NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Jatuhnya Pedang Petir

Cahaya fajar yang pucat menembus celah dinding pondok kayu reyot itu. Bao Tuo sedang duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin, memegang sebuah perkamen berlambang Akademi Jiannan dengan tangan gemetar. Wajah bundarnya yang biasanya memancarkan kepengecutan kini dipenuhi keputusasaan yang nyata.

"Tiga puluh Poin Kontribusi," ratap Bao Tuo, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja divonis mati. "Tiga puluh Poin Kontribusi per bulan hanya untuk menyewa gubuk berbau kencing tikus ini! Belum lagi sepuluh poin untuk jatah makan dasar di kantin, dan lima poin pajak air bersih!"

Di sudut ruangan, Lin Xiaoyu sedang membersihkan debu dari jubahnya sambil mendengus kesal. "Ini penipuan dilegalkan! Faksi Serigala Hitam yang kita rampok kemarin rupanya sedang mengumpulkan poin untuk membayar biaya sewa kelompok mereka. Di Pelataran Luar, tidak ada yang gratis. Bahkan udara spiritual yang kita hirup telah dipasangi formasi penyerap oleh akademi. Jika di akhir bulan kita tidak bisa membayar... kita akan ditendang ke Zona Buangan di luar tembok pelindung, tempat monster liar dibiarkan berkeliaran di malam hari."

Zeng Niu berdiri di ambang pintu, menatap kabut pagi yang menyelimuti Pelataran Luar. Dantiannya yang baru terbuka berdenyut pelan, memutar Qi berwarna merah kehitaman yang selaras dengan kekuatan miliknya.

"Kita tidak akan menjadi gelandangan," ucap Zeng Niu datar. "Di mana tempat mendapatkan poin?"

"Paviliun Misi," jawab Xiaoyu cepat, matanya berbinar licik. "Setiap Murid Luar diwajibkan mengambil setidaknya satu misi setiap bulan. Tanpa kontribusi berdarah, akademi tidak punya alasan untuk memelihara kita."

Setengah jam kemudian, ketiganya berdiri di depan sebuah bangunan batu berlantai tiga yang sangat besar dan berasap. Ribuan Murid Luar berdesakan seperti semut di pelataran paviliun tersebut. Bau keringat, darah, dan ambisi berpadu di udara.

Di dinding utama Paviliun Misi, terdapat empat papan giok raksasa yang menampilkan deretan tugas beraksara cahaya.

"Misi dibagi menjadi empat tingkat," jelas Xiaoyu, menunjuk papan-papan tersebut layaknya seorang pemandu wisata di gerbang neraka.

"Pertama, Tingkat Mudah. Memanen rumput spiritual di pinggiran lembah, membersihkan kandang monster jinak, atau menambang bijih besi biasa. Hadiahnya hanya 5-10 poin. Biasanya diambil oleh murid Tahap 1 hingga 3 yang takut mati."

Xiaoyu menunjuk papan giok kedua yang berwarna biru. "Kedua, Tingkat Menengah. Memburu Yao Aberasi Tingkat Rendah, mengawal karavan pedagang Aliansi Dagang, atau mencari bahan alkimia di zona luar Hutan Kematian. Hadiah 50-100 poin. Ini ladang pembantaian bagi murid Tahap 4 hingga 6."

Gadis penipu itu menelan ludah saat menunjuk papan ketiga yang berwarna merah darah. "Ketiga, Tingkat Sulit. Target pembunuhan Yao Tingkat Brutal, menyelidiki runtuhnya desa fana, atau menghabisi Kultivator Liar buronan. Hadiahnya ratusan poin. Hanya Murid Dalam atau kelompok elit Tahap 8 ke atas di Pelataran Luar yang berani menyentuhnya."

Bao Tuo, yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Zeng Niu, melirik takut-takut ke papan keempat yang terbuat dari batu obsidian hitam legam. Papan itu hanya berisi tiga baris tulisan yang memancarkan aura membunuh.

