Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Perang Berbasis Gosip Lambe Turah
Kembali ke Jakarta setelah petualangan hidup dan mati di Italia ternyata tidak serta-merta membawa ketenangan bagi klan De Luca. Meskipun jiwa mereka sudah kembali ke tubuh masing-masing secara sempurna setelah insiden "ciuman korsleting" di atas kapal pesiar, sisa-sisa ancaman dari Eropa masih memiliki ekor yang panjang. Faksi bayangan Vatikan yang sempat bersekutu dengan mendiang Isabella Moretti rupanya mengirimkan unit intelijen taktis cyber mereka ke Asia Tenggara. Tujuannya jelas: melacak keberadaan Lorenzo De Luca dan menghancurkan reputasinya sebelum sang Capo sempat mengonsolidasikan kekuatan barunya melalui tim esports Aegis di Palmerah.
Namun, mengoperasikan intelijen militer Barat di belantara digital Indonesia adalah kesalahan strategis terbesar yang dilakukan oleh para agen asing tersebut. Mereka terbiasa dengan algoritma enkripsi militer, pelacakan satelit, dan spionase siber tingkat tinggi. Mereka sama sekali tidak siap menghadapi kekuatan paling absolut, paling cepat, dan paling merusak di jagat maya Indonesia: kekuatan netizen +62 dan infiltrasi informasi berbasis akun gosip.
Pagi itu, udara Palmerah terasa sangat gerah. Di dalam ruko lantai dua yang baru saja direnovasi menjadi markas Aegis Esports, Dante duduk di depan jajaran monitor berspesifikasi dewa. Wajah sang genius siber klan De Luca itu tampak sangat kusut, kontras dengan pendingin ruangan yang sudah disetel ke suhu paling rendah.
"Lorenzo, kita punya masalah siber," kata Dante saat Lorenzo melangkah masuk dengan kemeja linen putih yang santai namun tetap memancarkan aura mengintimidasi. "Unit intelijen musuh mulai menyebarkan disinformasi di jaringan lokal. Mereka meretas beberapa portal berita finansial dan menyebarkan rumor bahwa klan De Luca mendanai aktivitas ilegal melalui investasi industri kreatif di Jakarta Barat. Mereka mencoba memancing kepolisian setempat untuk melakukan penggerebekan ke ruko ini."
Lorenzo bersedekah tatapan dingin. "Gunakan protokol pemutus arus. Hancurkan server mereka seperti yang biasa kau lakukan di Roma, Dante."
"Masalahnya tidak semudah itu, Kak," Dante menghela napas, jemarinya mengetik dengan cepat di atas papan ketik mekaniknya. "Jaringan internet di sini sangat terdesentralisasi. Mereka menggunakan ratusan akun bot tiruan yang menyamar sebagai warga lokal. Jika aku menghancurkan server pusat mereka, mereka akan langsung mengaktifkan skrip cadangan yang membuat isu ini semakin viral. Kita butuh serangan balik yang tidak hanya menghapus data, tapi juga menghancurkan kredibilitas narasi mereka di mata masyarakat lokal."
Bianca yang baru saja masuk membawa satu nampan berisi es teh manis plastik dan sepiring pisang goreng hangat langsung menaruh hidangan itu di meja. Ia mengintip ke arah layar monitor Dante, lalu mendengus meremehkan.
"Halah, Mas Dante... kalian itu kalau mikir terlalu elit, makanya gampang pusing," ucap Bianca sambil menyedot es teh manisnya hingga berbunyi nyaring. "Ngadepin akun bot bule yang sok tahu tentang Jakarta itu nggak usah pakai enkripsi militer. Cukup pakai hukum rimba media sosial kita."
Lorenzo menoleh ke arah Bianca, sebelah alisnya terangkat. "Hukum rimba apa yang kau maksud, Bianca? Kita tidak sedang berhadapan dengan Ibu Sukeni sekarang."
"Ini lebih ngeri dari Ibu Kos, Mas Bos! Ini namanya perang opini publik. Di Indonesia, kalau ada isu nasional atau serangan hoaks, cara paling efektif buat mengalihkan perhatian dan menghancurkan musuh adalah dengan melempar umpan ke akun gosip nomor satu: Lambe Turah. Sekali mereka posting, jangankan agen siber Vatikan, urusan internal negara aja bisa langsung geser fokusnya!"
