“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pertemuan Dua Iblis di Bawah Langit Merah
Hutan Larangan Tulang Putih bergetar hebat, seolah-olah fondasi bumi di bawahnya sedang dipelintir oleh tangan raksasa yang tak terlihat.
Udara yang biasanya dipenuhi kabut beracun yang menyesakkan kini tersedot paksa ke satu titik pusat, menciptakan pusaran angin hitam yang melolong dahsyat, menghancurkan pepohonan purba dan meremukkan bebatuan di sekelilingnya.
Di tengah pusaran itu, Lu Ming duduk bersila dengan ketenangan yang ganjil. Wajahnya yang pucat kini dialiri garis-garis Qi berwarna merah pekat yang berdenyut di permukaan kulitnya, menyerupai pembuluh darah yang baru saja meledak.
Ini adalah momen transisi yang paling berbahaya: Ranah Ketiga, Pembentukan Inti.
Biasanya, seorang kultivator membutuhkan ketenangan batin yang absolut dan harmoni dengan alam untuk memadatkan energi mereka.
Namun Lu Ming telah membuang harmoni itu ke dalam sungai darah di Ibukota.
Ia memadatkan intinya menggunakan bahan bakar yang berbeda, rasa sakit yang mengkristal, pengkhianatan yang membeku, dan kegilaan yang ia peluk sebagai satu-satunya kawan.
"Padatlah..." bisik Lu Ming.
Suaranya lembut, namun bergema seperti guntur yang terperangkap dalam botol. Kata itu memicu ledakan energi yang menyapu radius satu mil, meratakan segala sesuatu yang masih berdiri.
BUM!
Tanah merekah dalam pola retakan yang menyerupai bunga lili yang mekar.
Di dalam tubuh Lu Ming, kristal energi berwarna merah darah terbentuk sempurna, berputar dengan kecepatan cahaya di pusat Dantian-nya.
Ia membuka mata. Pupil matanya kini tidak lagi sekadar hitam; ada lingkaran emas tipis di tengah kegelapan pekat itu, tanda dari sebuah inti yang terbentuk dari penderitaan murni.
Indra barunya segera menangkap sesuatu yang mengusik penciumannya. Bau besi yang sangat tajam, bau darah segar yang jumlahnya ratusan, tercium dari arah lembah di balik hutan.
Lu Ming melangkah atau lebih tepatnya, tubuhnya berpindah tempat secepat bayangan yang ditarik cahaya.
Di sebuah desa besar yang kini telah berubah menjadi lautan api dan reruntuhan, ia menemukan pemandangan yang sangat akrab.
Seorang pria berambut putih berdiri tegak di atas tumpukan mayat para tetua sekte yang baru saja ia bantai.
Di tangannya, ia menggenggam pedang besi besar milik Paman Han, pedang yang kini memancarkan aura hitam yang begitu pekat hingga mampu melayukan rumput di sekelilingnya.
Itu adalah Liu Shen, sang "Pedang si Pembantai".
Liu Shen baru saja menebas kepala seorang prajurit terakhir ketika ia merasakan kehadiran seseorang.
Ia berbalik dengan gerakan predator, pedangnya terangkat siap membelah siapa pun.
Namun, saat matanya bertemu dengan sosok yang berdiri sepuluh langkah di depannya, tangan Liu Shen yang tak pernah gemetar itu tiba-tiba tersentak.
"Lu... Ming?" suara Liu Shen serak, seperti gesekan dua batu tajam di dasar jurang.
Lu Ming tersenyum. Senyum yang sangat sopan, sangat lembut, namun sangat mengerikan di tengah ladang pembantaian itu.
Ia membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah mereka sedang bertemu di kedai teh sepuluh tahun yang lalu.
"Selamat malam, Saudaraku," ucap Lu Ming merdu. "Lama tidak berjumpa. Aku melihat kau telah menjaga pedang Paman Han dengan sangat baik. Kau memberikan pedang itu banyak 'minuman' merah, ya? Warnanya jauh lebih cantik sekarang."
Liu Shen terpaku. Ia melihat kegilaan yang sama di mata Lu Ming, namun jenis yang berbeda.
Jika Liu Shen adalah api yang membakar segalanya hingga menjadi abu, maka Lu Ming adalah es abadi yang membekukan jiwa sebelum sempat berteriak.