"Musnahkan benih itu!"
Satu perintah dingin dari Adrian Winston menghancurkan segalanya. Perselingkuhan istrinya adalah luka yang tak termaafkan. Ia tidak hanya menjatuhkan talak tiga, tapi juga bersumpah untuk menghapus setiap jejak darah dagingnya dari muka bumi. Adrian ingin masa lalunya mati.
Namun, di sudut kota yang berbeda, Elena melakukan kegilaan. Terjepit antara paksaan kakeknya untuk memiliki pewaris dan kebenciannya pada pernikahan, ia mencuri sampel berharga dari musuh bebuyutan keluarganya sendiri, benih yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Lima tahun kemudian, Adrian adalah raja bisnis tak berhati. Sampai suatu hari di kantor polisi, seorang bocah mungil menarik ujung jas mahalnya.
"Paman... Papa Achi yang bangkit dali kubul ya? Tapi napa pakai baju kelja? Bukan kain putih? Badannya napa ndak gendut juga? Opelaci dali mana?”
Adrian membeku. Bocah itu memiliki mata yang sama persis dengannya, namun dengan mulut setajam silet yang terus mengoceh tentang wajah dan badannya.
Siapa sebenarnya bocah cadel yang berani menyebutnya sebagai Papa ini? Dan kemana Ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Winston Junior
Kinan menarik kursi roda di sudut ruangan. Dibantu seorang asisten rumah tangga, mereka dengan hati-hati memindahkan Mama Astrid dari lantai ke atas kursi empuk tersebut.
“Terima kasih,” ucap Mama Astrid pelan, napasnya masih sedikit tersenggal sisa syok tadi. Asisten itu hanya menunduk hormat sebelum undur diri.
“Oh ya, Kinan… dari mana kamu tahu Elena setuju?” tanya Mama Astrid saat Kinan mulai mendorong kursi rodanya keluar kamar. Ia merasa ada yang janggal karena putrinya tiba-tiba membawa kabar gembira itu.
“Kinan tahu dari Kak Adrian, Ma. Baru saja dia kirim pesan lewat Bubble,” jawab Kinan sambil menatap layar ponselnya sekilas.
“Semalam Kak Adrian tidak pulang karena terjebak badai di rumah Elena. Mungkin di momen itu mereka bicara serius dan Elena akhirnya luluh soal rencana adopsi ini.”
Mama Astrid manggut-manggut, meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya.
“Lalu... Papamu sudah tahu?”
Kinan mengedikkan bahu cuek. “Entahlah, Ma. Tapi biasanya kalau urusan sepenting ini, Kak Adrian pasti sudah lapor ke si Singa Tua itu.”
Begitu mereka sampai di ruang tamu, senyum Mama Astrid merekah indah melihat Arsen dan Arshy sudah duduk manis di sebelah Willy.
“Nenek bayiiik!” seru Arshy girang.
Langsung saja ia meloncat turun dari sofa. Saking semangatnya, kaki mungil itu terselip dan ia hampir saja terjungkal menabrak meja kaca. Beruntungnya, tangan kekar Willy dengan sigap menangkap kerah baju belakangnya Arshy.
“Hati-hati, Nona Kecil,” ucap Willy lega.
“Maacih, Paman Meliam!” balas Arshy dengan cengiran tanpa dosa.
Willy tertegun, matanya berkedip bingung.
“Nama saya Willyam, Nona. Bukan Meriam.”
“Ndak apa-apa, itu panggilan cayang. Coalnya Paman cudah baik bawa Achy cama Abang ke lumah ini,” sahut Arshy dengan wajah sumringah.
Willy terkekeh getir sambil melirik ke arah pintu, takut bosnya muncul tiba-tiba.
“Waduh, jangan deh. Nanti kalau Ayah Nona dengar, saya bisa digantung di pohon tauge.”
“Ndak ucah takut, Paman. Ayah Achy cudah meninggal kok,” ucap Arshy enteng.
BYURSSSSS!
Arsen yang baru saja hendak menyesap jus apelnya langsung menyembur kuat. Cairan manis itu telak mengenai wajah dan baju adiknya. Arshy pun basah kuyup dalam seketika.
“Abaaaaang!”
“Achy udah mandi, wangi, kok dicembul-cembul?!” jerit Arshy histeris.
“Emangnya Achy keculupan cetan halus dicemplot ail? Abang ndak belpelacaan banget! Achy aduin Bunda nanti!” Arshy mengomel tanpa henti sambil sibuk menyambar tisu di atas meja lalu mengusap wajahnya, persis Adrian pagi tadi.
