Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pijatan Iblis pada Tubuh Fana
Dunia di bawah palung batu itu sempit, gelap, dan berbau busuk, namun bagi Yang Chen, itu adalah benteng pertahanan sementaranya.
Dia tetap diam dalam posisi meringkuk seperti janin selama sepuluh menit penuh setelah suara siulan Pengurus Kuda Zhang menghilang di kejauhan. Dia tidak boleh gegabah. Di kehidupan lampau, dia pernah melihat seorang Dewa Perang mati konyol hanya karena keluar dari persembunyian satu detik terlalu cepat. Kesabaran adalah senjata yang lebih tajam daripada pedang.
Air kotor yang tadi menetes dari sikat kuda Zhang kini telah meresap ke dalam jubah tipisnya, membuat kain kasar itu menempel dingin di punggungnya. Menggigil adalah reaksi alami tubuh, tapi Yang Chen menahannya. Menggigil membuat suara. Menggigil menggerakkan tubuh. Dia memaksa otot-ototnya kaku untuk melawan refleks alami itu.
"Aman," bisiknya akhirnya, suaranya hanya berupa getaran udara di tenggorokan.
Perlahan, dia mulai menggeser tubuhnya keluar dari kolong batu itu.
Gerakan mundur ini jauh lebih sulit daripada saat dia menjatuhkan diri tadi. Dia harus mendorong tubuhnya mundur dengan siku, sementara kakinya yang lemah harus menahan beban agar tidak terseret terlalu keras di lumpur.
Sreeet...
Suara kain bergesekan dengan tanah terdengar terlalu keras di telinganya yang waspada. Dia berhenti setiap kali mendengar suara itu, memindai sekeliling dengan mata liarnya. Halaman belakang itu masih sepi. Matahari semakin tinggi, bayang-bayang mulai memendek, yang berarti waktu amannya semakin menipis.
Begitu seluruh tubuhnya keluar dari bawah palung, Yang Chen tidak langsung berdiri. Dia tahu batasannya. Berdiri dan berjalan membungkuk seperti tadi memakan terlalu banyak energi.
Jadi, dia memutuskan untuk merangkak.
Seorang mantan Kaisar yang menguasai Sembilan Langit, kini merangkak di atas lumpur bercampur kotoran kuda seperti seekor kadal yang terluka.
Jika musuh-musuhnya dari kehidupan lalu melihat ini, mereka pasti akan tertawa sampai muntah darah. Tapi Yang Chen tidak merasa malu. Wajahnya datar, dingin, tanpa ekspresi.
Kehormatan yang tidak bisa membuatmu bertahan hidup adalah sampah,prinsip itu tertanam kuat di jiwanya.
Dia merangkak melintasi jarak lima meter menuju pintu gubuknya. Setiap tarikan tangan, setiap geseran lutut, adalah sebuah perjuangan melawan gravitasi. Lumpur masuk ke sela-sela jari tangannya, batu-batu kerikil kecil menggores kulit lututnya yang sudah tipis.
Satu meter. Dua meter.
Napasnya mulai memburu lagi. Air yang baru saja dia minum seolah langsung menguap menjadi keringat.
Tiga meter. Empat meter.
Akhirnya, tangannya menyentuh ambang pintu kayu gubuknya. Dia menarik tubuhnya masuk, lalu menggunakan kaki kanannya untuk menendang pintu itu hingga tertutup kembali.
Brak.
Kegelapan kembali menyelimuti. Cahaya matahari yang menyilaukan lenyap, digantikan oleh keremangan yang familiar.
Yang Chen berguling telentang di atas lantai tanah gubuknya. Dia menatap langit-langit bocor itu lagi. Kali ini, ada senyum tipis di bibirnya.
Dia berhasil. Misi "Mencari Air" sukses. Dia hidup, dia terhidrasi, dan dia membawa pulang informasi berharga tentang kedatangan Jenderal Feng.
Namun, euforia itu hanya bertahan sepuluh detik.
Rasa sakit kembali menyerang, kali ini dengan dendam.
Efek adrenalin dari ketakutan akan ketahuan tadi mulai memudar, dan tubuh Zhao Wei mulai berteriak. Kaki kanannya terasa mati rasa total, sementara pinggangnya terasa seperti ditusuk paku panas—akibat benturan saat dia menjatuhkan diri ke tanah tadi.
"Tubuh sampah ini..." Yang Chen mengumpat pelan. "Hanya jatuh sedikit saja, tulang pinggulnya mungkin sudah retak."
Dia mencoba menggerakkan kaki kanannya. Tidak ada respon. Berat. Seperti balok kayu.
Ini masalah besar. Jika dia ingin melaksanakan rencananya besok saat Jenderal Feng datang, dia harus bisa berdiri tegak. Dia harus bisa berjalan, setidaknya terlihat 'normal' selama beberapa menit. Dia tidak bisa menghadap Panglima Tertinggi sambil merangkak di lumpur.
Dia harus memperbaiki tubuh ini. Sekarang.
