BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Suasana di peternakan siang itu terasa panas, bukan hanya karena terik matahari, tetapi juga karena kedatangan dua orang yang tidak pernah Aditya duga.
Seorang pekerja menghampirinya dengan wajah canggung. “Pak, ada tamu. Orang tua Mbak Lavanya.”
Aditya yang sedang memeriksa catatan langsung berhenti. Alisnya berkerut. “Di mana?”
“Mereka sudah ada di depan, Pak.”
Belum sempat ia bersiap, Pak Bagus dan Bu Dewi sudah berdiri di ambang pintu kantor kecil itu. Wajah mereka tegas, langkah mereka mantap. Lavanya berdiri sedikit di belakang, matanya langsung mencari Aditya, penuh harap sekaligus cemas.
Aditya memaksakan senyum. “Silakan masuk, Pak, Bu ....”
Tanpa ada basa-basi panjang, Pak Bagus langsung membuka suara. “Kami datang mau minta kejelasan.” Nada suara pria paruh baya itu datar, tapi tajam.
Aditya menarik napas pelan. “Tentang apa, ya, Pak?”
“Jangan pura-pura tidak tahu,” potong Bu Dewi. “Ini tentang hubungan kamu dengan anak kami.”
Aditya merasa ruangan itu mendadak terasa sempit.
Lavanya mendekat, tangannya dengan berani melingkar di lengan Aditya. “Mas …,” bisiknya pelan, tapi cukup terdengar.
Pak Bagus melanjutkan, “Ada keluarga yang melamar Lavanya. Bukan orang sembarangan dan akan memberi maskawin yang jumlahnya sangat besar.”
Aditya terdiam, rahangnya menegang. Sementara Lavanya, memasang muka cemberut.
“Tapi anak aku menolak,” sambung Bu Dewi, kini menatap Aditya lurus. “Katanya dia memilih kamu.”
Lavanya mengangguk cepat. “Aku cuma mau sama Mas Aditya, Yah.”
Kalimat itu seperti dorongan terakhir. Aditya mengusap tengkuknya sebentar, lalu berkata, “Pak … Bu, aku memang serius sama Lavanya.”
“Kalau begitu, kapan kamu menikahi Lavanya?” tanya Pak Bagus tanpa jeda.
Pertanyaan itu membuat Aditya terdiam beberapa detik. Ia menimbang, lalu akhirnya berkata, “Aku, memang berencana mau menceraikan istriku secepatnya, Pak.”
Bu Dewi langsung bereaksi. “Kenapa?”
Aditya menjawab singkat, seolah itu alasan yang paling wajar. “Karena dia mandul.”
Hening sejenak.
Pak Bagus mengangguk pelan, ekspresinya mulai berubah. Tidak lagi setegang sebelumnya.
“Kalian menikah sudah berapa lama?” tanya pria paruh baya itu penasaran.
“Lima tahun. Kita sudah melakukan berbagai pengobatan, tapi tidak ada perkembangan,” jawab Aditya cepat.
Lavanya menatap kedua orang tuanya dengan penuh harap, lalu menambahkan, “Aku juga sangat mencintai Mas Aditya, Yah ... Bu. Aku enggak mau sama orang lain.”
Bu Dewi menghela napas panjang. Dadanya naik turun perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ringan. Pandangannya bergeser pelan ke arah suaminya yang berdiri di sampingnya.
Pak Bagus tidak langsung bicara, tetapi sorot matanya bertemu dengan istrinya. Dalam diam, ada percakapan yang tak terucap lewat tatapan mereka. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dan perhitungan untuk masa mendatang.
Di hadapan mereka, peternakan itu membentang luas. Kandang-kandang berjajar rapi, suara ayam terdengar bersahut-sahutan. Beberapa pekerja hilir mudik membawa pakan, sementara di sisi lain, truk pengangkut terlihat terparkir menunggu muatan.
“Lumayan besar juga,” gumam Bu Dewi pelan, tapi cukup jelas.
