NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Motor Mas Dika perlahan memasuki halaman rumahnya yang luas dan asri. Namun bagiku, kemewahan rumah ini justru terasa seperti tembok penjara yang dingin. Aku bisa melihat mobil Mas Bayu suami Mbak Diana masih terparkir di sana, menandakan bahwa "sidang keluarga" mungkin belum benar-benar berakhir.

Mas Dika mematikan mesin motor. Kesunyian yang mendadak hadir terasa begitu menekan. Ia turun lebih dulu, lalu membantuku turun dengan sangat hati-hati. Aku berdiri mematung di samping motor, menatap pintu jati besar yang tertutup rapat. Tanganku gemetar hebat di dalam saku jaket.

"Ayo, Ra. Masuk," ajak Mas Dika sembari meraih jemariku. Genggamannya sangat kuat, seolah ia tahu bahwa jika ia melepasnya sedikit saja, aku mungkin akan lari sekencang-kencangnya dari tempat ini.

Kami melangkah menaiki anak tangga teras. Baru saja Mas Dika hendak mengetuk pintu, daun pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Mbak Diana berdiri di sana dengan wajah yang sangat masam, tangannya bersedekap di dada seolah sedang menghalangi jalan masuk kami.

"Oh, akhirnya pulang juga pahlawan kesiangan," sindir Mbak Diana tajam. Matanya melirik sinis ke arah genggaman tangan kami, lalu turun ke perutku dengan tatapan yang sangat menghina. "Bawa 'barang bawaannya' juga ternyata. Kamu benar-benar nekat ya, Dik."

"Mbak, tolong... Dika capek. Dika cuma mau bawa istri Dika masuk," ucap Mas Dika dengan nada lelah namun tetap berusaha tenang.

"Istri? Kamu sebut perempuan yang sudah merusak nama baik keluarga kita ini istri?" Mbak Diana tertawa hambar. "Ibu lagi di kamar, tensinya naik lagi gara-gara dengar rencana kamu mau bawa dia tinggal di sini. Kamu mau jadi anak durhaka?"

Mendengar kata "durhaka", aku tertunduk dalam. Rasanya ingin sekali bumi terbelah dan menelanku saat itu juga. Namun, Mas Dika justru menarikku selangkah lebih maju, membuat Mbak Diana terpaksa bergeser sedikit.

"Dika tetap akan masuk. Dika mau ketemu Ibu," tegas Mas Dika.

Kami melangkah masuk ke ruang tamu yang luas. Di sana, Bapak Mertua sedang duduk di sofa sembari membaca koran, namun beliau segera meletakkannya begitu melihat kami. Wajahnya tidak sedingin Mbak Diana, namun gurat kesedihan tetap tak bisa disembunyikan.

"Sudah sampai, Dik? Aira?" sapa Bapak Mertua dengan nada datar tapi tidak kasar.

"Sudah, Pak," jawab Mas Dika sembari menyalami tangan Bapaknya, diikuti olehku.

Tiba-tiba, suara pintu kamar di lantai bawah terbuka. Ibu Mertua keluar dengan langkah gontai, kepalanya dibalut koyo dan wajahnya tampak sangat pucat. Begitu matanya tertuju padaku, beliau berhenti melangkah. Suasana ruangan itu mendadak jadi sebeku es.

"Mau apa kamu bawa dia ke sini, Dika?" suara Ibu Mertua terdengar lirih namun sangat menusuk. "Belum cukup kamu bikin Ibu malu satu kabupaten? Sekarang kamu mau taruh aib ini di depan mata Ibu setiap hari?"

Aku memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemari Mas Dika sekuat tenaga. Selamat datang di neraka baruku, batinku pedih.

"Dika nggak akan membiarkan Aira tinggal sendirian di luar sana lagi. Aira akan tinggal di sini bareng Dika, Bu. Aira bukan aib, Bu... Aira ini istri sah Dika sekarang," ucap Mas Dika dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.

Genggaman tangannya di jemariku menguat, seolah sedang menyalurkan seluruh keberanian yang ia punya. Mas Dika melangkah maju, menatap mata Ibunya yang mulai berkaca-kaca karena amarah. "Jika Ibu ingin Dika tetap di rumah ini, maka Aira juga akan di sini. Dika nggak akan pergi tanpa dia."

Ibu Mertua tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Oh, jadi kamu sudah berani mengancam Ibu sekarang? Kamu lebih milih perempuan ini daripada ketenangan hati orang tuamu sendiri?"

"Dika bukan mengancam, Bu. Dika cuma mau menjalankan kewajiban sebagai suami," balas Mas Dika cepat.

Mbak Diana yang sedari tadi menonton di sudut ruangan langsung menimpali. "Kewajiban? Kamu itu sudah dicuci otak sama dia, Dik! Lihat, dia bahkan nggak berani natap muka Ibu. Cuma bisa nunduk kayak orang suci, padahal..."

"Mbak, cukup!" bentak Mas Dika yang membuat Mbak Diana tersentak diam. "Jangan terus-terusan menguliti kesalahan Aira. Dika juga salah di sini."

Suasana ruangan kembali hening. Bapak Mertua menghela napas panjang, melipat korannya dengan suara yang terdengar jelas di tengah kesunyian itu. Beliau berdiri, mendekati Ibu Mertua dan merangkul bahunya yang bergetar.

"Sudah, Bu. Mereka sudah sah. Membenci mereka sekarang nggak akan mengubah keadaan," ucap Bapak Mertua dengan suara tenang namun tegas. Beliau menatap Mas Dika. "Bawa istrimu ke kamarmu di atas, Dik. Biarkan dia istirahat. Dia sedang hamil besar, jangan sampai kelelahan."

Ibu Mertua mendengus, melepaskan rangkulan Bapak Mertua dengan kasar. "Terserah! Tapi ingat ya, Dika. Jangan harap Ibu mau satu meja makan sama dia. Dan jangan harap Ibu mau menganggap dia sebagai menantu di rumah ini!"

Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Ibu Mertua masuk kembali ke kamarnya dan membanting pintu. Mbak Diana pun menyusul dengan tatapan benci yang tak disembunyikan.

Aku hanya bisa berdiri mematung, air mataku luruh tanpa suara. Mas Dika mengusap bahuku lembut. "Sabar ya, Sayang. Ayo, kita ke kamar kita."

Aku melangkah menaiki tangga rumah megah ini dengan perasaan hancur. Kamar Mas Dika memang luas dan nyaman, namun bagiku, rumah ini adalah medan perang yang sesungguhnya. Baru saja pintu kamar tertutup, Mas Dika langsung memelukku erat dari belakang.

"Maafin keluarga Mas ya, Ra. Mas janji, pelan-pelan Mas akan buat mereka luluh. Sekarang, kamu istirahat dulu," bisiknya di telingaku.

Aku menatap foto USG yang tadi kami ambil, lalu menatap perutku. Perjuangan baru dimulai. Apakah aku akan bertahan di rumah ini, atau kebencian Ibu Mertua akan benar-benar membuatku terusir?

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!