Valerio yang sedang membersihkan komponen pistol saku Beretta Nano milik Bianca di pojokan ruangan langsung mendongak. "Lambe... Turah? Apakah itu nama unit pasukan khusus jurnalisme investigasi di negara ini?"
Bianca tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak biji pisang goreng. "Aduh, Mas Val! Pasukan khusus jurnalisme dari Hongkong! Lambe Turah itu akun gosip Instagram paling sakti mandraguna. Informasinya lebih cepat daripada intelijen polri, informannya ada di mana-mana dari sabang sampai merauke—biasanya emak-emak komplek atau netizen gabut yang hobi dengerin gosip artis. Kalau kita bisa masukin isu musuh ke sana dengan bumbu yang tepat, netizen kita yang bakal nge-silaturahmi ke akun-akun bot musuh sampai mereka kena mental dan hapus akun sendiri!"
Dante tampak tertarik. Ia memutar kursinya menghadap Bianca. "Jelaskan mekanismenya secara ilmiah, Bianca. Bagaimana sebuah akun gosip domestik bisa mematahkan serangan disinformasi militer?"
"Gini, Mas Genius," Bianca mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi Instagram. "Akun-akun bot yang menyerang kita itu kan profilnya pakai foto bule palsu, atau foto pemandangan, tapi sok-sok bahasa Indonesia pakai Google Translate. Netizen Indonesia itu paling benci sama akun palsu yang sok tahu tentang urusan dalam negeri, apalagi kalau narasinya kelihatan kaku banget kayak teks pidato. Nah, strategi kita adalah: kita bikin skandal tandingan yang melibatkan akun-akun bot itu, tapi dikemas sebagai kasus 'Perselingkuhan Bule Palsu' atau 'Penipuan Berkedok Agen Studi Banding'."
Lorenzo menyipitkan matanya, mulai memahami arah pemikiran licik gadis di depannya. "Kau ingin mengubah serangan siber taktis menjadi sebuah drama domestik yang murahan?"
"Tepat sekali, Mas Bos! Itu namanya counter-attack berbasis kearifan lokal!" Bianca menjentikkan jarinya dengan semangat. "Orang kita itu kalau dikasih berita konspirasi finansial mafia Eropa, paling cuma lewat di beranda. Tapi kalau dikasih berita tentang 'Seorang Bule Tampan Ternyata Agen Penipu yang Suka Ghosting Gadis Palmerah', wah... langsung viral dalam hitungan menit! Kolom komentar bakal penuh, dan netizen bakal nge-track IP address, nyari foto asli pemilik akun bot itu, sampai ketemu silsilah keluarga mereka."
Meskipun awalnya merasa ide ini sangat konyol dan merendahkan martabat klan mafia De Luca yang legendaris, Lorenzo akhirnya memberikan lampu hijau. Tidak ada pilihan lain; metode konvensional Dante tidak bekerja cepat di ekosistem internet Indonesia yang unik.
Dante segera mengubah perannya dari seorang peretas militer menjadi seorang produser konten drama. Di bawah bimbingan dan arahan langsung dari Bianca selaku "Direktur Operasional Ghibah", mereka mulai menyusun materi serangan balik.
"Pertama, Mas Dante, cari satu akun bot musuh yang paling aktif nyebarin hoaks tentang kita. Yang ini nih, akun @Alex_Roma_Jkt," tunjuk Bianca pada salah satu profil yang menggunakan foto model pria Italia hasil comotan dari internet.
"Sudah kutemukan," kata Dante. "IP address aslinya terlacak berada di sebuah ruko sewaan di daerah Jakarta Pusat, dijalankan oleh tiga agen operasional faksi Vatikan yang menggunakan paspor palsu."
"Bagus. Sekarang, Mas Dante manipulasi chat DM (Direct Message) akun itu. Bikin seolah-olah si 'Alex' ini lagi nge-chat mesra beberapa akun perempuan lokal, janjiin mau nikahin mereka, tapi ujung-ujungnya minta ditransfer uang saku pakai kripto. Bikin sekilas ada bukti transfer palsu yang kelihatan meyakinkan."
Valerio menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Dante dengan sangat lihai merekayasa tangkapan layar percakapan tersebut. "Aku dilatih untuk melakukan sabotase fisik pada pipa gas di Siberia, tapi melihat adikku memalsukan obrolan asmara digital... ini terasa jauh lebih kejam."
Setelah materi "bukti" perselingkuhan dan penipuan siber itu selesai dibuat dengan tingkat keaslian visual seratus persen berkat keahlian siber Dante, Bianca langsung mengambil alih tahap eksekusi. Ia menggunakan akun alternatif rahasianya untuk mengirimkan pesan tip (anonymous tip) ke admin Lambe Turah dengan takarir (caption) yang sangat memancing emosi:
"Min, tolong up dong min! Ini ada oknum bule palsu yang ngaku-ngaku investor kreatif di daerah Palmerah dan Jakpus, ternyata aslinya komplotan penipu internasional yang suka mempermainkan hati anak gadis orang dan bawa kabur uang tabungan kerja kelompok! Banyak korban yang udah nangis-nangis min! @Alex_Roma_Jkt #BulePenipu #KenaGhosting #NetizenMenolakLupa"
Umpan dilempar, dan efeknya jauh lebih dahsyat daripada ledakan bom hidrostatik yang pernah dirancang Valerio di masa lalu. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit setelah admin Lambe Turah mengunggah tangkapan layar rekayasa Dante dengan logo khas "tanda air" mereka, dunia maya Indonesia langsung meledak.
Kolom komentar unggahan tersebut langsung diserbu oleh ribuan komentar dalam hitungan detik. Narasi kaku tentang "investasi ilegal klan De Luca" yang tadinya coba disebarkan oleh para agen musuh langsung tenggelam total, tertutup oleh gelombang kemarahan publik atas isu "bule penipu cinta".
"Dante, laporkan perkembangannya," perintah Lorenzo sambil mengamati layar monitor yang kini dipenuhi oleh aktivitas jaringan yang sangat padat.
Wajah Dante tampak terpana, seolah-olah ia baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan. "Ini... ini tidak masuk akal secara matematis, Lorenzo. Akun @Alex_Roma_Jkt menerima lebih dari lima puluh ribu komentar makian dalam waktu sepuluh menit. Sistem pertahanan siber mereka mendadak lumpuh karena mereka menerima jutaan permintaan kunjungan profil (traffic hantaman) dari perangkat seluler unik di seluruh Indonesia. Ini setara dengan serangan DDoS skala penuh, tapi dilakukan secara manual oleh manusia!"
Bianca nyengir puas sambil mengunyah pisang gorengnya. "Tuh, kan! Apa saya bilang. Netizen kita kalau urusan silaturahmi massal ke akun penipu itu nomor satu di dunia. Nggak usah disuruh, mereka bakal nyari tahu sendiri siapa di balik akun itu."
Dampak dari "Strategi Lambe Turah" ini segera merembet ke dunia nyata. Netizen yang sangat kreatif mulai melakukan pelacakan massal (doxing rasional). Mereka mencocokkan latar belakang foto yang pernah diunggah oleh akun bot tersebut, hingga akhirnya berhasil menemukan lokasi ruko sewaan para agen Vatikan di Jakarta Pusat. Beberapa pengendara ojek daring dan warga lokal bahkan mulai berkumpul di depan ruko tersebut hanya untuk sekadar "memastikan wajah bule penipu" yang sedang viral di media sosial.
Di dalam monitor Dante, terlihat lalu lintas komunikasi para agen musuh berubah menjadi sangat panik.
"Mereka sedang bersiap untuk mengemas barang-barang mereka," lapor Dante dengan tawa kecil yang jarang terjadi. "Mereka memutus seluruh koneksi server disinformasi mereka. Isu tentang aliran dana ilegal klan De Luca sepenuhnya dianggap sebagai pengalihan isu oleh masyarakat karena mereka yakin 'Alex' sengaja membuat berita hoaks itu untuk menutupi kasus penipuannya sendiri. Mereka sedang melarikan diri menuju bandara internasional sekarang."