Pak Bagus mengangguk kecil. Tatapannya menyapu sekeliling, tidak melewatkan detail sekecil apa pun. “Bukan cuma besar. Jalan terus usahanya.”
Matanya kemudian berhenti pada sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari kantor kecil di ujung sana. Catnya mengilap, terlihat baru.
“Itu mobilnya Aditya?” tanya Bu Dewi, sedikit mencondongkan kepala.
“Iya, Bu,” sahut Lavanya cepat dari samping mereka. Wajahnya tampak berbinar, seolah bangga. “Mas Aditya yang beli tahun lalu. Dari hasil usaha ini juga.”
Bu Dewi mengangguk pelan. Bibirnya mengerucut tipis, lalu ia melirik lagi ke arah suaminya. Kali ini lebih lama. Ada kilatan yang berbeda di matanya. “Kalau usahanya seperti ini,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, “masa depan Lavanya seharusnya aman.”
Pak Bagus tidak langsung menjawab. Ia menyilangkan tangan di dada, masih mengamati sekitar. Rahangnya sedikit mengeras, tanda pikirannya sedang bekerja.
“Yang penting jelas dulu statusnya,” balasnya akhirnya, suaranya rendah tapi tegas.
Lavanya yang berdiri di dekat mereka langsung menatap penuh harap. “Makanya aku bilang ke Ayah sama Ibu, kalau Mas Aditya serius sama aku.” Nada suaranya terdengar yakin.
Bu Dewi tersenyum tipis, tapi bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum seseorang yang mulai melihat peluang. “Kalau memang serius,” ucapnya pelan, “ya, harus ada kejelasan.”
Lavanya mengangguk cepat. “Ada, Bu. Mas Aditya cuma lagi cari waktu yang tepat.”
Pak Bagus menatap Aditya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu tampak berbicara dengan salah satu pekerja, tapi sesekali melirik ke arah mereka.
“Waktu yang tepat,” ulang Pak Bagus pelan, seolah menguji kalimat itu.
Bu Dewi mendekat sedikit ke suaminya. “Yang penting, kita enggak salah pilih,” bisiknya.
Pak Bagus menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil.
Di mata mereka, semua terlihat jelas. Peternakan ayam yang luas. Usaha yang berjalan lancar. Aset yang tampak nyata. Lalu, seorang pria yang terlihat mapan dan mencintai putrinya. Semuanya tampak menjanjikan.
Tanpa mereka sadari, apa yang mereka lihat hanyalah permukaan. Karena di balik semua itu, ada satu kebenaran yang belum mereka ketahui sama sekali, bahwa semua yang mereka nilai, hitung, dan harapkan bukan benar-benar milik Aditya.
Pak Bagus akhirnya berdeham pelan. “Kalau memang begitu …” Ia menatap Aditya lebih dalam. “Kamu selesaikan dulu urusanmu. Cerai dengan baik.”
Bu Dewi mengangguk setuju. “Jangan sampai berlarut-larut. Kalau memang dia tidak bisa kasih keturunan, ya, sudah tidak perlu dipertahankan.”
Lavanya langsung tersenyum lega. Tangannya semakin erat menggenggam lengan Aditya.
“Aku tunggu ya, Mas,” ucap Lavanya manja.
Aditya mengangguk, meski di dalam hatinya ada kegelisahan yang tidak ia tunjukkan. “Iya, sebentar lagi selesai.”
Pak Bagus menepuk bahu Aditya pelan. “Kami percaya kamu bisa bertanggung jawab.”
Kepercayaan itu terasa berat. Namun, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena ia tahu semua ini dibangun di atas kebohongan yang belum terungkap.
Di sisi lain, Lavanya tersenyum puas. Dalam bayangannya, masa depan sudah terlihat jelas hidup nyaman, harta melimpah, dan Aditya sepenuhnya menjadi miliknya.
Sementara itu di tempat lain, seorang perempuan yang selama ini mereka anggap tidak berharga sedang bersiap merebut kembali semuanya. Dengan cara yang tidak akan mereka duga.
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus