NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengadilan dan Hukuman Mati

"Pengadilan bukan hanya tempat untuk memutuskan bersalah atau tidak, tapi tempat di mana sejarah ditulis ulang. Di hadapan hukum, tidak ada yang namanya orang kaya, tidak ada yang namanya penguasa, dan tidak ada yang namanya pengecualian. Darah yang tumpah, nyawa yang melayang, dan kejahatan yang dilakukan selama puluhan tahun... semuanya harus dibayar dengan harga yang setimpal."

...****************...

Beberapa bulan berlalu sejak penangkapan yang gegerkan seluruh negeri. Kasus pembunuhan Arkan dan skandal bisnis kotor Abraham Group menjadi berita utama di mana-mana.

Hari ini adalah hari pembacaan vonis.

Langit di luar mendung menahan tangis,

Sementara di dalam, udara terasa berat dan beku.

Tak ada angin yang berani berhembus,

Hanya kebisuan yang mencekik.

Cahaya lampu pucat menerpa wajah wajah-wajah yang patah.

Setiap sudut ruangan menyimpan rahasia pedih,

Saat hukum bicara, hati hanya bisa pasrah.

Ruang sidang dipenuhi orang-orang. Media, masyarakat, hingga pejabat tinggi hadir untuk menyaksikan bagaimana nasib tiga orang yang dulu begitu ditakuti dan dihormati.

Di kursi terdakwa, duduklah tiga sosok yang kini terlihat sangat menyedihkan dan tak berdaya.

Veronica duduk paling tengah. Wajahnya yang dulu selalu terlihat muda dan anggun kini tampak keriput dan penuh keputusasaan. Matanya yang dulu tajam dan berwibawa kini hanya bisa menatap lantai dengan kosong.

Di sebelahnya, Hengki terlihat gemetar. Pakaian tahanan membuatnya terlihat kecil dan tidak berarti sama sekali. Dia tidak lagi terlihat seperti tuan muda yang sombong.

Dan di sisi lain, Luna Valencia. Wanita yang dulu angkuh, cantik, dan berani itu kini wajahnya pucat pasi, matanya merah sembab karena terus menangis selama masa tahanan, keangkuhannya hilang sepenuhnya.

Di hadapan mereka, duduk Hakim Agung dengan wajah datar dan tegas. Di sisi lain, Abraham, Hariz, dan Rosella duduk sebagai korban dan saksi utama. Wajah mereka penuh duka, namun juga penuh harap agar keadilan benar-benar ditegakkan.

Suara palu hakim berbunyi keras memecah keheningan.

TEK!

"Berdasarkan bukti-bukti yang kuat, keterangan saksi, serta pengakuan para terdakwa, Pengadilan Negeri memutuskan..."

Seluruh ruangan menahan napas.

Untuk Terdakwa Veronica:

"Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Pembunuhan Berencana terhadap Rizna dan Arkan, Pencucian Uang dalam jumlah triliunan, Konspirasi Kriminal, serta berbagai kejahatan lain yang dilakukan selama puluhan tahun. Oleh karena itu, terdakwa dijatuhi hukuman HUKUMAN MATI melalui tembakan regu tembak, serta denda maksimal."

BRUK!

Tubuh Veronica lemas. Dia menjerit histeris. "TIDAK! Ini tidak adil! Aku pemilik perusahaan! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! ABRAHAM! TOLONG AKU!"

Dia meronta, menangis, memohon, tapi tidak ada yang peduli. Abraham hanya menatapnya dengan tatapan dingin dan kosong, tanpa setitik pun rasa iba.

 

Untuk Terdakwa Luna Valencia:

"Terbukti bersalah menjadi pelaku utama eksekusi pembunuhan terhadap Arkan, memiliki senjata api ilegal, serta terlibat aktif dalam kejahatan korporasi. Mengingat sifat kejahatan yang sangat kejam, dingin, dan terencana rapi, terdakwa dijatuhi hukuman HUKUMAN MATI."

Mendengar itu, Luna langsung pingsan setengah mati. Dia menangis tersedu-sedu, berteriak bahwa dia takut, bahwa dia tidak mau mati. Wajah cantiknya rusak karena air mata dan ketakutan. Keangkuhannya hancur lebur. Dia benar-benar hancur.

