NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: MURKA RAJA API PURBA DAN RAHASIA KERETAKAN

Semburan api panas menyembur deras dari celah-celah tanah retak, menciptakan dinding kobaran merah yang mengelilingi Raga, Kanjeng Raden, dan Nyi Blorong. Panasnya bukan main, seolah seluruh udara di tempat itu sedang mendidih. Asap belerang mengepul tebal, membuat pandangan jadi kabur dan pedih di mata.

Namun, Raga tidak mundur selangkah pun. Cincin Pelindung Api di jari manis nya bersinar terang, memancarkan aura dingin sejuk yang menyelimuti tubuh mereka bertiga, menolak segala panas dan racun udara yang ada di sekitar. Api yang menyambar dekat kulit mereka langsung padam seketika seolah disiram air es.

Kanjeng Raden melangkah maju, tubuhnya membesar sedikit, aura emasnya berkobar kuat menyeimbangkan energi merah di sekeliling mereka. Tombak di tangannya berputar cepat, membelah udara panas yang berputar liar.

"Minggir lah, makhluk tanah!" bentak Kanjeng Raden, suaranya menggelegar menggetarkan tanah. "Kami tidak datang untuk berkelahi! Kami datang atas nama Penjaga Gerbang untuk mengetahui apa yang membuat wilayah ini tidak lagi seimbang!"

Pemimpin makhluk tanah itu, yang tubuhnya berwarna merah menyala dan penuh retakan berapi, tertawa mengejek. Tawanya kasar, kering, dan penuh kebencian. Ia mengangkat tongkat batunya lebih tinggi lagi, dan puluhan pengikutnya yang berjumlah ratusan makhluk tanah lain mulai maju mendekat, mengeratkan lingkaran pengepungan.

"Penjaga Gerbang? Hah! Di sini kami tidak kenal istilah itu! Dulu ratusan tahun lalu kalian manusia dan makhluk gunung datang ke sini berjanji menjaga keseimbangan! Tapi apa yang terjadi? Kalian lari! Kalian tinggalkan kami! Dan sekarang kalian datang lagi dengan wajah suci? Terlambat!"

Makhluk itu menunjuk ke arah belakang, ke arah puncak kawah raksasa yang menjulang tinggi di tengah-tengah wilayah tandus itu. Dari sana, terdengar suara gemuruh dalam dan panjang, seperti napas raksasa yang sedang marah. Asap hitam pekat mengepul terus-menerus, dan sesekali terlihat kilatan lava merah di dalamnya.

"Lihat itu! Raja Api Purba sedang murka! Dia sudah bangun dari tidur panjangnya karena ada yang merusak ikatan suci di dalam sana! Kalian mau tahu kenapa dunia mau hancur? TANYAKAN PADA DIRI KALIAN SENDIRI YANG LUPA TUGASNYA!"

Nyi Blorong maju selangkah, matanya menatap tajam ke arah makhluk itu. Ia merasakan energi yang sangat tua dan murni dari tubuh lawan bicaranya. Ini bukan sekadar makhluk biasa, ini adalah roh tanah yang sudah ada sejak bumi ini diciptakan.

"Kami tidak lupa tugas, kawan," jawab Nyi Blorong lembut namun tegas. "Kami baru saja diberi tanda lewat Kitab Leluhur. Kami datang jauh-jauh hanya untuk memperbaiki apa yang rusak. Biarkan kami bicara dengan Rajamu. Kami berjanji akan duduk dan mendengarkan keluhannya."

"BICARA?!" makhluk itu berteriak marah, lalu menghantamkan tongkatnya ke tanah. "Raja kami tidak mau bicara lagi! Dia sudah cukup bicara ribuan tahun dan tidak ada yang dengar! Sekarang dia cuma mau menghancurkan segalanya! Biar bumi ini hancur, biar api memakan semuanya, biar semua jadi abu sama rata!"

Suasana makin menegang. Raga tahu, kalau ini berlanjut, pertempuran tak terelakkan lagi. Dan bertarung di tempat ini, di sarang kekuatan api murni, jelas sangat merugikan mereka.

Raga mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat pada Kanjeng Raden dan Nyi Blorong untuk tenang. Ia melangkah maju sendirian melewati teman-temannya, berjalan lurus menuju pemimpin makhluk tanah itu, meski api masih menyembur di kiri dan kanannya.