Tanpa Qi, dia tidak bisa menggunakan teknik penyembuhan instan. Dia juga tidak punya obat, jarum akupunktur perak, atau ramuan herbal.
Yang dia miliki hanyalah dua tangan kurus dan pengetahuan anatomi tubuh manusia yang terakumulasi selama 5.000 tahun pembantaian dan penyiksaan.
"Pijatan Iblis Pembuka Gerbang," gumamnya, menyebut nama sebuah teknik kuno yang biasa digunakan oleh para interogator sekte iblis untuk menjaga tahanan tetap hidup dan sadar di tengah penyiksaan, atau untuk memaksa prajurit yang terluka parah agar bisa bertarung satu kali lagi sebelum mati.
Teknik ini bukan penyembuhan. Ini adalah pemaksaan. Ini memaksa simpul darah terbuka dengan rasa sakit yang ekstrem.
Yang Chen duduk dengan susah payah. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding. Dia menyingsingkan celana kainnya yang kotor dan basah hingga ke paha, memperlihatkan kaki yang sangat kurus. Ototnya hampir tidak ada, hanya kulit pucat yang membungkus tulang. Ada banyak memar lama berwarna kuning kehijauan.
Dia menatap kaki kanannya yang mati rasa. Masalahnya ada di jalur meridian Zu Shao Yang (Kandung Empedu) di sisi luar paha, yang tersumbat akibat benturan dan kurang gerak.
"Ini akan sakit, Nak," katanya pada jiwa Zhao Wei yang mungkin masih tersisa sedikit di sudut kesadarannya.
Yang Chen menekuk jari-jari tangannya, membentuk cakar yang kaku. Dia menggunakan buku-buku jarinya yang menonjol.
Tanpa peringatan, dia menghantamkan buku jarinya ke titik Feng Shi di paha luarnya.
Dugh!
Tidak ada rasa sakit. Itu tanda buruk. Itu berarti sarafnya benar-benar mati rasa.
Dia memukul lagi. Lebih keras.
Dugh!
Masih belum ada rasa.
Yang Chen menarik napas dalam. Dia memusatkan seluruh sisa tenaga di bahunya. Dia membayangkan tangannya adalah palu besi.
DUGH!
Kali ini, sebuah sengatan listrik kecil merambat dari paha ke ujung jari kakinya. Tubuh Yang Chen tersentak.
"Bagus. Jalurnya masih ada."
Sekarang dimulailah proses yang sebenarnya. Dia tidak lagi memukul, tapi menekan dan menggerus.
Dia membenamkan jempol tangannya ke dalam daging paha yang lembek itu, mencari celah di antara serat otot yang kaku. Dia menekan sedalam mungkin, sampai kukunya memutih. Lalu, dengan gerakan memutar yang kejam, dia mulai 'menggali'.
Tujuannya adalah memisahkan serat otot yang lengket dan memaksa darah beku untuk bergerak.
"Arghhh..."
Erangan itu lolos dari mulutnya tanpa bisa ditahan. Rasanya seperti ada pisau berkarat yang diputar di dalam dagingnya. Keringat dingin sebesar biji kedelai langsung muncul di seluruh wajahnya, bercampur dengan lumpur yang mengering.
Sakitnya bukan main. Bagi orang biasa, rasa sakit ini bisa menyebabkan pingsan. Tapi Yang Chen terus menekan. Dia menikmati rasa sakit itu. Rasa sakit adalah indikator.
Dia menggerakkan jempolnya turun perlahan, menyusuri garis meridian dari paha ke lutut. Setiap inci adalah pertempuran. Di satu titik, dia menemukan gumpalan keras di bawah kulit—darah beku (hematoma) lama.
"Hancurkan," perintahnya dingin.
Dia menekan gumpalan itu dengan sekuat tenaga, lalu mengurutnya paksa ke arah bawah.
Kretek.
Ada bunyi halus jaringan yang pecah di dalam sana.
"Hah! Hah! Hah!" Napas Yang Chen memburu seperti orang yang baru lari maraton. Matanya merah, urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar.
Tapi dia tidak berhenti. Dia pindah ke betis. Di sana, otot Gastrocnemius (betis) mengalami kram permanen yang membuat kakinya sulit diluruskan.
Dia mencengkeram betis kecil itu dengan kedua tangan, lalu melakukan gerakan memelintir—seperti memeras kain pel basah.
Teknik ini disebut Pilinan Ular Besi. Sangat efektif untuk merenggangkan otot, tapi rasanya seperti kulitmu sedang dikuliti hidup-hidup.
Tubuh Yang Chen mengejang hebat. Kakinya menendang-nendang refleks, tapi tangannya tetap mencengkeram kuat, tidak membiarkan betis itu lolos. Dia adalah dokter sekaligus pasien yang sadis bagi dirinya sendiri.
Lima menit berlalu. Lima menit yang terasa seperti lima tahun di neraka.
Akhirnya, Yang Chen melepaskan cengkeramannya. Dia menjatuhkan tangannya yang gemetar ke lantai.
Dia terengah-engah, air liur menetes dari sudut mulutnya. Pandangannya kabur karena air mata refleks yang keluar akibat rasa sakit.
