NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

***

Tiga bulan telah berlalu sejak badai di malam persalinan itu mereda. Menara Mega Kuningan tetap berdiri kokoh, namun atmosfer di dalamnya telah berubah total. Jika dulu menara ini adalah penjara bagi Mayang Puspita Sari, kini tempat ini adalah singgasana bagi Rahayu—nama asli yang kini ia gunakan dengan bangga dalam setiap dokumen resmi perusahaan.

Mayang berdiri di depan cermin besar di kamar utamanya. Ia tidak lagi mengenakan daster sutra kusam atau celemek dapur. Tubuhnya kini dibalut power suit berwarna emerald green yang tajam, dengan potongan bahu yang tegas. Rambutnya disanggul rapi, dan di lehernya melingkar kalung zamrud yang harganya setara dengan satu blok perumahan mewah.

"Nyonya, mobil sudah siap di lobi," suara seorang asisten baru—pria tegap dengan seragam safari hitam terdengar dari ambang pintu.

"Tunggu sebentar," sahut Mayang dingin. Tatapannya beralih ke sudut ruangan, di mana seorang pria duduk lesu di kursi kayu biasa.

Pria itu adalah Baskara. Sosok yang dulunya sombong dan merasa telah menguasai dunia kini tampak seperti bayangan yang memudar. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kusam, dan ia hanya mengenakan kaus oblong putih serta celana pendek murahan. Mayang sengaja mencabut laporan polisinya atas kasus kekerasan dalam rumah tangga dengan satu syarat mutlak: Baskara harus tetap menjadi suami sahnya di mata hukum dan publik, namun melepaskan seluruh hak asasi dan finansialnya di dalam rumah.

Mayang berjalan mendekati Baskara. Langkah sepatunya yang berhak tinggi terdengar seperti detak jantung kematian bagi pria itu.

"Ini jadwalmu hari ini, Baskara," ucap Mayang sembari melempar sebuah tablet ke pangkuan pria itu. "Aira butuh stimulasi berjalan pukul sepuluh. Bayi kecil kita, Rani, jadwal imunisasinya pukul satu siang. Dokter akan datang ke sini. Pastikan mereka sudah mandi dan wangi saat aku menelpon lewat video call nanti."

Baskara mendongak, matanya yang dulu berkilat penuh ambisi kini hanya menyisakan keputusasaan. "Mayang... aku tidak punya uang sepeser pun. Bahkan untuk memesan kopi lewat aplikasi saja aku tidak bisa. Semua akunku kau blokir."

Mayang tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat kaku dan menusuk. "Kau tidak butuh kopi, Baskara. Kau butuh kesadaran. Bukankah dulu kau bilang bahwa aku adalah 'aset aktif' yang harus bekerja, sementara kau adalah pemiliknya? Sekarang, posisinya berbalik. Kau adalah 'aset pasif'. Tugasmu hanya satu: jaga anak-anakku. Jika kau haus, minumlah air keran yang sudah kusiapkan di dispenser."

"Aku suamimu, Mayang! Publik di luar sana mengira aku adalah investor hebat!" teriak Baskara parau, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.

Mayang membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Baskara. Aroma parfum mahalnya membuat Baskara tersedak. "Publik hanya tahu apa yang aku ingin mereka tahu. Di luar sana, kau adalah pahlawan yang memilih pensiun dini demi menjaga keluarga. Tapi di sini, kau adalah parasit. Jika kau keluar dari pintu ini tanpa seizinku, protokol pengalihan sisa asetmu ke yayasan panti asuhan akan aktif. Kau ingin menjadi gembel lagi di jalanan seperti saat kau baru keluar penjara?"

Baskara terdiam, bahunya merosot. Ia kalah telak.

"Bagus," Mayang berdiri tegak kembali. "Oh, satu lagi. Hari ini aku ada pertemuan dengan dewan komisaris. Jangan berani-berani menelponku kecuali ada keadaan darurat medis pada anak-anak. Dan ingat, kau dilarang menyentuh alkohol atau cerutu di rumah ini. Aku tidak ingin anak-anakku mencium bau busuk kegagalanmu."

**

Di kantor pusat, suasana terasa tegang namun penuh gairah. Rahayu sang Nyonya M yang telah berevolusi melangkah masuk ke ruang rapat utama. Semua mata tertuju padanya. Aris Raditya sedang membusuk di sel, Gunawan menghilang entah ke mana, dan Baskara kini hanyalah seorang pengasuh bayi di puncak menara.

Mayang duduk di kursi utama, menatap layar yang menampilkan pertumbuhan saham Rahayu Group.

"Pertemuan hari ini bukan hanya tentang keuntungan," suara Mayang menggema, dingin dan berwibawa. "Tapi tentang ekspansi. Kita akan mengambil alih sisa-sisa aset Gunawan Logistics di Singapura. Aku ingin dunia tahu bahwa rahim yang dulu mereka remehkan telah melahirkan imperium yang tidak akan pernah bisa mereka hancurkan."

Seusai rapat, seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu mendekatinya. Ia adalah pengacara setianya yang membantu menjalankan 'Protokol Rahayu'.

"Nyonya, ada seseorang yang ingin bertemu. Dia sudah menunggu di ruangan pribadi Anda," bisik sang pengacara.

Mayang mengerutkan kening. "Siapa? Aku tidak punya jadwal pertemuan lagi."

"Dia bilang... dia adalah orang yang tahu seluk beluk Anda di kampung, sebelum Anda mengenal Aris Raditya. Dan dia membawa dokumen dari masa lalu."

**

Mayang melangkah masuk ke ruang pribadinya. Di sana, seorang pria berdiri menghadap jendela, menatap pemandangan kota Jakarta. Tubuhnya tinggi, atletis, mengenakan kemeja biru navy yang pas di badan. Saat ia berbalik, jantung Mayang berdegup kencang secara tidak sadar.

Pria itu adalah Aditya. Putra dari kepala desa di kampungnya dulu, seorang pria yang pernah mengejar Mayang dengan tulus sebelum kemiskinan memaksa Mayang pergi ke Jakarta untuk menjual dirinya pada Aris. Aditya kini tampak sangat berbeda; ia terlihat mapan, berwibawa, dan memiliki tatapan mata yang dalam.

"Mayang... atau harus kupanggil Nyonya Rahayu sekarang?" suara Aditya lembut, namun penuh makna.

Mayang mencoba menenangkan diri, duduk di kursinya dengan tegak. "Aditya. Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk ke kantorku?"

Aditya tersenyum, duduk di depan Mayang tanpa menunggu dipersilakan. "Aku sekarang adalah salah satu pimpinan di badan audit negara, Mayang. Dan aku ditugaskan untuk meninjau kembali kasus-kasus pencucian uang yang melibatkan Aris, Gunawan, dan... suamimu, Baskara."

Wajah Mayang menegang. "Jadi kau di sini untuk menyelidiki aku?"

"Tidak," Aditya memcondongkan tubuhnya.

"Aku di sini untuk melindungimu. Aku tahu kau terjebak, Mayang. Aku tahu alasan sebenarnya kau menikahi preman seperti Baskara. Aku tahu dia mengancam ibumu di kampung."

*****

Bersambung....

1
Uthie
Hmmmm.... godaan dan ujian dunia😌
Uthie
coba mampir 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!