NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Erlan duduk di lantai ruang tamu, bersandar santai pada sisi sofa, sementara pandangannya sepenuhnya tertuju pada Kirana yang sedang bermain di atas karpet tebal. Bayi kecil itu tampak begitu ceria, tangannya sibuk meraih mainan yang tersebar di sekelilingnya. Sesekali ia tertawa kecil, suara polos yang entah bagaimana mampu melunakkan suasana yang sebenarnya penuh ketegangan.

Setiap kali Kirana mulai merangkak menjauh, tangan Erlan dengan sigap menjulur, menariknya kembali mendekat tanpa terlihat tergesa.

“Tidak boleh jauh,” ucapnya pelan.

Kirana menoleh, matanya berbinar, lalu kembali tertawa seolah memahami perhatian itu.

Di sudut ruangan, Rama berdiri dengan wajah datar, tetapi jelas menyimpan kelelahan. Barusan saja ia menerima omelan panjang dari para eksekutif perusahaan karena rapat penting dibatalkan mendadak. Dan penyebabnya tidak lain adalah pria yang kini duduk santai di lantai itu.

“Pak,” kata Rama akhirnya, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang, “para direksi tidak senang.”

Erlan bahkan tidak menoleh. “Mereka masih bisa bernapas?”

Rama terdiam sejenak. “Masih.”

“Berarti tidak ada masalah.”

Jawaban itu begitu ringan, seolah dunia bisnis tidak lebih penting dari mainan di tangan Kirana.

Adi yang berdiri di dekat meja memilih tidak ikut campur. Ia melangkah mendekati Linda yang duduk dengan posisi kaku di sofa, lalu menyerahkan sebuah tablet.

“Bu Linda, ini beberapa pilihan rumah yang sudah kami siapkan,” ujarnya sopan.

Linda menerima tablet itu dengan ragu. Saat layar menyala, deretan rumah dengan desain mewah langsung terlihat. Halaman luas, interior elegan, dan fasilitas lengkap membuat semuanya tampak seperti tempat tinggal impian.

“Ini… semua untuk kami?” tanyanya pelan.

Adi mengangguk. “Pak Erlan ingin memastikan Ibu dan Kirana tinggal dengan nyaman.”

Linda mulai menggeser layar, satu per satu gambar rumah berganti. Namun alih-alih merasa terbantu, ekspresinya justru semakin bingung.

“Semuanya bagus…” gumamnya.

Erlan akhirnya menoleh sekilas. “Kalau begitu pilih satu.”

Linda menggeleng perlahan. “Saya tidak tahu harus pilih yang mana.”

Erlan menghela napas pelan, lalu bangkit. Ia berjalan mendekat, mengambil tablet dari tangan Linda tanpa banyak bicara, lalu berjongkok di depan Kirana.

“Kalau begitu biar dia yang pilih.”

Linda mengernyit. “Apa?”

Erlan tidak menjawab. Ia mulai menampilkan foto pertama di depan Kirana.

Bayi itu menatap layar dengan rasa penasaran.

Foto kedua muncul.

Kirana masih diam.

Namun saat foto ketiga muncul, tangan kecil Kirana langsung terangkat dan menyentuh layar.

Ruangan seketika hening.

Erlan berdiri kembali. “Yang ini.”

Rama mengangkat alis. “Pak, serius?”

Erlan menyerahkan tablet itu pada Adi. “Beli.”

Rama melangkah mendekat, menatap layar sebentar, lalu menghela napas. “Harga rumah ini cukup tinggi.”

Erlan kembali duduk di lantai, seolah itu bukan masalah sama sekali. “Itu pilihan putri saya.”

Nada suaranya datar, tetapi tidak memberi ruang untuk penolakan.

Rama hanya bisa mengangguk. “Baik, saya akan hubungi pemiliknya.”

Sementara itu, Linda tetap diam. Tatapannya tertuju pada lantai, pikirannya jelas bergejolak.

“Pak Erlan…” ucapnya pelan.

Erlan menoleh. “Ya?”

“Saya tidak merasa nyaman.”

“Dengan rumah itu?”

Linda menggeleng. “Dengan situasinya.”

Erlan menatapnya beberapa saat, lalu berkata tenang, “Jangan pikir ini cara saya memaksa.”

Linda menahan napas.

“Saya hanya ingin Kirana berada di tempat yang aman,” lanjutnya. “Itu saja.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Masalah perasaanmu… bisa dipikirkan nanti.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Linda terdiam lebih lama.

Tak jauh dari sana, Rama menutup panggilan teleponnya.

“Pemilik rumah setuju. Besok kita bisa menempatinya,” lapornya.

Erlan mengangguk singkat. “Bagus.”

Beberapa detik hening berlalu sebelum Erlan kembali bicara.

“Saya akan menginap malam ini.”

Linda langsung menoleh. “Apa?”

“Saya ingin bersama Kirana.”

Linda tampak ragu. Ia lalu berdiri dan mendekati Anita.

“Anita…” bisiknya, “apa dia boleh menginap?”

Anita mengangkat bahu santai. “Boleh saja. Tapi kasurmu sempit.”

Linda menatapnya.

“Kalau bertiga dengan Kirana, sepertinya tidak muat,” lanjut Anita tanpa beban.

Linda langsung menutup mulut Anita.

“Cukup,” bisiknya cepat.

Anita tertawa kecil saat Linda melepaskan tangannya.

“Kalau begitu saya tidur dengan Anita saja,” kata Linda buru-buru.

Erlan menyipitkan mata, tetapi tidak berkomentar.

Ia justru berkata, “Kalau begitu pindah saja ke apartemen saya.”

Linda terdiam.

“Apartemen yang dulu?” tanyanya perlahan.

Erlan menggeleng. “Sudah saya jual.”

Linda tampak terkejut.

“Saya pindah ke tempat lain,” lanjutnya singkat.

Ia tidak menjelaskan alasan sebenarnya. Tidak mengatakan bahwa tempat itu penuh kenangan bersama Linda. Tidak mengatakan bahwa ia tidak sanggup kembali ke sana.

“Saya bosan,” tambahnya ringan.

Linda menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik kata-kata itu.

Anita menyilangkan tangan. “Menurut saya itu pilihan yang lebih baik.”

Linda menoleh.

“Daripada di rumah saya yang sempit,” lanjut Anita. “Dan Kirana juga bisa dekat dengan ayahnya.”

Linda mengerutkan kening. “Kamu seperti ingin mengusir saya.”

Anita tersenyum tipis. “Kalau kamu merasa begitu, mungkin karena kamu tahu itu benar.”

Linda terdiam.

Anita kemudian mendekat, suaranya melembut. “Kamu ingin membesarkan Kirana dengan baik, bukan?”

Linda mengangguk pelan.

“Dan itu lebih mudah kalau ayahnya juga ada,” tambah Anita.

Ruangan kembali sunyi.

Kirana tertawa kecil, memecah suasana yang terlalu serius bagi seorang bayi.

Linda menatap putrinya, lalu menarik napas panjang.

“Baiklah,” katanya akhirnya.

Anita tersenyum. “Itu keputusan yang tepat.”

Erlan tidak berkata apa-apa, tetapi ada ketenangan yang terlihat di wajahnya.

Linda mulai mengemasi barang-barangnya. Setiap lipatan pakaian terasa seperti langkah menuju sesuatu yang belum pasti.

Adi membantu membawa tas-tas ke luar.

“Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua,” ujar Anita sambil membantu.

Linda berhenti sejenak.

“Termasuk kamu dan Erlan,” lanjut Anita.

Linda tidak menjawab, tetapi kali ini ia tidak membantah.

Beberapa saat kemudian, Erlan menggendong Kirana. Bayi itu langsung tersenyum dalam pelukannya, tangannya meraih wajah ayahnya dengan penuh rasa percaya.

“Mau jalan?” tanya Erlan pelan.

Kirana tertawa kecil.

Di luar, mobil sudah menunggu.

Adi memasukkan barang-barang ke dalam bagasi dengan cekatan, sementara Linda berdiri sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat.

Ia sempat menoleh ke arah Anita.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Anita tersenyum. “Jangan lupa kembali kalau sudah kangen.”

Linda mengangguk, lalu masuk ke mobil.

Kirana sudah duduk di pangkuan Erlan di kursi belakang. Wajahnya cerah, seolah perjalanan ini adalah petualangan yang menyenangkan.

Adi segera duduk di kursi pengemudi.

Saat Linda hendak membuka pintu depan, Adi menoleh.

“Maaf, Bu. Kursi depan untuk Rama.”

Linda berhenti sejenak, lalu mengangguk. Ia akhirnya masuk ke kursi belakang, duduk di samping Erlan.

Suasana di dalam mobil terasa canggung.

Namun sebelum Linda sempat mengatakan apa pun, mobil sudah mulai bergerak.

“Rama belum masuk,” ujar Linda.

Adi menatap kaca depan. “Rama ada urusan lain. Beliau akan menyusul.”

Linda terdiam.

Ia melirik ke samping.

Erlan memeluk Kirana dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain bertumpu santai di kursi. Wajahnya tenang, seolah semua sudah berjalan sesuai rencana.

Kirana kembali tertawa kecil, tangannya memainkan kancing baju Erlan.

Linda menatap pemandangan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Lampu jalan mulai menyala satu per satu.

Perjalanan ini terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.

Sesuatu yang belum tentu mudah.

Namun untuk pertama kalinya, Linda tidak sepenuhnya ingin menolak.

Dan di dalam mobil yang melaju perlahan itu, tiga orang dengan masa lalu yang rumit mulai bergerak menuju masa depan yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Sebuah awal yang rapuh, tetapi nyata.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!