seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. PELAJARAN PERTAMA DAN URAT MALU YANG PUTUS.
Bab 3: Pelajaran Pertama dan Urat Malu yang Putus
Pagi di Barito Utara diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti pepohonan di sekitar pondok pesantren.
Suara kentongan kayu bertalu-talu, memanggil para santri untuk segera bersiap menuju aula utama.
Bagi Ayini, suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi jam tidurnya yang berharga.
"Astagfirullah alazim, Ayini! Bangun! Sudah jam setengah enam, kita bisa telat masuk kelas kitab!" Layila mengguncang bahu Ayini dengan panik.
"Berisik, La! Lima menit lagi... gue masih mimpi makan steak di Muara Teweh," gumam Ayini sambil menarik bantal untuk menutupi telinganya.
"Ayini, hari ini yang ngisi materi di aula itu Gus Alvaro. Kamu bilang mau ketemu dia terus?" Adinda menimpali sambil merapikan jilbabnya di depan cermin kecil.
Mendengar nama 'Gus Alvaro', mata Ayini langsung terbuka lebar. Ia bangkit dari kasur seperti pegas yang terlepas.
"Kenapa nggak bilang dari tadi! Minggir, gue mau mandi!"
Ayini berlari menuju kamar mandi, mengabaikan antrean santriwati lain. Dengan sifat "bar-bar"-nya, ia menerobos masuk tanpa mempedulikan protes teman-temannya.
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan jilbab yang dipasang asal-asalan, helai rambutnya masih terlihat di bagian dahi, namun wajahnya tampak sangat bersemangat.
Aula utama Pondok Pesantren Al-Hidayah sudah penuh sesak. Santri putra duduk di sebelah kiri dan santri putri di sebelah kanan, dipisahkan oleh satir (pembatas kain) hijau yang tinggi.
Namun, di bagian depan, ada area terbuka di mana guru atau ustadz duduk di atas meja kecil (dampar).
Ayini masuk dengan langkah angkuh. Ia tidak mencari tempat di belakang, melainkan merangsek maju ke barisan paling depan, tepat di dekat satir yang berbatasan dengan area guru.
"Eh, Ayini! Di depan itu tempat pengurus!" bisik Zia dengan wajah pucat karena takut.
"Bodo amat. Siapa cepat dia dapat," jawab Ayini ketus.
Ia duduk bersila dengan gaya yang kurang sopan untuk ukuran pesantren, matanya liar mencari sosok pemuda berbaju putih yang ia temui kemarin.
Tak lama kemudian, suasana aula mendadak hening. Dari pintu samping, Gus Alvaro masuk.
Ia berjalan dengan pandangan yang tertuju pada lantai, selangkah demi selangkah dengan sangat tenang.
Di tangannya terdapat kitab tebal bersampul kuning.
Gus Alvaro duduk di dampar. Ia tidak sekalipun mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah kerumunan santriwati.
Ia menjaga pandangannya dengan sangat ketat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Alvaro. Suaranya bergema di aula, tenang namun bertenaga.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab para santri serentak, kecuali Ayini yang justru asyik memandangi wajah Alvaro dari samping.
"Ganteng banget sih... tapi itu mata kenapa liatin lantai terus? Lantainya ada emasnya ya?" bisik Ayini pada Adinda.
"Sstt! Ayini, Gus Alvaro itu menjaga pandangan. Itu adab," balas Adinda lirih.
Alvaro mulai membuka kitabnya. "Pagi ini kita akan membahas tentang Adabul 'Alim wal Muta'allim. Etika seorang murid terhadap gurunya..."
Selama penjelasan berlangsung, Alvaro bicara dengan sangat irit. Setiap kalimatnya padat. Ia tidak banyak memberikan ilustrasi yang tidak perlu.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah suara cempreng memotong penjelasannya.
"Gus! Interupsi!" Ayini mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Alvaro terdiam. Ia tidak langsung menoleh. Ia menarik napas pendek, lalu bertanya tanpa melihat ke arah Ayini, "Ada yang kurang jelas dari penjelasan saya?"
"Bukan soal penjelasan, Gus. Tapi soal pemandangan. Gus Alvaro ini ganteng, tapi kenapa dari tadi cuma ngomong sama kitab? Emang kitabnya bisa jawab?