NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Kesempatan dari Mawar yang Layu

Pukul 08.12 pagi.

Lucifer membuka mata. Gelap di kepalanya surut sedikit, meninggalkan hampa dan dengung. Demamnya surut, menyisakan tubuh yang terasa dipahat ulang dengan palu tumpul. Tenggorokannya kering seperti tanah kuburan.

Ia duduk. Kamar kerja membentang—dingin, sunyi, bau obat dan logam tua. Sofa kusut. Selimut tebal. Baskom air di meja, airnya sudah keruh.

Ingatan semalam retak seperti kaca beku. Ada tangan dingin di dahinya. Ada bisikan. Ada wajah. Florence? Mustahil. Demam tinggi pandai memahat hantu.

Tapi handuk itu basah lagi. Diganti diam-diam, berkali-kali. Reginald dan Marco tak punya sabar setenun itu. Tak punya hati setenang itu.

Ia berdiri. Dunia oleng sesaat. Gengsi langsung menjilat tulang. Lucifer Azrael. Demam sampai mengigau. Memohon nyawa lewat surat wasiat. Memalukan.

Di cermin kamar mandi, air dingin tak cukup menghapus kusut di wajahnya. Ia hidup. Sial. Ia hidup.

Ketukan pintu. Marco masuk, wajahnya seperti topeng retak.

“Tuan... Anda sudah bangun. Dr. Anya bilang Anda butuh—”

“Aku sehat,” potong Lucifer. Suaranya diasah es. Topeng Raja Neraka retak, tapi dipasang ulang. “Semalam... aku mengoceh apa?”

Marco menelan. Di belakang matanya, ingatan Bos mengigau nama Florence berputar seperti pisau. Tapi sumpah pada Florence lebih tajam.

“Tidak ada yang dengar, Tuan. Anda diam. Anda tidur.”

Bohong. Bau bohongnya menusuk. Tapi Lucifer tak mendesak. Ia takut mendengar kebenaran itu dengan telanjang.

“...Ada yang masuk ke sini semalam?”

Marco membeku.

“Eh... hanya saya dan Dr. Anya—”

Krek.

Sepotong kertas menyelinap dari bawah pintu. Tanpa nama. Tanpa suara. Hanya ada.

Darah Lucifer dingin. Ia tahu selipan itu. Ia kenal berat kertas yang ditulis dengan kebencian terkendali.

“Pergi,” katanya. Suara rendah, tak memberi ruang bantah.

Marco lenyap.

Lucifer berjongkok. Jari-jarinya—yang tak pernah gemetar saat membunuh—gemetar sekarang. Ia buka lipatan itu. Tulisan Florence. Kecil. Rapi. Seperti jahitan luka.

Aku baca suratmu.

Jantungnya berhenti.

Aku tidak mati. Jadi kamu juga tidak boleh.

Udara di paru-parunya hilang.

Demam tidak membunuh iblis. Tapi kalau kamu mati karena bodoh, semua yang kau tulis jadi bangkai.

Jadi hidup. Jaga dirimu. Karena aku belum selesai benci kamu.

Aku beri kamu satu kesempatan. Satu. Jangan rusak lagi.

Kalau rusak, aku yang akan tulis surat wasiatmu.

Florence.

Ia baca lagi. Dan lagi. Sampai tinta itu terasa membakar kulit. Kalimat Satu kesempatan menancap seperti duri.

Dari gadis yang ia hancurkan. Dari gadis yang seharusnya menusuknya dalam tidur.

Api di dadanya yang ingin membakar dunia tiba-tiba padam. Bukan mati. Hanya ditahan. Seperti napas sebelum eksekusi.

Surat itu diremasnya. Bukan untuk merobek, tapi untuk menahan agar tangannya tidak mencari pistol. Gengsinya terlalu tinggi untuk terima kasih. Lidahnya terlalu kering untuk maaf.

Ia melangkah ke meja, membuka laci paling bawah. Dingin logam menyambut. Pistol, pisau, dokumen rahasia disingkirkan dengan acuh. Dua kertas ia letakkan berdampingan: wasiat yang ditulis saat demam, dan balasan Florence yang menahannya dari jurang.

Laci dikunci. Bunyinya seperti peti mati ditutup.

---

Di kamar Florence. Waktu yang sama.

Florence duduk di tepi ranjang, mendengar langkah Marco, mendengar pintu kamar kerja Lucifer dibuka lalu ditutup. Tangannya dingin seperti batu nisan.

Ia benci dirinya karena semalam merawat iblis itu. Benci karena pagi ini ia memberi iblis itu tali. Benci karena sebagian dirinya yang paling busuk tak rela jika Lucifer mati konyol oleh demam.

Maaf tidak pernah lahir. Malam itu masih hidup di bawah kulitnya. Basah. Nyeri. Setiap kali ia pejam mata, ia kembali ke sana.

Tapi iblis itu mengigau namanya. Iblis itu menulis wasiat untuknya. Iblis itu takut mati bukan karena neraka, melainkan karena meninggalkannya telanjang di hadapan dunia.

Florence lelah. Lelah menjadi bangkai yang berjalan. Lelah menjadi bayangan yang hanya bisa membenci.

Satu kesempatan. Bukan untuk Lucifer. Untuk dirinya—melihat apakah iblis bisa belajar bernapas seperti manusia, atau ia harus menjadi algojo yang menulis wasiat dengan darah sungguhan.

Ia berdiri. Langkahnya tanpa suara ke meja rias. Cermin memantulkan wajah pucat, tulang pipi tajam, mata yang tidak lagi mati sepenuhnya.

Ketukan pintu. Pelan. Ragu. Seperti orang yang tak yakin masih punya hak mengetuk.

Hanya satu orang.

“...Masuk,” katanya. Suaranya tipis, tapi tajam seperti silet.

Pintu terbuka. Lucifer berdiri di ambang. Pucat. Kusut. Tanpa jas, tanpa topeng. Matanya tidak ada marah, tidak ada nafsu. Hanya hati-hati. Seperti pembunuh yang berjalan di atas kaca.

Florence tidak menoleh. Ia menatap bayangan Lucifer di kaca. Menatap monster yang belajar berpura-pura menjadi manusia.

Hening jatuh. Berat. Panjang. Seperti hitungan mundur.

“Aku...” Suara Lucifer serak, pecah. “...aku hidup. Sesuai perintahmu.”

Florence diam. Sudut bibirnya tidak bergerak naik. Tapi juga tidak mengeras menjadi benci. Ada tarikan tipis di sana—retak kecil di es.

Cukup. Untuk hari ini, retakan itu cukup.

Lucifer mengangguk pelan. Ia mundur satu langkah, lalu berbalik. Pergi tanpa mendekat. Karena kesempatan itu setipis bilah silet, dan ia tak mau mematahkannya dengan napasnya sendiri.

Pintu tertutup pelan.

Florence menghela napas. Panjang. Seperti napas terakhir sebelum menjatuhkan palu.

Ia berbisik pada pantulan dirinya sendiri.

“Satu kali, Florence. Satu kali saja. Kalau dia rusak lagi... kau yang kubur dia. Kau yang pastikan ia tidak bangkit lagi.”

Esnya belum cair. Tapi di atasnya, sekarang ada setapak jalan. Licin. Berdarah. Ada.

Dan untuk pertama kalinya, Florence mau mencoba berjalan di atasnya. Bukan lari. Bukan kabur. Jalan. Pelan-pelan, menuju sesuatu yang mungkin bukan maaf, tapi bukan lagi neraka.

---

1
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!