NovelToon NovelToon
Tabib Rahasia Sang CEO

Tabib Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.

​Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 十五

Siang itu, udara di dalam laboratorium herbal baru milik Xi’er terasa sangat nyaman. Aroma akar manis dan daun mint segar memenuhi ruangan yang didominasi dinding kaca bening tersebut. Namun, kenyamanan itu justru menjadi musuh bagi Xi’er. Setelah menghabiskan dua jam menata tanaman obatnya, ia mulai merasa seperti burung dalam sangkar emas.

Vania sedang sibuk di meja depan, berbicara dengan nada serius melalui benda kecil di telinganya, sesuatu yang disebutnya sebagai earphone. Xi’er melihat kesempatan. Ia merasa tidak perlu izin hanya untuk sekadar mencari udara yang benar-benar berasal dari luar, bukan udara yang ditiupkan oleh lubang-lubang di langit-langit.

"Aku hanya akan berjalan sepuluh langkah ke luar." gumam Xi'er pada dirinya sendiri.

Tanpa suara, ia menyelinap keluar. Namun, koridor di lantai eksekutif itu ternyata jauh lebih rumit daripada jalan setapak di hutan pegunungan. Xi'er berjalan dengan penuh rasa ingin tahu, mengikuti cahaya matahari yang memantul di ujung lorong. Ia menaiki sebuah tangga kecil yang ia kira akan membawanya ke taman atap, namun ia justru berakhir di sebuah lantai yang sangat sunyi dan dingin, area arsip fisik dan gudang data cadangan.

Begitu pintu otomatis di belakangnya tertutup dengan bunyi klik yang tajam, Xi'er tersentak. Ia mencoba menarik gagang pintu, namun benda itu tidak bergerak. Tidak ada gagang, hanya ada sebuah kotak kecil yang berkedip merah.

"Buka! Hei, kau pintu sialan, buka!" Xi'er menggedor pintu itu, namun dinding-dinding di sekelilingnya seolah menelan suaranya.

Lantai itu sangat luas, dipenuhi oleh lemari-lemari besi raksasa yang bergerak di atas rel. Cahaya lampu sensor di sana mulai meredup karena tidak mendeteksi gerakan yang berarti. Xi'er mulai merasa sesak. Baginya, ruangan ini bukan sekadar gudang, ini terasa seperti makam besi yang tidak punya jalan keluar. Ia tidak punya cara untuk memanggil bantuan. Di dunia lamanya, ia bisa mengirim burung merpati atau menggunakan sinyal asap, tapi di sini? Ia hanya sendirian di tengah tumpukan baja dingin.

Sementara itu, di lantai utama, suasana berubah menjadi mencekam. Vania berdiri di depan meja Mo Yan dengan tubuh yang bergetar hebat.

"Apa maksudmu dia tidak ada?" suara Mo Yan terdengar sangat rendah, namun sanggup merontokkan keberanian siapa pun di ruangan itu.

"S-saya tadi sedang menerima telepon dari bagian logistik Tuan. Hanya tiga menit! Dan saat saya menoleh, Nona Xi'er sudah menghilang dari laboratorium." lapor Vania dengan suara nyaris menangis.

Mo Yan tidak membuang waktu untuk memaki. Ia langsung mengakses sistem keamanan dari meja kerjanya. Matanya yang tajam memindai puluhan layar CCTV dengan kecepatan luar biasa. Jantungnya berdegup kencang, sebuah rasa takut yang tidak logis mulai menghimpit dadanya. Bagaimana jika dia ketakutan? Bagaimana jika dia terluka di tempat yang tidak kuketahui?

"Lantai 42. Area arsip lama." desis Mo Yan begitu melihat sosok kecil dengan kemeja putih sedang berdiri kebingungan di depan sebuah lemari besi. "Zuo Fan, ambil kunci master. Sekarang!"

Mo Yan melangkah dengan cepat, mengabaikan rasa sakit di kakinya yang sebenarnya belum pulih benar. Ia tidak menunggu lift, ia menggunakan tangga darurat untuk mencapai lantai tersebut lebih cepat. Begitu pintu terbuka, ia melihat Xi'er sedang duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya di tengah kegelapan karena lampu sensor telah padam.