Mama Astrid dan Kinan sampai tertawa geli melihat tingkah kakak-beradik itu. Namun, tawa mereka terhenti saat Arsen menyahut dengan nada dingin.
“Kamu jangan asal bicara, Dek. Ayah kita itu masih hidup,” timpal Arsen, meski ada nada enggan dalam suaranya.
Mata Arshy membulat sempurna. “Macih hidup? Makcutnya Ayah Bulat bangkit dali kubul? Ihhhhh, Paman Meliam, panggil uctad buluan! Nanti lumah ini bica angkel! Jangan lupa tahlilan cekalian."
Arsen menepuk jidatnya sendiri, merasa gagal mendidik adiknya. Willy yang sejak tadi menahan tawa akhirnya merasa inilah saatnya meluruskan benang kusut itu di depan Mama Astrid.
“Apa yang dikatakan Kakakmu itu benar, Nona Kecil. Ayah kalian memang masih hidup,” ujar Willy serius.
Kinan yang merasa ada yang tidak beres langsung maju selangkah.
“Maksudmu apa, Will? Ayah mereka hidup? Tapi bukannya Elena bilang sudah meninggal?”
Willy menarik napas panjang, menatap Mama Astrid dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Sebenarnya... selama ini Tuan Adrian sudah punya anak tanpa kalian tahu...”
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Kinan terperangah.
“Maksudmu... Kak Adrian punya simpanan?”
“Willy, siapa wanita itu?” cecar Mama Astrid, suaranya mulai meninggi.
“Bukan, Nyonya. Tuan Adrian tidak punya simpanan. Dia juga tidak pernah tidur dengan wanita mana pun secara sembarangan,” potong Willy cepat sebelum salah paham itu melebar.
“Lalu dari mana anaknya berasal kalau bukan dari rahim seorang wanita?!” tanya Kinan bingung.
Sang asisten pribadi itu memejamkan mata sejenak, lalu membocorkan rahasia terbesar yang selama ini terkunci. “Wanita itu adalah Nona Elena yang telah ‘mencuri’ benih Tuan Adrian.”
“Mencuri benih? Elena?” Suara Mama Astrid melemah.
Suasana di ruang tamu itu mendadak sunyi senyap, seolah waktu berhenti berputar. Kalimat Willy yang terakhir menggantung di udara seperti bom waktu yang baru saja meledak.
Mama Astrid mencengkeram lengan kursi rodanya kuat-kuat. Jantungnya berdegup cepat, matanya yang tadi layu kini membelalak menatap Arsen dan Arshy bergantian. Ia mencoba mencerna informasi itu.
“Willy... kau tidak sedang melantur, kan?” suara Mama Astrid bergetar hebat.
“Maksudmu... anak-anak ini adalah anak kandung Adrian? Darah daging putraku sendiri?”
Willy mengangguk mantap.
“Benar, Nyonya Besar. Anak-anak ini bukan sekadar anak adopsi Bos Adrian. Mereka adalah Winston Junior yang asli.”
Kinan menutup mulutnya dengan telapak tangan, syok berat. “Jadi... Elena pernah melakukan proses bayi tabung? Dia benar-benar melakukannya secara diam-diam?”
Willy mengangguk lagi.
Sementara itu, Arshy yang tadinya sibuk mengelap mukanya dengan tisu, tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah Arsen dengan wajah bingung.
“Abang... Paman Meliam bilang apa tadi? Ayah kita itu... Paman bayi lakcaca?”
Arsen tidak menjawab. Ia hanya membuang muka, enggan mengakui. Ia sudah tahu kebenarannya, tapi mendengar hal itu diucapkan secara gamblang oleh Willy membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
“Benih?” Arshy memiringkan kepalanya, matanya berkedip polos.
“Benih itu makcutnya apa? Bunda dikacih benih kacang ijo buat nanem kita di pelut Bunda? Belalti Achy itu dali kacang? Bukan dali tepung cagu?"
Pffft!
Willy hampir saja tersedak salivanya mendengar kepolosan Arshy yang sangat jauh melenceng. Namun, tawa itu lenyap di saat melihat air mata yang mulai jatuh di pipi Mama Astrid.
“Kemari...” pinta Mama Astrid merentangkan kedua tangannya ke arah si kembar, suaranya parau karena tangis.
“Arsen... Arshy... kemari, Nak. Dekati Nenek.”
Arshy yang memang dasar hatinya selembut sutra, langsung berlari menubruk pangkuan Mama Astrid. Mama Astrid memeluk Arshy erat, lalu menarik cucu laki-lakinya agar mendekat juga. Ia menciumi kepala mereka berulang kali dengan penuh cinta.
—🌹
chi...dari tanah sengketa🤣🤣