Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi di Mushola
Bambang terbangun oleh suara azan subuh. Dia tidak sadar kapan tertidur. Yang terakhir dia ingat hanyalah duduk di samping Ucok sambil memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tapi tubuhnya terlalu lelah untuk diajak kompromi. Tanpa sadar, dia sudah berbaring di karpet, kepala bersandar pada dinding mushola, dan tertidur cukup nyenyak untuk pertama kalinya dalam berhari-hari.
Dia membuka mata. Cahaya pagi mulai masuk melalui jendela-jendela kecil mushola. Udara masih dingin. Bau kemenyan dari pembakaran dupa semalam masih tersisa. Ucok masih tidur di sampingnya, tubuh besarnya terlihat seperti gunung kecil di atas karpet. Dadanya naik turun teratur. Wajahnya yang menyeramkan itu terlihat lebih tenang dalam tidur. Mungkin ini pertama kalinya Ucok tidur tanpa harus waspada terhadap suara-suara di hutan.
"Bang, bangun, Bang. Sudah subuh."
Suara pria dari semalam. Pria dengan jaket parka yang membantu mereka. Pria itu berdiri di pintu mushola, tersenyum ramah. Bambang mengucek matanya dan duduk. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Lehernya kaku karena tidur dengan posisi yang salah. Kakinya masih terasa perih meskipun sudah dibalut dengan kain.
"Eh, Bang," sapa Bambang dengan suara serak. "Kamu sudah datang dari tadi?"
"Baru saja. Saya lewat, lihat kalian masih tidur. Saya tidak tega membangunkan. Tapi azan sudah berkumandang. Sebentar lagi orang-orang datang untuk salat. Kalian harus siap-siap."
Bambang membangunkan Ucok. "Ucok, bangun. Sudah pagi."
Ucok membuka mata perlahan. Matanya merah. Lingkar hitam di bawah matanya masih tebal. Tapi ada kesadaran di sana. Ada kehidupan. Dia duduk dan mengerjapkan mata beberapa kali.
"Kita di mana?" tanya Ucok.
"Masih di mushola. Ini Bang... maaf, Bapak belum kenalan," kata Bambang sambil menoleh ke pria itu.
"Nama saya Anton," kata pria itu. "Panggil Anton saja."
"Saya Bambang. Ini Ucok. Terima kasih banyak, Bang Anton. Kemarin kami hampir mati kelaparan."
"Sudah, sudah. Saya hanya melakukan yang seharusnya. Sekarang kalian harus salat dulu. Biar tidak dicurigai orang. Nanti setelah salat, kita bicara lagi."
Bambang dan Ucok mengambil air wudu di tempat wudu samping mushola. Airnya dingin, menyegarkan. Bambang membasuh wajahnya, tangannya, kakinya yang luka. Rasa perih menyengat, tapi dia tidak mengeluh. Setelah sekian lama tidak salat karena sibuk bertahan hidup, gerakan-gerakan salat terasa asing. Tapi dia melakukannya sebaik mungkin. Ruku. Sujud. Duduk di antara dua sujud. Semua gerakan itu terasa seperti kembali ke rumah.
Setelah salat, orang-orang mulai berdatangan. Beberapa pria tua dengan pakaian sarung dan peci. Mereka saling bersalaman, lalu duduk bersila di karpet. Beberapa dari mereka menatap Bambang dan Ucok dengan tatapan heran. Dua orang asing dengan pakaian seadanya, wajah pucat, kaki luka, duduk di sudut mushola. Tentu mereka heran.
Bang Anton mendekati mereka setelah salat selesai. "Mari ke belakang. Ada warung kopi di sana. Kita bisa bicara lebih leluasa."
Mereka berjalan ke belakang mushola. Sebuah warung kopi sederhana dengan meja-meja kayu dan kursi plastik. Beberapa orang sudah duduk sambil menyesap kopi dan membaca koran. Bang Anton memesan tiga cangkir kopi panas dan sepiring pisang goreng.
