Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bodyguard vs Mall Mewah
Pagi itu, Jakarta sedang panas-panasnya, tapi di dalam mobil Clarissa rasanya seperti di dalam kulkas. Mbak Bos cantik itu terlihat sangat sibuk dengan teleponnya, sementara aku duduk di depan sambil sibuk membetulkan kerah jasku yang tetap saja terasa mencekik.
"Genta, hari ini jadwal saya sedikit santai. Saya mau ke Mall Grand Indonesia untuk beli beberapa perlengkapan dan baju baru. Kamu cukup jaga jarak dua meter di belakang saya, bawa belanjaan saya, dan jangan pernah—saya ulangi—jangan pernah menawar harga di sana!" Clarissa memberi instruksi tegas sambil menatapku lewat spion tengah.
"Lho, kenapa nggak boleh nawar, Mbak Bos? Kan lumayan kalau bisa dapet potongan harga buat beli bensin motor saya di Sidoarjo," jawabku jujur.
Clarissa hanya menarik napas panjang. "Genta, ini Mall kelas atas. Semua harga sudah pas. Tidak ada sistem tawar-menawar seperti di pasar tradisional tempat kamu biasa nongkrong. Mengerti?"
"Siap, Mbak Bos! Saya akan jadi bodyguard yang cool dan berwibawa," kataku sambil memakai kacamata hitam andalanku yang harganya sepuluh ribuan.
Begitu sampai di Mall, aku hampir pingsan melihat kemegahannya. Lantainya mengkilap seperti kaca, sampai-sampai aku takut terpeleset. Orang-orang di sini wanginya harum sekali, tidak seperti bau keringat di terminal. Aku berjalan di belakang Clarissa dengan gagah, mencoba meniru gaya bodyguard di film-film Hollywood.
Masalah dimulai saat kami masuk ke sebuah toko baju yang namanya susah dibaca. Tulisannya 'Gucci', tapi di pikiranku bacanya 'Guci' tempat simpan air. Clarissa mengambil sebuah kaos polos berwarna putih yang kelihatannya biasa saja.
"Mbak Bos, kaos begitu di pasar loak cuma dua puluh ribu dapet tiga. Yakin mau beli itu?" bisikku tepat di telinganya.
"Genta! Ini harganya sepuluh juta!" jawab Clarissa dengan nada tertahan supaya tidak didengar pengunjung lain.
Mataku hampir keluar dari kelopaknya. "Sepuluh juta?! Itu kaos bisa bikin kebal peluru apa gimana, Mbak Bos? Kalau kena kuah soto juga bakal kuning-kuning juga!"
Belum sempat Clarissa membalas, seorang pelayan toko yang dandanannya lebih rapi dari Pak Camat mendekati kami. "Ada yang bisa dibantu, Madam?" tanya pelayan itu dengan senyum yang sangat kaku.
Clarissa menunjuk tas kulit kecil yang dipajang di lemari kaca. "Saya mau lihat yang itu."
Begitu pelayan menyebutkan harganya—lima puluh juta rupiah—darah premanku langsung mendidih. Aku tidak tahan melihat Mbak Bos cantikku "ditipu" secara terang-terangan di depan mataku sendiri.
Aku maju selangkah, menyingkirkan Clarissa sedikit ke samping. "Eh, Mas Pelayan. Jangan mentang-mentang bos saya cantik terus harganya digetok seenaknya ya. Lima puluh juta buat tas sekecil ini? Masnya sehat? Ini kalau di kampung saya sudah bisa buat DP rumah minimalis plus pagar keliling!"
Pelayan itu melongo. Clarissa sudah menutup wajahnya dengan tas kecilnya sendiri. "Maaf Sir, ini harga resmi dari pusat," jawab pelayan itu bingung.
"Ah, pusat-pusatan! Sini Mas, saya kasih tawaran menarik. Gimana kalau lima juta saja? Saya ambil sekarang, nggak usah pakai bungkus plastik, langsung saya tenteng. Gimana? Deal?" kataku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
Seluruh pengunjung toko menoleh ke arah kami. Clarissa langsung menarik jasku dengan tenaga harimau dan menyeretku keluar dari toko itu sebelum aku sempat mengeluarkan jurus tawar-menawar tahap dua.
"GENTA! Sudah saya bilang jangan menawar! Malu-maluin tahu nggak?!" teriak Clarissa setelah kami berada di area yang agak sepi. Wajahnya merah padam, entah karena marah atau malu tingkat dewa.
"Lho, Mbak Bos. Saya kan cuma mau melindungi dompet Mbak Bos. Itu namanya pemerasan halus, Mbak Bos! Masa tas kecil gitu harganya selangit," belaku dengan wajah tanpa dosa.
Karena kesal, Clarissa membawaku ke area Food Court untuk makan siang. Dia memesan salad yang isinya cuma sayur-sayuran mentah. Aku sendiri memilih memesan nasi goreng yang porsinya lumayan banyak.
Saat sedang makan, tiba-tiba ada dua orang pria berbadan besar yang terus memperhatikan Clarissa dari kejauhan. Insting premanku langsung bekerja. Aku tahu mereka bukan orang baik-baik. Aku berhenti makan dan mulai waspada.
.
"Mbak Bos, tetap tenang. Ada lalat hijau yang mau coba-coba mendekat," bisikku sambil tetap mengunyah kerupuk.
Benar saja, salah satu pria itu mendekat dan mencoba menarik tangan Clarissa. "Ikut kami sebentar, Nona Clarissa. Bos kami ingin bicara."
Clarissa panik, tapi aku lebih cepat. Sebelum tangan pria itu menyentuh Clarissa, aku sudah berdiri dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. "Eits, tanganmu kotor, Mas. Jangan sembarangan pegang barang antik punya saya."
"Lepaskan, atau kau menyesal, Bodoh!" gertak pria itu.
Aku cuma nyengir. Aku putar tangannya sedikit sampai dia mengerang kesakitan, lalu aku dorong dia sampai menabrak temannya. "Dengar ya, kalau bos kalian mau bicara, suruh dia datang sendiri sambil bawa nasi bungkus. Jangan kirim anak buah yang bau matahari kayak kalian!"
Melihat kerumunan mulai berkumpul dan petugas keamanan Mall berdatangan, kedua pria itu akhirnya kabur. Clarissa terlihat gemetar, tapi dia menatapku dengan tatapan yang berbeda—seperti ada rasa aman yang baru saja dia temukan.
"
Terima kasih, Genta. Ternyata kamu ada gunanya juga ya," ujarnya pelan sambil merapikan rambutnya.
"Sama-sama, Mbak Bos. Tapi lain kali, kalau mau beli tas, mending sama saya saja ke Pasar Atom. Dijamin dapet bagus dan murah!" jawabku sambil kembali melanjutkan makan nasi gorengku yang tertunda.
Clarissa tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, aku melihat Mbak Bos galak itu tertawa tulus. Ternyata di balik kekayaannya, dia hanyalah wanita biasa yang butuh dilindungi—meskipun pelindungnya adalah preman sengklek sepertiku.