan di Karang indah," pesan Pak Tarno sembari menatap putrinya dengan bangga.
Laras mengangguk, lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Kasih sayang yang melimpah dari rumah ini membuat Laras tumbuh menjadi gadis yang naif. Ia percaya bahwa semua orang di dunia ini memiliki hati selembut ayahnya dan ketulusan sedalam ibunya.
Ia tidak pernah tahu bahwa di luar pagar Desa Sukamulya, dunia adalah rimba yang penuh dengan pemangsa berwajah malaikat. Penuh dengan tipu muslihat yang terbalut dengan wajah kebaikan.
Perjalanan menuju pasar desa sejauh dua kilometer terasa singkat karena sapaan yang tak henti-henti. Kang Maman yang sedang mengarit rumput, Mak Sumi yang sedang menjemur kerupuk, hingga gerombolan pemuda di pos ronda, semuanya memberikan penghormatan pada sang "Kembang Desa".
"Pagi, Mbak Laras! Wah, makin hari makin bersinar saja," seru salah satu pemuda desa yang mencoba mencari perhatian.
Laras hanya membalas dengan anggukan sopan dan senyum tipis yang mematikan. Ia terbiasa dengan pujian, namun ia tidak pernah menjadi sombong. Di pasar, ia membantu ibunya belanja bumbu dapur dengan cekatan.
Kelincahannya bergerak di antara tumpukan sayur dan riuhnya tawar-menawar harga, membuat pesonanya makin terpancar. Ia adalah perpaduan antara kecantikan ningrat dan ketangkasan gadis desa.
Sore harinya, sesuai janji, Laras berangkat bersama Sari, sahabatnya sejak kecil, menuju Desa Karang indah. Desa tetangga itu sedang mengadakan hajatan besar. Suara musik dangdut dari pengeras suara raksasa. Sudah terdengar dari jarak satu kilometer, memecah keheningan perkebunan teh yang mereka lewati.
"Ras, katanya di pernikahan ini banyak teman kerja pengantin pria yang datang dari kota, loh. Siapa tahu ada yang nyantol satu," goda Sari sembari menyenggol lengan Laras.
Laras tertawa renyah, "Ah, kamu ini ada-ada saja, Sar. Aku belum terpikir soal laki-laki. Aku masih ingin menemani Bapak dan Ibu di rumah."
"Halah, bohong! Cantik begini masa mau jadi perawan tua di desa?" seloroh Sari.
Sesampainya di lokasi hajatan, suasana sangat meriah. Tenda besar berwarna kuning emas menutupi halaman rumah mempelai. Laras berusaha tampil sebiasa mungkin.
Namun tetap saja, kehadirannya seperti magnet. Semua mata tertuju padanya saat ia berjalan menuju meja prasmanan. Para tamu pria, baik yang muda maupun yang sudah beristri, mendadak kehilangan selera makan dan lebih memilih memandangi langkah kaki Laras.
Di tengah keramaian itu, seorang wanita bernama Maya. Teman lama mereka yang kini bekerja di sebuah gudang distribusi di pinggiran kota. Melambaikan tangan dengan semangat dan tersenyum lebar tanda bahagia bertemu teman sejawat.
"Laras! Sari! Sini!" teriak Maya.
Mereka menghampiri Maya yang duduk di pojok barisan kursi tamu. Di samping Maya, berdiri seorang pria yang tampak sangat berbeda dari pria-pria desa lainnya.
Pria itu mengenakan kemeja rapi yang disetrika licin. Rambutnya klimis berbau minyak rambut mahal, dan jam tangan melingkar di pergelangan kirinya.
"Kenalkan, ini rekan kerjaku dari kota. Namanya Bagas," ucap Maya dengan nada bangga.
Laras mendongak. Untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan tatapan mata Bagas. Pria itu tidak menatapnya dengan nafsu yang terang-terangan seperti pemuda desa lainnya. Bagas menatapnya dengan ketenangan yang menghanyutkan, dibalut dengan senyum yang terlihat sangat tulus dan berwibawa.
"Bagas," ucap pria itu sembari mengulurkan tangan. Suaranya berat, tenang, dan terdengar penuh kasih.
"Larasati," jawab Laras pelan.
Saat tangan mereka bersentuhan, sebuah getaran aneh merambat di jantung Laras. Ia merasa pria ini adalah sosok yang mapan, dewasa, dan bisa melindunginya.
"Maya sering bercerita tentang keindahan desa ini. Tapi dia lupa memberi tahu saya kalau di sini juga ada bunga yang jauh lebih indah dari pemandangan mana pun," bisik Bagas pelan, hanya cukup didengar oleh Laras.
Pipi Laras merona merah. Ia menarik tangannya dengan malu-malu. Bagas hanya terkekeh kecil, sebuah kekehan yang terdengar sangat ramah. Sepanjang sisa acara, Bagas tidak beranjak dari sisi Laras.
Ia bercerita tentang pekerjaannya, tentang gedung-gedung tinggi di kota, dan tentang keinginannya untuk mencari istri yang sederhana dan berbakti seperti gadis desa.
Laras terpesona, Bagas adalah orator yang ulung. Ia pandai membaca situasi. Ia tahu kapan harus memuji dan kapan harus bersikap sopan di depan orang tua Laras yang saat itu juga ikut menghampiri dengan cepat, Bagas berhasil mengambil hati Pak Tarno dan Bu Rahayu. Melalui obrolan tentang pertanian yang seolah-olah ia pahami dengan baik.
Namun, di balik semua kepalsuan itu. Bagas memiliki sisi lain yang tak ter bayangkan. Saat Laras pergi ke kamar kecil, Bagas melangkah ke belakang tenda, jauh dari kerumunan.
Ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar sejak tadi. Wajah ramahnya seketika hilang, digantikan oleh gurat kecemasan dan kemarahan.
"Halo? Beri aku waktu seminggu lagi! Aku sedang mendapatkan mangsa besar di desa. Gadis ini cantik sekali, orang tuanya punya tanah luas. Aku akan menikahinya dan mengambil semua hartanya untuk melunasi utang-utangku!" desis Bagas ke seberang telepon.
Suara di seberang sana terdengar mengancam. Menagih bunga utang judi yang sudah menumpuk puluhan juta. Bagas menutup telepon dengan kasar, lalu menyulut sebatang rokok.
Matanya menatap botol minuman keras yang ia sembunyikan di dalam tas kecilnya. Ia menenggak isinya sedikit untuk menenangkan sarafnya yang tegang karena kecanduan.
Setelah itu, ia merapikan rambutnya kembali. Menyemprotkan parfum untuk menghilangkan bau alkohol, dan memasang kembali topeng pria idaman. Ia kembali ke meja Laras dengan senyuman paling manis yang pernah ada.
Malam itu, saat Laras berjalan pulang di bawah sinar rembulan, hatinya berbunga-bunga. Ia merasa telah menemukan pangeran yang selama ini hanya ada dalam dongeng-dongeng ibunya.
Ia membayangkan masa depan yang indah bersama Bagas. Tanpa menyadari bahwa pria yang baru saja ia beri ruang di hatinya. Adalah seorang monster yang sedang dikejar-kejar oleh kegelapan.
Laras menatap langit Sukamulya yang bertabur bintang. Menarik napas dalam-dalam, menikmati wangi bunga sedap malam. Ia adalah bunga yang sedang mekar dengan sempurnanya. Tanpa tahu bahwa esok, badai besar bernama pernikahan akan datang untuk mematahkan tangkainya. Menginjak kelopaknya, dan membiarkannya layu dalam kubangan dosa dan air mata.