"Kalian cerita sekarang," kata Bang Anton setelah kopi datang. "Cerita semuanya. Dari awal sampai kalian sampai di sini."
Bambang menarik napas panjang. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Ada begitu banyak yang ingin dia ceritakan. Tapi kata-kata terasa sulit keluar.
"Saya mulai dari saya dapat SMS," kata Bambang akhirnya.
Dia bercerita tentang SMS dari nomor tidak dikenal. Tentang wawancara dengan Pak Toni. Tentang kontrak dengan denda lima ratus juta. Tentang perjalanan ke Kalimantan. Tentang mobil box gelap. Tentang pabrik yang sunyi. Tentang aturan-aturan aneh. Tentang monitor CCTV. Tentang makhluk di hutan. Tentang Joni yang mulai berubah. Tentang Dul yang menghilang. Tentang Herman yang tewas. Tentang kabur ke hutan. Tentang desa pertama. Tentang kepala desa yang kehilangan anak. Tentang kantor polisi yang mengkhianati mereka. Tentang perjalanan menyusuri sungai. Tentang pondok di tepi sungai. Tentang malam-malam yang panjang penuh teror.
Bang Anton mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya berubah dari ramah menjadi serius, lalu sedih, lalu marah. Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar.
"Kalian benar-benar mengalami semua itu?" tanya Bang Anton setelah Bambang selesai.
"Iya, Bang. Setiap kata yang saya ucapkan benar. Saya punya bukti. Buku harian Dul. Kontrak kerja. Foto-foto. Semua ada di tas ransel ini."
Bambang membuka tas ransel dan mengeluarkan buku harian Dul. Bang Anton mengambilnya, membuka halaman demi halaman. Matanya membaca cepat. Sesekali dia berhenti, menghela napas, lalu melanjutkan lagi.
"Ini... ini luar biasa," kata Bang Anton. "Saya sudah dengar desas-desus tentang pabrik itu. Tapi tidak pernah sebanyak ini. Tidak pernah sejelas ini."
"Bang Anton, kami butuh bantuan," kata Ucok. "Kami sudah coba lapor polisi di desa sebelumnya. Mereka malah menghubungi perusahaan. Perusahaan mau menjemput kami. Kami kabur lagi. Sekarang kami tidak tahu harus percaya pada siapa."
Bang Anton meletakkan buku harian itu di atas meja. Dia menatap Bambang dan Ucok bergantian. "Kalian percaya pada saya?"
"Kami tidak punya pilihan," kata Bambang jujur.
"Baik. Saya akan bantu. Tapi saya bukan orang kaya. Saya bukan polisi. Saya bukan pengacara. Saya cuma mekanik bengkel. Tapi saya punya kenalan wartawan. Wartawan investigasi. Dia sudah lama mencari bukti tentang pabrik itu. Mungkin dia bisa membantu."
"Wartawan?" tanya Bambang. "Kami tidak pernah berpikir ke wartawan."
"Polisi sudah dibeli. Pemerintah daerah mungkin juga sudah dibeli. Tapi wartawan? Wartawan yang baik tidak bisa dibeli. Mereka mencari kebenaran. Mereka tidak takut pada siapa pun."
"Kapan kami bisa bertemu dengan wartawan itu?"
"Besok. Dia sedang di luar kota. Tapi besok sore dia kembali. Saya akan atur pertemuan di bengkel saya. Jangan ke mana-mana. Kalian tinggal di mushola dulu. Saya akan bawakan makanan dan pakaian."
"Terima kasih, Bang Anton. Saya tidak tahu harus membalas apa."
"Balas dengan berhasil. Hentikan pabrik itu. Selamatkan orang-orang yang masih terjebak di sana."