"Xi'er!" panggil Mo Yan, suaranya sedikit parau.

Xi'er mendongak. Begitu melihat sosok tinggi Mo Yan berdiri di ambang pintu yang bercahaya, seluruh pertahanannya runtuh. Ia segera berdiri, meskipun kakinya sedikit lemas, dan berjalan cepat ke arah Mo Yan.

"Tuan kaku! Gedungmu ini gila!" omel Xi'er, suaranya gemetar antara marah dan lega. "Pintumu tidak punya hati, mereka mengurungku! Lemari-lemari besi ini seolah ingin menjepitku! Kenapa kau membuat tempat tinggal yang begitu mengerikan tanpa ada satu pun orang yang bisa kupanggil?!"

Mo Yan terdiam. Ia melihat mata Xi'er yang sedikit berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang membuat hatinya terasa seperti diremas. Tanpa sadar, ia menarik Xi'er ke dalam pelukannya, menepuk punggung gadis itu dengan kaku namun lembut.

"Maafkan aku. Aku tidak seharusnya membiarkanmu berjalan sendiri tanpa alat komunikasi." bisik Mo Yan.

Xi'er sempat terpaku di dalam pelukan hangat Mo Yan. Bau parfum maskulin yang bercampur dengan aroma jeruk nipis itu seketika menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Namun, dasar Xi'er, ia segera mendorong Mo Yan pelan setelah merasa sedikit lebih baik.

"Jangan manfaatkan keadaan untuk memelukku! Aku ini Tabib Agung, bukan bantal pelukmu!" gerutunya sambil mengusap matanya yang sembab, meskipun pipinya kini merona merah.

Kembali di ruang kerja, Mo Yan duduk di kursi kebesarannya, sementara Xi'er duduk di depannya sambil menyesap teh hangat yang disiapkan Vania. Mo Yan kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna emas dari laci mejanya dan mendorongnya ke arah Xi'er.

"Apa ini? Racun dalam kotak?" tanya Xi'er curiga.

"Buka saja." sahut Mo Yan singkat.

Xi'er membukanya dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah benda tipis berwarna putih mengkilap dengan permukaan kaca yang gelap. "Cermin? Untuk apa kau memberiku cermin sekecil ini? Aku tahu aku cantik, tapi aku tidak butuh cermin untuk mengingatkannya setiap saat."

Mo Yan hampir saja tersedak kopinya. Ia menyentuh layar ponsel itu, dan seketika layar tersebut menyala, menampilkan foto pemandangan taman herbal milik Xi'er sebagai latar belakang.

"Aaa! Sihir!" Xi'er hampir saja melempar ponsel itu ke atas meja. "Ada cahaya di dalam kaca! Dan... dan kenapa ada gambar kebunku di sana? Bagaimana kau memasukkan kebunku ke dalam kotak kecil ini, Tuan kaku?!"

"Ini namanya ponsel Xi'er. Kotak bicara." jelas Mo Yan dengan kesabaran ekstra. Ia menunjukkan cara menggunakannya. "Jika kau menyentuh gambar wajahku di sini, kau bisa bicara denganku dari mana pun kau berada. Kau tidak akan terjebak lagi."

Xi'er memicingkan matanya, menyentuh layar itu dengan ujung jari telunjuknya seolah-olah benda itu bisa menggigitnya. Tiba-tiba, ponsel itu berbunyi nyaring dan menampilkan wajah Mo Yan dalam bentuk panggilan video.

"Wah! Ada kepalamu di dalam kotak!" Xi'er berteriak, hampir terjatuh dari sofa. Ia melihat ke arah Mo Yan yang duduk di depannya, lalu melihat ke arah ponsel. "Bagaimana bisa kau ada dua?! Mo Yan, apa kau sedang membagi jiwamu menjadi dua bagian?! Ini ilmu hitam yang sangat berbahaya!"

