BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Bu Ratih masih belum bisa menyembunyikan rasa senangnya. Wajahnya yang biasanya penuh kerutan kini tampak lebih jelas. Bola matanya berbinar, seolah akhirnya harapan yang dia tunggu selama ini mulai terlihat nyata.
“Jadi, Lavanya itu subur, kan?” tanya Bu Ratih ingin memastikan, suaranya sedikit bergetar karena antusias.
Aditya langsung mengangguk cepat, bahkan terlalu cepat. “Subur, Bu. Lavanya … wanita subur!” Nada suaranya penuh keyakinan, seolah kalimat itu adalah jaminan masa depan.
“Bagus!” Bu Ratih menepuk tangannya pelan. Senyumnya melebar, setelah sekian lama akhirnya dia mendapatkan kabar gembira. “Akhirnya Ibu bisa punya cucu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Seolah Kemuning tidak pernah ada dalam hidup mereka.
"Tapi, Bu ...." Aditya terlihat ragu-ragu.
"Ada apa lagi?" tanya Bu Ratih penuh pengertian.
Aditya tampak menimbang-nimbang, lalu akhirnya bicara, "Orang tua Lavanya minta maskawin uang seratus juta. Dan mereka ingin pernikahan dirayakan besar-besaran."
Suara Aditya lirih karena tahu ibunya tidak suka membuang-buang uang, kecuali untuk keperluannya sendiri.
"Apa?!" Mata Bu Ratih langsung melotot. Dia tidak menyangka keluarga Lavanya minta uang yang banyak. "Jangan mau!"
"Bu ... ini demi Ibu juga," rayu Aditya dengan memasang wajah memelas. "Nanti Lavanya bisa memberi ibu cucu yang banyak. Dia kan wanita muda dan subur."
Bu Ratih pun terdiam beberapa saat, sehingga ruangan itu terasa sunyi. Lalu, dengan berat hati wanita paruh baya itu berkata, "Baiklah ... tapi kalian harus kasih Ibu cucu!"
Nada suara Bu Ratih penuh peringatan dan itu membuat Aditya menelan ludahnya.
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Kemuning pergi ke bank. Dia hendak membekukan rekening bersama yang dahulu dibuat bersama Aditya. Itu sebagai langkah menyelamatkan aset kekayaannya, sebelum habis oleh suaminya untuk menyenangkan gundik itu.
Arkatama sudah menunggu Kemuning di bank. Dia selaku pengacara, akan melakukan yang terbaik untuk kliennya.
"Aku sudah membawa beberapa dokumen penting yang Mas minta kemarin," kata Kemuning sambil menepuk tasnya.
"Bagus, Mbak," balas Arkatama tersenyum tipis. "Sekarang kita urus dulu tabungannya. Nanti, kita lanjut ke langkah lainnya."
Beruntung Arkatama pandai menjelaskan permasalahannya kepada pihak bank, sehingga pembekuan rekening bisa dilakukan dengan lancar dan tidak memakan banyak waktu.
"Astaga ...! Uang yang tersisa tinggal lima ratus juta." Kemuning langsung diliputi rasa marah bercampur kesal, ketika melihat saldo terakhir.
"Suami ambil uang tampa sepengetahuanmu, Mbak?" tanya Arkatama ikutan geram.
"Iya, Mas Arka. Padahal aku enggak pernah ambil uang ini karena ingin melakukan program bayi tabung," jawab Kemuning lirih. "Rupanya Mas Aditya tega mengambil diam-diam."
"Nanti ini bisa menjadi laporan baru, Mbak, jika uang yang diambil suami untuk selingkuhannya," ucap Arkatama. "Suami dan selingkuhannya bisa kena pasal berlapis."
"Benarkah?" tanya Kemuning, di sudut hatinya merasa senang karena bisa menjerat keduanya masuk penjara lebih lama.
"Tapi, kita harus cari bukti yang falid, Mbak, kalau uang itu dipakai oleh si selingkuhan."