Bang Anton pergi setelah meninggalkan uang untuk makan siang dan malam. Bambang dan Ucok kembali ke mushola. Mereka duduk di teras mushola, menatap jalanan yang mulai ramai. Orang-orang lalu lalang dengan sepeda motor. Anak-anak berangkat sekolah dengan seragam merah putih. Seorang ibu berjualan gorengan di pinggir jalan. Hidup normal. Hidup yang tidak tahu tentang pabrik karet dan makhluk-makhluk di hutan.
"Ucok," panggil Bambang.
"Iya."
"Kamu pikir wartawan itu bisa dipercaya?"
"Anton bilang dia bisa. Aku percaya pada Anton. Orang yang membantu tanpa pamrih biasanya tidak punya maksud tersembunyi."
"Tapi kalau wartawan itu ternyata juga dibeli?"
"Kita lihat nanti. Kita tidak akan cerita semuanya sekaligus. Kita uji dulu. Kalau dia curiga, kita pergi."
Bambang mengangguk. Mereka menghabiskan sisa pagi dan siang dengan istirahat. Sesekali Bambang pergi ke belakang mushola untuk menjemur pakaiannya yang masih basah. Sesekali dia membersihkan lukanya dengan air dan kain bersih.
Sekitar pukul dua siang, Bang Anton kembali. Dia membawa dua bungkus nasi ayam, dua botol air mineral, dan dua helai pakaian. Baju kaos dan celana pendek. Sederhana, tapi bersih dan kering.
"Ini untuk kalian," kata Bang Anton sambil memberikan pakaian itu. "Ukurannya mungkin tidak pas. Tapi lebih baik daripada pakaian yang basah dan compang-camping."
"Terima kasih, Bang," kata Bambang. "Kami benar-benar berhutang budi."
"Tidak usah disebut hutang. Anggap saja ini sedekah. Sekarang, tentang wartawan itu. Namanya Dewi. Dia sudah sepuluh tahun meliput kasus-kasus pelanggaran HAM di Kalimantan. Dia pernah hampir mati dua kali karena berita yang dia tulis. Tapi dia tidak pernah mundur."
"Dewi? Perempuan?" tanya Ucok.
"Perempuan. Jangan lihat gender. Dia lebih berani dari kebanyakan laki-laki. Besok sore dia akan datang ke bengkel saya. Kalian datang jam lima. Jangan telat."
"Baik, Bang. Kami akan datang."
Bang Anton pergi lagi. Bambang dan Ucok makan nasi ayam itu dengan lahap. Setelah kenyang, mereka berganti pakaian. Baju kaos itu agak longgar di badan Bambang, tapi dia tidak peduli. Yang penting bersih. Yang penting kering.
Sore harinya, Bambang memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar mushola. Bukan untuk jalan-jalan santai, tapi untuk mengenal lingkungan. Untuk mencari jalan keluar darurat jika suatu saat mereka harus kabur lagi. Ucok memilih untuk tetap di mushola, berbaring dan memejamkan mata.
Bambang berjalan menyusuri jalanan. Kota ini kecil. Hanya satu jalan aspal yang membelah dari timur ke barat. Toko-toko di kiri kanan. Bengkel. Warung makan. Kios pulsa. Apotek. Dan di ujung jalan, ada kantor polisi. Lebih besar dari kantor polisi di desa sebelumnya. Tapi Bambang tidak berani mendekat. Dia hanya melihat dari kejauhan.
Dia berbalik dan berjalan ke arah lain. Sampai di sebuah terminal bus. Beberapa bus tua terparkir di sana. Ada tulisan jurusan ke ibu kota provinsi. Jaraknya sekitar delapan jam. Harga tiketnya tidak terlalu mahal. Bambang mencatat informasi itu di dalam kepalanya. Cadangan. Jika wartawan itu tidak bisa membantu, mereka akan naik bus ke ibu kota provinsi.
Kembali ke mushola, Bambang melihat Ucok sudah bangun. Ucok sedang duduk di teras, merokok. Rokok pemberian Bang Anton.
"Kamu ke mana?" tanya Ucok.
