Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Di paviliun sebelah, Tetua Zhao yang masih memiliki trauma dengan jenggotnya yang hangus juga mengalami nasib yang tidak kalah tragis. Dia sedang meminum teh spiritual penenang jiwa ketika asap tebal itu menyusup masuk melalui celah ventilasi atap kamarnya.
Hawa pedas itu membuat Tetua Zhao bersin dengan sangat keras, menyemburkan teh panas dari mulutnya hingga mengenai lukisan leluhur di dinding. Dia langsung melompat berdiri, menarik pedang api besarnya dari sarung dengan wajah yang dipenuhi oleh urat-urat kemarahan.
"Ada penyusup yang menggunakan kabut beracun tingkat kaisar untuk membantai kita!" aum Tetua Zhao dengan suara yang menggetarkan seluruh paviliun. Dia mendobrak pintu kamarnya hingga hancur berkeping-keping, berlari keluar menuju halaman utama dengan pedang yang berkobar terang.
Di saat bersamaan, puluhan tetua lainnya juga berhamburan keluar dari paviliun masing-masing dengan kondisi yang sangat menyedihkan dan kacau balau. Para kultivator ranah Inti Emas dan Jiwa Baru Lahir itu saling bertabrakan di halaman, terbatuk-batuk memegangi hidung mereka seperti manusia biasa.
Mereka tidak bisa menggunakan energi spiritual untuk mengusir asap itu karena lada fana sama sekali tidak bereaksi terhadap sihir angin tingkat tinggi. Semakin kuat mereka mengibaskan jubah untuk meniup asap, semakin pedas udara di sekitar mereka karena partikel bumbu itu beterbangan liar.
Kekacauan di halaman paviliun elit itu akhirnya terhenti ketika sebuah tekanan spiritual yang luar biasa berat turun dari langit-langit malam. Kepala Sekte Teratai Angin, seorang pria paruh baya dengan aura setajam pedang, mendarat di tengah-tengah halaman dengan jubah emas yang berkibar.
Wajah Kepala Sekte terlihat sangat tegang dan serius, alisnya berkerut rapat membentuk huruf 'V' yang dalam di tengah dahinya. Matanya yang memancarkan cahaya keemasan menatap tajam ke arah sumber asap yang berasal dari lereng gunung terpencil.
"Semuanya tenang! Simpan senjata kalian sekarang juga!" perintah Kepala Sekte dengan suara menggelegar yang langsung meredam suara batuk para tetua. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memaksa energi alam di sekitarnya untuk membentuk sebuah kubah pelindung sementara.
Para tetua langsung menelan ludah dengan susah payah, memasukkan kembali senjata mereka ke dalam sarung meski mata mereka masih berair perih. Mereka menatap Kepala Sekte dengan pandangan penuh tanda tanya, menunggu penjelasan atas fenomena serangan mematikan yang sedang mereka alami ini.
Kepala Sekte memejamkan matanya sejenak, mengendus udara berasap itu dengan teknik pernapasan rahasia peninggalan leluhur sekte. Ekspresi wajahnya perlahan berubah dari ketegangan tingkat tinggi menjadi sebuah raut keterkejutan yang bercampur dengan kekaguman luar biasa.
"Ini bukan racun dari sekte iblis, ini adalah kabut fenomena alam yang tercipta dari proses penyatuan pil surgawi tingkat sembilan!" seru Kepala Sekte dengan bibir bergetar. Dia membuka matanya lebar-lebar, menatap para tetuanya dengan pandangan takjub seolah baru saja menemukan harta karun penakluk dunia.
Kesalahpahaman konyol itu langsung mengubah atmosfer di halaman tersebut dari medan perang yang menegangkan menjadi sebuah upacara penyambutan dewa. Tetua Lin dan Tetua Zhao saling berpandangan, mulut mereka terbuka lebar tidak percaya dengan analisis dari atasan tertinggi mereka.
"Pil surgawi tingkat sembilan? Apakah ada seorang alkemis legendaris yang diam-diam meminjam energi gunung kita untuk menempa obat keabadian?" tanya Tetua Zhao dengan napas tertahan. Tangan tuanya bergetar hebat karena rasa haru, melupakan sepenuhnya rasa perih di hidung dan matanya akibat asap lada.
"Aroma pedas yang menusuk jiwa ini pastilah berasal dari herbal naga api yang sedang bereaksi dengan inti bumi murni," tambah Tetua Lin sok tahu. Dia mengusap janggut putihnya dengan bangga, merasa dirinya telah berhasil mengidentifikasi bahan pembuat pil fiktif tersebut dengan sangat akurat.
Kepala Sekte mengangguk pelan dengan penuh wibawa, mengiyakan semua teori tidak berdasar yang dilontarkan oleh para bawahannya yang bodoh. Dia merapikan jubah emasnya dengan gerakan cepat, wajahnya kini dipenuhi oleh ambisi untuk merekrut alkemis hebat itu ke dalam sektenya.
"Siapkan formasi penyambutan tertinggi! Kita akan pergi ke sana dan memberikan penghormatan langsung kepada senior alkemis agung tersebut," perintah Kepala Sekte tegas. Dia langsung memanggil pedang terbang emasnya, melompat naik ke atas bilah pedang itu dengan postur yang sangat gagah dan elegan.
Mendengar perintah itu, puluhan tetua lainnya langsung melompat ke atas senjata terbang mereka masing-masing dengan semangat yang membara. Langit malam sekte yang tadinya gelap kini dipenuhi oleh kilatan cahaya pedang berwarna-warni yang melesat bersamaan seperti hujan meteor.
Sementara rombongan elit sekte itu terbang membelah badai asap lada dengan penuh rasa hormat, target tujuan mereka justru sedang bersikap sangat menjijikkan. Li Zhen sedang duduk mengangkang di depan perapiannya, merobek daging paha ayam dengan giginya secara buas layaknya predator kanibal.
Minyak dan lemak dari ayam spiritual itu menetes mengotori dagu dan lehernya, namun dia sama sekali tidak peduli dengan kebersihan dirinya. Suara kunyahannya yang keras dan berdecak bergema memenuhi gubuk reyot itu, menunjukkan betapa rakusnya pemuda bertubuh kurus tersebut.
"Rasa daging ayam pelangi ini benar-benar tidak bisa diremehkan, kelembutannya meleleh di lidah seperti mentega kualitas premium," puji Li Zhen di sela-sela kunyahannya. Dia menelan daging itu dengan susah payah, lalu buru-buru menyambar potongan dada ayam yang ukurannya lebih besar dari wajahnya sendiri.
Anjing Petir Ekor Tiga yang masih menjaga di luar gubuk menatap punggung Li Zhen dengan tatapan melas dari balik sisa pintu kayu. Hewan buas itu menelan air liurnya berkali-kali hingga terdengar suara tegukan kasar, perutnya ikut berbunyi pelan karena tergoda oleh aroma daging panggang.
Li Zhen melirik ke belakang dari bahunya, melihat raut wajah menyedihkan dari monster raksasa penakluk petir tersebut dengan tatapan dingin. Dia meraih sebuah tulang paha ayam yang sudah dia bersihkan dagingnya hingga tidak tersisa sedikit pun serat yang menempel.
"Berhenti menatapku seperti anjing jalanan yang belum makan seminggu, kau mengganggu ritme kunyahanku yang sedang sempurna," bentak Li Zhen sambil melempar tulang itu. Tulang ayam raksasa itu melayang dan tepat mengenai moncong Anjing Petir Ekor Tiga dengan suara benturan yang lumayan keras.
Anjing itu langsung menangkap tulang kosong tersebut dengan rahangnya, lalu mulai mengunyahnya di pojokan dengan penuh rasa syukur yang menyedihkan. Binatang tingkat lima itu tidak berani meminta lebih, merasa beruntung karena majikan iblisnya masih mengingat keberadaannya malam ini.
Sistem di kepala Li Zhen kembali berdenting dengan intensitas yang lebih cepat dan bising, layar birunya hampir menutupi seluruh pandangan matanya. Poin Sampah terus mengalir masuk dalam jumlah belasan ribu seiring dengan semakin menyebarnya rumor tentang 'alkemis dewa' di kalangan elit sekte.
[Ting! Target Kepala Sekte mengalami delusi tingkat tinggi. Mendapatkan +5.000 Poin Sampah.]
