NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketertiban di Atas Segalanya

...Chapter 6...

“Kau marah, anak muda. Dan marah adalah penasihat yang buruk,” balasnya, matanya yang tua namun jernih menatap Huan Zheng tanpa kedip. 

Huan Zheng mendengus, dadanya masih naik turun karena sisa-sisa racun dan amarah yang tak kunjung reda. 

“Kau tidak tahu apa yang terjadi di antara kami, pangeran. Dia—” 

Ia menunjuk Ling Xu dengan ujung jari yang masih bergetar.

“... Telah mempermainkanku. Menyiksaku dengan racun. Menjadikanku budaknya.” 

Ling Xu, yang kini berdiri di samping Pangeran Whou Ming dengan wajah masih pucat namun mulai memulihkan ketenangannya, menyela, 

“Bawahannya. Bukan budaknya. Ada perbedaan.” 

Huan Zheng hampir meludah mendengar kata itu.

“Perbedaan? Bagi seorang dewi yang ibunya digilir, mungkin kau benar—tapi bagiku, tidak ada bedanya!”

Pangeran Whou Ming mengangkat tangan, gerakan yang pelan tapi entah mengapa terasa seperti perintah yang tak bisa dibantah. 

“Cukup. Aku tidak tertarik pada pertengkaran siapa yang lebih tersakiti.”

Ia menoleh ke arah Ling Xu, lalu ke arah Huan Zheng, matanya bergerak seperti pendulum yang menimbang dua sisi timbangan. 

“Nona Ling Xu, kau mengaku dia bawahannya?” 

Ling Xu mengangguk, sedikit ragu tapi tetap tegas. 

“Ya. Dia Huan Zheng, mantan pejuang dari umat manusia—sekarang bawahanku.” 

Pangeran Whou Ming mengangguk pelan, lalu menatap Huan Zheng dengan senyum yang tidak bisa dibaca.

Bukan mengejek, bukan pula bersimpati, melainkan seperti seorang guru yang sedang mengamati murid nakal yang menarik namun merepotkan. 

“Dan kau, Huan Zheng, apakah kau mengakui hal itu?”

Huan Zheng terdiam. 

Urat-urat di pelipisnya menonjol, mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali, seperti ikan yang kehabisan air. 

“Aku... terpaksa,” jawabnya akhirnya, suaranya serak seperti pecahan kaca yang digesekkan. 

“Tapi itu bukan karena aku mengakuinya—itu karena racun sialan itu—” 

“Cukup,” potong Pangeran Whou Ming lagi, kali ini lebih tegas. 

“Aku tidak butuh detail. Yang aku butuhkan adalah ketertiban di perkemahanku. Dan kalian berdua, dengan racun dan kebencian kalian, mengganggu ketertiban itu.”

Ling Xu, yang sejak tadi diam dan memperhatikan, tiba-tiba mengambil langkah maju. 

Ia menundukkan kepalanya—gerakan yang tidak biasa baginya, karena ia lebih terbiasa menunduk untuk meracik herbal daripada untuk meminta maaf. 

“Pangeran Whou Ming,” ucapnya, suaranya pelan tapi jelas.

“Aku meminta maaf atas ketidaksopanan bawahanku. Dia memang kasar, dan aku akan mengurusnya nanti.”

Ia melirik Huan Zheng sekilas, dengan tatapan yang bisa dibaca jelas.

‘Diam kau, atau racun itu akan aktif lagi.’

Huan Zheng menggertakkan gigi, tapi tidak berkata apa-apa. 

Pangeran Whou Ming tertawa kecil—tawa yang hangat tapi tetap menyimpan jarak, seperti api unggun yang tidak ingin didekati terlalu dekat. 

“Nona Ling Xu, kau menarik. Seorang dewi yang meminta maaf untuk manusia—di dunia setelah Pertentangan Harmoni, itu pemandangan langka.” 

Ia menghela napas, lalu tangannya bergerak menyapu udara, menunjuk ke arah perkemahan di belakang mereka yang mulai dipenuhi lampu-lampu minyak. 

“Hari sudah senja. Udara mulai dingin. Dan perutku mulai keroncongan.” 

Ia menatap Ling Xu, lalu Huan Zheng, lalu tersenyum—senyum yang seolah mengundang sekaligus memerintah. 

“Bagaimana jika kalian berdua makan bersamaku sore ini? Aku penasaran dengan cerita kalian.”

Hoooh!

Hari-hari di Perkemahan Xuelan berlalu seperti air keruh yang mengalir pelan—tak terasa tapi meninggalkan endapan kotor di setiap sudut. 

Ling Xu, dengan rambut putih bercorak warna yang kini selalu ia ikat rapat-rapat untuk menghindari tatapan curiga, telah belajar membaca peta angkasa, mencatat jadwal pergantian penjaga, dan yang terpenting.