"Keliling. Lihat-lihat. Ada terminal bus di ujung sana. Bus ke ibu kota provinsi delapan jam. Tiketnya tidak mahal."
"Rencana cadangan?"
"Iya. Kalau wartawan itu tidak bisa membantu, kita pergi ke ibu kota. Lapor ke polisi di sana. Atau cari wartawan lain."
Ucok mengangguk. "Bagus. Kita harus punya banyak rencana. Tidak bisa bergantung pada satu orang."
Malam tiba. Mereka salat magrib berjamaah di mushola. Beberapa orang yang sama seperti pagi datang lagi. Mereka masih menatap Bambang dan Ucok dengan tatapan heran, tapi tidak ada yang bertanya. Mungkin mereka sudah diberi tahu oleh Bang Anton. Atau mungkin mereka terlalu sopan untuk bertanya.
Setelah salat, Bambang dan Ucok makan malam dengan nasi bungkus yang dibelikan Bang Anton. Sederhana. Nasi, telur dadar, dan sayur kangkung. Tapi bagi Bambang, ini adalah makanan terenak yang pernah dia rasakan.
"Malam ini kita istirahat di mushola lagi," kata Ucok. "Besok kita temui Dewi. Semoga dia bisa membantu."
"Kalau dia tidak bisa?"
"Kita coba yang lain. Sampai kita berhasil. Sampai pabrik itu ditutup. Sampai Pak Toni ditangkap. Sampai makhluk-makhluk itu tidak ada lagi."
Bambang memejamkan mata. Pikirannya melayang ke Joni. Ke Dul. Ke Herman. Ke dua belas nama di dinding kantin. Ke semua korban yang tidak sempat kabur. Dia tidak bisa mengecewakan mereka. Dia tidak bisa berhenti di tengah jalan.
"Malam ini, kita tidur nyenyak," kata Bambang. "Besok kita mulai perjuangan baru. Perjuangan di dunia orang normal. Perjuangan dengan kata-kata. Perjuangan dengan bukti-bukti. Bukan dengan parang dan pisau."
"Kamu siap?" tanya Ucok.
"Aku siap. Kamu?"
Ucok tersenyum. Senyum yang jarang muncul di wajahnya. "Aku siap. Untuk Laras. Untuk pulang."
Mereka berdua masuk ke dalam mushola. Karpet yang sama. Dinding yang sama. Bau kemenyan yang sama. Tapi malam ini terasa berbeda. Tidak ada suara seperti karet diregangkan. Tidak ada bisikan dari hutan. Tidak ada ketakutan yang menyelimuti.
Hanya kedamaian. Kedamaian yang rapuh. Kedamaian yang mungkin akan terusik besok. Tapi untuk malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Bambang merasa aman.
Dia berbaring di karpet. Matanya terpejam. Perlahan, kegelapan di balik kelopak matanya berubah menjadi tidur. Tidur tanpa mimpi. Tidur tanpa teror. Tidur yang pulas.
Bambang bermimpi. Dalam mimpinya, dia berdiri di depan rumah kontrakannya. Pintu terbuka. Ibu dan Bapak duduk di ruang tamu. Ibu sedang menjahit. Bapak sedang membaca koran. Semua normal. Semua damai.
"Nak, kamu pulang?" tanya Ibu.
"Iya, Bu. Aku pulang."
"Kamu kelihatan kurus. Kamu makan tidak di sana?"
"Aku makan, Bu. Jangan khawatir."
Bapak meletakkan korannya. "Kamu sudah berhenti kerja?"
"Belum, Pak. Tapi aku akan berhenti. Aku dapat pekerjaan yang lebih baik di sini. Di dekat rumah."
"Syukurlah," kata Ibu. "Ibu kangen kamu."
Bambang memeluk Ibu. Memeluk Bapak. Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Air mata kebahagiaan. Air mata kelegaan.
Dia pulang.
Dia benar-benar pulang.