Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arini Mulai Curiga
Kepercayaan adalah fondasi dari setiap hubungan, baik itu hubungan pertemanan, asmara, maupun kemitraan dalam membasmi gangguan ghaib. Namun, di SMA Wijaya Kusuma, kepercayaan sering kali dibenturkan dengan logika yang tidak masuk akal. Setelah serangkaian kejadian dari bakso lari hingga ritual sumur yang berakhir dengan curhat Buto Ijo, Arini mulai merasakan ada sesuatu yang tidak sinkron dalam narasi hidup Satria.
Masalahnya bukan karena Satria seorang indigo. Arini sudah menerima itu. Masalahnya adalah: Satria terlalu sering menyembunyikan "detail teknis" yang membuat Arini merasa seperti penonton di barisan belakang, sementara Satria adalah sutradara sekaligus pemeran utama yang memegang skrip rahasia.
Pagi itu, di koridor kelas XII, suasana tampak biasa saja bagi siswa lain. Namun bagi Satria, koridor itu terasa seperti pasar malam arwah. Ia sedang asyik bernegosiasi dengan Hantu Penjual Koran tahun 80-an yang bersikeras menawarkan edisi berita kematian seorang mandur bangunan.
"Nggak, Pak. Saya nggak butuh koran lama. Sekarang zamannya TikTok," bisik Satria sambil terus berjalan.
"Sat, kamu ngomong sama siapa lagi?" suara Arini tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinganya.
Satria melonjak kaget. "Eh, Rin! Ini... anu, lagi hafalan puisi buat tugas Bahasa Indonesia besok. 'Wahai kertas yang kusam, engkau membawa kabar kelam...' gitu."
Arini melipat tangan di dada. Matanya menyipit, menatap Satria dengan tatapan detektif yang sedang menginterogasi tersangka pencurian gorengan. "Sat, puisi itu tugas minggu depan. Dan seingat aku, puisinya temanya 'Keindahan Alam', bukan 'Kertas Kusam'. Kamu bohong lagi?"
"Nggak bohong, Rin. Cuma... improvisasi kreatif," jawab Satria dengan tawa garing yang bahkan tidak bisa menipu seekor tuyul sekalipun.
Sepanjang jam pelajaran Matematika, Arini tidak fokus pada rumus logaritma di papan tulis. Ia justru memperhatikan gerak-gerik Satria yang duduk dua bangku di depannya. Satria tampak sibuk menulis sesuatu di buku catatannya, tapi bukan angka. Tangannya bergerak seperti menggambar sketsa, dan sesekali ia menoleh ke pojok kelas yang kosong—setidaknya kosong bagi mata manusia biasa.
Arini mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan singkat ke Satria.
“Ke kantin pojok pas istirahat. Sendirian. Jangan bawa rombongan ghaibmu.”
Satria membaca pesan itu dan langsung berkeringat dingin. Ia menoleh ke belakang, melihat Arini yang memberikan tatapan "kamu-dalam-masalah-besar". Di samping Satria, Meneer Van De Berg tampak terkekeh.
“Sepertinya Noni sudah mulai mencium bau amis dari rahasiamu, Anak Muda. Wanita itu tajam, lebih tajam dari pedang kompeni saya,” ejek sang Meneer.
"Diem, Meneer. Ini gara-gara Anda juga yang sering muncul tiba-tiba," bisik Satria tanpa menoleh.
Saat bel istirahat berbunyi, Satria berjalan menuju kantin pojok dengan langkah seperti orang yang akan menuju tiang gantungan. Arini sudah duduk di sana, memesan dua gelas teh es, tapi wajahnya tidak terlihat sesegar teh tersebut.
"Duduk, Sat," perintah Arini singkat.
Satria duduk. "Rin, kalau soal kejadian semalam di sumur, gue beneran—"
"Bukan soal sumur," potong Arini. "Ini soal apa yang kamu sembunyikan tentang Lab Biologi. Dan soal kenapa Ucok si tuyul itu kemarin malam terlihat di depan rumahku membawa surat dari kamu, tapi pas aku dekati, dia langsung hilang."
Satria tersedak ludahnya sendiri. "Ucok ke rumah lo? Bawa surat?"
"Jangan pura-pura kaget. Aku tahu kamu punya rencana besar soal brankas Belanda itu. Kenapa kamu nggak cerita sama aku? Kita kan satu tim?" Arini menatap Satria dengan kekecewaan yang nyata. "Atau kamu ngerasa aku cuma beban yang harus dilindungi terus?"
Satria menghela napas panjang. Ia sadar ia tidak bisa lagi bermain "Petak Umpet Kebenaran" dengan Arini. Arini terlalu pintar untuk dibodohi dengan alasan smart home atau Bluetooth ghaib.
"Rin, dengerin gue. Gue nggak bermaksud anggap lo beban. Justru sebaliknya," Satria memulai dengan suara rendah. "Brankas yang disebut Profesor Hans itu... itu bukan cuma soal emas atau uang. Meneer Van De Berg bilang, brankas itu berisi 'Kontrak Tanah' sekolah ini."
Mata Arini membelalak. "Kontrak tanah? Maksudnya?"
"Sekolah kita ini... berdiri di atas sengketa ghaib dan nyata. Ada pihak yang mau ambil alih lahan ini untuk dibangun mal, dan mereka pakai jasa 'orang pintar' buat usir paksa penghuni lama, baik yang bernapas maupun yang uap. Kalau kontrak itu hilang, sekolah ini bisa digusur bulan depan," jelas Satria.
Arini terdiam. Rasa curiganya kini berubah menjadi rasa ngeri. "Jadi, alasan kamu selama ini sok misterius karena kamu lagi berusaha selamatkan sekolah ini sendirian?"