"Dan itu..." suara Xiaoyu bergetar. "Adalah Tingkat Dewa. Misi ekstrem yang menyangkut rahasia sekte, eksistensi monster Tingkat Raja, atau menyelidiki jejak Faksi Dewa Tersembunyi. Hadiahnya tidak terhitung... bisa berupa status Murid Pewaris langsung atau Artefak Kuno. Tapi, tingkat kelangsungan hidupnya adalah nol koma sekian persen. Itu sama dengan mengantar nyawa ke mulut maut."

Zeng Niu mengabaikan papan Tingkat Mudah dan Menengah. Matanya langsung tertuju pada papan Tingkat Sulit.

"Kita butuh poin besar dan cepat," desis Zeng Niu. Ia menunjuk sebuah misi yang berkedip dengan cahaya merah pekat. "Kita ambil itu."

Bao Tuo membaca tulisan yang ditunjuk Zeng Niu dan nyaris pingsan berdiri. "Misi Tingkat Sulit: Memanen Teratai Guntur di Ngarai Guntur Pinggiran. Peringatan: Area dikelilingi medan magnet kacau dan dihuni Kera Lengan Besi Mutan. Hadiah: 500 Poin Kontribusi. S-Saudara Niu! Itu gila! Kera Lengan Besi bisa meremukkan baja!"

"Dan tulangnya sekeras sumsumku," balas Zeng Niu dingin. "Jika kau tidak mau ikut, tunggu di pondok dan bersiaplah tidur dengan anjing liar bulan depan."

Bao Tuo langsung menggeleng keras, memilih mengikuti Sang Pemakan Bencana daripada ditinggal sendirian.

Perjalanan menuju Ngarai Guntur di pinggiran barat lembah memakan waktu setengah hari. Semakin dekat mereka ke tujuan, suhu udara semakin anjlok, digantikan oleh hawa statis yang membuat bulu kuduk berdiri. Langit di atas ngarai tersebut tidak pernah cerah, selalu diselimuti awan kelabu.

Namun, saat kelompok Zeng Niu baru saja menginjakkan kaki di perbatasan ngarai bertebing curam itu, hukum alam tiba-tiba runtuh.

Udara menjadi sangat berat hingga rasanya seperti menghirup cairan timah.

Zeng Niu menghentikan langkahnya seketika. Matanya menyipit tajam menatap ke atas.

Di langit, awan kelabu yang biasa menutupi ngarai tiba-tiba menggulung dengan ganas, berubah menjadi hitam pekat. Pusaran badai terbentuk dalam hitungan detik. Dari dalam pusaran hitam itu, kilatan cahaya ungu yang menyilaukan mulai membelah langit.

BZZZZT!

Petir ungu menyambar tanpa henti, merobek langit seperti cakar naga raksasa.

"A-apa yang terjadi?! Formasi alam sedang mengamuk?!" teriak Xiaoyu, menutupi telinganya dari gemuruh yang memekakkan telinga.

Lalu, terdengarlah suara robekan yang membuat jiwa setiap makhluk hidup bergetar.

CRAAACK—!!!

Sebuah objek melesat dari balik pusaran awan hitam, diselimuti kobaran api meteor dan petir ungu. Benda itu jatuh dengan kecepatan yang melampaui nalar manusia fana, meluncur lurus menuju jantung Ngarai Guntur yang hanya berjarak beberapa mil dari posisi Zeng Niu.

BUMMMMMMMMMMM!!!

Ledakan dahsyat terjadi. Gelombang kejutnya meratakan pepohonan mati dan menghancurkan tebing-tebing karang dalam radius ratusan meter. Tanah berguncang layaknya kiamat. Zeng Niu harus menancapkan belatinya ke tanah dan mencengkeram Bao Tuo serta Xiaoyu agar tidak terhempas oleh badai debu tersebut.