 

Untuk Terdakwa Hengki:

"Terbukti bersalah membantu pembunuhan, melakukan penganiayaan dalam rumah tangga terhadap Rosella, serta terlibat aktif dalam bisnis ilegal. Mengingat peran aktif terdakwa sebagai provokator dan kaki tangan utama, terdakwa dijatuhi hukuman PENJARA SEUMUR HIDUP tanpa kemungkinan bebas, serta dicabut segala hak waris dan hak hukumnya."

Hengki tidak berteriak. Dia hanya terdiam kaku, air matanya mengalir deras. Dia sadar, hidupnya sudah tamat. Dia akan menghabiskan sisa umurnya di dalam sel yang gelap dan sempit, jauh dari kemewahan dan kekuasaan yang dulu dia miliki. Itu adalah hukuman yang jauh lebih menyakitkan baginya daripada kematian itu sendiri.

Hukuman sudah dibacakan. Tidak ada banding. Tidak ada ampun.

Veronica dan Luna diseret keluar ruangan sambil menjerit-jerit ketakutan. Mereka akan menunggu eksekusi di sel isolasi yang paling gelap dan paling mengerikan.

Sedangkan Hengki dibawa langsung ke penjara tingkat keamanan maksimal, di mana dia akan merasakan penderitaan yang sama seperti yang pernah dia berikan pada orang lain.

Kerajaan gelap itu telah runtuh total. Tidak ada yang tersisa selain kenangan buruk dan air mata.

Di ruang yang hening, hanya suara nafas yang memecah sunyi, hukuman terucap bagai petir yang membelah langit. Dua jiwa berdiri di ujung tanduk nasib, menatap takdir yang tak lagi bisa ditawar, tak lagi bisa diburu.

Waktu seolah berhenti, detak jantung menjadi saksi, saat keadilan menuntut harga yang begitu mahal. Veronica dan Luna, di antara dinding beton dan kaca, menghirup napas terakhir kebebasan yang mulai sirna.

Mata yang dulu berapi kini hanya menyisakan teduh, menerima takdir dengan kepala tegak, walau hati rapuh.

Di ambang pintu yang tak berpintu kembali,

Mereka melangkah menuju akhir, di mana cerita harus tamat dan mati.

Hari eksekusi tiba. Veronica dan Luna Valencia dieksekusi sesuai hukum yang berlaku. Mereka mati dalam penyesalan dan ketakutan, membawa semua rahasia dan kejahatan mereka ke dalam liang kubur. Uang dan kekuasaan tidak bisa menebus nyawa yang mereka ambil.

Hengki hidup di penjara, merasakan penderitaan batin yang tiada henti, dihantui oleh bayang-bayang Arkan dan dosa-dosanya sendiri.

Di dalam sel yang sempit dan lembap itu, Hengki akhirnya menyadari bahwa semua uang, semua kekuasaan, dan semua tipu daya itu tidak berguna lagi.

Di pemakaman keluarga, Rosella dan Hariz berdiri di depan gundukan tanah tempat Arkan dan Rizna beristirahat.

"Dek... kamu bisa tenang sekarang," bisik Rosella pelan, tangannya membelai batu nisan. "Keadilan sudah ditegakkan. Mereka sudah mendapatkan balasannya. Kamu pahlawan kami, Dek."

Abraham berdiri di belakang mereka, hatinya hancur namun lega. "Maafkan Ayah, Nak... Ayah terlambat menyadari semuanya. Tapi Ayah janji, perusahaan ini akan dibangun kembali dengan kejujuran, seperti apa yang kau inginkan."

Matahari bersinar terang pagi itu. Bayang-bayang kegelapan yang selama puluhan tahun menyelimuti keluarga itu akhirnya hilang tertiup angin. Kebenaran telah menang, meski harus dibayar dengan harga yang sangat mahal berupa nyawa seorang anak jenius dan baik hati.

Namun, semangat Arkan akan terus hidup, menjadi pelita bagi mereka yang tersisa, agar tidak pernah lagi membiarkan kejahatan bersemi di bawah atap rumah mereka.

1
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!