Tapi saat dia melihat ke bawah, kaki kanannya yang tadi pucat seperti mayat kini berwarna merah terang. Merah karena iritasi kulit, ya, tapi juga merah karena darah yang mengalir lancar di bawahnya.
Dia mencoba menggerakkan jari kakinya.
Gerak.
Jari-jarinya menekuk dan lurus dengan responsif.
Dia mencoba memutar pergelangan kakinya.
Putar.
Lancar. Rasa kakunya hilang, digantikan oleh rasa perih dan panas yang membakar bekas pijatan brutal tadi. Tapi panas itu jauh lebih baik daripada mati rasa.
"Satu kaki selesai..." gumamnya lemah. Dia menoleh ke kaki kirinya. "Sekarang giliranmu."
Dia tidak memberi dirinya waktu istirahat. Jika dia berhenti sekarang, rasa takut akan sakit itu akan membuatnya ragu untuk memulai lagi.
Dia mengulangi proses yang sama pada kaki kiri. Memukul, menekan, menggali, memelintir.
Gubuk itu dipenuhi oleh suara napas berat, erangan tertahan, dan bunyi buk-buk pelan dari buku jari yang menghantam daging.
Di luar, matahari terus bergerak melintasi langit. Bayangan di dalam gubuk bergeser.
Tiga puluh menit kemudian.
Yang Chen terbaring telentang lagi, kali ini benar-benar tidak berdaya. Kedua kakinya terasa seperti terbakar api neraka, berdenyut-denyut seirama dengan detak jantungnya. Bajunya yang basah kini semakin basah oleh keringat.
Tapi dia tersenyum. Senyum lebar yang mengerikan.
Dia mengangkat kedua kakinya ke udara, lalu melakukan gerakan mengayuh sepeda di udara.
Satu, dua, tiga putaran.
Gerakannya masih lemah, tapi lancar. Sendi-sendinya tidak lagi terkunci. Meridian fisiknya (bukan meridian Qi) telah dipaksa terbuka. Besok, dia akan bisa berjalan tegak. Dia akan bisa berdiri tegap di hadapan Jenderal Feng.
"Langkah kedua: Persiapan Mental," katanya pada langit-langit gubuk.
Dia meraba dadanya, memastikan keping perak dan koin tembaganya masih ada. Aman.
Dia lalu meraba perutnya. Lapar. Air tadi hanya menunda, tidak menyelesaikan masalah. Tapi dia harus menahannya. Dia tidak bisa keluar lagi hari ini. Risiko bertemu orang terlalu besar.
Dia akan berpuasa sampai besok. Bagi seorang kultivator, puasa adalah hal biasa. Bagi tubuh Zhao Wei, ini berbahaya, tapi Yang Chen akan menggunakan teknik Hibernasi Semu.
Dia menutup matanya. Dia tidak tidur. Dia memasuki kondisi meditasi tingkat rendah—tingkat paling dasar yang bahkan bisa dilakukan oleh manusia biasa jika diajarkan.
Dia memvisualisasikan perutnya. Dia membayangkan dinding lambungnya menjadi rileks, berhenti memproduksi asam yang menggerogoti. Dia membayangkan detak jantungnya melambat hingga ke titik minimal, hanya berdetak sepuluh kali per menit.
Dia mematikan semua sistem tubuh yang tidak perlu. Penglihatan dimatikan. Pendengaran diturunkan volumenya. Pergerakan otot dihentikan total.
Dia mengubah dirinya menjadi 'batu' yang bernapas.
Ini adalah cara bertahan hidup paling ekstrem untuk menghemat kalori. Dia akan berbaring di sini, dalam kegelapan dan keheningan, menunggu rotasi bumi berputar hingga matahari terbit lagi.
Menunggu kedatangan Jenderal Feng. Menunggu satu-satunya kesempatan untuk mengubah nasib.
Di luar, suara keramaian istana mulai terdengar lagi—waktu makan siang. Bau masakan tercium samar dari kejauhan, menggoda hidungnya. Bau ayam panggang, bau nasi kukus.
Tapi 'Batu' di dalam gubuk itu tidak bereaksi. Dia tidak menelan ludah. Dia tidak bergerak.
Yang Chen telah "mematikan" dirinya sendiri sampai besok pagi.
Di dalam keheningan pikirannya, dia mulai menyusun skenario percakapan.
Apa yang harus kukatakan pada Feng Wuhen?Memohon belas kasihan? Tidak, dia prajurit sejati, dia membenci kelemahan. Mengancam? Konyol, aku hanya semut baginya. Menawarkan kesepakatan? Apa yang dimiliki pengemis yang diinginkan seorang Jenderal?
Otak Yang Chen berputar, mensimulasikan seratus kemungkinan dialog, mencari satu kalimat pembuka yang sempurna. Satu kalimat yang akan membuat seorang Jenderal Besar berhenti dan menatap seekor semut dengan rasa hormat.
Dia punya waktu 18 jam untuk menemukan kalimat itu.