"Apa pun kesalahan leluhur kami di masa lalu... aku yang sekarang datang untuk meminta maaf dan memperbaikinya," kata Raga lantang dan jernih, suaranya terdengar sampai ke telinga semua makhluk di situ.

"Aku Raga, Penjaga Gerbang yang baru. Aku tidak tahu sejarah masa lalu, tapi aku tahu tugasku: Menjaga agar dunia tetap aman dan semua makhluk bisa hidup damai. Kalau Rajamu marah, ada sebabnya pasti. Biarkan aku tahu alasannya. Biarkan aku melihat kerusakan itu. Kalau aku gagal memperbaikinya... kalian boleh membakar kami sampai jadi debu di tempat ini."

Keheningan sejenak terjadi. Makhluk tanah itu diam, menatap Raga lekat-lekat. Ia merasakan ketulusan dan keberanian yang langka dari pemuda di depannya ini. Tidak ada rasa takut, tidak ada kesombongan. Hanya niat tulus.

Tiba-tiba, suara gemuruh dari kawah besar di tengah sana terdengar lebih keras lagi. Kali ini suara itu bukan cuma gemuruh tanah, tapi terdengar seperti suara raksasa yang berbicara langsung ke dalam kepala mereka semua.

"Biarkan dia masuk... Aku ingin melihat... siapa anak kecil yang berani berjanji seperti itu..."

Suara itu berat, dalam, dan bergetar sampai ke tulang sumsum. Aura yang memancar dari kawah itu begitu dahsyat hingga semua makhluk tanah yang tadi garang langsung berlutut dan menunduk hormat.

Pemimpin makhluk tanah itu mengangkat kepalanya kaget, lalu menatap Raga dengan pandangan campuran antara takjub dan waspada.

"Nasib kalian ada di tangan sendiri sekarang. Raja memanggil. Ikut aku. Tapi ingat... satu langkah saja kalian berbuat curang... tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian, bahkan kekuatan dewa sekalipun."

Ia memberi isyarat tangan. Dinding api di sekeliling mereka perlahan terbuka membelah jalan.

"Masuk. Ke jantung kawah. Di sana Raja menunggu."

 

Perjalanan menuju pusat kawah itu adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan oleh Raga. Jalan yang mereka lalui semakin ke dalam semakin panas, semakin tandus, dan semakin menakutkan. Tanah di bawah kaki mereka bukan lagi tanah biasa, melainkan batu-batu vulkanik hitam yang masih menyimpan bara panas. Di kiri dan kanan, tebing-tebing tinggi penuh dengan aliran lava yang berkilauan merah, berdenyut seperti pembuluh darah raksasa bumi.

Udara di sini begitu kering hingga rasanya tenggorakan perih sekali. Hanya berkat Cincin Pelindung Api dan kekuatan Kanjeng Raden serta Nyi Blorong, mereka masih bisa bertahan bernapas dan berjalan tegak.

"Tempat ini... luar biasa kuat energinya," bisik Kanjeng Raden pelan. Matanya mengamati sekeliling dengan penuh kekaguman sekaligus rasa hormat. "Dibandingkan dengan tempat ini, wilayah gunung kami hanyalah bukit kecil biasa. Di sini lah sumber kekuatan panas bumi. Semua api, semua gunung berapi di seluruh dunia... semuanya berakar dari sini."

Nyi Blorong mengangguk pelan. Ia sebagai penguasa tanah dan air, sangat mengerti betapa penting dan berbahayanya tempat ini.

"Kalau tempat ini benar-benar rusak atau meledak... bukan cuma wilayah kita yang hancur, tapi separuh isi bumi ini bisa terbalik," ucapnya cemas.

Akhirnya, setelah berjalan cukup lama melewati jalanan berliku dan jembatan-jembatan batu tua yang rapuh, mereka sampai di sebuah ruangan luas di bagian paling dalam kawah. Ruangan itu sangat besar, langit-langitnya tinggi tak terlihat, diterangi cahaya merah menyala dari lava yang mengalir di parit-parit di sekeliling ruangan.

Dan di tengah ruangan itu, di atas singgasana batu raksasa yang terbuat dari batuan cair yang membeku, duduk sosok yang luar biasa besar dan mengerikan.

Itulah Raja Api Purba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!