Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4:Bayangan Masa Lalu
Suara mesin mobil yang menderu pelan di depan gerbang Pesantren Al-Huda membuat bulu kuduk para santri yang masih terjaga meremang. Faris Arjuna, dengan tasbih kayu kuno yang kini terselip di saku koko hitamnya, berjalan tenang namun waspada.
Sebuah mobil SUV hitam mewah terparkir melintang. Pintu terbuka, dan keluarlah tiga orang pria berjas rapi, namun aura mereka sangat dingin. Di tengahnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.
"Faris... lama tidak jumpa, Sang Panglima," ucap pria itu dengan senyum sinis.
Faris menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan gerbang. "Mau apa kamu ke sini, Herman? Tempat ini bukan area bisnismu."
Herman, salah satu penguasa pasar di Surabaya Utara, tertawa hambar. "Aku dengar kamu sudah jadi ustadz sekarang. Tapi aku tidak percaya. Aku ke sini cuma mau menagih janji lama. Terminal Bungurasih lagi kacau karena kamu pergi begitu saja."
"Aku sudah selesai dengan urusan itu. Pulanglah sebelum aku kehilangan kesabaranku," sahut Faris dingin. Tangannya yang besar mengepal, otot-otot lengannya terlihat menegang di balik baju koko.
Herman memberi isyarat pada dua anak buahnya. Mereka maju mendekat, mencoba mengintimidasi Faris. Namun, anehnya, Faris tidak merasa emosi seperti biasanya. Ia justru merasa ada sebuah kekuatan tenang yang mengalir dari tasbih di sakunya.
"Le, eling pesan Mbah tadi... jangan pakai amarah," bisik hati Faris teringat kata-kata Kyai Ahmad.
Faris menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Herman, kalau kamu datang untuk mengajakku kembali ke jalanan, jawabannya tidak. Tapi kalau kamu datang untuk cari masalah di tanah suci ini, maka kamu akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan."
Tiba-tiba, Jono dan rombongan mantan geng motor lainnya muncul dari balik tembok gerbang. Mereka sudah sarungan, tapi wajah mereka tetap saja sangar. Jono membawa sapu lidi seolah-olah itu adalah senjata tajam.
"Woi! Siapa yang berani ganggu kedamaian Mas Faris sama suara santriwati mengaji?!" teriak Jono dengan suara ngebass-nya yang menggelegar.
Herman dan anak buahnya sempat terkejut melihat segerombolan preman bertato tapi pakai sarung keluar dari dalam pesantren. Suasana yang tadinya tegang mendadak jadi sedikit canggung.
"Wah, beneran sudah jadi sarungan kalian? Hahaha! Memalukan!" ejek Herman.
Namun, tepat saat Herman hendak melangkah lebih dekat, Faris mengeluarkan tasbih kayunya. Cahaya bulan purnama seolah memantul di permukaan kayu tasbih itu. Faris menatap tajam mata Herman. "Sekali lagi kuberitahu, pergi sekarang... atau biarkan takdir yang mengusirmu."
Suasana mendadak dingin secara tidak wajar. Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan pohon-pohon besar di sekitar pesantren. Herman merasa bulu kuduknya berdiri. Ia melihat Faris bukan lagi seperti preman terminal, melainkan seperti sosok besar yang bercahaya namun mengancam.
"Cih! Urusan kita belum selesai, Faris! Kita lihat seberapa lama sarungmu itu melindungimu!" Herman bergegas masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan debu yang mengepul.
Faris hanya diam mematung. Ia tahu, ini baru permulaan. Ancaman besar yang dikatakan Kyai Ahmad bukan cuma soal preman pasar, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Setelah mobil Herman menjauh, Faris masih berdiri diam di depan gerbang. Jono dan kawan-kawannya mulai mendekat, masih dengan sarung yang berantakan karena tadi buru-buru keluar asrama.
"Mas Faris, orang kota itu siapa sih? Songong banget gayanya. Apa mau kita sikat sekalian besok di terminal?" tanya Jono sambil mengacungkan sapu lidinya.
Faris menggeleng. "Jangan. Herman itu bukan preman sembarangan. Dia punya koneksi luas, dan dia licin seperti belut. Urusan dia itu sama aku, jangan kalian ikut campur dulu."
"Tapi kita kan sudah ikut Mas Faris mondok, berarti masalah Mas Faris ya masalah kita juga!" sahut anggota lain yang disambut teriakan setuju dari yang lain.
Faris tersenyum tipis. "Terima kasih. Tapi sekarang, mending kalian balik ke asrama. Belajar lagi cara melilit sarung yang benar. Malu-maluin kalau mau tempur tapi sarung melorot."
Jono dan yang lain tertawa malu lalu bubar kembali ke dalam. Faris kemudian melangkah menuju kediaman Kyai Ahmad yang lampunya masih menyala. Beliau rupanya sedang menunggu di teras sambil menyesap kopi hitam.
"Sudah pergi tamunya?" tanya Kyai Ahmad tanpa menoleh.
"Sudah, Mbah. Herman menagih janji lama. Sepertinya dia tidak akan berhenti sampai saya mau kembali ke terminal," jawab Faris sambil duduk di lantai teras.
Kyai Ahmad mengangguk pelan. "Herman itu hanya pion, Faris. Ada kekuatan besar di belakangnya yang menginginkan tanah pesantren ini. Mereka tahu kalau di bawah bangunan pesantren ini tersimpan sesuatu yang sangat berharga... warisan yang sebenarnya."
Faris tertegun. "Warisan? Bukan cuma tasbih ini, Mbah?"
"Tasbih itu cuma kunci, Le. Ayahmu dulu mengorbankan nyawanya bukan cuma untuk pesantren, tapi untuk menjaga agar 'Pusaka' itu tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti bosnya Herman."
Faris mengepalkan tangannya. Selama ini ia mengira ayahnya hanyalah orang biasa yang meninggal karena sakit. Ternyata ada rahasia besar di balik kematiannya. "Siapa bosnya Herman, Mbah?"
Kyai Ahmad menatap Faris dalam-dalam. "Namanya Raden Brata. Dia orang yang sangat sakti dan punya pengaruh di pemerintahan. Dan satu hal lagi... dia adalah orang yang dulu sangat membenci ayahmu."
Darah Faris mendidih. Nama Raden Brata seolah membangkitkan ingatan masa kecil yang terkubur dalam-dalam. "Kalau begitu, saya tidak akan lari lagi, Mbah. Saya akan hadapi mereka dengan cara saya."
"Ingat Faris, kamu sekarang Panglima di Pesantren ini. Kekuatanmu bukan di parang, tapi di ketenangan dan warisan leluhurmu. Sekarang, istirahatlah. Besok kita mulai latihan yang sebenarnya."
Malam itu, Faris Arjuna tidak bisa tidur nyenyak. Ia tahu, perang besar sedang menuju ke arah Gedangan, dan kali ini taruhannya bukan cuma nama besar, tapi kehormatan pesantren dan rahasia ayahnya.