[Ting! Target massal Tetua Sekte terjebak dalam kesalahpahaman akut. Mendapatkan +20.000 Poin Sampah.]
Li Zhen berhenti mengunyah, matanya membelalak lebar melihat deretan angka nol yang terus bertambah di saldo poinnya dengan sangat gila. Dia meletakkan potongan dagingnya kembali ke atas daun pisang, mengusap dagunya yang berminyak dengan ekspresi sangat kebingungan.
"Kepala Sekte delusi? Kesalahpahaman akut? Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh orang-orang tua kurang kerjaan di luar sana?" gumam Li Zhen heran. Dia menggelengkan kepalanya pelan, memutuskan bahwa memikirkan logika orang-orang di dunia ini hanya akan membuat sel otaknya mati lebih cepat.
Dia kembali melanjutkan aktivitas makannya dengan lebih agresif, bertekad untuk menghabiskan setidaknya satu ekor ayam raksasa itu sendirian malam ini. Perutnya perlahan mulai membuncit kencang, memberikan rasa kantuk yang sangat berat menyerang kedua kelopak matanya yang sudah lelah.
Setelah menghabiskan separuh ayam tersebut, Li Zhen akhirnya menyerah dan melempar sisa kerangkanya ke arah halaman dengan napas terengah-engah. Dia mengusap perutnya yang kekenyangan, bersendawa dengan sangat keras dan panjang hingga suaranya mengalahkan dengkuran anjing di luar gubuk.
"Makan malam yang luar biasa, sekarang saatnya aku memejamkan mata dan melupakan fakta bahwa aku hidup di gubuk bobrok ini," ucapnya sambil menguap lebar. Tanpa membersihkan minyak di tangan dan mulutnya, Li Zhen langsung merebahkan dirinya di atas ranjang kayu keras yang selalu berderit menyedihkan itu.
Dia menarik jubah compang-campingnya untuk menutupi tubuhnya dari udara malam yang semakin dingin menusuk tulang. Mata Li Zhen perlahan terpejam rapat, dengkuran halusnya mulai terdengar seirama dengan detak jantungnya yang kini jauh lebih tenang.
Sementara pemuda bermulut sampah itu terlelap dengan sangat damai, rombongan elit sekte yang dipimpin oleh Kepala Sekte akhirnya tiba di area lereng gunung. Puluhan pedang terbang emas melayang di udara, memancarkan cahaya terang yang langsung menyinari gubuk reyot Li Zhen layaknya siang hari.
Kepala Sekte berdiri tegak di atas pedangnya, matanya menatap gubuk yang terlihat seperti kandang hewan terabaikan itu dengan penuh rasa hormat yang mendalam. Dia merapikan jubahnya sekali lagi, lalu memberi isyarat kepada puluhan tetua di belakangnya untuk turun dan mendarat di halaman dengan sangat hati-hati.
Anjing Petir Ekor Tiga yang sedang sibuk mengunyah tulang langsung menghentikan aktivitasnya saat melihat kedatangan puluhan aura mematikan. Monster itu melompat berdiri, bulu-bulunya langsung berdiri tegak sementara percikan api petir biru mulai menjalar di sekitar ketiga ekornya sebagai bentuk pertahanan.
Namun, sebelum anjing buas itu sempat mengaum, Kepala Sekte langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan kepada hewan tersebut. "Bahkan monster penjaga kelas atas rela menjadi penjaga pintu gubuk alkemis agung ini, sungguh tingkat kultivasi yang tidak bisa diukur oleh akal sehat," bisik Kepala Sekte takjub.
Para tetua lainnya ikut menundukkan kepala, tidak berani bernapas terlalu keras karena takut mengganggu konsentrasi sang senior yang ada di dalam gubuk. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa aroma 'pil surgawi' yang mereka cium sebenarnya hanyalah bau sisa pembakaran lada fana dan lemak ayam.
Malam itu, seluruh elit Sekte Teratai Angin berdiri mematung di halaman gubuk reyot yang dingin selama berjam-jam tanpa berani bergerak sedikit pun. Sementara di dalam sana, pelaku utama pembuat kekacauan benua itu hanya berguling mengigau tentang betapa buruknya kualitas layanan kamar di dunia persilatan ini.