Mengunjungi Paviliun Kitab setiap malam, berpura-pura ingin mempelajari sejarah herbal, padahal jari-jarinya diam-diam menyalin rute pelarian ke serat bambu yang ia sembunyikan di balik balutan dadanya. 

“Kita harus pergi sebelum bulan purnama berikutnya,” ucapnya suatu malam pada Huan Zheng yang terbaring malas di atas tumpukan jerami kering di sudut tenda mereka, matanya setengah terpejam seperti kucing yang terlalu kenyang untuk peduli pada apa pun. 

“Aku sudah menemukan celah di barat laut—penjaga berganti setiap jam kelima, dan di sanalah pagar energi paling lemah.” 

Huan Zheng mendengus, tidak bergeming. 

“Kau bicara padaku seolah aku peduli,” jawabnya, suaranya malas dan sedikit mengejek, “lari, jangan lari, terserah. Tapi ingat, jika kau mati di jalan, racunku ikut mati—dan itu satu-satunya alasan aku masih di sini.” 

Ling Xu mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak menjentikkan jari dan mengaktifkan racun itu lagi. 

“Dasar manusia tidak tahu terima kasih,” desisnya, lalu berbalik melanjutkan goresan peta di atas bambu, karena ia tahu—meski Huan Zheng pura-pura malas, pria itu tidak akan membiarkannya mati. 

Setidaknya selama racun itu masih mengikat mereka.

Namun alasan sebenarnya Ling Xu ingin kabur bukanlah karena ia tidak betah, melainkan karena ia mulai melihat. 

Malam pertama di tenda makan Pangeran Whou Ming, ia masih berpikir pria tua itu hanya ramah—senyumnya hangat, tehnya harum, dan cerita-ceritanya tentang masa lalu terasa seperti selimut di malam dingin. 

Tapi malam ketiga, ketika Whou Ming mengundangnya sendirian tanpa Huan Zheng, Ling Xu mulai merasakan sesuatu yang ganjil: tatapan pria itu tidak lagi seperti pangeran tua yang bijaksana, melainkan seperti pedagang yang sedang menaksir barang dagangan. 

“Rambutmu indah, Nona Ling Xu,” ucap Whou Ming suatu malam, jarinya hampir menyentuh untaian rambut putih itu sebelum Ling Xu mundur selangkah, “urat-urat warnanya... seperti sungai yang menceritakan seribu kisah.” 

Ling Xu tersenyum kaku, berterima kasih, lalu buru-buru pamit.

Dan di Paviliun Kitab, di sela-sela menyalin peta, ia menemukan lembaran-lembaran tua yang tidak sengaja terselip di antara jilid sejarah perkemahan.

Catatan tentang puluhan—hampir seratus—gadis kultivator yang datang ke Perkemahan Xuelan dan tidak pernah kembali.

“Mereka dipekerjakan sebagai pelayan istana,” tulis salah satu catatan dengan tinta yang sudah pudar, “namun tak satu pun dari mereka yang masih memiliki Lintang Kemahaesaan ketika keluar. Atau... mereka tidak pernah keluar.” 

Ling Xu merinding.

Ia tiba-tiba ingat para wanita berwajah kosong yang ia lihat di lorong-lorong belakang tenda utama—senyum mereka terlalu lebar, mata mereka terlalu hampa, dan mereka semua memakai gelang batu giok yang sama. 

Gelang yang identik dengan lambang Perkemahan Xuelan.

Dan malam itu juga, Ling Xu mengumpulkan keberanian untuk menguntit. Ia menyelinap di balik tirai tenda utama, menahan napas, dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. 

Pangeran Whou Ming, dengan tangan yang sama anggunnya saat menuang teh, meraih pergelangan seorang gadis muda—kultivator tingkat Lintang Bawah, baru berusia sembilan belas tahun—lalu merampas sesuatu dari dadanya. 

Bukan Lintang Kemanusiaan, karena gadis itu jelas memegang Lintang Kemahaesaan—cahaya putih kebiruan yang keluar dari dadanya seperti nyawa yang dicabut paksa. 

“Jangan takut, sayang,” bisik Whou Ming, suaranya masih lembut, masih hangat, “ini hanya akan terasa sakit sebentar. Setelah itu, kau akan bahagia. Kau akan menjadi milikku selamanya.” 

Gadis itu menjerit pelan, lalu tubuhnya lemas, matanya berubah menjadi kosong, dan Whou Ming—dengan napas yang mulai memburu—mulai menikmati “kesucian” yang baru saja ia rampas, tepat di atas tubuh tak berdaya itu. 

Ling Xu mundur, perlahan, selangkah demi selangkah, dengan tangan menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit. 

Ia teringat ibunya. 

Ia teringat digilir. 

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa marah—ia merasa jijik yang membekukan sumsum tulangnya.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!