Kemuning mengangguk. Tekad dia sudah bulat ingin membalas orang-orang yang sudah jahat kepadanya.
"Terima kasih, Mas Arka," ucap Kemuning. "Sekarang aku sedikit lega."
Arkatama tersenyum tipis. "Mbak Kemuning pantas mendapatkan keadilan."
Setelah dari bank, Arkatama mengajak Kemuning ke kantor firma miliknya. Tempatnya ada di kota, berjarak dua puluh kilo dari kampung tempat tinggal Kemuning.
Di sana mereka membicarakan langkah apa yang selanjutnya harus Kemuning lakukan untuk mendapatkan keadilan. Wanita itu terlalu polos dan baik, serta tidak tahu apa-apa tentang hukum.
"Mbak Kemuning, apa Mbak yakin akan melaporkan perselingkuhan suami Mbak ke polisi?" tanya Arkatama dengan nada serius.
"Tentu saja, Mas," jawab Kemuning tegas. "Kalau sekarang bisa ... aku ingin melaporkan perbuatan perselingkuhan Mas Aditya dan Lavanya ke polisi. Apa Mas Arka juga bisa membantu?"
"Sebaiknya jangan gegabah. Kita kumpulkan bukti-bukti perselingkuhan dan saksi, yang tidak bisa dibantah oleh mereka," ucap Arkatama dengan suara pelan. Dia tidak ingin Kemuning kecewa dengan hasil akhirnya nanti.
"Kan, buktinya itu sudah ada!" Kemuning menunjuk tas Arkatama. Barang dan dokumen miliknya ada di sana.
"Kita butuh saksi yang menyaksikan perbuatan mereka," balas Arkatama.
Di tengah-tengah ketegangan itu, tiba-tiba pintu terbuka. Aryasatya datang masih menggunakan seragam.
"Eh, ada Mbak Kemuning!" Pemuda itu tersenyum lebar.
"Kamu bolos sekolah? Atau kabur dari sekolah?!" tanya Arkatama dengan tatapan tajam dan suara tegas.
"Sekolah dibubarkan sejak jam sepuluh pagi, Kak. Istri kepala sekolah meninggal dan kepala sekolah kritis, karena mengalami kecelakaan," jawab Aryasatya.
"Lalu, ke mana dulu kamu?" tanya Arkatama dengan tatapan curiga.
"Ke mal cari ini ...." Aryasatya meletakan satu kotak fizza. "Kita makan bersama."
Kemuning tersenyum tipis melihat interaksi kedekatan kakak beradik itu. Dia merasa iri karena tidak pernah punya saudara.
"Eh, tadi kayaknya aku melihat suami Mbak Kemuning di mal," kata Aryasatya sambil menyodorkan kotak fizza kepada Kemuning.
"Sama seorang wanita?" tanya Kemuning. Dia pun mengambil satu potong dan mengucapkan, "terima kasih."
Aryasatya terkejut. Lalu, dia melirik kepada Arkatama. Sang kakak pun mengangguk.
"I-iya, Mbak," jawab Aryasatya.
"Ish, jika saja kamu ambil foto mereka berdua, bagus untuk dijadikan barang bukti," ucap Kemuning dan membuat Aryasatya melongo.
"Eh, kamu mau enggak jadi saksi nanti di pengadilan, atas perselingkuhan Mas Aditya dengan Lavanya?" lanjut Kemuning.
"Kalau foto enggak ada, aku ambilnya video mereka tadi," balas Aryasatya dan membuat Kemuning senang.
"Mana-mana ...! Cepat kasihkan ke kakakmu!"
Dengan buru-buru, Aryasatya mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Lalu, menunjukan video hasil rekamannya.
Di dalam video itu, Aditya dan Lavanya berjalan mesra saling merangkul. Keduanya membawa tas belanjaan.
"Rupanya, Mas Aditya menggunakan uang dari peternakan juga buat bersenang-senang!" gumam Kemuning menahan emosi.
"Viralkan saja mereka, Mbak!" celetuk Aryasatya dan Kemuning menoleh ke arahnya.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus