NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 18 — Gelombang Pertarungan

Suasana di bagian Qin Mu memang tampak sangat berbeda dan jauh lebih tegang dari sebelumnya.

Saat ini, Tetua Pertama, Qin Xuanyu, sedang memojokkan Tetua Kedua, Qin Chong, dengan seni bela diri halusnya yang bernama Teknik Embun Langit. Seni bela diri tingkat 5! Teknik yang telah ia kuasai dengan sempurna.

Meskipun teknik tersebut mengandalkan esensi air murni yang kontras dengan sumber energi api merah milik Qin Chong, serangannya terbukti sangat efektif menembus pertahanan lawan. Namun, Qin Chong tidak tinggal diam. Walaupun terpojok, ia mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan teknik andalannya, Banteng Penghancur Gunung. Teknik bela diri tingkat 5!

Dentuman demi dentuman terus dilancarkan oleh keduanya. Ilusi yang dikeluarkan oleh keduanya sangat nyata. Kekuatan yang mereka lepaskan sangatlah masif, membuat tanah lapang dan bebatuan di sekitar mereka hancur berantakan. Udara di sekeliling area tersebut bahkan seperti terdistorsi oleh kekuatan manifestasi Qi mereka berdua yang pekat dan saling beradu. Tidak ada satu pun praktisi atau kultivator biasa yang berani mendekati pertarungan kedua monster tua tersebut.

Hingga akhirnya, karena merasa tertekan oleh serangan demi serangan Tetua Pertama yang begitu presisi menyerang titik lemahnya, Qin Chong berteriak keras yang diarahkan kepada lima pengawas yang merupakan bawahannya.

"Kalian, apa yang masih kalian tunggu?!" raung Qin Chong dengan urat leher yang menonjol.

"Bunuh bocah Qin Mu itu saat ini juga! Jangan biarkan dia hidup untuk melihat matahari terbit!"

Teriakan itu membahana dan memecah keriuhan arena, membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri. Tetua Pertama, Qin Xuanyu, sempat kehilangan fokus sejenak dan mulai kesulitan mempertahankan dominasinya saat harus membagi perhatian untuk melindungi murid-murid di sekitar yang sengaja diserang oleh Qin Chong.

"Kau benar-benar busuk Qin Chong!" tegas Qin Xuanyu sembari menyerang dengan presisi kearah jantung lawannya.

Di podium kehormatan, atmosfer tidak kalah mencekam. Mendengar teriakan Qin Chong yang berniat membunuh Qin Mu, Patriark Qin Feiyan langsung bereaksi. Tanpa menoleh ke arah musuhnya, ia menoleh ke samping dan menatap tajam Tetua Kelima, Qin Changin.

"Saudara Changin, segera pergi dari sini!" perintah Qin Feiyan dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Tolong lindungi putraku, Qin Mu, dan bawalah dia serta yang lainnya keluar dari formasi ini!"

Mendengar instruksi tersebut, Qin Changin tertegun. Di satu sisi, ia sangat peduli terhadap Qin Mu dan potensi yang dimilikinya. Namun di sisi lain, ia sadar akan bahaya yang mengancam Patriark. Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan Qin Feiyan sendirian di hadapan para tetua pengkhianat dan seorang wanita ahli dari Sekte Segitiga Hitam yang memancarkan aura kematian.

"Saudara Feiyan, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu saat situasinya seperti ini?" jawab Qin Changin dengan nada cemas, tangannya tetap erat menggenggam gagang pedangnya.

"Situasi ini benar-benar kacau, apakah ini akhir bagi orang-orang baik?!" batin Qin Changin, merasa bimbang antara tugas dan loyalitas pribadinya.

Namun, Qin Feiyan tidak memberikan celah untuk berdebat. Dengan sorot mata yang tegas dan berwibawa, ia memaksa Tetua Kelima untuk segera bertindak.

"Aku memerintahkanmu sebagai Patriark, Saudara Changin! Pergi sekarang, atau kita semua akan mati konyol di sini!"

Melihat tekad baja dari sang Patriark, Qin Changin akhirnya mengangguk setuju.

"Baiklah kalau itu mau mu." balas Qin Changin pelan. Ia menghela napas berat dan berjanji dalam hati untuk melindungi Qin Mu dengan kecepatan penuh sebelum kembali membantu pertarungan di podium kehormatan.

Melihat tindakan tersebut, wajah Tetua Keempat, Qin Chukai, dan Tetua Ketiga, Qin Tong dan beberapa tetua lainnya, menjadi sinis dan mengejek. Mereka meringis melihat sikap Qin Feiyan yang masih mengutamakan keselamatan putranya di saat nyawanya sendiri berada di ujung tanduk.

Qin Changin melesat turun dari podium kehormatan dengan kecepatan kilat.

Dentang!

Boom!

Saat ia meninggalkan podium kehormatan yang tengah berdentum kencang oleh pertarungan para petinggi, dalam benaknya ia terus berdoa.

"Berhasil atau tidak, kuharap Patriark bisa menang... atau setidaknya, dengan kemustahilan itu, Feiyan bisa selamat dari pertarungan melawan orang kuat sekelas tetua keluarga dan wanita berbahaya dari Sekte Segitiga Hitam," gumam Qin Changin sambil mengalirkan energinya ke seluruh tubuh. Melangkah cepat dengan teknik meringankan tubuh, memandang kesana kemari mencari keberadaan Qin Mu berada.

Sementara itu, di bawah arena, lima pengawas suruhan Qin Chong telah bergerak mengepung posisi Qin Mu, Qin Chen, dan Qin Lian. Aura pembunuh mereka menguar, siap menghabisi pemuda yang dianggap sebagai aib keluarga tersebut.

Di bawah tekanan formasi penyegelan, udara terasa begitu pekat hingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan duri. Di tengah arena, kelima pengawas suruhan Qin Chong telah mengepung ketiga remaja tersebut, memancarkan aura pembunuh yang pekat.

Ketika pengawas yang memimpin barisan depan maju dengan kecepatan kilat, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Di depannya, Qin Chen dan Qin Lian telah merentangkan tangan, berdiri tegap menjadi tameng pelindung, sementara Qin Mu bersiap mengangkat batang besi meteornya meskipun ia sadar jurang kekuatan di antara mereka terlampau jauh.

Pengawas menatap tajam ke arah Qin Chen dan mendengus dingin.

"Tuan Muda Qin Chen, kau adalah putra dari Tetua Ketiga. Tuan kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan ayahmu. Cepat menyingkirlah dari sana!"

Pandangan pengawas itu kemudian beralih pada Qin Lian, matanya menampakkan sedikit penyesalan.

"Dan kau, Nona Qin Lian, gadis jenius berusia lima belas tahun yang cantik. Sungguh sangat disayangkan jika hidupmu harus berakhir di tempat kotor ini. Menyingkirlah, dan kami berjanji tidak akan menyentuh sehelai rambutmu."

Namun, Qin Chen tidak bergeming sedikit pun. Matanya menatap datar kepada orang-orang suruhan tersebut, memancarkan ketegasan yang tak terduga dari seorang pemuda sebayanya.

"Jangan bermimpi!" tegas Qin Chen, suaranya terdengar tajam dan dingin.

"Aku tahu betul bahwa ayahku, Tetua Ketiga Qin Tong, telah berkomplot dengan Tetua Kedua dan Tetua Keempat. Aku tahu semua rencana busuk mereka! Tapi sebagai seorang anggota keluarga Qin, aku muak dengan kedengkian dan ambisi kekanak-kanakan mereka yang justru menghancurkan ketentraman klan kita sendiri!" lanjutnya.

Qin Chen mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Dengan nada yang tak kalah angkuh dari para pengawas, ia menantang.

"Jika kalian ingin menyentuh Saudara Mu, maka langkahi dulu mayatku!"

Ucapan itu membuat Qin Mu dan Qin Lian terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa Qin Chen akan mengambil risiko sebesar itu demi membela pihak yang selama ini dianggap sebagai aib keluarga.

Mendengar penolakan tersebut, keempat pengawas lainnya di belakang hanya terkekeh pelan, menganggap kata-kata Qin Chen sebagai lelucon yang bodoh.

"Hahaha, dasar anak ingusan," cemooh salah satu pengawas dengan seringai kejam.

"Bunuh saja dia! Di tengah kekacauan formasi ini, kematiannya tidak akan diselidiki secara mendalam oleh Tetua Ketiga. Lagipula, kematian yang tidak diperlukan dari pihak kita tidak akan menjadi masalah, meskipun dia putra dari teman tuan kita."

Kata-kata busuk yang keluar dari mulut mereka membuat Qin Chen merasa muak. Ia meludah ke tanah untuk menunjukkan rasa jijiknya terhadap moralitas mereka yang telah rusak.

"Kumpulan anjing yang hanya tahu menjilat atasan," geram Qin Chen.

Kelima pengawas itu pun tidak membuang waktu lagi. Energi spiritual mereka melonjak pekat secara serentak. Mereka maju dengan niat membunuh yang meluap. Qin Mu, Qin Chen, dan Qin Lian segera mengerahkan seluruh tenaga untuk memasang kuda-kuda dan bersiap menangkis serangan tersebut.

Swoosh!

Namun, belum sempat pedang mereka beradu, sesuatu yang di luar nalar terjadi dalam sekejap mata.

Udara berdesing dengan kecepatan ekstrem. Tanpa ada suara peringatan atau pergerakan yang bisa ditangkap oleh mata, kelima kepala pengawas itu terlepas dari leher mereka secara bersamaan. Darah segar menyembur ke udara, dan kelima kepala tersebut jatuh menggelinding di tanah.

Dengan refleks yang cepat, tangan Qin Mu terulur untuk menutup mata Qin Lian.

"Jangan lihat," bisik Qin Mu dengan suara berat dan tenang, melindungi gadis itu dari pemandangan mengerikan di depan mereka.

Qin Lian terkejut, namun ia mengerti niat baik Qin Mu dan tetap diam di balik punggungnya.

Di sisi lain, Qin Chen bergidik ngeri ketika kepala pengawas dengan luka di bibirnya menggelinding tepat ke arah kakinya. Darah yang muncrat mengenai wajahnya, meninggalkan jejak hangat yang lengket dan berbau anyir. Pemuda itu membeku, menyadari betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di dunia kultivasi ini.

1
TGT
CERITANYA LMBAT TAPI BGUS
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!