Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REGENERASI DAN AWAL YANG BARU
Satu tahun setelah peresmian Pusat Rehabilitasi, kehidupan di kediaman Dirgantara tidak pernah benar-benar sunyi. Jika dulu apartemen Devan menyerupai galeri seni yang steril dan kaku, kini tempat itu telah bertransformasi menjadi sebuah rumah yang "hidup". Ada sandal bulu berbentuk kelinci di dekat rak sepatu, tumpukan jurnal hukum di atas meja kopi, dan aroma esensial minyak lavender yang menenangkan.
Pagi itu, Devan berdiri di depan cermin besar di kamar mereka. Ia mengenakan kemeja biru muda, namun tangannya tampak sedikit gemetar saat mencoba mengancingkan bagian kerah. Sebuah pemandangan langka bagi seorang dokter bedah saraf yang biasanya memiliki kontrol motorik halus yang sempurna.
"Dok, sini aku bantuin. Dokter grogi ya?" suara Kania muncul dari arah belakang, memantul di cermin.
Kania tampak anggun dengan gaun hamil berwarna krem yang menonjolkan perutnya yang kini sudah memasuki bulan ketujuh. Ia mendekat, jemarinya yang lincah segera mengambil alih pekerjaan Devan.
"Saya tidak grogi, Kania. Saya hanya sedang melakukan kalkulasi mental mengenai risiko dan kesiapan operasional pusat rehabilitasi untuk audit hari ini," bantah Devan dengan gaya logisnya, meski matanya tidak bisa berbohong ia sedang sangat emosional.
Kania tertawa kecil, ia menangkup wajah Devan dan memaksanya menunduk agar mata mereka bertemu. "Dokter sayang, Dokter itu mau dapet penghargaan dari Prof. Gunawan hari ini. Bukan mau operasi tumor otak. Relax, tarik napas... buang."
Devan mengikuti instruksi istrinya, mengembuskan napas panjang yang seolah membuang seluruh beban di pundaknya. "Terima kasih. Kamu selalu tahu kapan detak jantung saya mulai melampaui batas normal."
"Itu namanya insting istri dokter bedah," canda Kania. "Ayo berangkat, nanti kita telat. Aku nggak mau debay di perut ini nunggu kelamaan di aula yang AC-nya dingin."
Acara di RS Medika Utama berlangsung sangat khidmat. Aula besar itu penuh sesak oleh kolega dokter, staf medis, hingga mantan pasien yang telah berhasil pulih. Di barisan depan, dr. Sarah duduk dengan tenang. Tidak ada lagi gurat kebencian di wajahnya; setelah melewati masa-masa sulit, ia akhirnya menemukan jalannya sendiri di departemen riset dan mulai menjalin hubungan baik dengan Kania.
Prof. Gunawan naik ke atas panggung dengan kursi rodanya, memegang sebuah plakat emas.
"Penghargaan ini tidak diberikan hanya karena kepintaran seseorang dalam memegang pisau bedah," ujar Prof. Gunawan, suaranya bergetar namun penuh wibawa. "Tapi karena keberaniannya untuk meruntuhkan tembok ego dan membangun jembatan bagi mereka yang tidak punya suara. Devan, kamu telah membuktikan bahwa seorang dokter terbaik adalah dia yang membiarkan hatinya ikut bekerja di meja operasi."
Devan naik ke panggung diiringi tepuk tangan riuh. Saat menerima plakat itu, ia tidak mencari kamera atau sorotan lampu, melainkan mencari mata cokelat Kania yang duduk di barisan depan. Kania memberikan jempol dan senyum lebar, matanya berkaca-kaca bangga.
Saat tiba waktunya memberikan sambutan, Devan berdiri di depan podium.
"Sepuluh tahun yang lalu, saya pikir kesuksesan adalah saat pasien saya bisa berjalan kembali tanpa cacat. Saya pikir perasaan adalah gangguan bagi efisiensi medis," Devan memulai dengan suara tenang. "Namun, seseorang datang ke hidup saya dan mengajari saya bahwa manusia bukan sekadar susunan saraf dan sinapsis. Manusia adalah harapan, tawa, dan cinta. Jika hari ini saya dianggap berhasil, itu karena ada 'anomali' indah yang tidak pernah berhenti berisik di telinga saya, mengingatkan saya untuk tetap menjadi manusia."
Kania menghapus air matanya yang jatuh, sementara Bianca di sampingnya sibuk merekam momen itu sambil sesenggukan.
Sore harinya, mereka tidak langsung pulang. Devan membawa Kania ke taman rumah sakit, tempat di mana mereka dulu sering berdebat dan tempat Devan melamarnya. Mereka duduk di bangku kayu yang sama, menikmati semilir angin sore.
"Dok, kepikiran nggak sih... nanti anak kita bakal kayak siapa?" tanya Kania sambil mengusap perutnya. "Semoga jangan kaku kayak Dokter ya, nanti kasihan temen-temennya kalau diajak bercanda malah dijawab pake teori biologi."
Devan tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Kania posisi favoritnya saat ingin melepas lelah. "Saya harap dia memiliki rasa ingin tahu yang besar seperti kamu. Dan keberanian untuk membela apa yang benar, meski harus berteriak di lobi rumah sakit."
"Ih, Dokter masih inget aja soal itu!"
"Itu adalah momen di mana saya tahu, saya tidak akan pernah bisa melepaskan kamu," bisik Devan.
Tiba-tiba, Kania meringis kecil sambil memegang perutnya. "Aduh..."
Devan langsung tegak, wajahnya berubah menjadi mode siaga satu. "Kania? Ada apa? Kontraksi? *Braxton Hicks* atau kontraksi asli? Kamu merasa ada cairan yang keluar?"
Kania tertawa terpingkal-pingkal melihat kepanikan suaminya. "Dokter! Ini dedeknya cuma nendang kenceng banget! Kayaknya dia setuju sama omongan Dokter barusan."
Devan mengembuskan napas lega, ia meletakkan telapak tangannya di perut Kania, merasakan gerakan kuat dari dalam sana. Sebuah koneksi yang tidak bisa dijelaskan oleh buku teks kedokteran manapun. Keajaiban hidup yang kini ia miliki sepenuhnya.
"Halo, jagoan. Ini Papa. Jangan terlalu nakal di dalam sana, Mama harus tetap efisien untuk istirahat," gumam Devan ke arah perut Kania.
"Tuh kan! Masih aja bawa-bawa kata efisien!" Kania tertawa.
Matahari terbenam di ufuk barat, memberikan warna keemasan pada dunia mereka. Antara dinginnya ruang operasi dan hangatnya cinta di rumah, Devan telah menemukan keseimbangan yang sempurna. Ia bukan lagi sang Dokter Es yang kesepian; ia adalah seorang suami, seorang calon ayah, dan seorang manusia yang utuh.
Petualangan mereka sebagai "Si Kaku dan Si Berisik" mungkin baru saja memasuki babak baru yang lebih menantang, namun satu hal yang pasti: ritme jantung mereka akan selalu berdetak dalam frekuensi yang sama, selamanya.