"Gue nggak mau lo terlibat terlalu dalam, Rin. Pihak yang mau gusur sekolah ini bukan cuma manusia biasa. Mereka punya 'pasukan' yang jauh lebih berbahaya dari sekadar Genderuwo atau Kuntilanak. Mereka profesional," Satria menatap genggaman tangannya di atas meja.
Tiba-tiba, suasana kantin menjadi sunyi. Suara riuh rendah siswa lain terdengar menjauh, seolah-olah mereka berada di dalam gelembung kedap suara. Arini merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di meja sebelah mereka, muncul sesosok pria berpakaian serba hitam dengan kacamata gelap, meskipun mereka berada di dalam ruangan. Pria itu tidak makan, tidak minum. Ia hanya duduk diam, namun auranya membuat Satria sesak napas.
"Itu salah satu dari mereka, Rin," bisik Satria. "Intel Ghaib."
Arini tidak lari. Ia justru menggenggam tangan Satria yang gemetar di bawah meja. "Sat, lihat aku."
Satria mendongak.
"Aku nggak butuh pahlawan kesepian. Aku butuh partner. Kalau sekolah ini mau digusur, itu juga masalahku. Aku ketua OSIS, aku cinta sekolah ini, dan aku... aku juga peduli sama kamu," ujar Arini tegas. "Mulai sekarang, nggak ada lagi rahasia. Kalau Ucok datang ke rumahku, dia harus kasih surat itu langsung ke tanganku, bukan lewat portal ghaib yang bikin aku mikir kamu lagi main dukun-dukunan buat pelet aku."
Satria tersenyum tipis, rasa bebannya sedikit terangkat. "Oke, Rin. Janji. Nggak ada rahasia lagi."
"Bagus. Sekarang, apa isi surat yang dibawa Ucok semalam?"
Satria menggaruk tengkuknya. "Eeee... itu... sebenarnya bukan soal brankas. Itu daftar menu yang mau gue ajak lo makan pas malam Minggu nanti. Gue minta Ucok cek apakah lo suka seblak level gila atau nggak."
Arini melongo, lalu meledak dalam tawa. Ketegangan yang tadi menyelimuti mereka langsung sirna. "Kamu beneran semprul ya, Sat! Urusan nyawa sekolah lagi terancam, kamu malah sibuk riset menu seblak pakai intel tuyul!"
"Ya kan keselamatan perut lo juga prioritas gue, Rin," sahut Satria sambil nyengir.
Namun, di tengah tawa mereka, Intel Ghaib di meja sebelah berdiri. Sebelum menghilang ke dalam bayangan tiang kantin, ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Satria: “Waktu kalian tinggal tujuh hari sebelum kontrak itu kami hanguskan bersama seluruh sejarah tempat ini.”
Satria menegang, tapi kali ini ia tidak menyembunyikannya dari Arini. Ia menceritakan apa yang baru saja ia dengar.
"Tujuh hari?" Arini bertanya, wajahnya kembali serius. "Berarti kita harus bongkar ubin Lab Biologi itu sebelum minggu depan."
"Iya. Tapi kita butuh rencana matang. Kita nggak bisa asal linggis lantai sekolah di siang bolong," kata Satria. "Gue butuh bantuan Meneer buat pengalihan isu, dan gue butuh bantuan lo buat urusan perizinan 'lembur' di Lab Biologi."
Arini mengangguk. "Serahkan padaku. Aku akan bilang ke Pak Broto kalau kita butuh observasi pertumbuhan jamur ghaib—eh, maksudnya jamur mikroskopis untuk olimpiade."
Saat mereka berdiri untuk kembali ke kelas, Arini berhenti sejenak. "Sat, satu lagi."
"Apa?"
"Kalau nanti kita temukan brankasnya, dan ternyata isinya cuma emas tua tanpa kontrak itu, kamu bakal gimana?"
Satria menatap ke arah koridor di mana Meneer Van De Berg sedang sibuk menakut-nakuti siswa yang buang sampah sembarangan. "Emas bisa habis, Rin. Tapi sejarah dan tempat kita ketemu ini... itu nggak ada harganya. Kita bakal cari cara lain. Selalu ada cara buat orang semprul kayak gue."
Arini tersenyum, kali ini dengan tatapan penuh kepercayaan. "Iya, aku tahu itu."
Malam itu, Arini pulang dengan perasaan berbeda. Rasa curiganya telah berganti menjadi tekad. Di kamarnya, ia membuka surat lecek yang diberikan Satria kemarin—surat yang akhirnya berhasil ia rebut dari tangan Ucok sebelum tuyul itu kabur.
Isinya bukan cuma menu seblak. Di bagian bawah, Satria menulis sebuah kalimat kecil yang hampir tidak terbaca:
"Rin, makasih sudah percaya sama cowok culun yang sering ngomong sama tembok ini. Tanpa lo, gue mungkin sudah gila sejak bab pertama."
Arini memeluk surat itu, menatap jendela kamarnya. Di luar, ia melihat bayangan transparan Meneer Van De Berg yang berjaga di atas pagar rumahnya, memberikan perlindungan ghaib yang diperintahkan oleh Satria.
Bab 14 ditutup dengan sebuah kesadaran baru: musuh yang sesungguhnya telah menampakkan diri, dan hubungan Satria-Arini kini bukan lagi sekadar cinta monyet di sekolah berhantu. Ini adalah perjuangan untuk mempertahankan rumah mereka, sejarah mereka, dan masa depan yang kini terasa jauh lebih menantang.
"Tujuh hari ya?" gumam Arini. "Mari kita lihat siapa yang akan menang, Intel Ghaib atau Indigo Semprul."