Valerio berdiri, lalu merapikan jaketnya. "Haruskah aku dan tim menghadang mereka di jalan tol menuju bandara, Capo?"
Lorenzo mengangkat tangan kanannya, menghentikan Valerio. "Tidak perlu, Valerio. Reputasi mereka di negara ini sudah hancur total oleh strategi Bianca. Menghadapi hukum publik di sini jauh lebih menyiksa bagi seorang agen rahasia daripada eliminasi senyap. Biarkan mereka pulang ke Eropa dengan membawa ketakutan terhadap internet Indonesia."
Malam harinya, markas Aegis Esports merayakan kemenangan taktis pertama mereka di tanah Jakarta dengan cara yang sangat sederhana: makan malam bersama dengan menu nasi goreng kambing gila yang dipesan langsung oleh Bianca dari warung tenda di pinggir jalan tol Palmerah.
Lorenzo duduk di kursi kebesarannya, memegang sepiring nasi goreng yang sangat pedas dengan ekspresi wajah yang tenang namun ada binar kepuasan di matanya. Di depannya, Bianca sedang asyik menjelaskan arti dari berbagai istilah slang baru yang muncul di kolom komentar Lambe Turah kepada Dante yang sibuk mencatatnya ke dalam kamus siber pribadinya.
"Mas Dante, kalau ada yang komen 'Suhu, ajari aku', itu artinya mereka kagum sama keahlian manipulasi data kamu," jelas Bianca dengan semangat. "Tapi kalau ada yang komen 'Mending turu', itu artinya taktik musuh udah nggak ada gunanya lagi."
Dante mengangguk-angguk paham. "Sangat efisien. Komunikasi berbasis budaya pop lokal ini memiliki efektivitas penyampaian pesan sebesar sembilan puluh delapan persen pada kelompok demografi usia produktif. Aku harus memasukkan variabel gosip domestik ini ke dalam algoritma pertahanan klan De Luca untuk masa depan."
Lorenzo menatap Bianca yang malam itu tampak sangat ceria, mengenakan kaus tim Aegis Esports yang sengaja dibuat dengan ukuran sedikit kebesaran untuknya. Sisa-sisa memori taktis tentang mesiu dan konspirasi Eropa yang sempat tertinggal di kepala mereka kini benar-benar telah digantikan oleh realitas baru yang penuh dengan dinamika tawa dan kehangatan yang jujur.
"Bianca," panggil Lorenzo, membuat gadis itu menghentikan kunyahannya sejenak.
"Kenapa, Mas Bos? Kurang pedas ya nasi gorengnya? Mau saya mintain sambal tambahan ke abangnya?"
"Tidak," Lorenzo tersenyum tipis—senyuman yang kini sepenuhnya milik sang penguasa De Luca yang telah menemukan kedamaian barunya di tengah hiruk-pikuk Jakarta. "Aku hanya berpikir bahwa keputusan membawamu ke duniaku adalah kesalahan, tapi keputusan membawaku ke duniamu... adalah strategi terbaik yang pernah kulakukan."
Bianca tersenyum manis, rona merah tipis muncul di kedua pipinya yang masih menyisakan sedikit bekas bumbu pisang goreng tadi. "Nah, gitu dong, Mas Lorenzo. Di sini itu dunianya emang santai, tapi kalau ada yang berani macem-macem sama keluarga kita... ya siap-siap aja kena silaturahmi massal dari netizen +62!"
Perang tak terlihat melawan faksi bayangan Vatikan malam itu dimenangkan bukan dengan letusan senjata api atau ledakan misil taktis, melainkan oleh kekuatan absolut dari sebuah unggahan gosip domestik. Di bawah langit malam Jakarta Barat yang riuh oleh suara klakson kendaraan, klan De Luca kini tahu pasti bahwa selama mereka memiliki Bianca dan taktik menawar serta ghibah taktisnya, markas baru mereka di Palmerah akan menjadi benteng yang paling tidak akan pernah bisa ditembus oleh musuh mana pun di dunia.