Mo Yan menutup wajahnya dengan satu tangan, mencoba menahan tawa yang meledak. "Itu hanya gambar Xi'er. Bukan jiwaku. Itu adalah teknologi agar aku bisa melihatmu dan memastikan kau baik-baik saja."

Xi'er perlahan-lahan mulai tenang, meskipun ia masih menatap ponsel itu dengan penuh selidik. "Jadi, jika aku tersesat lagi, aku hanya perlu bicara pada kotak ini dan kau akan datang?"

"Ya. Aku akan selalu datang." jawab Mo Yan, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Xi'er dengan keseriusan yang tidak main-main.

Xi'er tertegun sejenak, ia berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya. "Baiklah. Karena kau sangat memaksa, aku akan menyimpan jimat bercahaya ini. Tapi jangan berani-berani mengirim jiwamu ke dalam kotak ini saat aku sedang tidur, mengerti?!"

Mo Yan terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas. "Mengerti Tabib Agung. Sekarang, biarkan Vania mengajarimu cara 'menjinakkan' kotak itu."

Sambil memandangi Xi'er yang mulai sibuk menusuk-nusuk layar ponsel dengan wajah serius, Mo Yan menyadari satu hal. Dunia modern mungkin penuh dengan teknologi dingin, namun kehadiran gadis dari desa ini memberikan kehangatan yang selama ini tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

1
mery harwati
Mo aq kasih bunga online agar hatimu tetap berbunga bunga selalu dengan Xi'er😄
mery harwati
Untung jaman modern, klo jaman masih kerajaan & Mo Yan modus pengen dipeluk Xi'er, bisa dipenggal kepalanya oleh prajurit 😛
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Zou Fan langsung balik badan doong /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Keyeenn Xi'er 👏👏🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Alahhhh bilang dong kalau mau di peluk, hai saya dasar tuaaa👀👀
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tua gak thu😭😭😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Waaww teyeennn 🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Pasti bau banget itu 🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Jangan balik badan Zou Fan, bukankah kelakuan mereka lebih seru untuk ditonton dari drama manapun🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Biar gantian, Zou Fan yg blingsatan nyari ayang🤣🤣
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Maaf ya Xi'er aku udah sejojon sama kamu, aku pikir pesta ini akan porak poranda oleh tingkah ajaibmu🤧
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: yakkk kenapa kau sangat jahat kepadaku yg imut ini😑 kenapaaaaa😑
total 1 replies
mery harwati
Xi'er tunjukan pesonamu pada dunia bersama Mo Yan 💪
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: Xi'er: siapa yg mau di cintai oleh tuan kaku rasanya hidupku akan hambar ketika aku dicintai oleh dia😑🤣 (masih malu malu kucing dia mah)🤣
total 3 replies
Mila Sari
aku tidak sabar dengan ceritanya,, kira2 apakaah mereka saling hatuh cinta,, Thor semangat
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ahhh terimakasih 🥰
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ayo Xi'er, keluarkan bubuk² ajaibmu/Determined/
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: mantap terimakasih 🥰🥰
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
What, tiga jam?🤣🤣 aku aja waktu nikah didandani cuma sejam aja udah pegel plus ngantuk🤣🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: nama juga mua internasional 🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bayangkan, seberapa baunya ramuanmu Xi'er/Gosh/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: jgn dibayangkan plis😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ngga kenalan ma Dugong Xi? kenalan lahhh biar bisa di ajak nyari mutiara
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dugong nda thu🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Selalu takjub dengan kesabaran Mo Yan, entahlah kalo aku🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: harus bisa sabar kl sama Xi'er tktnya kl gk sabar kuping nya mp yan makin panas krn denger omelan Xi'er
total 1 replies
Mila Sari
Thor tolong donk up nya yg banyak, biar tambah greget bacanya🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: besok ya🤣🤣🤣 hari ini blm bisa berpikir🫣🫣🫣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Besok2 ajak Xi'er naik2 kepuncak gunung Mo 💃
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃: Dih 🤣🤣 /Facepalm/
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
Hureèe komen pertamaa 🤣
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃: 😅 Iya syama2 kamei 🥰
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Cieee aheum aheumm kiw kiw 🤣/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!