Seketika itu juga, Qi langit dan bumi di seluruh radius ratusan mil menjadi sangat kacau. Ribuan kultivator di dalam Akademi Jiannan, hingga para Tetua yang sedang bermeditasi di paviliun awan, serentak membuka mata mereka. Mereka semua merasakan sebuah aura yang sangat kuno, buas, dan mutlak mendominasi dunia fana.

Debu perlahan menipis di area jatuhnya meteor tersebut. Zeng Niu bangkit perlahan, mengabaikan luka goresan batu di pipinya. Matanya yang selalu dingin dan mati, kini menatap tajam dengan ketertarikan.

Di tengah kawah raksasa yang tanahnya masih meleleh dan retak-retak, menancap sebuah pedang.

Itu bukanlah pedang kultivator biasa. Bilahnya berwarna hitam keunguan, terbuat dari logam mistis yang tampaknya tidak berasal dari dunia ini. Di sepanjang bilahnya, petir ungu yang pekat mengalir dan melilit seperti ular-ular hidup yang bernapas. Suara gemuruh halus seperti detak jantung guntur terus terdengar dari pedang itu, membuat tanah di sekitarnya terus menerus retak dalam pola jaring laba-laba.

Saat Zeng Niu memfokuskan pandangannya pada pedang itu, sebuah ilusi yang mengerikan menghantam lautan kesadarannya. Rasanya seolah ia mendengar teriakan putus asa dari ribuan pedang lain yang dipatahkan dan ditundukkan oleh satu senjata ini.

Hanya dengan melihatnya, aura pedang itu memproyeksikan hukum keberadaannya langsung ke dalam pikiran siapa pun yang berani menatapnya. Empat konsep mutlak tergambar di dalam benak Zeng Niu dengan kejam:

Pertama, Penghakiman Petir Ungu. Ini bukanlah pedang yang hanya memotong daging. Setiap tebasannya membawa petir yang akan menyambar dan menghancurkan roh lawan. Kematian di ujung pedang ini adalah kemusnahan jiwa tanpa reinkarnasi.

Kedua, Domain Petir. Di mana pun pedang ini dihunus, udara di sekitarnya akan terdistorsi menjadi 'ladang petir' mutlak. Musuh akan lumpuh seketika, dan Qi di dalam Dantian mereka akan menjadi kacau balau.

Ketiga, Resonansi Dao Pedang. Bagi penggunanya, pedang ini adalah guru spiritual tertinggi. Ia akan memaksa pikiran pemiliknya untuk memahami Dao Pedang dalam kecepatan tak masuk akal... dengan syarat mutlak: pemiliknya harus diakui.

Keempat, dan yang paling mematikan... Kehendak Kaisar. Pedang ini memiliki arogansi seorang kaisar dewa. Jika seorang kultivator yang lemah tubuhnya, rapuh mentalnya, atau pengecut jiwanya berani menyentuh gagangnya, pedang ini akan memberontak. Petir ungu itu tidak akan memotong musuh, melainkan akan memanggang pemiliknya sendiri menjadi abu.

Bao Tuo jatuh terduduk, memuntahkan darah hanya karena tekanan aura dari kejauhan. "S-senjata Dewa... Benda itu bukan dari dunia ini..."

Zeng Niu berdiri tegak melawan angin badai yang masih menderu. Darah mutan di dalam urat nadinya mendidih. Dantiannya yang berisi Qi cacat berwarna merah kehitaman berputar liar, merespons arogansi pedang itu dengan keangkuhannya sendiri.

Mata Zeng Niu memancarkan keserakahan. Ujian bertahan hidupnya kini berubah. Ia tidak lagi peduli pada Poin Kontribusi atau kera mutan; di depannya tertancap sebuah kekuatan yang bisa membantunya membelah Langit yang runtuh ini.

1
saniscara patriawuha.
cepat ambil pedang yang kabur dari mang zhao xuan,,,
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!